
Di mesjid sudah banyak para santri yang membangunkan para santri yang lain dengan speaker mesjid.
Para santri yang lain juga sudah bangun untuk sahur, Zia dan Umi sudah siap membawa kan makanan untuk mereka makan sekarang.
Pagi ini terasa sangat dingin bahkan para santri banyak yang memakai jaket karena kedinginan.
Sekarang para santri makan walaupun tak lahap karena kondisi yang baru saja bangun tidur jadi mereka masih mengantuk.
"Makan yang banyak" sahut Umi.
"Ya Umi" ucap santri putri serempak.
"Gak kerasa sekarang sudah puasa ke 7" ucap Umi.
"Waktu cepat berlalu Umi" ucap Zia.
Setelah selesai makan semua santri membaca niat puasa bersama.
Umi dan Zia kembali membereskan makanan nya karena kalau tetap ada di sana takut nya para santri ada yang lupa terus makan di siang hari.
"Neng siang ini rencana nya Umi mau membuat bolu kukus kamu mau kan bantu" tanya Umi.
"Oh baik lah" ucap Zia.
"Ayo kita ke mesjid" ucap Umi.
"Ya ayo Umi" ucap Zia.
Semua santri melaksanakan sholat Subuh berjamaah, dengan Fauzi yang sekarang menjadi imam di masjid.
Setelah selesai Fauzi menengadah kan tangan nya.
"Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa 'adzaban naarΒ (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka)".
"Amin" ucap para santri serempak.
Semua santri bubar mereka akan mencuci pakaian nya atau kalau tidak mereka akan bersikap untuk sekolah.
Zia dan Adam pulang ke rumah karena mereka juga akan bersiap untuk mengajar.
"Zia sekarang akan ada Aulia datang kemari" ucap Adam.
"Aulia siapa" tanya Zia.
"Putri nya Ustadz tegar" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia ketus.
"Dia teman aku saat SD" ucap Adam.
"Oh sudah tua ya" tanya Zia.
"Tua? Maksud mu apa" tanya Adam.
"Maksud ku umur nya pasti sama seperti mu" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Pagi ini Abah sedang sibuk mencari santri yang mau memberikan berkas keuangan pada Ustadz Hasan, semenjak pembangunan berlangsung banyak sekali yang Abah harus tulis kan dalam kertas.
Bahkan Ustadz Hasan seolah tak percaya pada Abah, sering kali dia bilang kalau keuangan habis oleh Abah sekeluarga padahal uang itu jelas jelas dari uang Abah.
Karena uang donasi akan masuk ke rekening Ustadz Hasan kecuali dari Topan papahnya Zia.
"Apa kau sibuk" tanya Abah.
"Tidak Abah" ucap santri putra.
"Bisa antar kan ini pada Ustadz Hasan" ucap Abah.
"Abah sepagi ini Ustadzah istri nya Ustadz Hasan tak akan membukakan pintu nya" ucap santri putra itu.
"Kau benar juga, aku akan suruh santri putri saja" ucap Abah.
"Baik Abah" ucapnya.
Abah melihat Rena yang sekarang tengah membawa sapu karena akan menyapu kamarnya.
"Ning" sahut Abah.
"Ya Abah" tanya Rena.
"Apa kau bisa antar kan ini pada Ustadz Hasan" tanya Abah.
"Baik lah aku akan berangkat" ucap Rena.
"Terima kasih Ning aku merepotkan mu" ucap Abah.
"Abah sudah lah, tak apa" ucap Rena.
"Aku akan meminta Gus Luthfi mengantar mu" ucap Abah.
"Tak perlu Abah, aku bisa.. astaghfirullah Abah" ucap Rena namun Abah malah melengos pergi meninggalkan dia sendirian.
"Gus Luthfi" sahut Abah.
"Ya Abah ada apa" tanya Luthfi yang sekarang tengah menjaga keamanan.
"Apa kau sibuk" tanya Abah.
"Aku sedang menjaga keamanan Abah" ucap Luthfi.
"Oh Abah pikir kamu mau menjaga Ning Rena" ucap Abah.
"Ning Rena" gumam Luthfi yang matanya langsung fresh kalau mendengar Nama Rena.
"Abah tunggu saya tak terlalu sibuk" ucap Luthfi.
"Baik lah kalau kau bisa, terima kasih Gus" ucap Adam.
"Ya sama sama" ucap Luthfi.
Dengan cepat Luthfi langsung mendekat pada Rena.
"Silahkan" ucap Luthfi membiarkan Rena berjalan lebih dahulu.
(Abah jangan biarkan Rena sama Luthfi, sama mak othor saja hehe, Mak othor gak ikhlas)
"Terima kasih kau sangat baik mau mengantar aku" ucap Rena.
"Aku selalu siap kalau menyangkut diri mu" ucap Luthfi.
"Kau terlalu baik" ucap Rena.
"Aku memang baik" ucap Luthfi.
Rena hanya tersenyum saja, sebenarnya dia merasa malu kalau harus berdua duaan dengan Gus Luthfi apa lagi hubungan yang mereka jalani membuat Rena ingin menghindar namun takdir seolah menyatukan mereka lagi.
"Ning kau suka kisah cinta seperti apa" tanya Luthfi.
"Kalau kau" tanya Rena.
"Kisah cinta Siti Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Tholib" ucap Luthfi.
"Kenapa" tanya Rena.
__ADS_1
"Karena Ali bin Abi Tholib mampu menyembunyikan rasa cinta nya untuk Siti Fatimah, perlahan namun pasti" ucap Luthfi.
"Tapi sayang kau tak seperti Ali bin Abi Tholib" ucap Rena.
"Kenapa" tanya Luthfi.
"Karena kau mengatakan cinta mu secara jelas Gus, tak seperti Ali yang mampu menutupi rasa cinta nya" ucap Rena.
"Ya aku tak seperti dia, tapi cinta ku tulus pada mu" ucap Luthfi.
"Terima kasih" ucap Rena.
"Lalu kisah siapa yang paling kau suka" tanya Luthfi.
"Layla dan Qais" ucap Rena.
"Kenapa bukan nya kisah Layla Majnun itu kisah yang sedih" tanya Luthfi.
"Ya Gus tapi cinta mereka sampai ke surga" ucap Rena.
"Yang jelas aku tak akan membiarkan kisah kita sama seperti kisah Layla dan Qais" ucap Luthfi.
"Aku hanya suka" ucap Rena.
"Tapi aku tak mau kisah ku seperti itu" ucap Luthfi.
"Berfikir lah Gus aku akan lama lagi untuk menikah" ucap Rena.
"Ning aku akan meminta mu pada Rab ku" ucap Luthfi.
"Itu lebih baik" ucap Rena.
Sedangkan di pesantren saat ini ada sebuah mobil hitam yang datang ke sana.
Semua santri menatap pada mobil hitam itu.
Abah sadar kalau mobil itu adalah mobil Sofi yang baru saja masuk ke dalam pesantren.
"Mau apa dia datang" gumam Abah.
Adam dan Zia yang masih berada di dalam rumah mereka langsung keluar karena mau melihat ada apa di luar.
"Gus dia kan anak buah bibi mu" ucap Zia.
"Ya ada apa dia datang kesini" tanya Adam.
"Kita lihat" ucap Zia.
Anak buah Sofi masuk ke dalam rumah Abah, mereka menghadap pada Adam dan Zia yang ada di sana.
"Ada apa" tanya Adam ketus.
"Aku mau bertemu dengan Ustadz Zaka" ucapnya.
Abah datang ke sana.
"Ada apa" tanya Abah.
"Kami mau Ustadz ikut, karena sekarang Nyonya Sofi sedang berbaring di rumah sakit karena mengalami tabrakan" ucapnya.
"Kapan" tanya Abah.
"Kemarin namun sampai sekarang belum siuman juga" ucap nya.
"Baiklah kami ikut" ucap Abah.
"Tapi Abah jangan percaya begitu saja siapa tau mereka berbohong" ucap Adam merasa curiga.
"Ustadz saya berkata benar, saya punya bukti nya" ucapnya yang langsung merogoh sakunya dan menunjukkan sesuatu di layar ponsel nya.
"Baik lah aku ikut" ucap Adam.
"Ayo" ucapnya.
Rena dan Luthfi datang ke sana mereka baru saja kembali dari kediaman Ustadz Hasan.
"Ada apa Abah" tanya Rena.
"Ini Ning katanya Sofi ke rumah sakit" ucap Abah.
"Hah Bagai mana kondisi nya" tanya Rena.
"Kalian ikut lah" ucap Abah pada Rena dan Luthfi.
"Baik Abah" ucap Luthfi.
Keluarga Abah serta Luthfi naik ke dalam mobil hitam punya Sofi, Abah cukup tenang karena ada Luthfi yang bisa bela diri ikut bersama dengan nya.
Mobil berjalan menuju ke arah jalanan, Namun Abah lupa memberi tau Fauzi untuk mengajar di kelas.
"Abah lupa tak menyuruh Fauzi untuk menjaga kelas" ucap Abah.
"Biar aku telpon" ucap Adam.
ππ
"Gus Fauzi, kata Abah kau jaga pesantren kami ada keperluan mendadak" ucap Adam.
"Baik Gus" ucap Fauzi.
"Abah percaya pada mu" ucap Adam.
ππ
"Sudah abah" ucap Adam.
"Kirim pesan pada Ustadz Hasan untuk dia ke pesantren" ucap Abah.
"Baik lah" ucap Adam.
Adam mengirimkan pesan untuk Ustadz Hasan untuk datang ke pesantren.
Mereka menuju ke arah rumah sakit kota dan benar saja mereka sampai di sana,
"Silahkan Ustadz" ucap nya.
Abah dan semua keluarga nya berjalan masuk ke dalam, namun tak semua masuk hanya Abah dan umi saja yang akan masuk ke dalam.
Zia, Adam, Rena dan Luthfi menunggu di luar.
"Apa kalian keluarga pasien" tanya Dokter pada Adam dan yang lain.
"Ya" ucap Adam.
"Kami kekurangan stok darah, kebetulan golongan darah nya O negatif dan itu sangat susah untuk mencari pendonor darah lagi, kalau kalian keluarga nya pasti ada yang golongan darah O negatif" tanya Dokter.
"Aku B" ucap Adam.
"Aku B positif" ucap Zia.
"Aku A" ucap Luthfi.
"Lalu siapa yang darah nya O" tanya Adam.
"Kalau ada beri tau saya dengan cepat" ucap dokter itu.
__ADS_1
"Golongan darah kamu apa Ning" tanya Zia.
"Aku gak tau" ucap Rena.
"Kau belum pernah di periksa" tanya Zia.
"Belum" ucap Rena.
"Ya baik lah, kalau Gus Adam golongan darah nya B kamu juga pasti B" ucap Zia.
Lama mereka menunggu hingga sekarang menunjukan pukul 10 siang.
"Apa ada yang golongan darah nya O negatif" tanya dokter datang ke sana lagi.
"Buat apa" tanya Abah.
"Pasien kehabisan darah karena dia kecelakaan jadi dia butuh banyak darah" ucap dokter.
"Apa golongan darah nya" tanya Abah.
"O negatif" ucap dokter.
"Periksa Ning Rena" ucap Abah.
"Hah aku" tanya Rena.
"Abah" ucap Umi menatap tajam pada Abah bahkan kepala Umi juga menggeleng menandakan jangan.
"Tapi ini demi keselamatan Sofi" ucap Abah.
"Tak apa Umi kalau golongan darah aku cocok aku mau kok mendonorkan darah ku" ucap Rena.
"Baik lah ayo ikut aku" ucap Dokter.
Rena mengikuti dokter sampai ke ruangan nya, Rena Langsung di periksa karena akan mengecek darah kalau sama Rena akan mendonor kan darah nya.
Tak lama setelah Rena cek darah hasil nya keluar juga, dan hal yang paling mengejutkan bagi Rena adalah golongan darah nya sama seperti Sofi.
"Dok apa tak salah" tanya Rena yang masih berada di ruangan itu.
"Ini sudah benar" ucap Dokter.
Rena bukan lah wanita bo doh yang tak paham pada semua ini.
"Tunggu Dok kalau golongan darah ku sama seperti bibi ku, tapi Ayah ku yang jelas jelas kakak nya tak sama apa mungkin bisa Begitu" tanya Rena.
"Maksud nya" tanya Dokter.
"Jadi begini Ayah kandung saya yang artinya kakak pasien golongan darah nya bukan O sedang kan aku malah sama dengan pasien, apa itu bisa terjadi" tanya Rena.
"Membingungkan ya, tapi setau saya mungkin kamu anak nya pasien" ucap dokter itu.
"Tapi mana mungkin" ucap Rena.
"Mamah kamu golongan darah nya apa" tanya dokter sambil menyiapkan alat untuk mengambil darah Rena.
"Yang jelas bukan O" ucap Rena.
"Ya jawaban nya simpel kamu anak nya bibi kamu" ucap Dokter.
"Hah tapi" ucap Rena.
"Relaks ya" ucap Dokter menyuruh Rena berbaring di blangkar.
Setelah selesai Rena merasa sangat lemas apa lagi dia sekarang tengah puasa.
"Lebih baik kamu buka sekarang" ucap Dokter.
"Buka apa" tanya Rena.
"Membatalkan puasa maksud aku" ucap Dokter.
"Tidak Dok aku tak mungkin membatalkan puasa" ucap Rena.
"Tapi kalau pusing atau semakin lemas, batal kan saja ya" ucap Dokter.
"Baik Dok" ucap Rena.
Rena kembali ke sana namun dia sekarang terlihat sangat datar dan tak banyak bicara, Rena masih tenggelam dalam pemikiran nya.
"Bagai mana Ning apa cocok" tanya Abah.
"Cocok" ucap Rena datar.
Umi menatap pada Abah.
"Tuh kan ini semua salah Abah" bisik Umi.
"Diam umi kita bicara kan nanti" ucap Abah.
Lama menunggu akhirnya mereka bisa bertemu dengan Sofi yang sekarang sudah siuman.
"Kita pulang Abah, Sofi juga sudah siuman kan" ucap Umi yang paham pada kondisi Rena sekarang.
"Baik lah ayo" ucap Abah.
Semua orang berdiri namun sejak tadi Zia memperlihatkan kondisi Rena yang sedang tidak baik baik saja itu.
Rena merasa pusing Rena memegang kepala nya dia tak bisa melihat dengan jelas.
Namun tiba tiba saja Rena pingsan.
"Ning" teriak Zia.
Namun dengan sigap Luthfi langsung menahan tubuh Rena supaya Rena tak jatuh ke lantai.
"Ning" ucap Luthfi.
Abah dan Umi pun langsung mendekat pada Rena mengambil tubuh Rena supaya tak berdekatan dengan Luthfi yang jelas jelas bukan mahram nya.
"Dokter" sahut Luthfi panik.
Dokter datang dengan membawa blangkar ke sana, Rena akan di periksa di ruangan perawatan.
Semua keluarga tak boleh ada yang masuk
"Kenapa Ning Rena" tanya Zia.
"Apa mungkin dia lemas karena sudah mendonorkan darah nya" tanya Adam.
"Kita tunggu saja di sini" ucap Abah.
mereka menunggu di luar karena para dokter sedang memeriksa Rena.
air mata Umi tak henti hentinya mengeluarkan bulir bening karena anak yang sudah dia asuh selama 15 tahun itu sekarang tengah tergeletak tak berdaya sendirian di dalam ruangan.
terlihat semua orang sangat cemas dengan hal ini, apa lagi saat ini yang sedang pingsan adalah seorang anak yang paling mereka sayangi.
apa lagi Luthfi yang sekarang sangat cemas bahkan kaki nya gemetar karena melihat tangan bekas mendonor darah mengeluarkan darah lagi.
bersambung
ada apa dengan Rena?
apa ucapan dokter itu benar?
__ADS_1
lihat jawaban nya di bab selanjutnya?