Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 148


__ADS_3

Malam hari nya Adam tengah melihat lihat pesantren bersama dengan Abah, menjaga keamanan karena saat ini di pesantren tak ada yang berjaga, Abah sengaja memberhentikan para penjaga karena tak mungkin saat akan lebaran begini mereka tetap bekerja.


"Abah pagar yang di kamar santri putri belum aku tutup" ucap Adam.


"Tutup lah dulu" ucap Abah.


Adam berjalan ke arah kamar santri putri yang sekarang sangat gelap karena tak ada cahaya lampu yang menerangi.


Namun tiba tiba Adam melihat orang dengan pakaian yang serba hitam masuk dari saja menuju pagar santri putri.


Dia memanjat ke atas pagar karena di sana tak ada pintu, Adam terus memperhatikan gerak gerik orang itu, dia terlihat mengendap endap bahkan Adam juga sekarang bersembunyi di balik tembok.


"Siapa dia" gumam Adam.


Orang itu berjalan ke arah rumah Umi dan Adam mengikuti orang itu yang melewati belakang rumah Umi.


"Mau kemana dia" tanya Adam.


Saat sudah ada di rumah umi tepatnya di luar kamar Adam, dia menempelkan sebuah alat yang sangat kecil bahkan Adam saja Sampai tak melihat nya.


"Hey siapa" tanya Adam yang membuat orang itu kaget.


Orang berbaju hitam itu langsung lari terbirit birit meninggal kan Adam yang menyusul di belakangnya.


"Maling" teriak Adam.


Namun orang itu seperti lenyap seketika, Adam tak menemukan lagi jejaknya.


"Kemana orang itu" gumam Adam.


Adam menghidupkan senter ponsel nya dia mencari ke sekeliling namun tak ada tanda tanda orang itu di sana.


"Kemana orang itu cepat sekali larinya" gumam Adam.


Namun bukan hal itu yang Adam khawatir kan dia lebih mengkhawatirkan benda yang di tempelkan orang itu masih ada di tembok rumah Umi.


Adam melihatnya ternyata dia menemukan alat yang besar nya bisa sebesar tutup botol minuman.


Adam mencopot nya namun alat itu sangat lengket menempel di tembok.


"Benda apa ini" tanya Adam saat sudah berhasil melepaskan alat itu.


Adam melihat nya dengan teliti takut nya alat itu adalah peledak.


"Tapi kaya nya bukan peledak, tapi ini seperti kamera" gumam Adam.


Adam terus saja memperhatikan alat itu, apa lagi orang dengan baju hitam pun belum adam temukan.


"Sebaik nya aku pulang" ucap Adam.


Abah sudah ada di dalam rumah bersama dengan Umi dan yang lain.


"Kamu dari mana" tanya Abah.


"Abah tadi ada orang yang memakai pakaian Hitam datang ke pesantren namun saat aku lihat dia tak ada, cepat sekali dia lari nya" ucap Adam.


"Gus mungkin itu hantu" ucap Zia.


"Gak ada" ucap Adam.


"apa mungkin itu hantu" tanya Rena.


"Masa sih tapi dia berjalan bukan melayang" ucap Adam.


"Hush kalian ini bicara apa, gak ada hantu" ucap Abah.


"Kata Neng Zia dia di pengaruhi oleh seorang ibu saat di pengajian katanya di pesantren ini ada hantu" ucap Umi.


"Gak ada, hantu itu hanya bohong" ucap Abah.


"Tapi aku melihat nya sendiri Abah" ucap Zia.


"Gak ada Zia gak ada hantu" ucap Abah.


"Apa mungkin dia maling" tanya Rena.


"Mungkin saja namun untungnya tak ada barang berharga di luar" ucap Adam.


"Sudah ayo tidur sudah malam" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam dan Rena.


"Kalian tidur lah" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Adam dan Zia masuk ke dalam kamar nya mereka tertidur Adam masih setia menunggu Zia hingga Zia tertidur karena Adam tak tega membiarkan Zia ketakutan.


Adam melihat alat yang dia ambil tadi,.


"Alat apa ini" gumam Adam melihat detail alat itu.


Pagi hari nya setelah sahur semua orang langsung mengikuti ceramah pagi yang ada di Mesjid hanya ada lima orang saja di sana.


Saat ini abah akan menjelaskan tata cara sholat Idul Fitri takut nya ada yang lupa, bahkan Abah tau kalau Zia tak tau tata cara sholat idul Fitri.


"Pertama kali kita melakukan sholat idul Fitri yang paling pertama adalah niat.


Niat sholat Idul Fitri untuk imam:


"Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini imaman lillahi ta’alaa."


Artinya: “Aku niat sholat sunat Idul Fitri dua rakaat menjadi imam karena Allah Ta’ala.”

__ADS_1


Niat sholat Idul Fitri untuk makmum:


"Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini makmuuman lillahi ta’ala."


Artinya: “Aku niat sholat sunat Idul Fitri dua rakaat menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”


Niat sholat Idul Fitri sendiri:


"Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini lillahi ta’alaa."


Artinya: “Aku niat sholat sunat Idul Fitri dua rakaat karena Allah Ta’ala.”


Yang kedua yaitu membaca takbiratul ihram, "allohu Akbar".


Yang ketiga membaca iftitah.


"Alloohu akbar Kabiroo Wal hamdu lillaahi Katsiiroo, Wa Subhaanalloohi Bukrotan Wa'asyiilaa. Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fathoros Samaawaati Wal Ardho Haniifan Musliman Wa maa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Syolaatii Wa Nusukii Wa Mahyaa ya Wa Mamaatii Lillaahi Robbil 'Aalamiina. Laa Syariika lahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin".


Yang ke empat, takbir sebanyak 7 kali, setelah membaca doa iftitah, mengucap kan takbir sebanyak 7 kali diikuti dengan tasbih setiap kali bacaan takbir. Doanya:


"Subhanallah walhamdulillah wala ilaaha illallahu wallahu akbar wala haulawala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim".


Yang kelima membaca alfatihah dan surat surat pendek lainnya.


Rukuk dan sujud sama seperti sholat pada umumnya.


Seperti rakaat yang pertama rakaat kedua juga sama di mulai dengan takbiratul ihram setelah itu takbir lagi, namun rakaat kedua hanya lah 5 kali setelah itu sama seperti sholat biasa setelah dua rakaat lalu di akhiri dengan salam.


Ada beberapa sunah sebelum dan sesudah sholat idul Fitri.


Yang pertama mandi dan memotong kuku.


Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya,


"Dan dari Amdullah bin Abbas Raliyallahu Anhuma, ia berkata, 'Bahwasannya Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha." (Hadist Riwayat. Ibnu Majah).


Yang kedua memakai pakaian terbaik dan wangi wangian.


Dalam hadits di jelas kan yang artinya:


"Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Saw memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya." (Hadist Riwayat. Al Hakim dalam Al Mustadrak).


Yang ketiga adalah makan dahulu sebelum sholat idul Fitri, Rasulullah bersabda yang artinya:


"Janganlah keluar pada hari Idul Fitri sampai dia makan dulu, dan janganlah makan ketika hari Idul Adha sampai dia sholat dulu." (Hadist Riwayat. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad)


Yang keempat, mengumandangkan takbir hingga menjelang sholat idul Fitri, namun itu hanya untuk orang yang sanggup saja karena kebanyakan orang orang kita malu jika memegang mic.


Ada juga Sunnah sesudah sholat idul Fitri.


Yang pertama melewati jalan nya berbeda, yang artinya kalau kita pulang dari mesjid kita menggunakan jalan lain, seperti ini kita datang menggunakan jalan raya kalau pulang kita menggunakan jalan gang misal, tapi kalau misal jalan nya hanya itu itu saja maka tak apa.


"Nabi SAW ketika hari raya mengambil jalan yang berbeda (antara pergi dan pulangnya)." (Hadist Riwayat. Bukhari).


"Abah jika seorang wanita dan pria yang bukan muhrim bersalaman saat idul Fitri tak apa apa" tanya Rena.


"Alangkah baik nya bersalaman namun tak menyentuh satu sama lain" ucap Abah.


"Tapi Abah ada orang yang sampai menyentuh tangan" ucap Rena.


"Pakai saja sapu tangan supaya kulit kalian tak saling sentuh" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Rena.


"Kalian tau kenapa seorang wanita Dan pria tak boleh menyentuh satu sama lain karena jika kulit mereka saling sentuh maka akan menimbulkan has rat atau kata lainnya syahwat" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap mereka serempak.


Siang hari nya, Umi akan membuat kue lebaran dengan di bantu oleh Zia dan Rena yang saat ini tengah mengocok kue untuk lebaran nanti.


"Kak telur nya" ucap Rena.


Zia memecahkan telur nya hingga enam biji bahkan Rena juga tak bicara karena dia tak tau.


"Berapa telur nya" tanya Zia.


"Entah" ucap Rena.


"Ning tanya Umi dulu takut salah" ucap Zia.


"Umi telur nya berapa" sahut Rena yang sekarang ada di ruang tamu dan Umi ada di dapur.


"Empat saja" ucap Umi.


"Empat" ucap Rena dan Zia saling tatap.


"Ayo keluar kan lagi dua" ucap Zia yang langsung sibuk mencari piring dan sendok.


Zia berhasil mengeluarkan telur nya.


"Syukur lah untung tanya dulu kalau gak kita akan salah" ucap Zia.


"Ya kak aku lupa cara buat bolu nya" ucap Rena.


Rena mengocok bolu itu, karena Umi sederhana dia tak pernah mengandalkan mesin dia hanya mengandalkan alat sederhana, karena kata Umi buatan tangan lebih enak dari pada buatan mesin tapi jaman sekarang sudah canggih semua nya di bantu oleh mesin, dan hal itu juga memudahkan beberapa orang yang malas untuk masak.


"Masukan gula yang seperempat namun sisa kan sedikit" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Rena.


"Terigu nya yang seperempat guna kan semua nya dan mentega yang seperempat gunakan semuanya" ucap Umi.


"Jadi semuanya seperempat" tanya Zia.

__ADS_1


"Ya kalau umi begini hanya saja gula putih nya jangan semua karena akan terlalu manis" ucap Umi.


"Oh" ucap Zia.


"Kalau adonan yang serba seperempat ini Umi bisa jadi berapa bolu" tanya Rena.


"Jadi satu loyang Ning ini juga pasti mengembangkan walaupun tak pakai pengembangan tapi Umi yakin ini akan mengembangkan sempurna" ucap Umi.


"Oh aku akan catat" ucap zia.


"Ya kak harus" ucap Rena.


Sedangkan Adam sekarang dia tengah ke counter ponsel dia ingin menanyakan alat yang semalam Adam temukan.


Adam sangat penasaran bahkan Adam juga tak bilang pada siapa siapa tentang hal ini.


"Assalamualaikum A ini ada yang mau saya tanyakan" ucap Adam pada penjaga counter.


"Apa".


"Ini alat untuk apa ya" tanya Adam.


"Biar saya lihat" ucapnya.


Orang itu melihat lihat alat yang Adam bawa, jujur saja Adam baru saja melihat nya jadi terasa asing bagi Adam.


"Ini mah alat yang sudah di modif A ini mungkin untuk menampilkan gambar seperti proyektor lcd A" ucapnya.


"Bagai mana cara menyalakan nya" tanya Adam.


"Ini sudah di modif A jadi ini bisa jadi di Kendalikan dari jarak jauh" ucap Nya.


"Kenapa bisa" tanya Adam.


"Begitu lah jaman sekarang A semua nya sudah canggih".


"Ya baik lah terima kasih" ucap Adam.


"Ya a sama sama" ucapnya.


Adam pergi dari sana dan langsung pulang namun Adam masih memikirkan hal itu, siapa yang melakukan nya, pikir Adam.


Adam pulang ke rumah saat ini Zia dan Rena tengah tertawa bersama, Adam cukup lega karena Zia akhirnya tak ketakutan lagi.


Ingin sekali rasanya Adam mencari ibu itu dan menanyakan alasan kenapa berbohong pada Zia.


Rasanya geram saja karena ibu itu bicara yang tidak tidak.


Walau pun memang benar pesantren itu di pandang sebelah mata saat sepi karena katanya kalau para santri pulang para warga pernah mendapati sesosok wanita dengan rambut panjang berkeliaran di pesantren.


Namun berbeda dengan keluarga Abah mereka tak pernah melihat bahkan tak pernah sekalipun Keluarga Abah mendapatkan teror dari hal yang tak mungkin.


Bahkan sampai saat ini tak ada yang berani ikut mengaji bersama dengan Abah, para warga lebih sering mengundang Abah ke mesjid mereka dari pada menempati undangan Abah untuk datang.


Namun para warga akan datang saat sholat idul Fitri karena halaman yang luas dan mesjid yang cukup besar mereka memilih mesjid Al Zakaria yang menjadi tempat untuk Sholat idul Fitri.


Abah tak melarang justru Abah senang karena mesjid itu berguna juga untuk orang banyak.


"Lagi buat apa" tanya Adam.


"Buat bolu" ucap Zia.


"Oh boleh aku bantu" tanya Adam.


"Boleh" ucap Zia.


Mereka membuat hingga beberapa loyang karena Umi selalu membagi kan bolu itu pada kerabat nya yang datang jadi Umi persiapan membuat banyak.


"Umi beberapa hari lagi kita lebaran apa kita gak akan buat manisan" tanya Abah yang baru datang.


"Boleh manisan pepaya" ucap Umi.


"Kalau mau Abah akan petik pepaya yang ada di sawah, banyak yang masih mentah di sana" ucap Abah.


"Ya Abah tolong petik kan saja dua atau tiga" ucap Umi.


"Umi apa kita akan ke rumah uwa" tanya Adam.


"Entah tapi katanya Uwa mau datang" ucap Umi.


"Apa tak akan terjadi masalah" tanya Adam.


"Masalah bagaimana" tanya Umi.


"Ya umi tau sendiri kan Abah dan Uwa itu seperti apa" ucap Adam.


"Terserah nanti saja lah Dam" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Adam.


Hingga malam hari nya mereka berbuka puasa dengan bolu yang mereka buat tadi, hanya sayur asem dan tahu tempe yang menemani makan berbuka sekarang namun karena kebersamaan nya hal sederhana pun bisa jadi istimewa.


"Ning Rena kau akan keluar SMP kemana kau akan melanjutkan nya" tanya Abah.


"Abah aku SMA di sini saja mau kemana lagi aku" tanya Rena.


"Ya siapa tau saja mau langsung nikah" ucap Abah.


"Abah aku mau sekolah" ucap Rena.


Semua orang tersenyum melihat Rena yang merengek.


bersambung

__ADS_1


semoga yang saya tulis bermanfaat ya..


__ADS_2