Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 86


__ADS_3

Malam harinya Zia tak ikut ke mesjid karena masih datang bulan.


Zia bingung dengan rumah Umi karena Zia baru tau kalau ternyata Umi tak punya televisi.


Bahkan Umi juga tak punya barang barang elektronik yang lain, hanya kompor gas dan kipas angin saja yang ada di rumah itu.


"Kenapa Umi tak punya tv apa Umi tak bosan kalau sedang di rumah" gumam Zia.


Zia melihat foto yang menggantung di dinding, baru kali ini Zia bisa meneliti foto itu, ternyata banyak sekali foto anak laki laki di sana.


"Aku yakin ini pasti Gus Adam" gumam Zia.


Zia melihat secara teliti Foto itu.


"Gus Adam sangat tampan saat masih kecil" gumam Zia lagi.


Di sana banyak sekali foto Adam, namun Zia tak melihat ada foto Rena di sana hanya beberapa saja Foto Rena yang menggantung di sana.


"Kenapa Ning Rena tak ada" gumam Zia.


Adam pulang lebih dahulu sekarang karena sekarang tak ada pelajaran jadi mereka pulang cepat setelah sholat isya.


"Sedang apa" tanya Adam.


"Lihat foto mu" ucap Zia.


"Foto" gumam Adam.


"Ya" ucap Zia.


"Kenapa harus lihat foto kalau orang nya juga ada di sini" ucap Adam.


"Kau ini hanya ingin lihat kau saat masih kecil" ucap Zia.


"Terserah" ucap Adam.


"Mau makan sekarang" tanya Zia.


"Zia tadi sebelum aku ke mesjid aku sudah makan apa kau lupa" tanya Adam.


"Oh maaf" ucap Zia.


"Ayo ke kamar" ucap Adam.


Zia menatap tak percaya pada Adam karena baru kali ini Adam mengajak nya ke kamar.


Zia ingat sesuatu.


"Tapi Gus aku masih datang bulan" ucap Zia.


"Lalu kalau kau datang bulan kenapa" tanya Adam.


"Jangan lah Gus tak boleh "ucap Zia.


"Kau bicara apa Zia" tanya Adam.


"Hah tak bicara apa apa" ucap Zia.


"Kau ini melantur" ucap Adam.


Adam tersenyum menatap pada Zia.


"Aku hanya mengajak mu tidur di kamar kenapa tak boleh, apa kau tak akan tidur" tanya Adam.


"Hah ya aku juga akan tidur" ucap Zia merasa gendok di hadapan Adam.


Mereka masuk ke dalam kamar.


"Astaga Zia kau ini memalukan, Gus Adam tak ingin melakukan itu tapi kau terlalu percaya diri, kau tau betul kan kalau Gus Adam itu tak peka" batin Zia menggerutu.


"Zia di mana ponsel ku" tanya Adam.


Tak ada jawaban dari Zia.


"Zia" ucap Adam lagi.


"Hah ya Gus ada apa" tanya Zia.


"Di mana ponsel ku" tanya Adam.


"Di dalam lemari" ucap Zia.


Adam mengambil nya dan langsung rebahan di kasur sambil memainkan ponselnya.


Zia tersenyum penuh arti.


Dia duduk di samping Adam, saat mata Adam fokus pada layar ponsel.


Zia naik ke atas tubuh Adam.


Zia mengambil ponsel Adam dan melempar nya ke kasur samping Adam.


"Mau apa" tanya Adam.


"Tak ada" ucap Zia.


"Jangan macan macam" ucap Adam.


"Gak akan Gus" ucap Zia.


"Jangan gigit kalau gigit lagi awas ya" ucap Adam.


"Kenapa kau takut" tanya Zia menggoda Adam.


"Bukan takut tapi lihat yang kemarin juga masih ada" ucap Adam.


Zia mendekat kan wajah nya dengan wajah Adam.


...Skipp...


Tokk


Tokkk


"Dam ada teman teman mu yang datang" sahut Umi dari luar kamar Adam sambil mengetuk pintu.


Zia menyudahi aktivitas nya sekarang.

__ADS_1


"Turun lah Zia, Ada teman teman ku" ucap Adam.


"Ganggu saja" ucap Zia.


"Sudah lah" ucap Adam.


Adam membenarkan baju dan sarung nya, dia keluar dari kamar nya dan benar saja di luar sudah ada Yasya dan seorang wanita.


"Assalamualaikum Gus maaf aku menganggu" ucap Yasya.


"Waalaikum salam, tak ganggu" ucap Adam.


"Terima kasih" ucap Yasya.


"Siapa dia" tanya Adam.


"Nama nya Firda dia calon ku" ucap Yasya.


"Bukan kah yang akan menikah itu Gus Ilham ya" ucap Adam.


"Ya aku juga akan menikah mungkin beberapa hari lagi" ucap Yasya.


"Oh" ucap Adam.


Zia datang ke sana.


"Zia tolong ambilkan Gus Yasya minum" ucap Adam.


"Baik lah" ucap Zia.


Zia mengambil kan air minum untuk Yasya dan wanita yang datang bersama nya itu.


"Silahkan" ucap Zia.


"Orang mana" tanya Adam.


"Aku dari pesantren Al-Hikmah" ucap Farida.


"Oh" ucap Adam.


Wanita itu terlihat sangat alim bahkan dia memakai cadar.


Zia merasa iri padanya apa lagi sejak tadi banyak pertanyaan yang Adam tanya kan pada nya.


"Apa kau tinggal di rumah Gus Yasya" tanya Zia.


"Ya aku tinggal di sana" ucap Farida.


"Oh" ucap Zia.


"Apa pemilik di pesantren Al hikmah itu masih Ustadz abu Haidar" tanya Adam.


"Ya itu Abi" ucap Farida.


"Oh kau putri nya" tanya Adam.


"Ya aku putri sulung nya" ucap Farida.


"Di mana kalian bertemu" tanya Adam.


"Lebih tepatnya kisah aku sama seperti kisah Gus Ilham" ucap Yasya.


"Oh" ucap Adam.


"Ya dia istri ku, kami baru beberapa hari menikah" ucap Adam.


"Oh aku pikir" ucap Farida.


"Memang nya apa yang kau pikirkan" tanya Zia.


"Hah tak ada" ucap Farida.


"Tak ada apa yang dia katakan, apa dia pikir aku kakak nya Gus Adam, apa setua itu aku" batin Zia menggerutu.


"Tadinya aku ingin mengajak dia jalan jalan sekalian memperkenalkan Farida pada kampung ini, aku datang kemari terlebih dahulu" Ucap Yasya.


"Ya tak masalah" ucap Adam.


"Gus besok kita akan belajar bersama lagi kan" tanya Yasya.


"Boleh" ucap Adam.


"Apa kau kuliah sama seperti Gus Yasya" tanya Farida.


"Ya aku kuliah cuman aku ambil jurusan ilmu sosial" ucap Adam.


"Wah kau bisa jadi jaksa nantinya" ucapnya.


"Ya" ucap Adam.


"Wah semoga kamu bisa sukses" ucap Farida.


"Amin" ucap Adam.


"Kau tak perlu mendoakan nya karena aku sebagai istri nya juga selalu mendoakan nya" ucap Zia.


"Ya kak" ucap Farida.


Mereka berbincang bincang sampai malam hari, Yasya dan Farida pulang dari sana.


Sejak tadi Zia hanya menatap nya dengan tatapan kesal karena Farida seolah tak mau kalah bicara dari mereka.


"Kau lihat matanya Gus di selalu memandang mu" ucap Zia kesal.


"Apa salah nya" tanya Adam.


"Salah Gus kau suami ku dan selagi aku masih hidup tak boleh ada yang bisa memandang begitu pada mu" ucap Zia.


"Baik lah" ucap Adam.


"Kalau sampai dia macam macam pada mu aku akan pu kul dia" geram Zia.


"Sudah ayo tidur" ucap Adam.


"Mau lanjut yang tadi" tanya Zia tersenyum penuh arti.


"Gak mau, percuma di lanjutkan juga kau sedang halangan" ucap Adam.

__ADS_1


"CK" Zia berdecak kesal.


Pagi harinya Zia sudah bangun dan mandi karena sekarang dia akan mandi wajib, setelah haid nya selesai Zia bangun pagi sekali untuk mandi wajib.


Zia menghangatkan nasi di tungku dan Zia sekarang tengah menjaga api supaya tak padam.


"Neng Zia sudah bangun" tanya Umi yang baru saja bangun.


"Ya Umi" ucap Zia.


"Padahal masih pukul 3 pagi" ucap Umi melihat jam yang menggantung di dinding ruang tamu.


"Ya Umi aku sengaja bangun cepat" ucap Zia.


"Oh ya Neng sekarang Umi akan langsung masak karena katanya akan ada yang datang ke mari" ucap Umi.


"Siapa umi" tanya Zia.


"Ustadz Arifin" ucap Umi.


"Oh" ucap Zia.


"Baik lah umi akan ke kamar mandi dulu nanti bantu Umi ya" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Zia sekarang akan membangun kan Adam dahulu.


Zia masuk ke dalam kamar nya.


"Gus bangun" ucap Zia menggoyang goyangkan tangan Adam.


"Zia jam berapa sekarang" tanya Adam.


"Jam tiga pagi" ucap Zia.


"Astaghfirullah Zia masih pagi" ucap Adam.


"Ayo mandi dulu Gus" ucap Zia.


"Ya Zia ya" ucap Adam namun matanya masih terpejam.


"Ayo bangun" ucap Zia.


"Ya sayang aku bangun" ucap Adam yang langsung bangun.


"Bagus" ucap Zia.


"Lalu kalau aku sudah bangun kau mau apa" tanya Adam.


"Gak mau apa apa" ucap Zia.


Adam menarik Zia sehingga membuat Zia jatuh ke dalam pelukannya.


"Aku sudah bangun sekarang" ucap Adam.


"Ya aku tau" ucap Zia.


"Rambut mu basah kau sudah mandi" tanya Adam.


"Ya" ucap Zia tersenyum manis.


"Ya sudah aku akan mandi" ucap Adam yang langsung bangkit dari duduknya dan segera mengambil handuk.


"Gus apa kau tak akan melakukan nya sekarang" tanya Zia.


"Melakukan apa" tanya Adam.


"Gus kau tak peka lagi" ucap Zia.


"Sudah lah aku akan mandi sekarang jadwal aku menjadi imam" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Adam keluar dari kamar dengan di susul oleh Zia.


Terlihat kalau Umi sekarang sudah mulai memotong motong sayuran di dapur.


"Umi ada apa masak sepagi ini" tanya Adam.


"Katanya ada Ustadz Arifin akan datang" ucap Umi.


"Ustadz Arifin yang mana" tanya Adam.


"Ustadz Arifin masa kau kau lupa" tanya Umi.


"Oh ustadz itu" ucap Adam.


"Ya yang itu" ucap Umi.


"Yang apa" tanya Zia yang tak paham.


"Yang kalau ceramah bahasa nya cukup kasar dan selalu menyinggung tapi dia baik bahkan banyak yang suka" ucap Adam.


"Oh" ucap Zia.


Adam pergi ke kamar mandi, dia langsung mandi karena akan secepat nya ke mesjid.


Zia membantu Umi memotong sayuran.


"Neng, Umi akan buatkan bumbu nya dulu" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Zia.


Umi mengulek bumbu di hadapan Zia.


"Umi aku pernah dengar dari orang lain kalau pesantren orang lain itu kalau makan selalu buat sendiri" ucap Zia.


"Neng dulu ya sebelum begini, kita pernah mengadakan itu, makan sendiri masak sendiri dan belanja sendiri, tapi Neng tau banyak santri yang makan hanya dengan mie instan tiap hari, waktu itu juga pernah ada yang sakit magh karena ke banyak an makan mie instan" ucap Umi.


"Lalu" tanya Zia.


"Sebenarnya mungkin sudah takdir juga ya tapi kan kita sebagai manusia selalu menyalah kan suatu hal atas kejadian yang terjadi, ibarat misal sakit Magh misalkan akibatnya makan mie banyak, tapi kalau bukan takdir mau makan sekarung mie pun dia tak akan sakit magh" ucap Umi.


"Ya, umi benar, kadang kita suka mendengar kalau ada orang yang meninggal selalu di tanya, meninggal nya kenapa padahal itu kan takdir" ucap Zia.


"Ya begitu maksud Umi, mau apa apa pasti menyalah kan penyakit misal ada yang tanya kenapa bisa meninggal karena diabetes misal, padahal kan kalau memang takdir nya masih hidup ya dia akan sehat lagi, tapi mungkin sudah takdir nya meninggal ya meninggal, jadi sudah hal yang lumrah kalau seperti itu" ucap Umi.

__ADS_1


"Benar Umi" ucap Zia.


bersambung


__ADS_2