Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 115


__ADS_3

Setelah selesai Sholat Dzuhur Zia pulang dan Langsung menyiapkan nasi goreng untuk Adam karena semarah apa pun Zia tetap saja Zia sayang pada Adam.


Zia mencoba dahulu masakan nya, terasa enak saja di lidah Zia.


Zia menyiapkan satu piring nasi goreng untuk Adam makan setelah pulang dari mesjid.


"Makan lah" ucap Zia menyodorkan satu piring nasi pada Adam.


"Terima kasih istri ku yang paling cantik" ucap Adam.


"Makan lah aku tak suka basa basi mu" ucap Zia.


Adam memakan nya, namun di suapan pertama Adam merasa keasinan, namun karena tak mau menyakiti hati Zia, Adam tahan dan tetap memakan nya.


"Oh ya Zia sebenar lagi aku harus belajar" ucap Adam.


"Terserah" ucap Zia.


"Oh ya besok pernikahan Gus Ilham kau mau ikut datang ke sana" tanya Adam.


"Dia menikah bukan nya dari dulu mereka akan menikah" tanya Zia.


"Besok jadi nya" ucap Adam.


"Oh" ucap Zia.


"Mau ikut gak" tanya Adam.


"Ikut" ucap Zia.


Adam menghabiskan makanan nya sampai habis walaupun rasanya sangat membuat Adam merasa keasinan.


"Zia aku ke kamar dulu ya aku mau belajar" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Zia mengambil piring bekas Adam makan dan membawa nya ke dapur.


"Nasi nya masih banyak" ucap Zia melihat pada wajan yang masih ada nasi cukup banyak.


Zia menuangkan nasi itu pada piring, dia memakan nasi itu di lantai dapur.


Namun baru saja satu suap Zia memakan nya lidah nya sudah terasa keasinan karena nasi goreng itu.


"Asin" ucap Zia yang langsung Memuntahkan kembali nasi yang sudah dia makan tadi.


"Astaghfirullah Gus Adam makan nasi yang asin tapi dia tak bilang pada ku, dia menghabiskan nasi nya lagi" gumam Zia.


"Ada apa Neng" tanya Umi yang baru saja datang ke sana.


"Ini Umi aku goreng nasi keasinan tapi Gus Adam tak bilang kalau makanan nya asin" ucap Zia.


"Mungkin Adam menjaga perasaan Neng Zia saja supaya Neng Zia tak sakit hati" ucap Umi.


"Tapi Umi bagai mana mungkin dia menghabiskan satu piring" ucap Zia.


"Mungkin dia lapar" ucap Umi.


"Umi aku akan ke kamar dulu" ucap Zia.


"Ya" ucap Umi.


Zia menyusul ke dalam kamar.


"Gus maaf karena aku kau merasa keasinan, lagian kamu juga sih yang gak bilang" ucap Zia.


"Sudah lah Zia tak masalah" ucap Adam.


"Tapi lidah mu" tanya Zia.


"Aku baik baik saja" ucap Adam.


"Yang benar Gus" tanya Zia.


"Beneran" ucap Adam.


Sedangkan sekarang di luar pesantren saat ini Gita baru saja selesai belanja di warung, tanpa sengaja Gita mendengar para santri putri membicarakan Ning Rena yang tak lain adalah teman nya sendiri.


"Ya beneran aku lihat" ucap seseorang santri putri.


"Masa sih Ning Rena Begitu" tanya yang lain.


"Aku lihat sendiri lagi pula banyak yang lihat" ucap yang lain lagi.


"Apa jangan jangan Ning Rena dan Gus Luthfi mereka ada main" ucap yang lain.


"Hush jangan Suudzon" ucap yang lain.


"Bukan suudzon tapi ini nyata".


Gita heran.


"Apa Rena yang mereka bicarakan adalah Ning Rena" gumam Gita.

__ADS_1


Namun Gita tak terlalu memikirkan hal itu dia langsung menuju ke kamar nya karena akan mengerjakan pr bersama dengan Rena.


"Ning aku beli kerupuk" ucap Gita.


"Hahaha Gita masa mau ngerjain pr makan kerupuk nanti terbang loh" ucap Ainun tertawa.


"Kak gak akan terbang lagi pula kan gak ada angin" ucap Gita.


"Sudah lah" ucap Rena.


Gita mencoba menanyakan pada Rena tentang ucapan para santri yang tadi.


"Ning aku mau bicara tapi kau jangan marah ya" ucap Gita.


"Bicara apa" tanya Rena.


"Tadi aku dengar kalau para santri membicarakan kau dan Gus Luthfi" ucap Gita.


Rena menatap pada sahabat nya itu.


"Mereka bilang apa" tanya Rena.


"Yang aku dengar sih katanya kamu dan Gus Luthfi ada main" ucap Gita.


"Hah" tanya Rena terkejut.


"Berani sekali mereka bicara begitu apa mereka tak sadar siapa yang mereka bicarakan, kalau Sampai mereka bilang di hadapan ku maka aku tak akan segan segan menjambak tuh mulut nya" geram Ainun.


"Sudah lah kak tak apa" ucap Rena.


"Tapi Ning mereka membicarakan mu" ucap Ainun.


"Tak masalah kak, lagi pula mereka gak tau penjelasan nya" ucap Rena.


"Apa benar kau ada main bersama dengan Gus Luthfi" tanya Gita.


"Tak ada kemarin kamu tau betul kan kalau aku di gendong Gus Luthfi itu karena apa" ucap Rena.


"Ya sih" ucap Gita.


"Baik lah Ayo kita kerjakan saja pr ini" ucap Rena yang berusaha menutup telinga padahal kenyataannya dia merasa tersinggung apa lagi Rena dan Luthfi sedang ber ta'aruf.


Luthfi sekarang berjalan menuju ke arah Adam yang berada di teras rumah nya karena sedang belajar.


"Assalamualaikum Gus" ucap Luthfi.


"Waalaikum salam" ucap Adam.


"Gus bisa saya pinjam ponsel kamu, aku ingin menghubungi orang tua ku, aku lupa belum mengisi pulsa" ucap Luthfi.


Luthfi mengutak atik ponsel Adam dia mencoba menghubungi seseorang.


"Ada apa Mah" ucap Luthfi saat sambungan telepon sudah terhubung.


Adam hanya mendengar kan saja karena suara Luthfi juga cukup keras suara nya, seperti marah pada si penelepon.


"Mah aku sudah bilang kan aku gak mau, kenapa gak Ayah saja mamah Jodoh kan lagi" ucap Luthfi marah.


"Pokok nya aku gak mau mah terserah aku gak akan pulang, mamah jangan cemas perusahaan bisa aku handle walau pun aku di pesantren" geram Luthfi yang langsung mematikan sambungan telepon.


Adam tau betul sekarang Luthfi tengah marah apa lagi wajah nya terlihat sangat garang.


"Gus terima kasih" ucap Luthfi menyodorkan ponsel adam.


"Ya sama sama" ucap Adam.


"Lagi belajar Gus" tanya Luthfi.


"Ya" ucap Adam.


"Oh maaf aku ganggu" ucap Luthfi.


"Tak masalah" ucap Adam.


Luthfi pergi dari sana meninggal kan Adam, sedang kan Adam hanya menatap pada kepergian Luthfi.


"Apa Gus Luthfi punya masalah dengan keluarga nya" gumam Adam bertanya tanya.


Selama bertahun tahun bersama Adam tak tau kehidupan Luthfi seperti apa, apa lagi Luthfi juga tak terlalu terbuka orang nya.


Malam hari nya keadaan di pesantren sangat sepi bahkan semua santri juga sudah terlelap dalam tidur nya, hanya saja saat ini Adam belum tidur dia masih melek sedang kan Zia juga tak bisa tidur karena suami nya membuka jendela kamar jadi angin malam masuk ke dalam kamar.


"Gus ada apa" tanya Zia.


"Entah lah aku merasa sangat tak enak hati Zia" ucap Adam.


"Tak enak hati pada siapa" tanya Zia.


"Entah lah perasaan aku sangat tak enak" ucap Adam menatap langit malam yang sekarang di penuhi bintang bintang.


"Aku yakin tak ada apa apa Gus, itu hanya perasaan kamu saja" ucap Zia.


Namun mata Adam menyipitkan saat melihat ada seorang laki laki yang datang ke sana dengan naik ke atas pagar pesantren.

__ADS_1


Adam menyipitkan matanya.


"Laki laki itu kenapa" gumam Adam.


"Siapa Gus" tanya Zia.


"Lihat lah ada penyusup, apa jangan jangan itu maling" tanya Adam.


"Ayo Gus kita teriaki saja dia" ucap Zia.


"Jangan nanti banyak santri yang keluar dan dia kabur" ucap Adam.


"Tapi Gus kalau pen ja hat bagai mana" tanya Zia.


"Ya Zia tapi di teriaki itu bukan ide bagus, mending itu benar maling kalau santri bagai mana" tanya Adam.


"Gus gak akan mungkin santri datang ke pesantren dengan naik ke atas pagar" ucap Zia.


"Kita ikuti saja tapi kamu jangan berisik kalau sampai kamu berisik aku akan tutup mulut mu" ucap Adam.


"Asal tutup nya dengan mulut mu" ucap Zia sambil nyengir kuda.


"Hehe lucu" ucap Adam mencubit hidung Zia.


"Gus" kesal Zia.


Mereka keluar mengikuti maling itu, saat ini Adam bisa melihat dengan jelas kalau orang itu tengah mengendap endap ke kamar santri putri.


"Tuh kan kalau benar itu santri mana mungkin ke kamar santri putri" ucap Zia.


"Diam Zia" ucap Adam.


"Ya ya" ucap Zia.


Mereka mengikuti orang itu dari jarak yang sangat jauh, keadaan malam dan cukup gelap di sana.


Cahaya dari lampu saja hanya menampakkan remang remang, karena ruangan sangat luas dan lampu sudah spaneng.


Orang itu menuju ke kamar santri putri kamar nomor 19, Adam bersembunyi di bunga yang cukup besar sambil melihat orang itu.


Saat ini Adam dan orang itu sangat dekat sekali tetapi karena Adam sembunyi orang itu tak bisa melihat Adam dan Zia.


"Gus apa mungkin dia akan maling" tanya Zia yang langsung mendapat kan bekapan dari Adam.


Suara Zia yang cukup keras terdengung di telinga Adam.


"Pelan kan suara mu Zia" bisik Adam.


"Ya" ucap Zia.


Orang itu terlihat seperti ragu bahkan sejak tadi dia tak melakukan apa apa hanya diam saja menatap pada pintu kamar nomor 19 itu.


Tangan orang itu mulai mengetuk pintu kamar nomor 19 itu.


Tokk


Tokk


"Masa maling ketuk pintu" tanya Zia sambil berbisik.


"Jangan berisik Zia" bisik Adam.


"Ya Gus ya" ucap Zia.


Namun tiba tiba seorang santri putri keluar dari kamar itu.


Adam tahu betul santri Putri itu, dia santri putri dari kelas 3 SMA.


"Itu kan Maya" ucap Zia yang langsung di bekap oleh Adam.


Mereka berdua berbincang bincang namun entah apa yang mereka bicarakan karena mereka seperti berbisik bisik.


Namun Adam paham pada postur tubuh mereka pasti mereka sedang terjebak adu mulut.


Tiba tiba saja sesuatu hal yang tak Adam dan Zia duga terjadi juga.


Dengan sigap Adam menutupi mata Zia supaya tak melihat nya dan Adam langsung memalingkan wajahnya.


Sampai adegan panas itu selesai Adam terus menutup mata Zia dan memalingkan wajahnya.


"Astaghfirullah ada yang berani berbuat me sum di sini" gumam Adam.


Kedua insan itu selesai melakukan hal memalukan itu, Adam melepas kan tangan nya pada mata Zia.


"Kita gerebek aja mereka" ucap Zia.


"Jangan kasihan, mungkin mereka punya masalah" ucap Adam.


"Gus astaga kau ini sangat polos lihat mereka melakukan hal memalukan di pesantren dan kau diam saja" ucap Zia.


"Zia jika tuhan bisa menutupi Aib kita maka kenapa kita tak menutupi aib mereka" ucap Adam.


"Tapi aku bukan tuhan" ucap Zia yang hendak ke sana namun Adam memegang tangan Zia dan menghentikan aksi Zia.

__ADS_1


"Diam lah" ucap Adam.


bersambung...


__ADS_2