Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 54


__ADS_3

Semua para santri berjalan menuju rumah calon pengantin wanita.


Sedangkan Zia, Adam, Rena dan Gita berjalan perlahan di belakang.


"Lihat lah Gus Adam ada hubungan dengan Kak Zia".


"Apa mereka taaruf".


" baju mereka Couple".


"Mungkin benar mereka pacaran".


" aku tak rela".


"Aku kira Gus Adam suka pada ku ternyata yang dia suka kak Zia.


Ucap para santri sambil menatap natap pada Zia dan Adam.


"Kenapa semua orang melihat kita" tanya Zia.


"Kak karena kalian pakai baju yang sama, mereka mengira kau dan Gus Adam pacaran" ucap Rena.


"Begitu kah" tanya Zia.


"Bagai mana pendapat mu Gus" tanya Zia pada Adam.


"Tak apa, yasudah kita pacaran saja" ucap Adam.


"Satu hari ini saja ya" ucap Zia yang langsung tertawa.


"Terserah" gumam Adam.


Mereka sampai di acara pernikahan Ning Husna, acara dengan nuansa sederhana tercipta di sana, dengan panggung yang di isi qasidah dari pesantren Al Zakaria membuat acara itu semakin meriah.


Terlihat dari kota sudah datang dua mobil yang hanya berisi sepuluh orang saja, dengan calon mempelai laki laki yang sekarang baru saja turun dari mobil.


Zia menatap pada Haddad ada rasa kesal, kecewa, marah, dan sakit hati yang Zia rasakan namun hanya bisa Zia tahan karena Zia tau sekarang Haddad akan menjadi milik orang lain.


Para santri duduk di aula yang sudah di siapkan, karena sebentar lagi Haddad akan mengucapkan ijab kobul di depan penghulu dan di depan orang tua Husna.


Husna keluar dari rumahnya dengan di balut gaun pengantin dan riasan ala adat sunda membuat Husna sedikit pangling.


"Lihat Ning Husna cantik ya" ucap santri yang melihat.


"Kapan aku akan menikah".


" aku ingin punya suami seperti Ustadz Haddad".


"Ahk lihat mereka sangat serasi bukan".


Suara dari para santri wanita yang merasa kagum terdengar sampai ke telinga Zia dan Adam.


"Zia apa kita adalah orang orang sedih" tanya Adam.


"Ya mungkin saja" ucap Zia.


"Yang sabar ya" ucap Adam.


"Setelah akad selesai bisa kah kita lansung pulang" tanya Zia.


"Ayo" ucap Adam.


Haddad duduk di meja yang sudah di sediakan di sana dan Husna duduk di samping Haddad, depan mereka ada penghulu yang sudah siap menikahkan mereka.


Haddad menjabat tangan Ustadz Hasan yang tak lain adalah Abi nya Husna,


"Nampi abi nikah ka Neng Husna anggraeni putra teges bapak Hasan kanggo abi, ku mas kawin saparangkat alat sholat sareng emas sapuluh gram di bayar kontan" ucap Haddad mengucapkan ijab kobulnya.


"Kumaha saksi" (bagai mana saksi) tanya Penghulu.


"Sah"


"Sahh, alhamdulilah.... " ucap penghulu sambil berdoa.


"Jang, Neng ayena mah anjen tos sah janten suami sareng istri, jadi kanggo ujang jaga istrina pasihan nafkah batin sareng lahir, kanggo neng cing patuh ka suami naon wae anu di parentah ken ku suami lamun eta aya dina jalan Alloh sok gugu" ucap penghulu memberikan nasehat.


Semua tamu undangan menikmati hidangan yang sudah di berikan.


Sedangkan Zia dia mengajak Adam menemui Husna dan Haddad di atas pelamin.


"Ayo Gus pulang" ucap Zia.


"Ayo" ucap Adam.


Zia dan Adam berjalan ke atas pelaminan,


"Selamat Ning" ucap Zia sambil memberikan kado yang Zia bawa.


"Terima kasih Zia sudah datang" ucap Husna.


"Ya tak masalah" ucap Zia.


"Zia maaf" ucap Husna.


"Maaf? Untuk apa" tanya Zia.


"Karena aku" ucap Husna menatap pada Haddad yang sekarang tengah berbincang dengan Adam.


"Tak masalah Ning mungkin aku bukan jodohnya dan jodohnya adalah kau" ucap Zia.


"Maaf karena waktu itu aku sangat menyebalkan" ucap Husna.


"Haha tak apa Ning" ucap Zia tertawa kecil.


"Semoga kalian berjodoh" ucap Husna menatap pada Adam dan Zia secara bergantian.


"Amin" ucap Adam.


Zia hanya tersenyum saja.


"Ning Husna salah paham" gumam Zia.


"Ustadz selamat ya" ucap Zia pada Haddad.


"Ya terima kasih, jadi ternyata Gus Adam pacar baru mu" ucap Haddad.


"Hahaha ya begitu lah jodoh gak akan kemana ya Gus Adam" ucap Zia.


"Ya Zia" ucap Adam mengiyakan ucapan Zia.


"Baik lah kami permisi, sekali lagi selamat ya" ucap Adam.


"Ya" ucap Haddad.


Mereka berdua pulang dari sana.


"Dam mau kemana" tanya Umi yang masih berada di sana.


"Aku mau pulang Umi" ucap Adam.


"Oh baiklah" ucap Umi.


Mereka berdua berjalan kearah pesantren, karena rumah orang tua Zia tak jauh dari sana, Zia mengajak Adam untuk ke rumah.


"Gus ke rumah dulu yu" tanya Zia.


"Mau apa" tanya Adam.


"Kita mampir saja" ucap Zia.


"Awas ya jangan berfikir macam macam" ucap Zia.


"apa memang aku berfikir apa" tanya Adam.


"Awas kalau kau membayangkan yang tidak tidak" ucap Zia.


"Tak akan Zia" ucap Adam.


Zia membuka kunci pintu rumah orang tuanya yang terkunci, Zia mengajak Adam masuk kedalam.

__ADS_1


"Astagfirulloh Zia kenapa berantakan begini" tanya Adam.


"Ya saat penculikan itu penculik nya memberantakin ini semua, dan aku gak ke buru bersihin" ucap Zia.


"Kau masuk lah saja, aku akan bereskan dulu ini" ucap Zia pada Adam.


"Biar aku bantu" ucap Adam.


"Jangan aku tak enak Gus masa aku yang ajak kamu ke sini tapi kamu bantu beres beres" ucap Zia.


"Tak masalah" ucap Adam.


"Jangan" ucap Zia.


"aku bantu Zia tak masalah" ucap Adam membantu Zia membereskan barang barang yang berserakan di lantai.


"Makasih" ucap Zia.


Mereka berdua beres beres sampai selesai, bahkan sekarang barang barang yang tadi berserakan sudah berada di posisi nya semula.


"Kau duduk saja aku akan pel lantai" ucap Zia.


"Baik lah" ucap Adam.


Adam menatap pada setiap ruangan itu, banyak sekali foto foto keluarga bahkan ada juga Foto Zia dan Kakaknya yang mengantung di dinding.


"Apa ini Zia" gumam Adam.


Adam melihat foto keluarga yang sangat besar mengantung di dinding.


"Itu mungkin keluarga besar Zia" gumam Adam.


Zia keluar dari kamar mandi dengan membawa ember yang berisi air dan kain pel, Zia mengepel lantai dengan perlahan karena takutnya Licin.


"Zia apa itu foto mu" tanya Adam.


"Tentu saja" ucap Zia.


"Cantik kan" tanya Zia.


"Cantik yang sekarang yang masih kecil hanya lucu" ucap Adam.


"Ya tentu saja aku kan memang cantik" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Setelah selesai mengepel semuanya Zia kembali menyimpan ember itu ke kamar mandi,


"Gus kau pasti lapar kan karena belum makan" ucap Zia.


"Tidak terlalu" ucap Adam.


"Aku akan beli makanan" ucap Zia.


"Kenapa beli" tanya Adam.


"Gus di dapur hanya ada mie instan saja" ucap Zia.


"Tak apa masak saja yang ada" ucap Adam.


"Aku gak bisa masak mie kemarin pernah masak mie tapi gosong" ucap Zia.


"Masak mie gak bisa? Masa sih? Hanya mie" tanya Adam tak percaya.


"Ya aku gak bisa" ucap Zia.


"Baik lah ayo aku masakan" ucap Adam.


"Tapi masa laki laki masak" tanya Zia.


"Apa salah nya" tanya Adam.


"Bukan salah tapi apa kamu bisa" tanya Zia.


"Hanya mie kan semua orang juga bisa" ucap Adam.


"Bukan gak bisa kau hanya tak biasa saja Zia" ucap Adam.


"Ya mungkin" ucap Zia.


Adam memasak mie dan Zia hanya melihat saja karena tak mau makanannya gosong lagi, Zia melihat dengan teliti.


Adam sudah selesai memasak mie.


"Sudah" ucap Adam.


"Begitu saja" tanya Zia yang di balas anggukan kepala oleh Adam.


"Semudah itu" tanya Zia lagi.


"Makan nya merek nya mie instan karena ya buat nya instan" ucap Adam.


"Oh" ucap Zia.


Mereka berdua memakan mie di meja makan,


"Apa sebelumnya kau pernah makan mie instan" tanya Adam.


"Pernah kemarin sama mamah itu pun buatan mamah" ucap Zia.


"Siapa yang memasak untuk mu" tanya Adam.


"Bi Ratna, dulu kalau aku gak ada yang masak aku ke cafe buat makan" ucap Zia.


"Oh" ucap Adam.


"Kau tau Gus dulu uang jajan ku lima puluh juta berbulan" ucap Zia.


"Hah uhuk uhukk" ucap Adam terbatuk batuk karena mendengar ucapan Zia.


"Minum Gus, makan lah dengan perlahan" ucap Zia.


"Zia apa tak salah lima puluh juta satu bulan" tanya Adam.


"Ya kenapa" tanya Zia.


Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal,


"Beli apa saja kau dengan uang lima puluh juta" tanya Adam.


"Tas, baju, ya buat aku jajan" ucap Zia.


"Kamu tau Zia, di kampung uang lima puluh juta bisa buat rumah" ucap Adam.


"Membangun rumah" tanya Zia tak percaya.


"Ya" jawab Adam.


"Mana ada uang lima puluh juta bisa bikin rumah" ucap Zia masih tak percaya.


"Beneran" ucap Adam.


Zia selesai makan dan menyimpan mangkuk bekas mie itu ke wastafle,


"Gus kenapa kau belum menikah" tanya Zia.


"Memang nya kenapa" tanya Adam.


"Bukan kenapa kenapa, umur mu sudah cukup matang untuk menikah tapi kau belum menikah juga" ucap Zia.


"Jawaban nya juga kau tau sendiri kan" ucap Adam.


"Apa" tanya Zia.


"Karena gak ada yang mau sama aku Zia" ucap Adam.


"Masa sih, aku lihat para santri wanita banyak yang suka pada mu" ucap Zia.


"Tetap saja Zia mereka hanya sebatas mengagumi bukan benar benar mencintai" ucap Adam.

__ADS_1


"Lalu kau mau yang seperti apa" tanya Zia.


"Aku tak akan minta yang aneh aneh hanya saja aku mau yang baik dan yang paling penting dia harus perempuan" ucap Adam.


"Tentu saja mana mungkin laki laki" ucap Zia.


"Simple kan" tanya Adam.


"Ya sih" ucap Zia.


"Kau mau daftar" tanya Adam.


"Daftar jadi pacar mu" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Aku sadar diri Gus, mana mungkin kau mau pada ku, bahkan kita saja ibarat langit dan bumi jauh sekali" ucap Zia.


"Walau pun jauh tapi mereka bisa saling melihat" ucap Adam.


"Tapi tak bisa memiliki" ucap Zia.


Mereka berdua hendak keluar dari rumah itu namun tiba tiba Adzan Dzuhur ber kumandang.


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Allaahu akbar, allahu akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah.


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.


Asyhadu anna muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya alashshallah


Hayya 'alalfalaah.


Hayya alalfalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah".


"Alhamdulilah" ucap Zia dan Adam serempak.


"Gus kita Sholat di rumah saja karena gak akan mungkin kalau kita bisa sampai pesantren tepat waktu" ucap Zia.


"Baik lah ayo" ucap Adam.


Zia masuk kedalam kamar mandi di rumah itu untuk mengambil Wudhu.


Namun Zia melihat ada katak kecil di dalam bak mandi disana.


"Aaaaaa" teriak Zia dari kamar mandi.


Adam yang sedang bersandar pada dinding pun hanya langsung berlari ke arah kamar mandi karena takutnya Zia akan kenapa kenapa.


"Ada apa Zia" tanya Adam.


"Ada katak" ucap Zia.


"Mana biar aku keluarkan" ucap Adam yang langsung masuk kedalam kamar mandi, tanpa sengaja Adam menutup pintu kamar mandi tapi tak menguncinya.


"Hanya katak kecil saja, kau tau Zia yang seperti ini orang sini biasa menyebutnya dengan sebutan bancet" ucap Adam.


"Bancet" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Aneh sekali" ucap Zia.


"Sudah aku sudah masukan kedalam pembuangan" ucap Adam.


"Baik lah aku akan wudhu kau keluar lah" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Saat Adam hendak membuka pintu dengan menarik gagang pintu Adam panik karena pintu nya tak bisa di buka.


"Ada apa Gus" tanya Zia.


"Zia pintunya tak bisa di buka" ucap Adam.


"Apa" tanya Zia panik.


Zia mencoba membuka pintu dengan menarik narik gagang pintu tapi tetap tak bisa.


"Pintu ini selalu saja macet terus" geram Zia.


"Apa selalu begini" tanya Adam.


"Kalau mamah sama papah gak pernah hanya saja kalau aku ke kamar mandi selalu begini" ucap Zia.


"Lalu bagai mana sekarang" ucap Adam.


"Jangan mendekat" ucap Zia.


"Apa" tanya Adam heran pada Zia.


"Ini pasti alasan kamu kan, kamu kan yang merencanakan semuanya, kamu tau kalau pintu nya sering macet dan kamu masuk kedalam dengan alasan akan menolong aku, tapi nyatanya kamu" ucap Zia.


"Hah tak waras" gumam Adam.


"Kau lupa Zia, kalau kau yang teriak karena ada katak dan sekarang kau tuduh aku yang macam macam, atau jangan jangan kau yang menjebak aku" ucap Adam.


"Jebak apa" tanya Zia.


"Ya jelas saja kau sudah mau nikah kan dari pada itu kau menjebak aku" ucap Adam.


"Ngaco" ucap Zia.


"Lalu sekarang bagai mana" tanya Zia semakin panik.


"apa lagi diam saja di sini" ucap Adam.


"mana mungkin kita ber duaan di sini aku takut kau macam macam pada ku" ucap Zia.


"gak akan aku masih tahan iman Zia" ucap Adam.


Adam menatap ke sekeliling kamar mandi itu tapi tak ada jendela atau lubang untuk keluar,


Adam mencoba lagi untuk membuka pintu yang macet itu.


Tetapi usaha nya gagal karena pintu tetap saja macet dan tak bisa di buka.


"kita diam saja sampai pintunya bisa di buka" ucap Adam.


"lalu kita bagai mana" tanya Zia yang sekarang hendak menangis.


"tapi" ucap Zia.


Brakk


"sedang apa kalian" tanya seseorang.


"hah" ucap adam dan Zia serempak.


Siapa itu???


apa yang terjadi selanjutnya??


Bersambung.


.

__ADS_1


__ADS_2