
Adzan subuh berkumandang di mesjid, Zia dan Umi langsung bersiap akan pergi ke mesjid karena akan melaksanakan Sholat subuh berjamaah.
Saat ini Umi dan Zia baru saja selesai masak walau pun masak banyak tapi mereka bisa menyelesaikan nya sebelum Adzan subuh.
"Alhamdulillah Umi senang karena makanan untuk santri sudah siap" ucap Umi.
"Ya Umi Alhamdulillah" ucap Zia.
Saat ini Adam sudah berada di mesjid karena akan menjadi imam di mesjid, Zia masuk dan langsung duduk di sana menunggu Sholat subuh di mulai.
Zia menatap pada Adam yang sekarang tengah bicara dengan Fauzi namun entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Gus Adam kau sangat tampan" batin Zia tersenyum.
"Kak" tanya Gita.
"Ya" tanya Zia.
"Oh ya kak siapa laki laki yang datang tempo itu ke rumah Abah" tanya Gita.
"Laki laki yang mana" tanya Zia.
"Yang pakai jas" ucap Gita.
"Oh Abimana dia adik sepupu ku" ucap Zia.
"Apa dia sudah tua" tanya Gita.
"Sekarang dia dua puluh tahun" ucap Zia.
"Wah masih muda ya" ucap Gita.
"Ya kenapa suka ya" tanya Zia.
"Gak" ucap Gita malu malu.
"Jangan bohong tak apa kok, tapi dia sedikit punya pergaulan bebas tapi aku yakin dia tipikal orang yang setia karena sejak dulu juga dia tak pernah main wanita" ucap Zia.
"Hah benarkah" tanya Gita.
"Ya sih dulu, entah kalau sekarang" ucap Zia.
Ikhomat sudah terdengar semua santri langsung bersiap karena akan melaksanakan sholat Subuh.
Setelah selesai mereka melakukan dzikir secara bersamaan dan masih di pimpin oleh Adam.
Selesai sholat subuh para santri langsung di suruh antri makan pagi, karena nantinya para santri akan kembali belajar seperti biasa.
Zia membantu Umi menyiapkan makanan di atas meja untuk para santri makan.
Karena sekarang Zia sudah menikah dia tak bisa lagi makan bersama dengan yang lain dia selalu makan di rumah bersama Adam.
"Umi aku akan pulang dulu" ucap Zia.
"Ya" ucap Umi.
Zia berjalan pulang ke rumah karena akan makan bersama dengan Adam.
Apa lagi sekarang Zia akan menagih hutang Adam padanya.
Zia masuk ke dalam rumah dia melihat ada Adam di sana yang sekarang tengah melihat layar laptop nya.
"Gus sedang apa" tanya Zia.
"Gus Yasya pagi sekali dia ngajak aku video call" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
Lalu Zia baru tersadar kalau wanita itu juga tinggal bersama dengan Gus Yasya.
"Apa mungkin ini ulah wanita itu" gumam Zia.
"Gus mau makan" tanya Zia.
"Boleh tolong ambilkan" ucap Adam.
Zia mengambil kan nasi dengan cepat, Zia langsung duduk di kursi bersama Dengan Adam dan sekarang Zia akan menyuapi Adam.
Layar laptop menampilkan Gus Yasya yang sedang video call namun benar dugaan Zia ada wanita itu juga di samping Gus Yasya.
Gus Yasya dan wanita itu tercengang karena melihat Zia yang tengah menyuapi Adam.
Farida yang melihat pun langsung memutar bola matanya malas melihat adegan itu.
"Ada apa Gus ngajak Video call sepagi ini" tanya Adam.
"Tak ada hanya ingin vc saja, aku tak ganggu kan" tanya Yasya.
"Tak lah kenapa harus ganggu" ucap Adam.
"Oh ya Gus rencana nya aku sekeluarga akan ke pesantren nya Farida, apa kau akan ikut" tanya Yasya.
"Kapan" tanya Adam.
"Besok, ayo lah Gus kau harus ikut" ucap Yasya memohon.
"Tapi bagai mana ya aku pasti sibuk" ucap Adam.
"Ayo lah Gus main ke sana, nanti kau akan tau apa saja yang ada di sana" ucap Farida.
"Ya terserah nanti saja" ucap Adam.
"Pokok nya kau harus ikut Gus" ucap Yasya.
"Ya insya Alloh" ucap Adam.
Mereka berbincang bincang sangat banyak Zia hanya menyimak saja pembicaraan mereka dengan rasa malas apa lagi Farida terus saja bicara padahal tak ada yang tanya padanya.
"Ya sudah Gus aku tutup ya sekarang aku akan mengajar" ucap Adam.
"Kau seorang guru" tanya Farida.
__ADS_1
"Ya" ucap Adam.
"Kau guru apa" tanya Farida.
"Aku mengajari apa saja" ucap Adam.
"Oh kalau begitu kita sama" ucapnya.
"Oh ya kau seorang guru" tanya Adam.
"Ya aku guru paud" ucap Farida.
"Oh".
"Baik lah Gus aku tutup ya" ucap Adam yang langsung menutup video call nya bersama dengan Yasya.
"Aneh bukan, nanti sore Gus Yasya akan datang tapi dia menghubungi sekarang" ucap Adam.
"Itu pasti akal akalan si wanita itu" ucap Zia.
"Hey jangan begitu" ucap Adam.
"Begitu bagai mana" tanya Zia.
"Gak boleh julid" ucap Adam.
"Gak julid tapi bicara kenyataan" ucap Zia.
"Sudah lah ayo kita bersiap sebentar lagi kita akan belajar" ucap Adam yang langsung menutup laptopnya dan membawa nya ke kamar.
"Dasar wanita itu" geram Zia.
Saking kesal nya pada wanita itu Zia sampai lupa kalau sekarang di akan meminta pada Adam.
"Mungpung Gus Adam sedang di kamar" gumam Zia.
Zia langsung masuk ke dalam kamar, terlihat kalau Adam tengah Menganti pakaian nya karena sekarang dia akan mengajar.
Tak tanggung tanggung Adam Tempo itu juga hanya memakai kaos polos dan sarung saja, dan hal itu sangat membuat Adam terlihat gagah dan tampan.
Adam melihat pantulan Wajahnya di cermin, ternyata luka saat berkelahi itu masih ada dan masih terlihat jelas.
"Ada apa Gus" tanya Zia.
"Tak ada aku hanya sedang melihat luka ini saja" ucap Adam.
"Sudah mulai hilang Gus" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia langsung memeluk Adam dari belakang, Adam cukup paham pada apa yang Zia ingin kan tapi Adam belum siap saja kalau harus melakukan nya.
"Ayo lakukan sekarang Gus" ucap Zia.
"Maaf Zia sekarang aku harus mengajar dulu" ucap Adam.
"Gus masih ada waktu beberapa menit lagi" ucap Zia.
"Tapi kapan" tanya Zia.
"Nanti ya sekarang sudah pukul setengah tujuh aku harus segera ke kelas karena sekarang ada pelajaran tambahan" ucap Adam.
"CK" Zia berdecak.
"Ayo segera bersiap nanti kesiangan" ucap Adam yang langsung keluar dari sana meninggal kan Zia yang sekarang masih berada di kamarnya.
"Gus Adam" geram Zia.
Zia bersiap karena akan masuk ke kelas lagi, sekarang Zia ke kelas dengan memakai baju gamis putih karena Zia tak punya baju seragam di pesantren jadi Zia hanya memakai apa saja asal kan warna nya sama seperti para santri yang lain.
Sesuai di jadwal di kelas Zia sekarang belajar bahasa Inggris.
Namun sudah masuk jam pelajaran tapi pak Didin sebagai guru bahasa Inggris tak datang ke sana.
"Apa pak Didin lupa masuk kelas lagi" sahut Ainun.
"Kaya nya pak Didin tak datang kak" sahut yang lain.
"Syukur lah kalau dia tak datang" sahut yang lain.
"Hey jangan begitu nanti datang berabe kan" sahut yang lain.
Zia hanya menatap mereka dengan tatapan bosan, entah kenapa Zia merasa kalau satu kelas dengan anak kecil membuat dia tak bisa bersikap serius.
"Assalamualaikum" ucap Farid yang langsung masuk ke kelas itu.
"Waalaikum salam" serempak para santri.
"Gus kau yang ngajar sekarang" tanya salah satu santri.
"Ya kata nya pak Didin sedang sakit jadi aku yang akan mengajar kalian sekarang tapi bukan bahasa Inggris" ucap Farid.
"Baiklah buka buku kalian dan salin tulisan ini" ucap Farid mendikte.
"Ya Gus" serempak.
Farid membacakan semua pelajaran yang sekarang dia akan ajarkan sampai selesai, hingga selesai menulis Farid menutup bukunya.
"Ada yang mau di tanyakan" tanya Farid.
"Gus bagai mana cara melihat teman yang baik dan teman yang tak baik" tanya salah satu santri.
"Cara nya gampang, hormati dia kalau dia memang punya akhlak baik maka dia akan semakin menghormati mu tapi kalau dia berakhlak tak baik maka dia akan merasa bahwa dirinya paling benar" ucap Farid.
"Oh lalu kalau teman yang tak baik harus kita apa kan" tanya salah satu santri.
"Alangkah baik nya di jauhi" ucap Farid.
"Tapi kalau terus mendekat" tanya santri.
"Begini ya kalau orang yang kita pikir tak baik, kita ingin menjauhi nya tapi dia terus mendekat kita jangan mengusir nya, kita perlakukan saja dia sebagai seorang teman dan berusaha tak terjadi apa apa, karena untuk membuat seseorang menjauh itu sudah karena kita juga akan memutuskan tali silaturahmi nanti nya, jadi kalau bisa jangan ya biarkan saja" ucap Farid.
__ADS_1
"Kalian paham" tanya Farid.
"Paham Gus" serempak.
"Baik lah jam pelajaran saya sudah berakhir sekarang akan ganti pelajaran lagi, Assalamualaikum..." ucap Farid yang langsung pergi dari sana.
"Waalaikum salam..." serempak.
Bu Isma datang ke sana karena Akan mengajar.
"Ada pelajaran rumah ya" tanya Bu Isma.
"Hah" para santri terkejut.
"Jangan bilang kalian tak mengerjakan" ucap Bu Isma.
"Tidak Bu" serempak.
"Yang tak mengerjakan kedepan sekarang" ucap Bu Isma tegas.
Zia, Ainun dan beberapa santri yang lain maju ke depan karena tak mengerjakan pekerjaan rumah.
"Ke mana saja kalian" tanya Bu Isma.
"Bu saya tak tau" ucap Zia.
"Tak tau? Bukan nya kau bisa tanya pada yang lain" tanya Bu Isma.
"Ya bu aku lupa" ucap Zia.
"Kalau kamu kemana" tanya Bu Isma pada Ainun.
"Bu aku sibuk" ucap Ainun.
"Sibuk apa? Sibuk pacaran sama Gus Fauzi" ucap Bu Isma.
"Itu Ibu tau" gumam Ainun.
"Beraninya kau" geram Bu Isma.
"Ampun Bu" ucap Ainun.
"Baiklah kalian tetap berdiri di sini sampai pelajaran selesai" ucap Bu Isma.
"Ahh Bu apa tak ada hukuman yang lain" tanya salah satu santri.
"Kau mau hukum apa" tanya Bu Isma.
"Apa saja Bu asal tak berdiri" ucapnya.
"Baiklah bantu Imah membersihkan seluruh pesantren" ucap Bu Isma.
"Hah tak jadi Bu lebih baik di sini saja" ucapnya.
Mereka berdiri sedangkan yang lain mengerjakan tugas yang di berikan Bu Isma.
Adam datang ke sana karena akan mengabsen santri yang tak bisa ikut belajar.
"Assalamualaikum" ucap Adam yang langsung masuk ke dalam.
"Waalaikum salam" serempak.
"Bu apa ada santri yang tak bisa ikut belajar" tanya Adam.
"Hanya Andi dan muna saja" ucap Ibu Isma.
Zia menatap pada Adam, terlihat kalau Adam juga menatap pada Zia dan tersenyum.
"Baik lah Bu terima kasih" ucap Adam.
"Ya sama sama" ucap Bu Isma.
Adam pergi dari sana tanpa bertanya pada Zia karena Adam tau kalau Zia sekarang tengah di hukum.
"Gus Adam kau tak peka" gumam Zia.
Sampai selesai Zia masih berdiri di sana,
"Pelajaran selesai kalian silahkan istirahat" ucap Bu Isma.
"Terima kasih Bu" ucap serempak para santri.
Zia dan Ainun istirahat, mereka menunggu Gita dan Rena supaya istirahat mereka barengan.
Zia melihat ada Husna yang baru saja keluar dari kelas.
"Ning" ucap Zia.
"Zia" ucap Husna.
"Bagai mana kandungan mu" tanya Zia.
"Alhamdulillah cuman aku sering mual dan pusing saja sekarang" ucap Husna.
"Oh ya" ucap Zia.
"Aku permisi ya, Ustadz Haddad pasti menunggu ku di kamar" ucap Husna.
"Ya" ucap Zia.
Zia jajan ke warung karena akan jajan cemilan, sedang kan Adam sekarang melihat istrinya nya yang sedang jajan di warung bersama dengan Ning Rena dan yang lain.
"Zia kau sangat bar bar" gumam Adam tersenyum.
Zia sekarang jajan makanan banyak sekali, Zia yang melihat Adam tengah berdiri melihat nya pun langsung mendekat pada Adam.
"Gus" ucap Zia.
"Ayo pulang ke rumah" ucap Adam.
"Ayo" ucap Zia.
__ADS_1
bersambung