Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 74


__ADS_3

Setelah selesai sekarang Abah, Umi, Zia dan Adam berangkat ke rumah orang tua Zia karena akan melamar Zia.


"Abah kapan kita akan membangun gudang tempat menyimpan peralatan komputer" tanya Umi.


"Peralatan komputer untuk apa" tanya Adam.


"Untuk ujian sekarang ujian akan memakai komputer" ucap Umi.


"Oh" ucap Adam.


"Neng Zia apa orang tua kamu ada" tanya Umi.


"Insya Allah ada Umi" ucap Zia.


Mereka sampai di kediaman orang tua Zia bahkan sekarang Nita dan Topan juga sedang berada di halaman depan menikmati cuaca pagi hari.


"Assalamualaikum" ucap Abah.


"Waalaikum salam" ucap Nita dan Topan.


Topan menyalami tangan Abah.


"Ada apa Abah datang kemari apa Zia melakukan kesalahan" tanya Topan yang sudah cemas karena di sana ada putri nya juga.


"Kami hanya ingin membicarakan sesuatu pak" ucap Abah.


"Ayo masuk Abah" ucap Topan.


Mereka semua masuk ke dalam rumah, Nita menyiapkan minuman untuk mereka karena jujur saja Nita juga sangat takut kalau putri nya itu melakukan kesalahan.


"Di minum Abah Umi" ucap Nita.


Nita duduk di kursi bersama dengan suaminya.


"Ada apa Abah" tanya Topan.


"Ya apa Zia melakukan kesalahan" tanya Nita.


"Bu pak, maaf kalau kedatangan kami sangat mendadak karena kemarin Adam Baru saja pulang dari luar negri" ucap Abah.


"Oh" ucap Topan.


"Jadi begini pak saya mewakili Adam maksud hati Adam dia ingin melamar Zia untuk menjadi istrinya" ucap Abah.


"Hah yang bener" tanya Nita tak percaya kalau seorang Ustadz ternama seperti Adam mau pada Zia.


"Ya Bu kalau kalian menerima nya kami akan laksanakan acara nya dengan cepat" ucap Abah.


"Kalau kami terserah Zia karena kan ini tentang hidup Zia" ucap Topan.


"Bagai mana Neng Zia" tanya Umi.


Zia mengangguk kan kepala nya.


"Alhamdulillah" ucap semua orang serempak.


"Baik lah pak kalau begini saya harap bisa melakukan acara nya dengan cepat" ucap Abah.


"Ya Abah kalau kami terserah Abah saja kira kira tanggal baik nya kapan" tanya Topan.


"Kalau saya lihat di kalender tanggal bagus bulan ini itu tiga hari lagi, kalau bukan sekarang satu bulan lagi" ucap Abah.


"Tiga hari lagi" tanya Nita.


"Ya Bu" ucap Abah.


"Mendadak ya" ucap Topan.


"Ini terserah kesanggupan Bapak dan Ibu saja" ucap Umi.


"Baik lah tiga hari lagi" ucap Topan.


"Saya sangat senang karena setelah kejadian kamar mandi itu saya jadi khawatir" ucap Nita.


"Kejadian kamar mandi apa" tanya Umi dan Abah heran.


Zia dan Adam saling tatap karena takut Abah akan tau kebenaran tentang tragedi kamar mandi itu.


"Hah, Tidak ada" ucap Nita.


"Oh, baik lah pak tanggal sudah di persiapkan sekarang pihak pesantren mengijinkan Zia cuti beberapa hari kedepan" ucap Abah.


"Terima kasih Abah" ucap Topan.


"Apa Zia gak akan ke pesantren lagi" tanya Adam.


"Tentu saja tidak" ucap Abah.


"Kenapa" tanya Adam.


"Di kampung ini itu ada pingit pengantin selama akan menikah kedua pengantin tak boleh saling bertemu" ucap Umi.


"Oh" ucap Adam.


Adam menatap pada Zia yang sekarang hanya menunduk saja.


Jangan di tanya seberapa gugup dan grogi Zia sekarang bahkan kalau di bicarakan mungkin sekarang Zia ingin sekali menghilangkan dari sana apa lagi saat mamah nya bicarakan tentang tragedi kamar mandi.


Lama mereka mengobrol hingga akhirnya Abah berpamitan pada mereka.


"Pak saya permisi dulu" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Topan.


"Bu Nita kami permisi" ucap Umi pada Nita.


"Ya Umi kita bertemu lagi tiga hari lagi" ucap Nita.


"Assalamualaikum" ucap Abah dan Umi serta Adam.


"Waalaikum salam" ucap Topan dan Nita.


Adam menatap pada Zia beberapa saat.


"Aku pulang dulu" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Abah, Umi dan Adam kembali lagi ke pesantren.


Sedangkan Zia sekarang tengah duduk di kursi rumahnya.


"Aku gak sangka Zia kau akan menikah dengan Ustadz yang ternama" ucap Nita.


"Apa sih mah" ucap Zia.

__ADS_1


"Aku tak sangka akan besanan dengan Abah pemilik pesantren terkenal di kampung ini" ucap Nita.


"Ya Mah ayo persiapan semua sekarang hubungi juga Rayhan supaya dia cepat datang kemari" ucap Topan.


"Ya aku lupa" ucap Nita.


Nita menghubungi Rayhan anak sulung nya yang berada di kota.


📞📞


"Ray cepat datang ke sini Zia akan menikah" ucap Nita.


"Menikah dengan siapa mah" tanya Rayhan.


"Dengan Adam anak Abah" ucap Nita.


"Kapan mah" tanya Rayhan.


"Tiga hari lagi" ucap Nita.


"Kenapa mendadak, aku akan datang ke sana secepatnya" ucap Rayhan.


"Ya mamah tunggu kalian" ucap Nita.


📞📞


"Ya Alloh aku masih tak sangka putri ku ini akan menikah dengan Adam" ucap Nita sambil mencubit pipi gembul Zia.


"Mah sakit ih" ucap Nita.


"Mamah sangat bangga pada mu" ucap Nita.


"Begitu lah mamah mu kalau senang suka lupa diri" ucap Topan.


"Biarin aku kan sedang bahagia" ucap Nita.


"Terserah" ucap Topan


Sedangkan Zia hanya menatap pada orang tuanya yang sangat lucu itu, mamah nya yang ceria dan banyak bicara dan Papah Zia yang sedikit pendiam namun suka lelucon.


Di rumah Zia sekarang sudah di persiapkan semua nya bahkan Nita juga sudah memanggil tetangga nya untuk ikut rewang di rumahnya.


Banyak yang tak menyangka kalau Zia akan di lamar oleh anak Abah Zakaria padahal banyak juga santri yang lebih baik tapi Adam lebih memilih Zia.


"Gak sangka ya Bu Nita bisa besanan dengan Abah" ucap ibu ibu yang ikut rewang.


"Ya" ucap Nita.


"Tapi senang sekali bisa menjadi keluarga dari orang yang besar di kampung ini" ucap nya.


"Ya Bu saya juga gak sangka" ucap Nita.


"Di mana putri ibu" tanya Ibu Ibu yang ikut rewang.


"Ada di kamar nya" ucap Nita.


"Oh saya kira masih di Pesantren".


"Tidak kata Abah juga Zia boleh cuti" ucap Nita.


Di rumah orang tua Zia sekarang tengah sibuk mempersiapkan pernikahan Zia.


"Apa aku sudah benar jika menerima Gus Adam aku tau kalau aku bukan orang baik" gumam Zia.


Raya memeluk adik ipar nya itu.


"Kak kapan kau datang" tanya Zia.


"Baru saja aku langsung ke sini karena ingin sekali bertemu dengan mu, aku lihat mamah sedang sibuk" ucap Raya.


"Ya kak mamah sangat sibuk sekali" ucap Zia.


"Ya mungkin karena mempersiapkan pernikahan putri nya" ucap Raya.


"Ya mungkin kau benar" ucap Zia.


"Di mana kak Rayhan" tanya Zia.


"Ada di luar sedang mengobrol dengan papah" ucap Raya.


"Oh aku senang kalian datang secepat itu" ucap Zia.


"Ya karena jalanan juga cukup sepi" ucap Raya.


"Aku tak sangka kau akan menikah Zia apa lagi kau menikah dengan Anak pemilik pesantren itu" ucap Raya lagi.


"Ah biasa saja justru aku lebih ke insecure kak karena aku yang tak baik ini bisa menikah dengan Gus Adam" ucap Zia.


"Zia kau ini bicara apa" ucap Raya menatap pada Adiknya.


"Kau cantik kau baik apa lagi yang kurang dari mu hah" tanya Raya.


"Ya kak tapi tetap saja kan aku dulu siapa dan dia siapa" ucap Zia.


"Jangan begitu mungkin sudah Jodoh mu Zia" ucap Raya.


"Ya kak" ucap Zia.


Di pesantren sekarang terdengar suara bahagia karena berita pernikahan Adam yang akan di langsungkan beberapa hari lagi.


Bahkan Umi pun tak kalah sibuk nya mempersiapkan pakaian yang baru saja dia beli untuk seserahan nanti.


"Umi apa tidak berlebihan" tanya Abah.


"Berlebihan apa Abah".


"Ini ala kadar nya saja" ucap Umi lagi.


"Ya sudah terserah Umi saja" ucap Abah pasrah pada pemikiran istri nya itu.


"Abah kenapa apa ada yang kurang" tanya Umi pada Abah.


"Kurang tentu saja ini sangat berlebihan Umi" ucap Abah.


"Ya ampun Abah kita baru saja menikah kan anak kita ya wajar saja kalau kita harus berlebihan karena kan Nanti Rena masih lama untuk menikah" ucap Umi.


"Ya Abah tau" ucap Abah.


Adam datang ke sana.


"Dam persiap kan jas yang akan kamu pakai nanti" ucap Abah.


"Abah masih lama kan" ucap Adam.


"Ya siapa tau saja mau seperti Umi mu yang sudah ribut duluan" ucap Abah.

__ADS_1


"Biar kan saja Abah" ucap Adam tersenyum.


"Abah mu ini, padahal kan biar selesai tepat waktu" ucap Umi.


"Ya terserah Umi saja Abah dukung saja" ucap Abah.


Umi menulis kan semua belanjaan yang harus dia beli Sekarang karena pasar di kampung sudah mulai buka lagi jadi Umi akan belanja di sana.


"Umi biar Adam bantu" ucap Adam.


"Jangan pengantin diam saja" ucap Umi.


"Tapi Umi" ucap Adam.


"Udah diam saja" ucap Umi maksa.


Adam hanya diam saja dia menatap pada ponsel nya Adam mencari cari harga laptop di aplikasi belanja online namun tetap saja harga nya mahal.


Untuk minta uang pada Abah pun Adam malu karena sudah besar bahkan Adam pun di didik untuk mandiri oleh Abah.


"Ada apa Gus" tanya Farid yang langsung duduk dekat Adam.


"Tak ada" ucap Adam.


"Jangan bohong" ucap Farid.


"Siapa yang bohong" tanya Adam.


"Gus kau yakin akan menikah dengan Zia" tanya Farid.


"Yakin seratus persen" ucap Adam menatap pada temannya yang masih betah menjomblo itu.


"Oh bagus lah kalau begitu" ucap Farid.


"Ya kau cepat lah menikah" ucap Adam.


"Menikah? Aku mau menikah cuman aku tak punya pasangan" ucap Farid.


"Tenang saja Gus kau harus percaya pada Surat an naba ayat 8 yang artinya, Dan kami menciptakan kamu berpasang Pasangan" ucap Adam.


"Ya Gus aku sangat percaya, tapi mau bagai mana lagi mungkin belum bertemu, Baik lah aku akan ke kamar aku dulu" ucap Farid.


"Ya Gus" ucap Adam.


Adam menatap pada layar ponsel nya yang masih menampilkan laptop di aplikasi belanja online.


"Sudah lah semoga saja ada milik nya dan ada rezeki nya nanti, amin" gumam Adam berdoa.


Adam kembali ke kamar nya karena Adam seorang yang sangat mandiri, dia memilih pakaian yang akan dia pakai nanti.


Adam melihat isi lemari nya karena Adam belum pernah memakai Jas jadi Adam hanya punya satu jas yang saat itu pernah dia pakai ke pernikahan nya yang gagal bersama Marwah.


"Apa aku akan pakai jas ini lagi" gumam Adam.


Dia berfikir dan menatap pada jas hitam dan kemeja putih itu.


"Aku pakai saja lah tak apa kan lagi pula orang lain tak akan bertanya pada jas ini" gumam Adam.


Adam saat ini menyetrika jas dan kemeja itu karena Adam mau saat acara pernikahan nya sekarang tak ada lagi masalah seperti dahulu.


"Gus" sahut Rena adik Adam yang masuk ke dalam kamar Adam.


"Apa" tanya Adam.


"Kenapa kakak ajak nikah kak Zia" tanya Rena.


"Pernyataan ko nyol apa yang sedang kau bicara kan" tanya Adam.


"Tidak hanya saja aku bertanya, kak Zia itu sangat sayang pada kakak jadi aku mohon jangan sakiti dia" ucap Rena.


"Tumben panggil kakak" ucap Adam.


"Tuh kan mulai lagi" ucap Rena.


"Ya ya aku janji tak akan sakiti Zia" ucap Adam.


"Nah begitu dong" ucap Rena.


"Ya Ning" ucap Adam.


"Oh ya kata Umi apa saja yang akan kakak butuh kan nanti" tanya Rena.


"Apa ya" tanya Adam.


Adam berfikir lama dan Rena menunggu jawaban Adam.


"Aku tak butuh apa apa" ucap Adam.


"Baik lah aku permisi dulu karena sekarang aku harus istirahat" ucap Rena.


"Istirahat" tanya Adam.


"Ya karena kan nanti Kakak nikah jadi aku akan sibuk" ucap Rena.


"Dasar so paling sibuk" ucap Adam tersenyum menatap adik nya itu.


Sedangkan di kediaman orang tua Zia.


Saat ini rumah nya sedang di dekorasi oleh pihak dekor, bahkan saat ini semua sudah lengkap.


Apa lagi keluarga Topan di sana cukup ngaruh di antara warga yang lain jadi banyak sekali warga yang akan membantu Topan.


Sesuai tradisi di kampung sana para warga akan datang dan memberi uang dan yang punya hajat akan memberikan makanan seperti sembako seharga uang yang mereka berikan.


(Ini tradisi di kampung saya ya kalau di kampung saya nama nya itu nyambungan atau mere).


Banyak sekali para tamu yang berdatangan.


Sampai Zia dan Raya pun ikut membantu menyuguhkan makanan dan minuman pada para tamu.


"Ini pengantin nya" tanya Warga.


"Ya" ucap Zia.


"Cantik ya" ucap warga yang datang.


"Terima kasih" ucap Zia.


sekarang di rumah itu sedang di adakan acara sehingga semua orang sibuk pada pekerjaan nya masing masing apa lagi Rayhan sekarang tengah melihat lihat keadaan di sana.


Zia menatap pada Rayhan kakak nya yang sedang berada jauh dari rumah nya.


terlihat Rayhan tengah bicara pada seorang yang cukup asing bagi Zia karena terlihat kalau orang itu seperti body guard berbadan besar.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2