Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 120


__ADS_3

Di pesantren Abah tengah menatap bangunan kelas yang sekarang ambruk ke tanah, banyak bangku yang patah dan rusak karena bangunan roboh.


Memisahkan santri ini adalah ide Abah dari dahulu, karena dahulu Abah sangat marah pada santri yang melanggar peraturan Abah.


"Semoga saja aku bisa menjalan kan amanah ini, aku tak mau kalau sampai terjadi hal yang tidak tidak kedepannya" gumam Abah.


Baru sekarang Abah bisa mencapai keinginan itu, bahkan Abah juga berfikir kalau dengan di runtuh kan nya bangunan kelas ini, membuat keinginan Abah tercapai.


"Sungguh indah takdir mu ya Alloh, kau mengirim kan Sofi untuk menghancurkan ini, namun di sisi lain aku bisa mencapai keinginan ku" gumam Abah lagi.


Flash back onn.. beberapa tahun yang lalu.


Hari itu sudah malam, pesantren sangat gempar karena kehilangan salah satu santri yang di duga hilang di sekitar pesantren.


Membuat Abah dan yang lain nya merasa cemas apa lagi saat itu sedang musim penculikan anak anak.


Abah bermunajat supaya di berikan petunjuk di mana santri itu berada, bukan karena hal yang lain Abah cemas karena santri itu santri putri.


Jadi kekhawatiran Abah semakin tinggi apa lagi di sana banyak sekali preman yang berkeliaran padahal rumah mereka di RW sebelah dan Abah yakini mereka sering menganggu para santri putri kalau istirahat tiba.


Abah menjadi geram akan hal itu karena mau bagai mana pun, santri tak semua menampik, ada juga yang diam diam meladeni para preman itu.


Abah masih memaklumi karena santri juga manusia punya hati dan juga punya perasaan.


Namun semakin lama malah semakin kacau hingga suatu ketika Abah mendapati para santri yang sedang berduaan dengan preman yang ada di sana.


Hingga sejak itu Abah mengusir preman itu dari sana, hingga Abah juga terjebak dalam sebuah permusuhan antara pesantren dan para preman di sana.


Hingga lama setelah itu para preman mulai berani pada Abah dan langsung menyerang pesantren hingga membuat Abah dan yang lain nya tak tinggal diam.


Hingga setelah itu beberapa santri tumbang bahkan sampai ada yang meninggal.


Saat itu di sana masih ada kiyai Zaki Kakak nya Abah Zaka, dia di kenal sebagai seorang yang pandai pada ilmu kebatinan.


Hingga setelah pertumpahan darah itu selesai dan preman itu menang, hingga membuat para preman itu Sombong dan hendak mengambil alih pesantren.


Namun Kiyai Zaki mulai merapal kan mantra mantra nya, dengan alat yang dia gunakan yang tak lain adalah dupa dan yang lain nya.


Hingga secara bersamaan.


Abah Zaka yang tadinya tumbang karena luka sayat di tangan nya membuat dia kesakitan.


Dia berdiri tegap dan Langsung merapal kan Ayat kursi.


Hingga seketika petir terdengar memekik telinga, membuat para santri langsung menutup telinga karena keras nya suara petir itu.


Dengan cara tiba tiba, para preman itu langsung muntah darah.


Bahkan ada juga yang langsung mati dengan mendadak.


Semua preman yang selamat hanya bisa menatap pada Abah Zaka yang sekarang berdiri tegap menatap mereka yang tumbang dengan seketika.


"Ampun.. Ampun.." sahut preman itu.


"Pulang lah jangan mendekat lagi ke pesantren kita sudah beda tempat sekarang" ucap Abah.


"Terima kasih Ustadz Zaka kami akan pergi, kami janji tak akan menganggu pesantren ini" ucap nya yang langsung pergi dari sana sambil mengurus jenazah yang menjadi Korban.


Jaman dahulu masih lekat dengan kehidupan ilmu hitam, namun kiyai Zaki menyebut nya ilmu turun temurun, karena katanya tak ada ilmu yang hitam semua ilmu semuanya putih dan suci.


Tergantung kita yang menjalan kan, mau di bawa ke mana ilmu itu, selagi kita menggunakan nya dengan benar dan untuk membela kebaikan maka kiyai Zaki tak menyebut kan ilmu itu musyrik atau mendua kan Alloh.


Kembali lagi ke cerita santri yang hilang...


Semua santri mencari cari keberadaan santri yang hilang itu.


Abah yang sekarang tengah berdoa pun dia mendapat petunjuk kalau santri itu ada di salah satu kamar santri putri.


Abah kemudian mencari nya seorang sendiri, namun bukan dia yang Abah temukan tapi salah satu santri yang tengah berduaan di salah satu kamar santri putri.


Entah apa yang mereka lakukan tapi hal itu sangat membuat Abah marah.


Hingga setelah santri itu ketemu Abah memanggil mereka dan langsung mengeluarkan mereka dengan cara tak hormat.


Karena mereka sudah melanggar perintah Abah, bukan hanya malu di pesantren dia juga merasa malu di luar juga karena setiap berita yang datang dari pesantren akan sangat cepat tersebar ke telinga tetangga.


Saat itu lah keinginan Abah untuk memisahkan para santri di mulai namun karena kondisi nya yang masih tak memadai Abah memendam keinginan itu bahkan Abah sempat menyubur dalam dalam keinginan itu.


Hingga sampai sekarang Abah akhirnya bisa mengabulkan keinginan nya itu.


Flash back off


(Buat yang nanya kenapa para preman di RW sebelah tak berani menganggu santri karena itu ya.. dan saat Zia di culik Abah tak membantu mencari nya, alasan nya karena itu ya)


Bijak dalam membaca, ambil yang baik buang yang buruk..


Karena Author juga manusia punya salah juga..


Lanjutt..

__ADS_1


Abah menatap pada para santri yang sekarang akan pulang karena tanggal 22 tanggal merah jadi Abah mengijinkan para santri untuk pulang dan masuk lagi hari Senin nanti.


Jadi para santri bisa kumpul dulu bersama dengan keluarga nya.


"Abah kami pamit" ucap yang lain.


Bahkan sekarang banyak orang tua yang sudah menjemput para santri untuk pulang.


"Ya hati hati di jalan" ucap Abah.


"Assalamualaikum Abah".


"Waalaikum salam, jangan lupa masuk lagi Senin" sahut Abah.


"Siap" serempak.


Abah hanya menatap kepergian mereka, seperti biasa saat akan puasa dan lebaran pesantren akan sepi dan hanya keluarga Abah saja yang akan tetap di sana.


Ada juga beberapa santri yang tak pulang Abah ajak dia menginap di rumah Abah karena tak mau terjadi sesuatu kalau mereka di biarkan tidur di kamar sendirian.


Hingga sampai sekarang Abah masih ingat santri yang akan tetap berada di pesantren yang tak lain adalah Luthfi, mau lebaran atau tahun baru atau apa saja Luthfi tak pernah pulang dia tetap menunggu di pesantren walau pun dia sendirian di kamar nya.


"Suatu saat nanti aku akan meninggalkan pesantren ini, aku hanya berdoa, Ya Alloh semoga saja Adam dan tujuh keturunan nya nanti bisa mengurus pesantren ini" ucap Abah berdoa.


Adam dan yang lainya baru saja pulang ke pesantren, mereka melihat kalau pesantren sekarang sangat sepi hanya ada beberapa santri saja yang tersisa.


Ada juga yang menunggu jemputan karena orang tuanya terlambat menjemput.


"Abah apa para santri sudah pulang" tanya Adam pada Abah.


"Ya baru saja pulang" ucap Abah.


"Oh" ucap Adam.


"Abah aku juga mau pulang, sekalian Abah mohon doa nya aku mau melamar Ainun" ucap Fauzi.


"Ya Abah doa kan semoga lancar" ucap Abah.


"Amin" ucap Fauzi sambil menyalami tangan Abah.


"Abah aku juga mau pamit pulang insha Allah aku akan ke sini lagi Sabtu lah" ucap Farid.


"Mau melamar juga" tanya Abah.


"Ya Abah ada janda pirang di kampung ku" ucap Farid.


Mereka tertawa mendengar hal itu, karena Farid sangat berani sekali bicara begitu di hadapan Abah.


"Pahala mu akan berlipat kalau kau menikahi janda Gus, apa lagi janda nya punya banyak anak" ucap Abah.


"Ya abah kasihan anak nya jadi aku mau menafkahi mamah nya" ucap Farid.


"Terserah kamu saja" ucap Abah tersenyum mendengar keko nyolan santri nya itu.


"Baik lah Abah aku akan pulang sekarang" ucap Fauzi dan Farid.


"Ya" ucap Abah.


Mereka langsung pergi ke kamar masing masing karena akan beres beres.


"Gus Luthfi tak akan pulang" tanya Abah.


"Gak Abah" ucap Luthfi.


"Kenapa" tanya Abah.


"Seperti biasa Abah" ucap Luthfi.


"Ya baik lah puasa kali ini Abah minta kamu harus sahur pertama bersama dengan keluarga Abah, setiap tahun kau menolak" ucap Abah.


"Dan jawaban sekarang pun akan sama Abah" ucap Luthfi.


"Kalau Abah bilang ini perintah apa kau mau menjalankan nya" tanya Abah.


"Saya siap Abah" ucap Luthfi.


"Syukurlah, Gus Nikmati kebersamaan dengan orang lain, bukan kah kita saudara jadi anggap saja sebagai keluarga sendiri, jangan mengurung diri sendiri di dalam kamar Gus, karena silaturahmi tak akan terjalin kalau hanya rebahan saja di kasur" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Luthfi.


Saat ini Rena kembali ke kamar nya, Ainun dan Gita sudah berkemas karena akan pergi dari sana.


"Git kau yakin akan pulang kenapa tak puasa di sini saja" ucap Rena.


"Ya ampun Ning aku akan kembali Minggu" ucap Gita.


"Yah baik lah kamu juga pasti rindu dengan keluarga mu" ucap Rena.


"Ya tentu saja" ucap Gita.

__ADS_1


"Kau tau setiap tahun saat awal bulan Ramadhan dengan lebaran dan saat kenaikan kelas pesantren pasti sepi sekali" ucap Rena.


"Ya mau bagai mana lagi Ning karena kan para santri juga punya keluarga" ucap Gita.


"Ya sih" ucap Rena, dia melihat pada Ainun yang kesusahan memasukan pakaian nya pada tasnya.


"Biar aku bantu kak" ucap Rena.


"Terima kasih Ning tapi ini sangat susah" ucap Ainun.


"Kak bawa apa saja kenapa banyak sekali" tanya Rena.


"Aku bawa selimut dan pakaian aku yang belum di cuci aku mau cuci di kota aku mau laundry" ucap Ainun.


"Ya itu lebih bagus, aku juga kalau libur panjang mau bawa pulang selimut mau aku laundry" ucap Gita.


"Ya sih" ucap Ainun.


Rena juga sama dia membawa selimut dan bantal nya, bahkan dia juga membawa tas yang isinya pakaian dia.


"Ning mau ke mana" tanya Abah saat melihat putri nya itu membawa selimut bantal dan tas yang cukup besar.


"Mau pindah" ucap Rena.


"Mau di bantu" tanya Abah.


"Tak usah Abah, dekat juga hanya ke rumah Abah aku tak akan pindah ke Arab" ucap Rena.


"Haha, Gus Luthfi tolong bantu Ning Rena apa tak masalah" tanya Abah.


"Tak apa Abah aku juga tak sedang melakukan apa apa" ucap Luthfi.


"Baik lah terima kasih" ucap Abah.


"Ya Abah sama sama" ucap Luthfi.


Luthfi mendekat pada Rena dia hendak membawa bantal dan selimut yang Rena bawa.


Rena menatap wajah tampan Luthfi dari kedekatan.


"Tampan" gumam Rena.


"Ya aku memang tampan, aku tau kok" ucap Luthfi yang langsung mengambil alih selimut dan bantal Rena.


"Hah pede" gumam Rena sambil mengikuti Luthfi.


"Ya harus percaya diri kan bidadari di belakang aku bilang kalau aku tampan" ucap Luthfi.


"Terserah" ucap Rena.


Luthfi mengantar kan bantal dan selimut itu masuk ke dalam rumah Abah.


"Gus Luthfi kau mau menginap di sini" tanya Zia yang melihat hal itu.


"Bukan aku tapi bida.. ups Ning Rena yang akan tidur di sini aku yang membantu membawa nya" ucap Luthfi terbata bata karena salah menyebut Rena.


"Santai saja lagi pula tak ada Gus Adam kan" ucap Zia.


"Kak" geram Rena pada Zia karena Malu.


"Aku salah bicara" ucap Luthfi.


"Lain kali jangan begitu" gumam Rena yang masih terdengar oleh Luthfi.


"Maaf" bisik Luthfi.


"Ning kau mau ke mana" tanya Umi.


"Umi aku sendiri di kamar jadi aku akan pindah ke sini" ucap Rena.


"Ning kau sangat penakut, bagai mana kalau nanti kau sudah menikah, kalau kau mau ke ****** tengah malam apa kau mau minta antar suami mu" tanya Umi.


"Bangun kan saja kalau dia sayang pada ku dia akan bangun" ucap Rena.


"Ning bagai mana kalau suami mu tak mau" tanya Zia.


"Aku paksa saja" ucap Rena.


"Kalau tak mau" tanya Zia.


"Aku pipis di celana" ucap Rena yang langsung membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


Bahkan Luthfi juga tersenyum tipis mendengar hal itu.


"Baik lah Umi aku permisi" ucap Luthfi.


"Ya Gus" ucap Umi.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2