Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
Bab 70


__ADS_3

Umi menatap Abah dengan tatapan sendu karena cerita kehidupan anak santri nya itu sangat miris.


"Umi tak sangka" ucap Umi.


"Yunus memang salah dia juga sudah mengakui nya" ucap Abah.


"Lalu bagai mana selanjutnya" tanya Umi.


"Abah akan antar Yunus ke rumah Laras, oh ya bagai mana Adam tadi dia telpon" tanya Abah.


"Oh ya tadi Adam telpon katanya pesawat nya di undur jadi tadi setelah Sholat Maghrib, mungkin sekarang sudah lepas landas" ucap Umi.


"Apa Adam bicara pada Zia" tanya Abah.


"Ya" ucap Umi.


"Umi, Bukan Abah melarang tapi jangan terlalu dekat kan Adam dengan Zia Abah hanya takut kalau mereka semakin dekat maka mereka semakin terkendali oleh hawa nafsu" ucap Abah.


"Abah tapi mereka tak melakukan apa apa" ucap Umi.


"Ya Abah tau tapi Abah hanya mau mereka menjaga jarak saja" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Umi.


"Abah akan tidur" ucap Abah.


"Ya Umi juga" ucap Umi.


Sedangkan Zia sekarang di kamarnya dia belum bisa tidur karena Zia merasa sangat gelisah.


"Apa Gus Adam sudah sampai ya? Apa dia sudah dapat tempat tinggal di sana? Kenapa aku jadi ingat Ingat dia" gumam Zia.


"Tuh kan aku bilang juga apa jangan libatkan pertemanan dengan perasaan jadi asing kan" gumam Zia lagi.


"Tidur kak besok kita cari tau bagai mana kabar Gus Adam" ucap Rena yang sekarang tidur di atas kasur Zia.


"Ya Ning" ucap Zia.


"Jangan terus di ingat ingat nanti juga pulang" ucap Rena.


"Ya Ning" ucap Zia.


Zia mencoba memejamkan matanya hingga rasa kantuknya hinggap pada Zia.


Zia tertidur sangat pulas.


Di salah satu kamar punya guru di pesantren itu.


Nirvana diam sambil menatap Arman yang sekarang sudah tertidur sangat lelap.


"Aku ingin bicara" tanya Yunus.


"Bicara apa" tanya Nirvana.


"Aku akan cerai kan kau" ucap Yunus.


Nirvana hanya tersenyum tipis mendengar hal itu.


"Oh ya buktikan saja" ucap Nirvana.


"Ya aku sekarang sadar pernikahan kita tak pernah ada aku hanya menafkahi anak ku saja bukan menafkahi kamu" ucap Yunus.


"Oh" ucap Nirvana.


"Mulai detik ini aku mengambil keputusan, kau sudah bukan istri ku lagi aku melepaskan mu dari Syahadat yang pernah aku ucap kan di ijab qobul dulu, mulai sekarang kau sudah bukan menjadi tanggung jawab ku" ucap Yunus.


"Ya aku senang mendengar nya" ucap Nirvana.


"Besok aku akan pulang ke kota, aku titip Arman" ucap Nirvana turun dari ranjang mengambil tas dan memasukan semua pakaian ke dalam tas itu.


Sekarang tinggal Yunus saja yang merasa bingung bahkan ada rasa menyesal karena sudah menalak Nirvana.


"Aku akan pulang aku akan kerja di kota" ucap Nirvana.


"Tapi" ucap Yunus.


"Aku sudah jalan kan pernikahan ini selama empat tahun soal wasiat itu kau tak perlu cemas karena aku sudah melaksanakan nya" ucap Nirvana sambil memasukan pakaian nya pada tas.


"Kenapa gak dari dulu saja kau cerai kan aku kenapa baru sekarang kau menceraikan aku" ucap Nirvana.


Setelah selesai Nirvana duduk di kasur dan tidur bersama dengan Arman, sedang kan Yunus hanya menatap Nirvana dengan tatapan bingung.


"Lalu kau mau apa di sini" tanya Nirvana pada Yunus.


"Apa" tanya Yunus.


"Kau sudah bukan suami ku kan jadi keluar dari kamar ini karena kita sudah bukan mahram lagi" ucap Nirvana.


"Ya" ucap Yunus.


Yunus hanya menurut saja pada ucapan Nirvana karena Nirvana juga benar,.


"Kenapa aku bisa gegabah begini, aku lupa kalau Nirvana bukan wanita seperti Laras yang minta di cerai kan dia langsung menangis" gumam Yunus.


Yunus berjalan ke arah kamar santri putra yang kosong.


"Lalu bagai mana setelah ini apa Laras akan menerima aku dan Arman setelah aku banyak menyakiti nya" gumam Yunus lagi.


"Ustadz mau ke mana" tanya salah satu santri putra.


"Aku mau tidur di sini boleh" tanya Yunus.


"Boleh" ucap nya.


Yunus tidur di sana karena dia tak mungkin kembali ke kamar nya.


Sedang kan di negara lain, Adam sudah sampai di negara London, namun ada hal yang membuat Adam heran karena di ponsel nya menunjukan kalau sekarang hari Senin pukul 10 pagi tapi di London sekarang pukul 3 dini hari.


Adam menghabiskan waktu perjalanan 16 jam di pesawat, dan saat Adam sampai di sana keadaan masih malam.


Bahkan untuk mencari tempat tinggal pun tak akan mereka lakukan sekarang karena masih pagi.


"Gus kita menginap saja di sini" ucap Ilham.


"Tapi Gus mana mungkin karena di sini gak ada tempat tidur" ucap Yasya.


"Lalu mau bagai mana lagi" ucap Ilham.


"Tak apa lah kita di sini saja" ucap Adam.


"Beneran" tanya Yasya.


"Tapi kenapa ya di Indonesia sekarang jam 10 pagi" tanya Adam.

__ADS_1


"Ya Gus indo dan London ini selisih 7 jam" ucap Ilham.


"Oh" ucap Adam.


Mereka menunggu di sana selama satu jam, hingga sekarang mereka melihat jam yang menempel di dinding bandara itu.


"Gus lihat jam 4 apa sekarang sholat Subuh" tanya Adam.


"Belum tau aku gak tau kapan waktu Sholat di sini" ucap Ilham.


"Lalu bagai mana sekarang" tanya Adam.


"Aku akan tanya pada orang lain" ucap Ilham.


"Kau bisa" tanya Adam.


"Bisa" ucap Ilham.


Ilham mendekat pada seseorang yang berada di sana.


"can you tell me the prayer times here" (bisa kamu beri tau saya kapan waktu Sholat di sini) tanya Ilham.


"dawn prayer time at 6:02 am" (waktu Sholat subuh pukul 6:02 pagi) jawab seseorang itu.


"Thank you" ucap Ilham.


"Your wel come" ucapnya.


Ilham mendekat lagi pada Adam dan Yasya.


"Bagai mana" tanya Adam.


"Katanya pukul 6 lebih 2 menit" ucap Ilham.


"Oh beda ya" ucap Adam.


"Tentu saja" ucap Ilham.


Adam masih menunggu lagi di sana, dia melihat ponselnya namun sayang tak ada sinyal di sana.


"Bagai mana ini" gumam Adam.


"Dimana kita bisa membeli kartu yang ada sinyal nya" tanya Adam.


"Nanti kalau sudah siang kita cari aku juga ingin beli karena di sini gak ada sinyal" ucap Ilham.


Sedangkan Yasya sejak tadi hanya tidur saja di kursi bandara itu.


"Oh ya Gus Adam mending kita tukar kan dulu uang kita ke Bank" ucap Ilham.


"Ya ayo" ucap Adam.


"Ya aku takut uang ku kurang karena kemarin aku hanya bawa sedikit" ucap Ilham.


"Kenapa" tanya Adam.


"Ya aku mendadak datang ke sini dan kau tau orang tua ku tak mengijinkan" ucap Ilham.


"Kenapa begitu" tanya Adam.


"Ya aku hanya bawa uang seadanya kau tau aku di rumah pun hanya merasa pusing saja, kau tau aku mau di jodohkan dengan anak salah satu teman Abi aku menolak" ucap Ilham.


"Kenapa menolak" tanya Adam.


"Oh jadi kau pergi ke sini itu kabur" tanya Adam.


"Bukan kabur aku cuman healing saja selama satu bulan siapa tau saja kan setelah pulang nanti Abah dan Umi berubah pikiran" ucap Ilham.


"Kau ini ada ada saja" ucap Adam.


"Ya dari pada tersiksa" ucap Ilham.


"Bagai mana kalau setelah kau pulang Umi dan Abi mu masih tetap menjodohkan kalian" tanya Adam.


"Mau bagai mana lagi aku terima saja" ucap Ilham.


"Ya begitu lebih baik" ucap Adam.


Di pesantren para santri sudah selesai belajar sekarang mereka tengah istirahat karena baru saja melaksanakan Sholat Dzuhur.


Terlihat kalau Nirvana sekarang membawa tas nya dari arah kamar nya.


"Kak" ucap Zia yang melihat Nirvana keluar.


"Ya" ucap Nirvana.


"Mau ke mana" tanya Zia menatap tas besar yang dia bawa.


"Pulang" ucap Nirvana.


"Kenapa pulang" tanya Zia.


"Ya aku sudah pisah sekarang" ucap Nirvana.


"Pisah" tanya Zia.


"Ya, pisah" ucap Nirvana.


"Kenapa pisah kak " ucap Zia.


"Entah tadi malam Yunus menalak aku jadi aku pulang ya kan" ucap Nirvana.


"Lalu Arman" tanya Zia.


"Arman biar kan dia dengan papah nya" ucap Nirvana.


"Kak bagai mana mungkin" ucap Zia.


"Mamah" teriak Arman dari dalam kamar sambil menangis karena tak menemukan Mamah nya.


"Kak Arman nangis" ucap Zia.


Arman keluar dan memeluk Nirvana.


"Mamah mau kemana" tanya Arman.


"Arman mamah akan pulang ke kota kamu di sini ya sama papah" ucap Nirvana.


"Tapi Mah" ucap Arman nangis.


"Aku bukan mamah kamu" ucap Nirvana.


"Kak" tanya Zia.

__ADS_1


"Mau dengar cerita" tanya Nirvana pada Arman.


"Cerita apa" tanya Arman.


"Duduk lah" ucap Nirvana.


Nirvana dan Arman duduk sedang kan Zia berdiri di depan mereka.


"Asna Farida Waisya dia teman ku bahkan kami sudah seperti saudara sendiri, saat itu kami selalu rutin datang ke pengajian yang di isi oleh Ustadz terkenal yaitu Ustadz Yunus, setelah itu Ustadz Yunus datang ke rumah Asna untuk melamar Asna, mereka menikah namun secara sederhana bahkan keluarga Ustadz Yunus tak ada yang datang hingga aku mendengar berita bahwa Asna hamil aku ikut senang mendengar berita itu hingga Asna melahirkan aku tak pernah datang kerumahnya atau bahkan bertemu pun aku tak melakukan nya, saat itu Asna melahirkan Arman dia melahirkan mu Nak" ucap Nirvana mengusap rambut Arman.


"Aku datang ke sana melihat bayi laki laki yang di lahir kan sahabat aku itu, saat itu usia Arman dua bulan aku datang ke rumahnya untung saja saat itu Asna sedang berada di dalam rumahnya dan di luar ada aku dan Ustadz Yunus, Istri pertama Ustadz Yunus datang ke sana aku tak menyangka kalau Ustadz Yunus sudah menikah, istri tua nya memarahi aku dia menyangka kalau aku istri muda nya, hingga saat itu Asna sakit sakitan aku yang merawat nya karena Ustadz Yunus sibuk dengan urusan nya dengan istri tua nya, Asna pernah bilang "Nir aku mau kau menikah dengan Mas Yunus" aku menolak aku tau kalau Ustadz Yunus sudah menikah tapi aku bungkam karena tak mau Asna sakit hati, lalu Asna ingat kan aku pada hutang Budi ku yang belum Aku bayar, hingga malam itu Ustadz Yunus datang ke sana namun itu hari terakhir bagi Asna dia meninggal dengan meninggal kan Arman yang masih berusia tiga bulan, karena wasiat itu Ustadz Yunus menikahi ku hingga lima tahun ini kami menikah namun tanpa cinta" ucap Nirvana menjelaskan.


"Apa jadi kalian" tanya Zia tak percaya.


"Ya begitu cerita nya" ucap Nirvana.


"Arman diam di sini bersama dengan papah kamu ya" ucap Nirvana.


Arman menangis karena tak mau pisah dengan mamahnya.


"Zia titip Arman sampai papah nya datang" ucap Nirvana.


"Ya" ucap Zia menggendong Arman yang sedang menangis itu.


"Mamah" ucap Arman menangis.


Nirvana pergi dari sana meninggal Arman yang masih menangis.


Abah datang ke sana karena mendengar Arman menangis.


"Ada apa Zia" tanya Abah.


"Abah ini Arman nangis" ucap Zia.


"Kenapa nangis" tanya Abah.


"Kak Nirvana pergi katanya sudah di talak Uatadz Yunus" ucap Zia.


"Apa" ucap Abah kaget mendengar hal itu.


Abah menatap ke seluruh arah mencari keberadaan Yunus yang sekarang sudah berbuat fatal.


"Dimana Yunus" tanya Abah.


"Tadi aku lihat di Madrasah Abah" ucap Zia.


Abah pergi dari sana meninggal kan Zia dan Arman yang sekarang masih menangis.


"Diam Arman nanti papah kamu datang ya" ucap Zia.


"Kak kenapa Arman nangis" tanya Rena yang baru saja datang ke sana.


"Kak Nirvana nya pergi" ucap Zia.


Sedangkan Abah sekarang dia tengah mendekat pada Yunus yang sekarang berada di Madrasah karena sedang membersihkan Al Qur'an.


"Yunus" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Yunus mendekat pada Abah.


"Kenapa kau menalak Nirvana" tanya Abah.


"Abah aku hanya" ucap Yunus gugup.


"Sekarang Arman menangis dan Nirvana juga sudah pergi" ucap Abah.


"Pergi? Kapan?" Tanya Yunus.


"Lebih baik kau bawa Arman sekarang kasihan Zia kesusahan menenangkan Arman" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Yunus.


Yunus langsung pergi dari sana menuju ke tempat Zia sekarang.


Yunus mengambil alih Arman yang sekarang berada di tangan Zia.


"Sudah Arman jangan nangis" ucap Yunus pada putra nya itu.


"Pah, mamah pulang" ucap Arman di sela sela menangis nya.


"Ya biarkan saja dia" ucap Yunus.


"Ayo ke rumah Laras sekarang karena kita harus jelas kan semua nya sebelum terlambat" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Yunus hanya patuh saja pada ucapan Abah.


Mereka berangkat menuju rumah Laras rumah istri tua nya Ustadz Yunus.


Namun sayang baru saja sampai di sana sudah ada Bu Nawang yang menghalanginya mereka untuk masuk dan bertemu dengan Laras.


"Pergi lah dari sini anak ku sudah menandatangani surat perceraian nya" ucap Bu Nawang.


"Tapi Bu aku mau bicara pada Laras" ucap Yunus.


"Biarkan mereka yang akan memutuskan Bu" ucap Abah.


"Tidak bisa" Bu Nawang menghalangi jalan mereka.


"Larass....." Teriak Yunus memanggil istrinya.


Laras keluar dari rumahnya dia melihat ada Yunus dan Abah serta ibunya yang sedang menghalangi jalan masuk.


"Laras kita harus bicara" ucap Yunus.


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi Mas semua susah jelas aku sudah menandatangani surat perceraian hanya kau yang belum" ucap Laras dari ambang pintu rumah nya.


"Tapi Laras" ucap Yunus.


"Aku sudah putuskan mas" ucap Laras.


"Gak bisa aku sudah cerai kan Nirvana" ucap Yunus.


"Tapi aku yang gak bisa mas" ucap Laras yang langsung masuk ke dalam rumah nya dan mengunci rumahnya supaya Yunus tak berani masuk.


"Abah bagai mana ini" tanya Yunus.


"Apa lagi pulang" ucap Abah.


"Tapi" ucap Yunus.


"Pulang" ucap Abah.


Mereka pulang dari sana menuju kembali ke pesantren karena percuma juga bicara pun Laras sudah memutuskan untuk pisah.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2