Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 46


__ADS_3

Di pesantren Adam sedang gelisah karena ponsel Zia tak bisa di hubungi, bahkan dari semalam pun Adam tak bisa tidur karena gelisah memikirkan Zia.


"Sadar Adam, Zia baik baik saja di sana jangan terlalu khawatir apa lagi di sana ada kakak nya juga yang akan melindungi Zia" gumam Adam.


Adam sekarang ada kelas untuk mengajar kelas 3 smp kelasnya Ning Rena dan Gita.


Adam masuk kedalam kelas dia langsung menatap pada para santri yang hanya beberapa orang saja.


"Assalamualaikum wr wb" ucap Adam.


"Waalaikum salam gus" serempak.


"Yang lain kemana" tanya Adam.


"Yang lain sedang sakit gus, bahkan ada juga yang pulang" ucap santri.


"Oh baiklah, ayo kita mulai pembelajarannya" ucap Adam.


Adam membuka buku catatan dan membacakan nya untuk para santri catat di bukunya masing masing.


"Tujuan pernikahan dalam islam" ucap Adam.


"Yang pertama melaksanakan perintah Alloh, tujuan pertama atau tujuan utama dari pernikahan adalah melaksanakan perintah Allah. Dengan melaksanakan perintah Allah, maka umat Muslim akan mendapatkan pahala sekaligus kebahagiaan. Kebahagiaan ini menyangkut semua hal termasuk rezeki, sehingga bagi Umat Muslim yang sudah menikah tak perlu khawatir tentang rezeki" ucap Adam.


"Gus apa bisa pelan pelan" tanya santri wanita.


"Hah" ucap Adam.


"Perlahan gus" ucap Rena.


"Oh ya maaf aku lupa" ucap Adam.


"Baiklah, tujuan utama dari pernikahan adalah melaksanakan perintah alloh" ucap Adam.


Adam menatap datar pada arah depan, bahkan sekarang bisa di bilang kalau Adam sedang melamun.


"Gus apa lagi" tanya Rena.


"Gus" sahut yang lain.


"Apa gus Adam tidur" tanya yang lain.


Rena berjalan mendekat pada Adam yang sekarang sedang melamun, Rena menepuk tangan Adam.


"Hah, Ning kau membuat aku kaget" ucap Adam.


"Gus kau melamun" ucap Rena.


"Maaf kan aku, aku sedang tak fokus" ucap Adam.


"Baiklah Gus biarkan aku saja yang mendikte nya" ucap Rena.


"Baiklah aku akan ke kamar mandi dulu" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.


Adam berjalan menuju kamar mandi, Adam langsung mencuci mukanya karena sekarang Adam tak fokus pada pelajaran.


Sedangkan di kota, Zia sekarang sedang melamun, bagaimana tidak dia belum bisa menemukan orang tuanya dan baru saja tadi malam rumah kakaknya itu di serang orang yang tak di kenal.


"Apa seburuk ini kehidupan aku di masa lalu" ucap Zia.


Zia berjalan ke gudang rumah Rayhan yang saat itu di penuhi buku buku pelajaran bekas Zia belajar saat kuliah dan Sma.


Zia mengambil buku catatan pelajaran PAI (pendidikan agama islam), Zia membuka setiap lembar buku yang sudah mulai lusuh dan banyak debu itu.


Zia membaca dengan detail setiap tulisan yang pernah Zia tulis 6 tahun yang lalu, di sana terdapat tulisan tentang fiqih dan aqidah ahlaq.


"Ternyata dahulu aku juga pernah belajar ini tapi kenapa aku tak tau" gumam Zia.


Zia membaca bacaan isi buku itu.


"Zuhud adalah berpaling dengan meninggalkan sesuatu yang di sayangi bersifat material dengan mengharap dan menginginkan sesuatu yang lebih baik, ada di Qs: An nissa ayat 77" ucap Zia membaca buku itu.


"Ahlakul majmumah, apa ini kenapa tak ada artinya" ucap Zia mencoba memikirkan kenapa Zia tak menulis artinya.


"Ahh dulu aku paling malas kalau belajar, aku dulu sangat minim dalam agama" gumam Zia.


"Sujud syukur adalah sujud yang di lakukan sebagai ucapan terima kasih kepada alloh swt ada di Qs Ibrahim ayat 7" ucap Zia.


Raya datang ke gudang.


"Zia" sahut Raya.


"Ya kak" tanya Zia.


"Ayo makan" ucap Raya.


"Jam berapa sekarang" tanya Zia.


"Jam delapan pagi" jawab Raya.


"Baiklah ayo" ucap Zia.


Mereka makan bersama di meja makan, ada Julia juga di sana karena tadi pagi Rayhan, Lukas, dan Rega sudah berangkat lagi akan mencari orang tua Zia.


Zia menatap pada makanan yang sangat enak enak bahkan ada ayam dan rendang juga di sana.

__ADS_1


"Zia ayo makan" ucap Raya.


"Kakak ipar aku sangat bosan melihat makanan ini kau tau, aku di pesantren makan dengan tahu dan tempe bahkan ada juga sambal, tapi di sini aku makan dengan ayam" ucap Zia.


"Apa kau mau makan yang lain" tanya Raya.


"Tidak kak aku sudah bersyukur, terima kasih" ucap Zia.


Raya menatap pada Zia karena semenjak Zia masuk ke pesantren Zia jadi lebih banyak berubah bahkan sekarang Zia mandiri tak seperti dahulu yang manja dan kekanak kanakan.


"Ray sebentar lagi aku harus berangkat kerja" ucap Julia.


"Oh ya posisi kamu apa di sana" tanya Raya.


"Sebagai pemasaran Ray, aku bersyukur sekali karena kau sudah membantu aku" ucap Julia.


"Jul aku tak mau kau terus terusan di kejar preman itu" ucap Raya.


"Memang Kau kerja di mana" tanya Zia.


"Di perusahaan ibu nya Raya" ucap Julia.


"Oh ya kau tau aku pernah bekerja di kantor kakak, aku pernah mencuri uang di perusahaan kakak dan kau tau sebagai ganti nya kakak menjual barang barang aku yang limited edition" ucap Zia.


"Benar kah" tanya Julia.


"Ya kau tau dari kisah ku itu aku belajar bahwa sesuatu yang di mulai dari kejahatan itu tak baik, aku tak menikmati uang itu tapi Akash yang menikmatinya dengan istri nya" ucap Zia.


"Lalu apa kak Zia membalasnya" tanya Julia.


"Tidak kau tau karma alloh itu memang ada, apa pun yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai, maka dari itu jujur lah dalam ber sikap dan berbicara" ucap Zia.


"Kau benar Zia, ber bohong itu tak baik" ucap Raya.


"Baiklah aku harus pergi karena akan bekerja" ucap Julia.


"Hati hati di jalan" ucap Raya.


"Ya" ucap Julia.


Zia menghabiskan makanannya dan langsung kembali ke kamarnya yang sekarang sudah kosong karena barang barangnya sudah di jual oleh Rayhan.


"Mah, pah kalian dimana" ucap Zia sambil menatap foto keluarga mereka yang di ambil 12 tahun yang lalu saat keluarga mereka masih sangat lengkap.


"Nek aku lupa tak datang ke pemakaman mu, tapi Doa ku akan terus mengalir untuk mu Nek" ucap Zia menatap pada foto kedua neneknya.


Zia merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya, Zia merasa sangat bo doh karena kemarin dia sampai ma buk hanya karena Haddad menyakitinya.


Zia membuka tasnya dia kembali melihat undangan dan secarik kertas yang berada di dalamnya.


"Entah lah masalah yang ini saja belum selesai kenapa ada lagi masalah yang lain" gumam Zia sambil menatap pada kartu undangan itu.


Zia melihat tanggal pernikahannya Haddad dan Husna, ternyata tanggal pernikahan mereka tinggal tiga hari lagi dan Zia pasti tak akan datang karena orang tuanya juga belum ketemu.


Drtt


Pesan masuk kedalam ponsel Zia.


Zia membukanya dan pesan itu tak lain dan tak bukan adalah pesan dari Adam.


{Aku tak bisa tidur karena memikirkan kamu} pesan dari Adam.


{Aku juga tak bisa tidur karena penyerangan itu} balas Zia.


Tak ada balasan lagi dari Adam, Zia pun tersenyum tipis karena sampai sekarang Zia menganggap kalau pesan pesan dari Adam itu hanya lah sebuah perkataan agar Zia tak bersedih lagi.


Padahal Adam punya perasaan yang lain untuk Zia.


Di pesantren sekarang Adam mengajar kelas 1 smp, saat ini Adam memulai fokus pada pelajaran karena takutnya sama seperti di kelas Ning Rena.


"Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikum salam" serempak.


"Baiklah sekarang pelajaran saya, sekarang kita akan belajar tentang tanya jawab saja ya, kalian silahkan tanyakan apa pun insya alloh saya akan menjawabnya" ucap Adam.


Seorang santri mengacungkan tangannya.


"Gus mau tanya kalau menikahi tangan itu apa artinya" tanya santri laki laki itu.


Adam cukup terkejut dengan perkataan bocah itu.


"Dari mana kau tau bahasa itu" tanya Adam.


"Dari sosial media Gus" ucapnya.


"Sebenarnya kalau untuk hal ini saat kamu sudah besar pun kamu akan paham tapi karena kau bertanya aku akan jawab" ucap Adam.


"Menikahi tangan sendiri itu adalah ketika tangan atau jari kita menyentuh ke malu an kita dan memainkannya, sebenarnya aku malu mengatakan ini tapi kalian jangan berfikir yang macam macam" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap santri yang tadi.


"Ada beberapa orang yang menyebutkan kalau Menikahi tangan sendiri itu hukumnya haram mutlak, tetapi ada juga yang bilang kalau melakukan itu tak apa apa dari pada melakukan Zi na, tapi kalau memang kita tak bisa menjaga syahwat maka aku saran kan segera lah menikah, karena dengan menikah kita akan di jauhkan dari hal hal yang seperti itu" ucap Adam.


"Gus apa itu syahwat" tanya santri yang lain.

__ADS_1


"Gusti naha jadi panjang kie" (gusti, kenapa jadi panjang begini) gumam Adam.


"Kamu gak tau" tanya Adam.


Dia menggeleng kan kepalanya.


"Yang lain" tanya Adam.


Dan serempak semua orang menggelengkan kepalanya.


"Syahwat itu adalah sebuah keinginan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan" ucap Adam berbelit belit karena tak mau membuat pikiran para santrinya jadi kotor.


"Oh" ucap para santri.


Seseorang santri wanita mengacungkan tangannya.


"Gus mau tanya apa Ghibah dengan fitnah itu ber beda" tanya santri wanita itu.


"Sebenarnya keduanya itu sangat berbeda jauh, kalau Ghibah itu seperti membicarakan aib seseorang yang seharusnya tak kita bicarakan, sedangkan Fitnah itu lebih mengarah ke sesuatu yang gak orang lain lakukan tapi di bicarakan, contohnya ada si A yang bilang kalau si B itu mencuri padahal si B tak melakukan apa apa nah jadi si A itu termasuk fitnah pada si B" ucap Adam.


"Maka dari itu kita sering mendengar kalau Fitnah itu lebih kejam dari pada pem bu nuhan, memang akibatnya sebu ruk itu" ucap Adam.


"Kalau misalkan ada orang yang membicarakan fisik kita tapi fisik dia juga gak sempurna bagaimana apa itu juga Ghibah" tanya nya.


"Kalau itu bisa di sebut meng hina tanpa berkaca" ucap Adam.


"Rosulullah saw bersabda, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhori dan Muslim)" ucap Adam.


"Maksudnya adalah jika kita beriman pada hari akhir atau hari kiamat maka kalian semua harus menjaga lisan kalian atau jika memang kalian tak bisa menjaga lisan maka lebih baik kalian diam" ucap Adam.


Seorang santri wanita mengacungkan tangannya.


"Gus kalau kita membicarakan sesuatu kebenaran tentang orang lain di hadapan orangnya itu dosa tidak Gus" tanya santri wanita itu.


"Bisa di jelaskan secara rinci" tanya Adam.


"Misalkan begini Gus, aku membicarakan kebenaran wini pada orang lain, misal aku bilang kalau wini itu cantik begitu" ucapnya.


"aku tau maksudnya, begini jika memang perkataan itu bagus tidak menyakiti hati orang lain maka tak dosa malahan bagus, tapi jika memang kebenaran itu akan menyakitkan orang lain maka jangan di bicarakan biar kamu saja yang pendam" ucap Adam.


"Tapi Gus bukan nya tak ada dosa jika membicarakan yang benar itu tanda nya kita jujur" ucap nya.


"Ya tapi kita juga perlu menjaga hati orang lain, begini saja bagai mana perasaan kamu saat orang lain membicarakan aib kamu yang kamu sembunyikan" tanya Adam.


"Gak terima Gus" jawabnya.


"Nah gak terima kan, jadi orang lain juga begitu, jika memang perkataan kita akan menyakiti orang lain kita pendam saja kalau bisa kita lupakan saja" ucap Adam.


Kringg


Bel istirahat pun berbunyi dan tandanya pelajaran Adam selesai.


"Selamat istirahat, Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikum salam" serempak.


Adam keluar menuju Madrasah tempat dimana Adam akan berkumpul dengan Fauzi dan Farid.


"Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikum salam" serempak.


"Gus Adam sudah" tanya Fauzi.


"Sudah" ucap Adam.


"Aku bingung dengan santri kelas 2 sma, mereka yang tanya tapi mereka yang jawab" ucap Farid.


"Bagus dong Gus, jadi kau tak perlu repot repot menjawab" ucap Fauzi.


"Lalu kalau begini terus apa guna nya guru" ucap Farid.


"Kau masih mending Gus, aku lebih parah" ucap Adam.


"Apa" tanya Fauzi dan Farid serempak.


"Mereka bertanya hal yang publik, mereka bertanya arti menikahi tangan sendiri, mau jawab aku takut penyebar pikiran kotor tak di jawab pun aku tak mau mengecewakan santri" ucap Adam.


"Astagfirulloh dari mana mereka tau bahasa itu" tanya Fauzi.


"Media sosial" ucap Adam.


"Begini lah kalau setiap anak selalu mendalami sosmed mereka akan mencontoh apa yang ada di sana" ucap Fauzi.


"Ya Gus tapi mau bagai mana, sekarang jaman sudah canggih bahkan tua muda pun punya ponsel" ucap Adam.


"Ya mau bagai mana lagi kita juga menikmatinya" ucap Farid.


"Kalian benar" ucap Fauzi.


Mereka ber tiga ber bincang bincang di Madrasah karena sedang membicarakan pelajaran yang akan mereka bahas di sore hari nanti.


Bahkan Abah juga sudah menyerahkan tugas mengajar sore sampai malam pada santri senior, sedangkan santri senior sekarang hanya lah tinggal lima orang saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2