Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 118


__ADS_3

Adam selesai mengambil Wudhu nya, namun dia tak menemukan Zia di dapur.


"Zia pasti masih tidur" gumam Adam.


Adam berjalan ke arah kamarnya dan segera mengganti pakaian nya.


"Zia bangun ayo sudah mau Sholat" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap zia.


"Baik lah aku duluan" ucap Adam memberikan keringanan pada Zia.


Adam pergi dari sana menuju mesjid, sekarang di mesjid sudah mau komat tapi Zia belum juga bangun, Adam tak marah pada Zia karena Adam tau Zia pasti kecapean.


Setelah selesai sholat semua santri bubar karena akan kembali ke kamar nya untuk berganti pakaian.


Adam melihat santri putri yang keluar dia tak menemukan tanda tanda ada nya Zia di sana.


Luthfi datang ke sana karena akan mengajak nya untuk segera ke rumah Riki.


"Gus ayo" ucap Luthfi.


"Bentar Gus aku mau salin dulu" ucap Adam.


"Ya sudah cepat lah" ucap Luthfi.


Rena yang akan keluar menatap pada Luthfi dia tersenyum melihat Luthfi juga melihat padanya.


Luthfi membalas senyuman Rena namun dengan senyuman yang tipis saja.


Adam kembali ke kamarnya, ternyata benar Zia masih tidur sekarang.


"Astaghfirullah Zia" ucap Adam menatap istrinya yang sekarang berbaring di kasur.


Adam mendekat pada Zia.


"Bangun sayang, Ayo kau kesiangan" ucap Adam mengecup beberapa kali pipi Zia.


"Gus aku masih mengantuk" ucap Zia.


"Sekarang sudah pukul setengah enam" ucap Adam.


"Hah" ucap Zia yang langsung bangun dari tidur nya.


"Kenapa kau tak membangun kan aku" ucap Zia.


"Tadi aku bangunkan kamu tidur" ucap Adam.


"Lalu aku bagai mana sekarang" tanya Zia.


"Sholat saja Zia kamu telat bangun, aku masih bisa sholat" ucap Adam.


"Baik lah aku akan ke kamar mandi dulu" ucap Zia.


"Zia tunggu aku harus pergi sekarang, Gus Luthfi ngajak sekarang" ucap Adam.


"Kenapa sekarang kau belum sarapan gus" ucap Zia.


"Gak masalah Zia" ucap Adam.


"Baik lah hati hati di jalan" ucap Zia.


"Ya sayang" ucap Adam.


Zia ke kamar mandi dan Adam sekarang Menganti pakaian nya, setelah selesai dia langsung pergi dari sana menuju ke arah Gus Luthfi berada.


Sekarang Adam dan Luthfi pergi dari sana menuju ke arah rumah Bu Ratih.


"Gus apa kau yakin kalau Riki tak akan pergi" tanya Adam.


"Aku tak akan biarkan dia sampai pergi kalau sampai dia berani kabur sampai lubang semut pun aku akan mencari nya" ucap Luthfi.


"Ya aku tau tapi apa mungkin orang tuanya akan setuju aku tau orang tua Maya seperti apa" ucap Adam.


"Kita bilang saja kebusukan Maya pada orang tuanya" ucap Luthfi.


"Tapi bagai mana dengan Maya" tanya Adam.


"Baru saja saat kau pulang untuk berganti pakaian, aku bicara pada Maya sekarang dia pulang karena tau kedatangan kita" ucap Luthfi.


"Kau tak bilang apa apa kan" tanya Adam.


"Hanya bilang kalau aku dan kau tau dia ada main dengan Riki" ucap Luthfi.


"Benarkah" tanya Adam tak percaya pada Luthfi yang sangat Adam paham kalau Luthfi itu sangat keras.


"Benar" ucap Luthfi.


Flash back onn..


Luthfi menunggu Adam di halaman pesantren dia melihat ada Maya di sana, sekarang kesempatan nya untuk memberi tau pada Maya.


"Maya" sahut Luthfi.


"Ya ada apa Gus" tanya Maya yang langsung mendekat pada Luthfi.


"Aku mau bicara, apa bisa kita bicara berdua" tanya Luthfi.


"Oh baik lah" ucap Maya.


Mereka sedikit menjauh dari para santri yang lain,


"Ada apa Gus" tanya Maya.


"Begini rencana nya aku dan Gus Adam akan ke rumah mu" ucap Luthfi datar dan ketus.


"Mau apa" tanya Maya.


"Mau melamar" ucap Luthfi.


"Kau mau melamar aku, ya ampun Gus aku masih sekolah tunggu beberapa bulan lagi" ucap Maya yang kegirangan karena yang dia pikir adalah Luthfi akan melamarnya.


"Bukan aku tapi Riki pacar mu" ucap Luthfi ketus.


"Maksudnya" tanya Maya.


"Aku dan Gus Adam tau semua nya jadi kau tak boleh ngelak lagi, secepatnya kalian harus menikah kalian sudah melakukan dosa terlalu jauh, makan nya kalau tak mau bermasalah jangan cari masalah" ucap Luthfi.


"Dari mana kalian tau" tanya Maya.


"Rekaman cctv" ucap Luthfi yang hendak pergi dari sana namun dia melihat lagi pada Maya yang sekarang berdiri mematung di tempatnya.


"Persiapan diri mu" ucap Luthfi lagi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Maya langsung pergi dari sana berlari menuju rumahnya.


Luthfi hanya menatap Maya dengan tatapan malas.


"Sedrama itu kah hidup nya" gumam Luthfi.


Flash back off


Sesampainya di kediaman Bu Ratih, benar saja Riki sudah ada di sana dia sudah memakai pakaian yang lumayan bagus dan sopan dari pada kemarin.


"Tapi aku tak punya apa apa, hanya punya dua ratus ribu saja itu pun sisa aku gajihan bulan kemarin" ucap Riki.


Luthfi mengambil sesuatu dari dalam saku baju kemeja nya.


Sebuah cincin dengan kotak berwarna merah, terlihat sangat mewah jika di lihat isinya.


"Hanya tiga gram, aku harap dengan ini orang tua Maya bisa menerima nya" ucap Luthfi.


Adam juga mengambil uang dari saku baju Koko nya, beberapa lembar uang.


"Ambil lah" ucap Adam.


"Terima kasih" ucap Riki.


"Ya sama sama" ucap Adam.


"Kita berangkat sekarang" ucap Luthfi.


Mereka berjalan ke arah kediaman orang tua Maya yang cukup jauh dari sana.


Tapi mereka berjalan saja hingga sampai ke kediaman orang tua Maya.


Di sana sudah ada Maya yang sedang bersama dengan orang tuanya.


"Assalamualaikum" ucap Adam dan Luthfi bersamaan.


"Waalaikum salam" ucap orang tuanya Maya.


"Pak saya datang kemari karena akan bicara hal yang sangat penting" ucap Adam.


"Hayu lebet Ustadz" ucap bapak nya Maya.


"Alhamdulillah hatur nuhun pak" ucap Adam.


Mereka masuk, orang tua Maya menyambut Adam dan Luthfi dengan sangat baik, karena orang tua Maya tau kalau Adam anak nya Abah dan Luthfi guru di pesantren.


"Pak punten ngawagel" ucap Adam.


"Te nanaon Ustadz, Aya naon dongkap Kadie" tanya bapak nya Maya.


"Janten kie pak niat Abdi sadaya dongkap kadie teh, te sanes Bade gaduh niat nga lamar Neng Maya kanggo Riki putra na Bu Ratih" ucap Adam.


"Ustadz sanes bapak Bade nampik sanes bapak Bade nolak tapi pan Neng Maya mah alit keneh" ucap bapak nya Maya.


"Nya pak Abdi terang Ari masalah eta mah tapi pak Riki sareng Neng Maya teh tos Deket lami jadi ari abdi mah salaku guru, abdi mah ngarasa hariwang Kitu" ucap Adam.


"Kumaha atuh, da bapak Oge terang kumaha Maya teh tos dekat sareng Riki tapi da kumaha Maya na masih sakola keneh" ucap bapak nya Maya.


Datang lah ibu nya Maya yang sejak awal sudah menentang hubungan Riki dan Maya.


Hingga perdebatan pun terjadi, Adam hanya diam saja memberi kan ruang untuk keluarga itu bicara bahkan sekarang Riki juga angkat bicara untuk membela hubungan nya.


Sedangkan Luthfi gak paham pada ucapan mereka karena selama beberapa tahun di pesantren Luthfi tak pernah belajar bahasa Sunda, karena menurut Luthfi belajar bahasa Sunda itu sangat lah susah.


Adam dan Luthfi memutuskan untuk pulang ke pesantren karena rencana nya mereka akan ke pernikahan Ilham nanti siang saja karena sekarang akan mengajar dahulu.


Adam dan Luthfi memutuskan untuk pulang ke pesantren karena rencana nya mereka akan ke pernikahan Ilham nanti siang saja karena sekarang akan mengajar dahulu.


"Pak bu kami permisi" ucap Adam.


"Ya".


"Assalamualaikum" ucap Adam dan Luthfi.


"Waalaikum salam" serempak.


Adam dan Luthfi pulang ke pesantren, di sana pelajaran sudah di mulai karena para santri juga sudah masuk ke dalam madrasah.


Sedangkan Zia yang sekarang tengah mengajar kelas 3 SMA sekarang Zia tengah menatap setiap santri karena ingin melihat Maya.


Namun setelah di lihat lihat tak ada Maya di sana, Zia memutuskan untuk bertanya.


"Kemana Maya" tanya Zia pada para santri kelas 3 SMA.


"Tadi aku lihat dia bicara dengan Gus Luthfi dan langsung pergi keluar dari pesantren, entah ada apa" ucap salah satu santri.


"Oh" ucap Zia yang paham kalau Maya pasti pulang.


"Baik lah selesai kan pelajaran kalian" ucap Zia.


Sedangkan tak jauh dari sana Rosa tengah menatap Zia dengan tatapan sinis karena tak suka jika Zia hidup bebas.


"Tunggu saja pembalasan aku Aziya" geram Rosa sambil mengepalkan tangannya.


Adam datang ke sana dengan membawa buku nya karena sekarang Adam tugas mengabsen para santri yang tak masuk.


Adam berjalan ke arah kelas 3 SMA yang di gurui Zia.


"Gus sudah pulang" tanya Zia.


"Ya baru saja pulang" ucap Adam.


Zia Langsung menyalami tangan Adam.


Hal itu membuat para santri wanita iri karena mereka sangat romantis, padahal hanya salaman saja.


"Mau makan" tanya Zia.


"Gak nanti saja" ucap Adam.


"Ya baik lah" ucap Zia.


"Siapa yang gak hadir" tanya Adam.


"Maya" ucap Zia.


"Oh hanya Maya saja" tanya Adam.


"Ya Gus" ucap serempak.


"Baik lah" ucap Adam yang langsung ke kelas lain.


"Ayo kerja kan tugas ini" ucap Zia.

__ADS_1


Sedangkan sekarang Rena tengah berada di rumah Abah karena tadi dia di panggil Abah untuk mengantarkan selembaran hasil penghitungan biaya membangun pesantren pada Ustadz Hasan.


Karena di rumah Ustadz Hasan tak ada siapa siapa katanya hanya ada istri nya Ustadz Hasan jadi Abah menyuruh Rena untuk mengantarkan karena istri nya Ustadz Hasan tak pernah keluar kalau ada tamu laki laki.


"Baik lah Abah aku berangkat" ucap Rena.


"Ya hati hati" ucap Abah.


Namun ada Luthfi di depan pintu rumah Abah.


"Kami berangkat Abah Assalamualaikum" ucap Luthfi.


Rena menatap pada Abah meminta penjelasan.


"Abah minta Gus Luthfi untuk mengantar mu ke sana" ucap Abah.


"Oh" ucap Rena.


"Abah percaya pada Gus Luthfi" ucap Abah.


"Kami permisi Abah" ucap Rena.


Mereka berangkat dengan berjalan kaki saja karena jarak nya juga cukup dekat.


Luthfi hanya membuntuti Rena dari belakang karena dia tak mau di Sangka macam macam dengan Rena oleh orang orang yang melihat.


"Gus berjalan lah di samping" ucap Rena.


"Tak aku di sini saja" ucap Luthfi.


"Jangan Begitu nanti kau di sangka pengawal ku" ucap Rena.


"Tak masalah, biarkan aku menjadi pengawal mu yang akan menjaga mu seumur hidup mu" ucap Luthfi.


"Kau ini" ucap Rena.


"Oh ya kerudung dari ku kenapa tak pernah kau pakai, apa kau tak suka" tanya Luthfi.


"Suka, tapi Gus kenapa kau belikan aku kerudung mahal" tanya Rena.


"Tak mahal kok" ucap Luthfi.


"Mahal, kata kak Zia mahal mungkin harga nya bisa dia ratus ribu" ucap Rena sambil menatap ke arah belakang.


"Diri mu lebih mahal dari berlian Ning, maka pantas saja bukan kalau aku memberikan mu barang mahal" ucap Luthfi.


"Tapi Gus tak usah aku malu kalau harus menghabiskan uang mu hanya karena masalah kerudung" ucap Rena.


"Aku ikhlas memberi kerudung itu pada mu, aku tak bermaksud lain Ning, tapi aku harap kau bisa paham pada perasaan aku ini" ucap Luthfi.


"Perasaan apa yang kau maksud" tanya Rena.


"Nanti kau akan tau" ucap Luthfi.


"Oh ya Gus puasa dua hari lagi para santri akan pulang apa kau akan pulang" tanya Rena.


"Pulang? Untuk apa bahkan rumah yang dulunya hangat sekarang hanya lah sebatas impian" ucap Luthfi.


"Oh" ucap Rena.


"Aku tak akan pulang, seperti biasa aku akan puasa sendiri di pesantren" ucap Luthfi.


"Aku janji kali ini kau tak akan sahur sendiri di kamar lagi" ucap Rena.


"Kau mau menemani aku" tanya Luthfi.


"Tergantung" ucap Rena.


Luthfi tersenyum melihat Rena yang semakin hari bisa membuat nya luluh dan terasa adem kalau Luthfi lihat.


Bahkan hanya Rena saja lah yang mampu mengerti perasaan Luthfi.


"Oh ya Gus tadi aku lihat kamu dan Kak Maya sedang berbicara, kalian bicara apa" tanya Rena.


"Sesuatu" ucap Luthfi.


"Kenapa tak memberi tau aku? Kau akan menikah kan" tanya Rena.


"Dengan siapa" tanya Luthfi.


"Dengan kak Maya" ucap Rena.


"Kata siapa" tanya Luthfi.


"Tadi aku dengar" ucap Rena.


"Bohong" ucap Luthfi.


"Baik lah kalau kau tak mau jujur" ucap Rena.


Sesampainya di kediaman Ustadz Hasan, Rena langsung masuk ke dalam pekarangan rumah Ustadz Hasan.


"Gus kau tunggu lah di sini karena Ustadzah tak akan keluar kalau ada laki laki" ucap Rena.


"Ya baik lah" ucap Luthfi.


Rena masuk ke dalam dan langsung mengetuk pintu rumahnya.


Tokk


Tokk


"Assalamualaikum Ustadzah saya Rena dari pesantren" sahut Rena.


Pintu terbuka menampakkan Ustadzah yang sekarang membuka pintu.


"Ustadzah ini dari Abah" ucap Rena.


"Terima kasih Ning, ayo masuk dulu" ucap Ustadzah.


"Tak usah Ustadzah aku masih ada pelajaran" ucap Rena.


"Oh baik lah" ucap nya.


"Aku permisi Ustadzah" ucap Rena.


"Ya".


"Assalamualaikum".


"Waalaikum salam".


bersambung

__ADS_1


__ADS_2