
Sore harinya Zia mendapat kabar kalau Nirvana itu akan tinggal di pesantren karena Ustadz Yunus sebagai guru maka pihak pesantren memberikan tempat untuk keluarga nya juga.
Para santri di buat pusing dengan ada nya Arman anak Ustadz Yunus, karena Arman sejak tadi tak bisa diam bahkan apa pun yang dia lihat maka dia akan hancurkan.
Arman masuk ke dalam kamar salah satu santri yang pintu nya terbuka dan membawa selimut serta bantal nya ke luar bahkan dia menyimpan nya di lapangan.
"Selimut dan Bantal ku di ambil anak itu" ucapnya.
"Biar Umi ganti yang baru" ucap Umi yang mendengar hal itu.
"Ya Umi" ucapnya.
Zia hanya duduk di kasur sambil menyandarkan kepalanya ke besi tangga jalan untuk naik ke kasur atas.
"Zia kata Abah kamu di panggil ke rumah" ucap Ainun.
"Ada apa" tanya Zia.
"Gak tau aku juga di panggil" ucap Ainun.
"Kalau begitu ayo bareng" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Ainun.
Mereka berdua menuju ke rumah Abah.
"Assalamualaikum" ucap Zia dan Ainun.
"Waalaikum salam" ucap Abah dari dalam rumah nya.
"Ayo masuk" ucap Abah lagi.
Zia dan Ainun masuk kedalam mereka langsung duduk di kursi rumah Abah.
"Ada apa Abah katanya Abah memanggil kami" tanya Zia.
"Ya Abah ingin bertanya sesuatu" tanya Abah.
"Tanyakan saja Abah" ucap Ainun.
"Kalian sudah baik kan" tanya Abah.
"Sudah Abah kami teman sekarang" ucap Zia.
"Abah hanya ingin bertanya sesuatu pada kalian, begini kalian sekarang berusia hampir 24 tahun iya" tanya Abah.
"Ya Abah" ucap nya serempak.
"Dan di pesantren ini hanya kalian yang berumur 24 tahun, betul" tanya Abah.
"Betul Abah" ucap Zia dan Ainun.
"Jadi begini Abah mau tanya kenapa kalian baru masuk pesantren sekarang waktu umur kalian masih muda masih 13 sampai 18 tahun kalian kemana saja" tanya Abah.
"Kemarin saat Zia baru masuk Abah tak heran karena Abah tau kalau Zia cukup melewati batas namun setelah Ainun datang Abah jadi penasaran sejak SMP sampai SMA kalian kemana saja kalian belajar apa saja, sekarang kalian cocok menjadi guru bukan menjadi santri" sambung Abah lagi.
"Abah aku di kota" ucap Ainun.
"Ya Abah tau tapi sekarang Umur kalian sudah tua sudah cocok berumah tangga apa kalian tak malu kalau di sama kan dengan anak santri yang baru berumur 18 tahun" tanya Abah.
"Abah aku dulu saat SMA aku di luar negeri, adat dan budaya di sana beda dengan di sini jadi aku lupa apa saja yang di ajarkan di sana" ucap Zia.
"Berapa tahun di sana" tanya Abah.
"Hanya tiga tahun" ucap Zia.
"Kelas tiga SMP sampai tamat SMA aku kuliah di sini" sambung Zia lagi.
"Belajar apa saja saat kuliah" tanya Abah.
"Aku ambil jurusan bahasa" ucap Zia.
"Bisa" tanya Abah.
"Gagal Abah" ucap Zia.
"Sebenarnya Abah bingung mau mendidik kalian dari mana karena di sini hanya belajar begini sekolah dan ceramah tadarus, bahkan kita menghafal Al-Qur'an masa Abah akan menggabungkan kalian dengan anak SMA, bagai mana kalian nantinya" ucap Abah.
"Abah kami tak masalah" ucap Ainun.
"Ya Abah" ucap Zia.
"Setidak nya kami di sini merasa nyaman karena banyak orang orang yang peduli bahkan kami juga tau sedikit sedikit tentang ilmu Agama" ucap Zia lagi.
"Ya Abah yang di katakan Zia benar" ucap Ainun.
"Ya Abah tau tapi apa bagai mana nantinya" ucap Abah.
Abah menarik nafas dalam dalam.
"Abah harap kalian bisa menjadi guru di sini" ucap Abah.
"Amin Abah" ucap Zia dan Ainun serempak
.Zia kembali ke kamar nya bersama dengan Ainun karena sekarang masih istirahat jadi Zia bisa bersantai selama beberapa menit.
Zia membaringkan tubuhnya di atas kasur dia sangat ingat pada Adam walau pun baru beberapa jam saja Adam pergi Zia merasa sangat rindu pada Adam.
"Apa benar Gus Adam itu jodoh ku" gumam Zia.
Zia mengingat sorban yang pernah Adam berikan, Zia mengambil sorban itu dan mencium aroma harum dari sorban itu.
Aroma khas dari Adam mendominasi sorban itu.
"Kenapa aku sangat rindu pada mu Gus padahal baru saja beberapa jam saja kita berpisah, dan ini pasti akan berlangsung selama satu bulan" gumam Zia.
Zia kembali duduk di kasur nya.
"Kak ayo kita makan" ucap Rena yang baru saja datang ke sana.
"Makan" tanya Zia.
__ADS_1
"Ya kak Abah sengaja tak membunyikan bel" ucap Rena.
"Ya aku akan datang" ucap Zia yang langsung menyimpan kembali sorban Adam itu pada lemari nya.
Zia berjalan ke arah tempat Khusus makan para santri, semua santri sudah makan bahkan santri putri juga semua sudah ada di sana.
Zia mengambil piring dan hendak mengambil nasi dari wadah nya.
Namun tiba tiba ada Arman datang ke sana.
Dia mendorong panci yang isinya sayur sehingga..
Brakk
Sayur yang berada di panci tumpah ke lantai dan bahkan mengguyur santri putri yang duduk dekat dengan meja makan.
"Astagfirullah" ucap Umi.
"Awwss panas" ucap santri putri yang terkena sayur itu.
Umi mendekat pada santri itu.
"Ayo Neng cepat obati takutnya kulit kamu melepuh" ucap Umi.
Ada dua santri putri yang terkena sayur yang masih cukup panas itu.
Sedangkan Nirvana yang nota bene nya sebagai ibunya hanya diam saja tanpa melakukan apa apa.
Zia hanya menatap Nirvana dengan tatapan aneh karena Zia baru saja melihat seorang anak melakukan kesalahan tapi ibunya hanya diam saja tanpa menegur nya.
Ustadz Yunus datang ke sana dia langsung menggendong putranya.
"Maaf kan Arman dia tak sengaja" ucap Ustadz Yunus.
"Tak masalah Ustadz" ucap para santri putri.
"Kalian lanjut kan saja makan nya nanti akan ada orang yang akan membersihkan ini" ucap Ustadz Yunus.
"Ya" ucap santri putri.
Zia melanjutkan kembali mengambil makanan nya, namun Zia dan beberapa santri putri yang sedang antri di belakang Zia tak mendapat sayur untuk lauk nya hanya tahu tempe dan oseng kangkung saja.
Zia duduk bersama dengan Rena dan Gita yang sekarang sudah makan.
Santri putri saling berbisik menanyakan sikap Nirvana istrinya Ustadz Yunus, yang hanya diam saja saat anak nya melakukan kesalahan.
Hal itu pun di rasakan Zia, karena Zia sangat penasaran pada Nirvana, yang Zia lihat ada sebuah tekanan yang sekarang tengah menekan hati Nirvana sehingga membuat Nirvana seolah acuh dengan keadaan.
Sedangkan di rumah Umi sudah mengobati kedua santri itu dengan salep untuk meringankan rasa sakit terbakar di luka keduanya.
"Lanjut kan makan ya" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap nya.
Mereka pergi dari sana menuju ke tempat makan santri lagi.
Umi menatap pada Abah yang sekarang duduk di kursi dekat Umi duduk.
"Apa" tanya Abah.
"Bah jangan tutup mata pada kejadian ini, ya Umi tau dia masih anak anak bahkan Umi juga pernah menjadi Nirvana saat Umi punya Adam, tapi Umi tak pernah membuat Adam se jahil itu" ucap Umi.
"Sudah Umi ini ujian" ucap Abah.
"Ya Umi tau ini ujian Bah, tapi lihat para santri kasihan kalau mereka sampai mengalami lagi apa lagi ini sayur panas bagai mana kalau besok besok semakin ban Del" ucap Umi.
"Tenang Umi sabar" ucap Abah.
"Umi heran pada Nirvana sudah jelas jelas anak nya salah tapi dia tak memarahi anak nya, bahkan menegur pun tidak" ucap Umi.
"Mungkin Nirvana tak melihat" ucap Abah.
"Abah jelas jelas Nirvana itu lihat "ucap Umi kekeuh.
"Sudah jangan bahas lagi kasihan Nirvana" ucap Abah.
"Abah ini" ucap Umi marah.
Sedangkan di kamar pribadi Ustadz Yunus.
Sebuah perdebatan terjadi di sana.
"Nir jaga Arman kau tak aku suruh kerja di sini, kau tak aku suruh melayani aku dengan baik tapi aku hanya minta kau jaga Arman dia sedang aktif sekarang" ucap Yunus marah pada istrinya itu.
"Kau terlalu banyak menuntut" ucap Nirvana.
"Kau tak paham ini kesalahan" ucap Yunus.
"Salah apa? Hah? Salah apa? Apa Arman yang salah dia putra mu" ucap Nirvana.
"Ya tapi kau harus ingat kalau dia juga putra mu" ucap Yunus.
"Apa perlu aku bicarakan lagi asal usul Arman" tanya Nirvana.
"Kau jangan lupa Nir kau yang minta ini kan" ucap Yunus.
"Tapi tak begini mas, jangan mentang mentang aku tak bisa mengandung kau bisa menyalah kan aku sesuka hati mu" ucap Nirvana.
"Diam Nir jangan sampai hal ini terdengar oleh orang lain nanti kalau ada yang bicara pada Laras bagai mana" ucap Yunus.
"Biar kan saja laras istri tua mu itu tau kalau sebenarnya suami yang dia puja puja ini bukan lah orang yang baik" ucap Nirvana.
"Nir jaga bicara mu, ingat kita numpang di sini" ucap Yunus.
"Lalu" tanya Nirvana enteng.
"Apa perlu aku kembali ke kota dan aku wawar kan pada semua orang kalau aku ini hanya lah seorang pengganti dari temanku" ucap Nirvana.
"Diam" ucap Yunus.
"Apa kau fikir aku yang setiap saat hanya diam ini tak bisa bicara bahkan dengan satu ucapan saja aku bisa membongkar semua kebusukan mu" ucap Nirvana.
__ADS_1
"Kebusukan apa" tanya Yunus.
"Kebusukan mu yang menyembunyikan pernikahan mu dari istri tua mu" ucap Nirvana.
"Aku harap kau tak bicara ini lagi" ucap Yunus.
"Apa kau takut, aku kasihan pada Asna karena punya suami seperti diri mu untung saja dia meninggal cepat" ucap Nirvana.
"Apa kau menyesal menikah denganku" tanya Yunus.
"Tentu saja siapa yang mau menikah pada suami orang yang keluarga nya selalu saja menyalahkan aku" ucap Nirvana.
"Tapi katanya kau menikah pada ku karena ikhlas" tanya Yunus.
"Dulu nya aku ikhlas karena aku juga berhutang Budi pada Asna namun sayang sekarang aku mulai menyesali nya" ucap Nirvana.
Yunus hanya bisa diam saja karena dia merasa kalau memang benar dia yang salah sekarang, apa lagi permintaan Asna yang dulu masih hidup membuat Yunus semakin merasa bersalah pada Asna.
"Aku akan ke sana, tolong jaga Arman" ucap Yunus yang langsung pergi dari sana menuju ke luar pesantren.
Nirvana yakin kalau sekarang Yunus pasti akan menemui istri tua nya.
"Asna kau menjebak aku sekarang" ucap Nirvana.
"Mah aku lapar" ucap Arman pada Nirvana.
"Kau lapar, ingat jangan na kal lagi nanti papah kamu marah" ucap Nirvana pada Arman.
"Ya mah" ucap Arman.
Nirvana membawa kan nasi untuk Arman.
"Umi maaf kan Arman dia memang begitu" ucap Nirvana.
"Tak masalah" ucap Umi sedikit ketus.
"Aku tau kalian semua marah tapi aku benar benar merasa bersalah" ucap Nirvana.
"Tak apa Kak" ucap salah satu santri.
"Ya aku sangat minta maaf, buat kamu yang terluka semoga luka kalian cepat sembuh ya" ucap Nirvana.
"Ya kak" ucap nya.
"Aku permisi" ucap Nirvana sambil membawa satu piring nasi untuk Arman.
Zia menatap Nirvana dengan tatapan aneh tadi saat kejadian Nirvana hanya diam saja dan sekarang saat sudah mulai membaik Nirvana baru meminta maaf, batin Zia.
Nirvana menyuapi Arman di dekat teras kelas para santri.
Dia melihat anak dari sahabat nya itu.
"Asna anak mu sedikit na kal tapi dia mirip seperti diri mu, hidung nya, matanya semua mirip dengan mu" batin Nirvana menatap sendu anak asuh nya itu.
"Mah apa kita akan lama di sini" tanya Arman bocah berusia empat tahun itu sekarang sudah mulai semakin aktif.
"Lama" ucap Nirvana.
"Aku bosan di sini, mamah sama papah hanya berantem saja" ucap Arman.
"Kau masih kecil jadi jangan terlalu di pikirkan" ucap Nirvana.
"Ya mah" ucap Arman.
"Ingat ini Arman, jaga sikap kamu ya jangan begitu lagi karena di sini bukan tempat kita bukan orang orang kita jadi jaga sikap kamu ya" ucap Nirvana.
"Ya mah" ucap Arman.
Seseorang datang ke sana mendekat pada Nirvana dan Arman.
"Berani nya kau datang ke sini" ucap seorang ibu paruh baya yang langsung menjambak kerudung yang Nirvana pakai.
"Aww sakit" ucap Nirvana.
"Berani nya kau datang ke sini pe la kor" teriaknya.
Para santri langsung keluar dari tempat makan karena mendengar ada suara yang teriak teriak.
"Kau datang kemari ada apa hah" tanya ibu itu sambil berteriak.
"Lepas kan aku Bu" ucap Nirvana.
"Astagfirullah ada apa ini" tanya Abah yang langsung keluar dari rumahnya.
"Siapa dia" tanya para santri yang melihat adegan itu.
"Bu Nawang ada apa ini" tanya Abah.
"Abah dia pe la kor kenapa kau biarkan dia mencemarkan pesantren ini" ucap Ibu yang bernama Nawang itu.
Ibu Nawang adalah mertua dari Yunus ibu nya Laras istri tua Yunus.
"Lepas kan Bu kasihan Nirvana" ucap Abah.
Bu Nawang melepaskan nya.
"Ada apa ini" tanya Abah.
"Abah dia ini orang yang merebut Yunus dari Laras bahkan putri ku harus menangis setiap malam karena mengingat Yunus yang menikah lagi" ucap Bu Nawang marah.
"Astagfirullah Bu bisa kan di bicara kan baik baik" ucap Abah.
"Kami sudah pernah membicarakan nya Abah tapi sayang nya Yunus Malah membela wanita ini" ucap Bu Nawang menunjuk pada Nirvana.
"Masuk lah ke rumah ku kita bicara kan di sana" ucap Abah.
Namun Bu Nawang semakin marah dia kembali menjambak kerudung Nirvana.
"Rasa kan ini hah wanita Ra cun" ucap Bu Nawang.
Yunus datang ke sana dengan tatapan sedih, namun ada hal yang membuatnya semakin sedih ibu mertua nya yang tak pernah akur dengan istri keduanya.
__ADS_1
bersambung...