Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 83


__ADS_3

Zia sekarang berada di rumah karena akan membuat kan makanan untuk Adam.


Hanya mie instan saja yang akan Zia buatkan untuk Adam.


"Maaf aku hanya bisa buatkan ini" ucap Zia memberi kan satu piring mie goreng pada Adam.


"Tak masalah" ucap Adam.


Adam memakan mie yang Zia buatkan, walau pun agak sedikit kematangan tapi Adam tak bicara kan hal itu karena Adam tak mau Zia sakit hati.


"Zia apa sepupu mu itu non muslim" tanya Adam.


"Entah karena yang aku tau dia itu tak punya kepercayaan Gus" ucap Zia.


"Oh ya" ucap Adam.


Adam menghabiskan makanan nya sampai habis, karena sekarang Adam akan menjadi imam sholat Ashar jadi dia hanya punya waktu beberapa detik saja untuk istirahat.


"Gus apa kau tak kegerahan, bukan lah sorban nya" ucap Zia menggoda Adam.


"Jangan menggoda ku Zia, ini gara gara kau" ucap Adam.


"Salah ku? Bukan kah kau yang minta" tanya Zia.


Adam membuka sorban yang sejak pagi membelit lehernya.


"Apa masih sakit" tanya Zia.


"Tidak menang kenapa" tanya Adam.


"Itu sangat merah Gus" ucap Zia menunjuk pada leher Adam.


"Gak sakit" ucap Adam.


Drtt


{Gus malam ini setelah isya katanya akan belajar} pesan dari Yasya.


{Aku dan Ilham akan datang ke pesantren apa kau tak keberatan} pesan dari Yasya lagi.


{Ya tak masalah} balas Adam.


"Zia nanti setelah Isya akan ada Yasya dan Ilham dia akan datang kesini boleh kan" tanya Adam.


"Gus kenapa minta ijin pada ku itu terserah kau saja" ucap Zia.


"Terima kasih" ucap Adam.


Zia mendekat pada Adam, Saat ini Zia berada di atas Adam, Zia saat ini akan duduk di pangkuan Adam.


Bahkan Zia juga hendak memberikan ciuman pada Adam.


Tokk


Tokk..


Saat Zia akan mencium Adam, dengan cepat Adam mencekal pundak Zia dan mendudukan Zia di kursi.


"Nanti ya Abah sudah pulang" ucap Adam.


"Benarkah" tanya Zia kaget yang langsung membereskan piring dan gelas bekas Adam makan tadi.


Adam membuka kan pintu.


"Abah sudah pulang" tanya Adam yang langsung mengalami tangan Abah.


"Abah kejebak macet kalau gak macet mungkin tadi siang juga sudah selesai" ucap Abah.


"Oh, di mana Umi" tanya Adam bertanya keberadaan Umi nya.


"Kau ini seperti tak tau saja bagai mana sikap adik mu itu" ucap Abah.


"Ya" ucap Adam.


Zia keluar dari dapur dan langsung menyalami tangan Abah.


"Bagai mana apa kau betah" tanya Abah.


"Alhamdulillah betah abah" ucap Zia.


"Syukur lah" ucap Abah.


"Biar Adam bawakan tas nya" ucap Adam yang langsung membawa tas masuk ke dalam.


Abah duduk di kursi rumahnya itu.


Zia ke dapur karena akan membawa air minum untuk Abah.


"Terima kasih" ucap Abah.


"Ya Abah tak masalah" ucap Zia.


Umi datang ke sana, Zia dan Adam langsung menyalami tangan Umi.


"Umi sangat capek, tapi adik mu itu Dam sangat manja" ucap Umi.


"Biar lah Umi, itu juga kan salah Umi karena sudah memanjakan Rena" ucap Abah.


"Ya abah, Umi hanya takut saja bagai mana kalau nantinya Rena punya suami yang tegas, Umi takut Rena akan kena marah" ucap Umi.


"Berdoa saja Umi semoga Rena dapat laki laki yang baik dan bisa menerima nya" ucap Abah.


"Amin" serempak.


"Oh ya Neng Zia siapa yang masak" tanya Umi.


"Tadi yang masak ibu ibu yang rumah nya dekat pesantren ini, tadi pagi sekali dia datang karena katanya gak ada teman buat bantu masak, soal makan sore tadi kami tak masak Umi karena tadi pagi kami masak banyak" ucap Zia.


"Oh terima kasih karena sudah membantu" ucap Umi.


"Oh ya Umi kata ibu itu, tadi dia memberikan makanan banyak karena katanya buat Umi sama Abah makan" ucap Zia.


"Benarkah" tanya Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


"Terima kasih lah kalau begitu" ucap Umi.


"Ya" ucap Zia.


"Dam uwa membekal kan pisang pada Abah, buatlah pisang goreng" ucap Abah.


"Benarkah Abah" tanya Adam.


"Ya lumayan banyak" ucap Abah.


"Ya Abah nanti Adam akan buat kan, sekalian nanti malam akan ada Gus Yasya dan Gus Ilham datang ke sini" ucap Adam.


"Ya buatlah yang banyak Dam" ucap Umi.


"Oh ya Abah sholat Maghrib ini jadwal Adam imam, aku akan bilang pada Gus Fauzi kalau aku akan sholat di rumah saja" ucap Adam.


"Tak usah biar Abah yang gantikan" ucap Abah.


Zia menatap pada Adam, Zia baru sadar kalau Adam tak memakai sorban dan sudah pasti Abah dan Umi lihat tanda merah di leher Adam.


Karena Zia dan Adam duduk berdekatan, Zia mengkode Adam dengan kaki nya.


Zia menggesek kan kaki nya dengan kaki Adam.


Karena merasa risih Adam melihat pada Zia, saat ini Zia meng kode pada Adam kalau dia tak pakai sorban dengan menunjuk leher Adam menggunakan tatapan matanya.

__ADS_1


Adam yang sadar pun langsung berusaha menutupi lehernya.


"Abah aku akan ke kamar dulu" ucap Adam.


"Ya" ucap Abah.


"Kami permisi" ucap Zia.


"Ya Neng" ucap Umi.


Adam dan Zia masuk ke dalam kamar.


Zia menutup pintu kamarnya dan langsung rebahan di kasur.


"Ini gara gara kau Zia" ucap Adam.


"Gara gara aku" tanya Zia.


"Ya kalau saja kau tak mengigit aku mungkin aku tak akan sibuk menutupi nya" ucap Adam.


"Sudah lah Gus" ucap Zia.


"Sudah bagai mana" tanya Adam.


"Dua sampai tiga hari juga hilang" ucap Zia.


"Hah dua sampai tiga hari" ucap Adam terkejut.


"Ya" ucap Zia.


"Jadi aku harus menyembunyikan ini selama dua atau tiga hari" tanya Adam.


"Tentu saja" ucap Zia.


"Zia" geram Adam yang langsung mendekat pada Zia, Adam Sangat ingin membalas pada Zia apa lagi karena tanda ini Adam harus pandai menyembunyikan nya.


Adam memeluk Zia yang sekarang tengah rebahan di kasur.


Adam balik menggigiti leher Zia supaya sama seperti dirinya.


"Kau mau apa" tanya Zia.


...SKIP...


"Gus sakit" ucap Zia.


"Rasakan itu" ucap Adam.


"Hanya segini tak ada yang lain" tanya Zia.


"Yang lain apa" tanya Adam.


"CK kau tak peka" ucap Zia kesal, karena sebagai wanita normal Zia menginginkan hal yang lebih.


"Kau sedang ada halangan, aku tak bisa melakukan nya" ucap Adam.


"Ya sudah nanti ya" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Adam membuka ponsel nya sambil rebahan bersama dengan Zia di kasur.


"Ada yang nge chat" tanya Zia.


"Ada" ucap Adam.


"Gus" tanya Zia.


"Apa" tanya Adam.


"Aku mau hotspot" ucap Zia.


"Ya sudah tuh" ucap Adam.


Zia melihat lihat akun sosial media nya banyak sekali teman teman Zia yang memposting tentang barang barang yang limited edition.


"Gus lihat di postingan dia" ucap Zia memperlihatkan layar ponsel nya.


"Apa" tanya Adam.


"Bidah itu apa" tanya Zia.


"Bukan Bidah Zia tapi Bid pakai tanda kutip ah jadi bid'ah" ucap Adam.


"Ya ya, itu artinya apa" tanya Zia.


"Bid'ah itu artinya adalah suatu perbuatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan contoh dan hukum yang ditetapkan oleh syariat. Ketidak sesuaian tersebut bisa berupa menambahkan atau mengurangi ketetapan yang telah disepakati oleh syariat, bahkan sekarang banyak yang melakukan nya" ucap Adam.


"Oh ya siapa" tanya Zia.


"Kita semua Zia" ucap Adam.


"Oh ya, contoh nya apa saja" tanya Zia.


"Akan aku jelaskan, bid'ah jika dilihat dari hukumnya terdiri dari bid'ah wajib, bid'ah haram, bid'ah mustahab, bid'ah makruh, bid'ah mubah.


Pertama bid'ah wajib, Bid'ah Wajid ini seperti jenis atau perbuatan yang belum ada saat nabi Muhammad tapi menurut Kaidah dan Syariat ini wajib, contoh nya:


-belajar ilmu nahwu


-menjaga bahasa Al Qur'an dan hadits


-pendataan Ushul fiqh


-kajian mengenai hal shahih.


Yang kedua adalah Bid'ah haram, bid'ah ini adalah prilaku yang bertentangan dalam ilmu syariat, contohnya:


-aliran sesat seperti pandangan aliran Qadariyah, pandangan aliran Jabariyah, pemikiran aliran Murjiah, pemikiran golongan Mujassimah,


_tabbaruk, atau mencari berkah dalam barang dan hal hal tertentu, tabbaruk Juga bisa di sebut sebagai watsaniyah atau pengabdian terhadap mahluk.


-bid'ah dalam hal ibadah, ada sebuah hadist menjelaskan.


“Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka dia tertolak” hadist riwayat Muslim.


Ada juga Bid'ah makruh Bid'ah ini akan memperoleh pahala jika kita meninggal nya.


Lalu bid'ah mubah, Bid'ah ini memperbolehkan karena tidak bertentangan dengan syariat.


Paham??" Ucap Adam panjang lebar.


"Ya paham tapi Gus, contoh nya bid'ah makruh itu apa" tanya Zia.


"Bid'ah makruh contoh nya Memperindah mushaf Alquran dengan warna-warna" ucap Adam.


"Oh tak boleh ya" tanya Zia.


"Bukan gak boleh cuman jangan lah" ucap Adam.


"Apa Bid'ah itu dosa" tanya Zia.


"Ya karena termasuk melakukan dosa, jelas saja itu kan sesuatu yang jauh dari perintah Allah dan Rasul, apa lagi perbuatan itu seringkali tidak sesuai dengan agama" ucap Adam.


"Oh Terima kasih penjelasan nya Gus" ucap Zia.


"Ya sama sama, tapi itu menurut buku yang aku baca ya bukan menurut aku, kalau ada salah arti aku minta maaf karena aku suka lupa" ucap Adam.


"Ya tak masalah" ucap Zia.


Adzan Maghrib berkumandang di mesjid saat ini Adam tak akan berangkat karena akan masak pisang goreng yang Abah minta tadi.

__ADS_1


Adam mengambil Wudhu sedang kan Zia masih rebahan di kasur karena sekarang dia sedang datang bulan jadi Zia hanya diam saja tak melakukan apa apa.


Zia berjalan ke arah luar, ada Umi dan Abah yang akan ke mesjid sekarang.


"Neng gak ke mesjid" tanya Umi.


"Gak umi aku lagi datang bulan" ucap Zia.


"Oh sama kaya Rena" ucap umi.


"Ya Umi tadi juga Rena bicara pada ku" ucap Zia.


"Ya, ya sudah Umi ke mesjid dulu ya ada Adam juga di rumah jadi kamu jangan Takut" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Zia berjalan ke arah dapur di sana ada piring kotor bekas Umi dan Abah makan, Zia langsung mencuci nya karena tak mau mertua nya itu sampai kecapean padahal ada Zia di sana.


"Sudah kamu istirahat saja" ucap Adam yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidak Gus hanya ini saja" ucap Zia.


"Biarkan saja ada aku kan" ucap Adam.


"Tapi ini kan tugas wanita" ucap Zia.


"Kata siapa" tanya Adam.


"Gak kata siapa siapa tapi kan kebanyakan yang beres beres itu wanita" ucap Zia.


"Ya sudah terserah, aku akan ke kamar dulu" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Zia masuk ke ruang tengah, Zia hanya duduk saja di sana tanpa melakukan apa apa.


"Aku sangat bosan" gumam Zia.


Zia menunggu Adam sampai dia ketiduran di kursi, Adam keluar dari kamar nya.


"Zia, Zia kau ini sangat lucu" gumam Adam.


Adam membangun kan Zia karena sekarang Adam akan memasak.


"Zia mau ikut gak" tanya Adam sambil menggoyangkan goyang kan tangan Zia.


"Kemana" tanya Zia yang langsung bangun.


"Buat pisang goreng" ucap Adam.


"Ikut" ucap Zia.


Mereka berjalan ke arah dapur, sebelum nya Zia belum pernah membuat pisang goreng apa lagi Zia gak tau rasa nya pisang goreng itu seperti apa.


"Untuk adonan nya kau pakai apa" tanya Zia.


"Tepung terigu dan gula pasir saja" ucap Adam.


"Terigu dan gula saja" tanya Zia.


"Ya di kasih air sedikit" ucap Adam.


"Apa pisang goreng itu pisang pakai tepung" tanya Zia.


"Jangan bilang kalau kamu belum memakan pisang goreng" tanya Adam.


"Belum" ucap Zia.


"Astaghfirullah masa sih Zia" tanya Adam tak percaya.


"Beneran aku gak pernah, kalau pisang susu aku sering makan" ucap Zia.


"Pisang goreng" tanya Adam.


"Bukan pisang mentah pakai susu" ucap Zia.


"Ck Zia aku juga sering kalau begitu ini mah pisang goreng Zia" ucap Adam.


Zia hanya menggeleng kan kepala nya.


"Apa aku yang tak tau kehidupan orang kaya atau Zia yang makan nya elit ya" gumam Adam.


"Apa Pisang nya akan di kupas" tanya Zia.


Adam hanya tersenyum mendengar hal itu.


"Apa orang kaya kalau makan pisang bersama dengan kulit nya" tanya Adam.


"Tidak" ucap Zia.


"Ya tentu saja Zia harus di kupas" ucap Adam.


"Oh aku fikir sama kulit nya" gumam Zia sambil mengupas kulit pisang.


Saat mendengar kata kaya Zia Langsung teringat pada ucapan ibu yang waktu itu Zia bantu masak.


Kata ibu itu papah nya Zia adalah donatur terbesar di pesantren itu.


"Gus" tanya Zia pada Adam karena akan menanyakan tentang papah nya itu.


"Ya" tanya Adam.


"Apa Papah ku donatur terbesar di sini" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Kau tau" tanya Zia yang hanya di balas anggukan kepala oleh Adam.


"Kau tau tapi kau tak memberi tau ku" ucap Zia kesal.


"Lagian kau tak tanya" ucap Adam.


"Gus aku tanya beneran" ucap Zia


"Apa kau fikir aku berbohong" tanya Adam.


"Bukan begitu tapi aku bingung dari mana papah punya uang banyak bahkan aku hanya tau dia itu seorang petani" ucap Zia.


"Entah" ucap Adam.


Zia hanya menatap Adam yang sekarang tengah membuat pisang goreng.


"Gus sejak kapan kau bisa masak" tanya Zia.


"sejak aku SMP, Zia aku di pesantren ini aku di paksa mandiri oleh keadaan Zia jadi aku harus bisa masak" ucap Adam.


"lalu siapa yang mengajarkan kamu masak" tanya Zia.


"yang ngajarin Umi" ucap Adam.


"oh" ucap Zia.


"sudah selesai" ucap Adam yang sudah berhasil menggoreng pisang goreng beberapa biji.


"apa ini sudah bisa di makan" tanya Zia.


"tentu saja" ucap Adam.


"oh jadi begini cara bikin nya aku fikir ada sesuatu yang sudah begitu seperti di kukus atau di tumbuk" ucap Zia.


"tak ada Zia hanya ini saja" ucap Adam.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2