Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 26


__ADS_3

Sore harinya Adam dan Haddad sudah bersiap akan ke mesjid sebelah karena warga mengundang Haddad untuk mengisi acara pengajian di sana.


"Sebentar Gus aku akan menemui Aziya dulu" ucap Haddad.


"Ya silahkan" ucap Adam.


"Ya Alloh aku tak sangka Zia akan bicara seperti kemarin, aku tau Zia tak pernah berbohong, apa ucapan Zia memang benar, atau kah benar kata Ning Marwah kalau Zia suka, aahh tapi tak mungkin kalau dia suka pada ku kenapa dia mau dengan Ustadz Haddad" gumam Adam.


"Aziya" sahut Haddad saat melihat Zia yang ada di sana.


"Ya" jawab Zia.


"Maaf hari ini aku akan ke mesjid sebelah, dan nanti aku langsung pulang ke kota" ucap Haddad.


"Oh ya" tanya Zia.


"aku akan datang kembali saat Gus Adam akan menikah" ucap Haddad.


"Ya baiklah" ucap Zia.


"Aku pamit, Assalamualaikum" ucap Haddad.


"Waalaikum salam" ucap Zia.


Zia menatap kepergian Haddad,


"Zia bukalah hati mu untuk Haddad, dia baik sudah pasti dia akan menjaga mu" ucap Zia bermonolog sendiri.


Sejak kejadian itu Adam dan Zia tak saling tegus sapa bahkan saat saling berpapasan pun Adam dan Zia tak berani menatap.


Bukan karena apa apa tapi Zia tak mau mendapat masalah lagi kalau bersama dengan Adam.


Malam harinya Zia ikut mengaji dengan para santri yang lain.


"Ning Rena kenapa bawa buku" tanya Zia saat melihat para santri membawa buku.

__ADS_1


"Sekarang kita sedang belajar Fikih kak" jawab Rena.


"Oh" ucap Zia, saat ini Zia tak punya buku, tak hanya buku balpoin saja Zia tak punya karena dia tak membawanya.


"Baiklah ayo kita mulai" ucap guru yang memimpin di depan.


Semua santri diam dan senyap saat guru itu menjelaskan karena hal ini menjadi hal yang sangat mengancam bagi mereka, karena dahulu juga pernah ada belajar Fikih dan di akhir kalimat guru bertanya pada santri dan santri itu tak bisa menjawab hingga terpaksa menerima hukuman dari guru.


"Dengar, kita akan membahas tentang Najis, kalian pasti sudah tau kan Najis itu apa bahkan waktu di sekolah sd juga dulu kalian sudah pernah membahas tentang Najis, jadi saya percaya kalau kalian tau apa saja Najis" ucap Guru itu dengan suara tinggi seperti teriak karena keadaan sudah malam jadi pihak pesantren tak bisa lagi menghidupkan Microphon karena akan menganggu orang lain.


"Kenapa kita membahas tentang Najis, Ibu hanya mau ingatkan lagi kalian siapa tau saja kalian lupa" ucap Guru yang bernama Isma itu.


"Najis adalah semua benda yang di hukumi kotor oleh syariat, seperti bangkai, darah, kotoran hewan, dan sebagainya. Islam sangat menekankan kebersihan bagi pemeluknya terutama bila terkena najis" jelas guru Isma.


"Najis dibagi menjadi 3 apa saja?


Dilihat dari kekuatan dan sumbernya, najis dibagi menjadi tiga, yaitu najis mugholladhah, mukhoffafah dan mutawassithoh" ucap Bu Isma.


"Ada yang tau artinya" tanya Bu Isma.


Namun para santri tak berani menjawab karena jika salah satu kata saja maka mereka sudah pasti akan malu karena akan di teriaki 400 orang santri.


"Imran, Gilang, Arya, gita, Rasty, nurul kalian gak tau juga" tanya Bu Isma.


"Saya bu" dari arah pojok seorang santri mengacungkan tanganya.


"Ya" ucap Ibu Isma.


"Najis mutawassithoh adalah Najis sedang, Najis Mughoffafah adalah Najis ringan dan Najis Mugholladhah adalah Najis berat" jawabnya.


"Benar namun kurang jelas" ucap Bu Isma.


"Najis mugholladhah (najis berat) adalah najis dari anj ing, babi dan segala keturunannya. Sedangkan Najis mukhoffafah (najis ringan) adalah najis yang berupa air seni anak laki-laki yang belum genap berumur dua tahun dan belum pernah mengkonsumsi selain ASI.


Dan terakhir Najis Muthawasithah, Najis ini di bagi menjadi dua:

__ADS_1


Pertama Najis Hukmiyah najis yang kita yakini ada namun tak terasa seperti tak ada baunya rasanya dan bentuknya, contohnya adalah bekas air kencing yang sudah kering, kita yakin kalau di baju itu ada bekas air kencing tapi tak ada rupa bentuk dan warnanya.


Sedangkan Najis kedua adalah Najis ‘ainiyah, yaitu najis yang masih terdapat dzat atau salah satu sifatnya seperti bau, warna dan rasa" ucap Bu Isma.


Banyak sekali hal hal yang Bu Isma jelaskan dan Zia menanggapinya dengan sangat fokus karena jujur saja Zia lupa masalah Najis ini, walau pun waktu sekolah Zia pernah belajar ini tapi tetap saja Zia lupa.


Malam harinya semua santri bubar dan masuk kedalam kamarnya masing masing, walau pun hari ini tak ada pertanyaan tapi para santri tetap was was karena takut Bu Isma bertanya di lain waktu.


"Kak Zia" tanya Rena.


"Ya Ning".


"Tentang ucapan kak Zia, aku pernah mendengar Umi dan Abah saat sedang mengobrol, kata Umi Ning Marwah tak sebaik yang kita lihat, malahan Umi suka pada kak Zia" ucap Rena.


"Oh ya kapan" tanya Zia.


"Malam saat Gus Adam tak keluar dari kamar aku masuk ke rumah dan mendengar obrolan mereka" ucap Rena.


"Oh ya" tanya Zia.


"Kak kalau memang benar apa kakak bisa membantu menggagalkan pernikahan mereka, bukan maksud aku jahat tapi aku yakin feeling Umi tak akan salah" ucap Rena.


"Hmm aku gak mau mengganggu hubungan mereka Ning, sudah cukup aku menanggung malu dan hinaan aku tak sekuat itu Ning" ucap Zia.


Zia menarik nafasnya kasar.


"Aku tak suka pada Gus Adam Ning, aku hanya peduli" ucap Zia lagi.


"Ya aku percaya" ucap Rena.


"Kau tak akan tau Ning, apa saja keburukan Ning Marwah" ucap Zia.


"Memangnya apa" tanya Gita dan Rena secara bersamaan.


"Banyak kalian tak harus tau dari ku karena kalau kalian tau dariku aku akan di sangka memfitnah Ning Marwah, sama seperti Gus Adam" ucap Zia.

__ADS_1


"Tapi kak aku gak akan bicara begitu" ucap Rena.


"Maaf tapi aku sudah tak mau membahas itu lagi, aku terlalu sakit hati Ning" ucap Zia.


__ADS_2