Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 59


__ADS_3

Adam mencari cari benang akhirnya ketemu juga Adam memasukan benang pada lubang jarum, dengan teliti Adam menjahit mukenah Zia yang robek cukup parah.


"Zia kenapa kau akan pulang tadi" tanya Adam.


"Gus aku malu karena harus minjam mukenah terus pada Umi" ucap Zia.


"Kenapa malu" tanya Adam.


"Ya karena kan umi sangat baik pada ku sedangkan aku" ucap Zia.


"Jangan bilang begitu" ucap Adam.


"Oh ya Gus maaf karena tadi memeluk mu" ucap Zia.


"Tak apa tapi lain kali jangan" ucap Adam.


"Ya aku tadi sangat ketakutan Gus, kau tau aku phobia dengan gelap bahkan saat aku melihat kegelapan aku membayangkan makhluk astral di sekitar ku" ucap Zia.


"Kau hanya takut saja padahal tak apa yang seperti itu Zia" ucap Adam.


"Apa hantu itu ada" tanya Zia pada Adam.


"Ada tentu saja jin, iblis bahkan malaikat itu kan ciptaan Allah mereka di sebut mahluk ghaib karena mereka tidak berupa bahkan hanya orang orang tertentu yang bisa melihat nya" ucap Adam sambil fokus menjahit mukenah Zia.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya Zia hanya orang orang tertentu yang dapat melihat nya" ucap Adam.


"Ada di Qur'an surat Al Hijr ayat 26-27, jin diciptakan dari api


Wa laqad khalaqnal-insāna min ṣalṣālim min ḥama`im masnụn


Wal-jānna khalaqnāhu ming qablu min nāris-samụm


Yang artinya: Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas" ucap Adam membacakan ayat suci Al Qur'an.


"Oh ya" tanya Zia.


"Kau tau Zia, iblis itu sangat alim iblis itu ahli dalam agama, iblis ahli dalam hadist, ahli dalam riwayat tetapi kenapa iblis tak menjadi kekasih Alloh karena dalam hatinya ada sebuah kalimat " aku lebih baik dari kamu" jadi iblis itu sombong Zia ingin menang sendiri" ucap Adam.


"Kenapa bisa begitu" tanya Zia.


"Karena Iblis lebih dulu Allah ciptakan dari pada manusia bahkan iblis tau persis kapan ayat suci Alquran di turun kan, dahulu iblis tinggal di surga, tapi dia sombong jadi Allah keluarga dia dari surga" ucap Adam.


"Di keluar kan kemana" tanya Zia.


Adam heran pada Zia.


"Ke neraka lah, apa kau tak tau Zia masalah ini bahkan anak SD saja sudah di ajarkan" ucap Adam.


"Belum" ucap Zia menggelengkan kepalanya.


"Hah masa sih" tanya Adam.


"Entah lah gus mungkin saat itu aku tak mendengar kan" ucap Zia.


"Baik lah tak masalah aku sudah jelaskan kan" ucap Adam tersenyum.


"Ya" ucap Zia.


"Gus dari mana kau belajar menjahit" tanya Zia.


"Aku tak belajar hanya saja aku belajar mandiri dari kecil, karena hidup di pesantren itu Zia mengajar kan aku untuk mencuci sendiri mandi ngantri dan makan juga ngantri, karena aku sudah terbiasa saja dengan semua ini" ucap Adam.


"Lalu apa kau kerja" tanya Zia.


"Kerja, aku kerja" ucap Adam.


"Kerja apa" tanya Zia.


"Aku mengajar, dan sebentar lagi aku akan menjadi guru" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Zia.


"Zia gaji aku kecil hanya 3 selama satu bulan, kalau memang ada wanita yang mau dengan aku menghabiskan waktunya bersama dengan ku maka aku akan sangat bahagia Zia" ucap Adam.


"3 juta" tanya Zia yang hanya di balas anggukan kepala oleh Adam.


"Apa akan cukup" tanya Zia.


"Tentu saja yang penting bersyukur karena percuma Zia gaji besar tapi tak bersyukur, maka akan selalu kurang, makan nya banyak atau tidak nya uang gaji kita, kita syukuri saja, belum tentu kan yang besar akan barokah" ucap Adam.


"Ya kau benar juga, lagi pula kalau hidup di kampung aku yakin akan cukup karena kan biaya hidup di kampung lebih murah dari pada biaya di kota" ucap Zia.


"Kau benar, oh ya Zia kalau kau ingin cari suami kau akan cari di mana di kampung atau di kota" tanya Adam.


"Kalau aku lebih pilih di orang kampung" ucap Zia


"Kenapa" tanya Adam.


"Ya karena orang kampung itu sederhana bahkan... ".


Drtt


Ucap Zia terpotong karena mendengar bunyi ponsel Adam yang bersuara tanda ada yang memberi pesan pada Adam.


"Orang kampung sangat sederhana lagi pula...".


Drtt


"Lagi pula aku bisa...".


Drtt


"Gus Adam ponsel mu sejak tadi berbunyi apa kau tak mau membuka nya" tanya Zia.


"Siapa tau penting" ucap Zia kesal.


"Kau saja yang buka" ucap Adam yang sekarang masih menjahit mukenah Zia.


"Dimana kau menaruh nya" tanya Zia.


"Di saku jaket itu yang hitam" ucap Adam.


Zia membawanya, benar saja banyak sekali pesan dari nomor yang tak di kenal mengirim pesan beberapa kali.


Zia membuka aplikasi gagang telpon di ponsel Adam.


"Dari nomor yang tak di kenal Gus" ucap Zia.


"Siapa" tanya Adam.


Zia membuka pesan dari orang itu.


"Hesty" ucap Zia.


"Siapa" tanya Adam.


"Kenapa tanya aku" ucap Zia.


"Tolong balas kan Hesty siapa" tanya Adam.


{Hesty siapa} pesan dari Adam yang di ketik oleh Zia.

__ADS_1


{Yang tadi siang} balas nya.


"Yang tadi siang katanya" ucap Zia.


"Oh yang aku ingat" ucap Adam.


"Apa pacar mu" tanya Zia.


"Pacar siapa bahkan aku belum mengenal nya lebih jauh" ucap Adam.


"Lalu apa saja yang kau lakukan tadi siang" tanya Zia.


"Ceramah dan wawancara" jawab Adam.


"Masa" tanya Zia tak percaya.


"Tak apa kalau kau tak percaya" ucap Adam.


"Ini sudah" ucap Adam menyerahkan mukenah Zia yang baru saja selesai Adam jahitkan.


"Wah terima kasih Gus" ucap Zia.


"Ya sama sama" ucap Adam.


Umi dan Abah datang ke sana karena sudah selesai jam pelajaran.


"Neng Zia ada di sini, Adam kapan kamu pulang" tanya Umi yang baru saja datang.


"Ya Umi" ucap Zia.


"Aku tadi Umi pulang" ucap Adam.


"Sedang apa" tanya Umi.


"Maaf Umi tadi Ainun merusak mukenah aku jadi sobek parah tadinya aku mau pulang tapi kata Gus Adam dia bisa menjahit jadi dia yang menjahitkan untuk ku" ucap Zia.


"Oh ya, pantas saja Neng Zia tak ikut pelajaran dulu" ucap Umi.


"Ya Umi karena ini" ucap Zia.


"Kenapa harus pulang, kenapa tak pinjam saja pada Umi" tanya Abah.


"Ya Abah tadi nya mau tapi malu" ucap Zia.


"Kenapa malu" tanya Umi.


"Aku sering pinjam pada Umi aku malu" ucap Zia.


"Jangan malu kalau ada Umi pasti pinjam kan" ucap Umi.


"Ya, umi Abah aku pamit Akan istirahat, assalamualaikum" ucap Zia.


"Waalaikum salam" ucap Abah dan Umi serempak.


"Gus aku permisi" ucap Zia.


"Makasih" ucap Zia lagi yang langsung pergi dari sana.


"Sama sama" gumam Adam.


"Bagai mana di sana" tanya Abah.


"Lancar Abah bahkan aku juga sedikit mempromosikan pesantren ini pada orang lain" ucap Adam.


"Syukurlah" ucap Abah.


Sedangkan sekarang di kamar Zia sedang ribut lagi dengan Ainun, masalah nya hanya karena Ainun ingin tidur di tempat Zia dan Zia tak mau memberikan tempat tidur nya.


"Aku akan ke rumah Abah" ucap Rena.


Sedangkan sekarang mereka semakin bar bar bahkan tanpa ragu Ainun melepas kerudung Zia dan menarik narik rambut Zia dengan kasar.


"Anj awas kau" geram Zia.


"Apa hah kau mau marah" tanya Ainun.


Ainun malah semakin kasar mencengkeram rambut Zia dan menarik Nya dengan kuat.


Sedangkan Rena saat ini dia sudah berada di ambang pintu rumah Abah.


"Bah" ucap Rena.


Abah membuka kan pintu.


"Ada apa Ning, tidur lah sudah malam apa kau mau tidur dengan Umi" tanya Abah pada Putri bungsu nya itu.


"Abah, kak Zia dan kak Ainun berantem" ucap Rena sambil ngos ngosan karena lari dari kamar ke rumah Abah.


"Apa" tanya Fauzi dari arah belakang.


"Ya Gus mereka semakin parah sekarang" ucap Rena.


"Astagfirullah" gumam Fauzi yang langsung pergi dari sana menuju ke kamar Ainun.


"Ada apa" tanya Adam dari arah dalam karena mendengar suara ramai di luar rumahnya.


"Gus, Kak Zia dan kak Ainun berantem lagi" ucap Rena.


"Apa" tanya Adam kaget.


"Ayo Abah akan ke sana" ucap Abah.


"Jangan Abah biar aku saja" ucap Adam.


"Ya baik lah" ucap Abah.


Adam dan Rena berjalan ke sana, sedangkan Fauzi saat ini sudah berada di sana dan melerai pertikaian antara Zia dan Ainun.


"Ainun" bentak Fauzi.


Zia, Gita, bahkan Ainun juga terkejut mendengar bentakan dari Fauzi, karena selama ini se marah apa pun Fauzi dia tak akan pernah membentak namun sekarang dia sudah terlanjur marah.


"Aku bilang apa" tanya Fauzi dengan amarah terlihat jelas dari dadanya yang naik turun.


"Ap apa" tanya Ainun takut pada Fauzi.


"Tak bisa kah kau sedikit kalem Ai, kau sangat bar bar" ucap Fauzi.


"A aku ak aku" ucap Ainun terbata bata bahkan sekarang Ainun hendak menangis.


"Sudah Gus Sabar" ucap Adam yang baru datang ke sana.


"Ai lihat aku, harus apa aku supaya kau bisa diam dan kalem hah" tanya Fauzi menatap tajam pada Ainun.


"Tak ada" ucap Ainun menunduk.


"Jawab hah" bentak Fauzi.


"Fau ma maaf" ucap Ainun terbata bata.


"Kalau memang kau sudah tak mau memperjuangkan hubungan kita ya sudah jangan kita pisah saja" ucap Fauzi.


"Jangan begitu" ucap Ainun.

__ADS_1


Sedangkan Zia sekarang dia sedang memakai kerudung nya tapi sayang penitih nya gak ada jadi Zia hanya menyampaikan saja kerudung itu di atas kepala Zia.


Karena kerudung itu licin jadi tak bisa diam di atas kepala Zia.


Adam mendekat pada Zia, Adam memakai kan sorban yang dia pakai pada kepala Zia.


"Pakai yang ini" ucap Adam.


"Makasih" ucap Zia.


Adam mendekat pada Fauzi.


"Sudah Gus kendalikan emosi mu dia wanita" ucap Adam.


"Astagfirullah" gumam Fauzi.


"Kalian tidur lah jangan bertengkar lagi, aku akan tidur di luar untuk menjaga kalian" ucap Adam.


"Apa kau akan tidur di luar sendiri" tanya Fauzi.


"Ya aku tak mau kalau sampai mereka bertengkar lagi" ucap Adam.


"Aku ikut, aku akan bawa kasur di sini" ucap Fauzi.


"Ya bawa lah" ucap Adam.


Fauzi membawa kasur dari kamarnya, mereka berdua akan tidur di luar kamar Zia karena memindahkan salah satu mereka akan sangat sulit apa lagi sekarang kamar para santri wanita penuh, mungkin kalau akan di pindahkan mereka akan tidur sendirian di kamar.


"Tidur lah" ucap Adam pada para wanita itu.


Adam dan Fauzi tak memikirkan lagi rasa capek dan lelah nya karena baru saja pulang dari kota, karena yang mereka pikirkan sekarang adalah ketentraman para santri apa lagi jika berantem nya Zia dan Ainun sampai di dengar santri yang lain akan berabe jadinya.


Rena, Gita, Zia, dan Ainun pun tak bisa bicara apa apa karena Adam dan Fauzi sudah terlanjur tidur di luar dengan hanya di alaskan oleh kasur tipis.


Rena bangkit dari sana.


"Mau kemana" tanya Zia.


"Mau menyala kan obat nyamuk kak" ucap Rena.


"Ya" ucap Zia.


Rena menyalakan obat nyamuk dan meletakkan obat nyamuk itu di luar kamar nya supaya Adam dan Fauzi tak di gigiti nyamuk.


"Sudah" tanya Zia.


"Ya sudah" ucap Rena.


"Ayo tidur" ucap Zia.


"Ya kak" ucap Rena.


Mereka semua tidur dengan pulas bahkan saking capek nya Adam dan Fauzi tak merasa kedinginan bahkan banyak nyamuk juga mereka tak merasakannya.


Malam harinya Zia terbangun karena mendengar suara seseorang menggigil kedinginan, Zia melihat antara Adam dan Fauzi.


Ternyata keduanya merasa kedinginan pantas saja kedinginan karena mereka hanya memakai selimut tipis satu.


Zia mengambil selimut punya nya yang cukup tebal dan menyelimuti keduanya,


"Ini pasti gara gara Ainun yang ngajak berantem jadi Gus Adam dan Gus Fauzi ada di sini" gumam Zia.


Zia kembali ke tempat tidur nya dan tidur lagi karena masih ada waktu dua jam menuju sholat subuh.


"Allohhu akbar....


Allohhu akbar...".


Adzan subuh berkumandang di mesjid.


Para santri sudah bangun, sekarang Adam membuka matanya dia melihat ke arah sekitar dia masih berada di depan kamar Zia.


Adam melihat selimut yang dia pakai.


"Selimut Zia" gumam Adam.


Zia, Rena, dan Gita keluar dari kamarnya dengan membawa mukenah di tangan mereka.


"Sudah bangun Gus" tanya Rena.


"Ya Ning aku ke singan" ucap Adam.


"Baru juga Adzan subuh Gus" ucap Rena.


"Zia" ucap Adam.


"Ya Gus" tanya Zia.


"Soal selimut terima kasih" ucap Adam.


"Tak masalah aku melihat kau kedinginan semalam" ucap Zia.


"Ya aku tak sadar" ucap Adam.


"Baik lah aku akan ke kamar mandi duluan, cepat lah bangun" ucap Zia.


Adam menata Zia dengan tatapan bahagia karena ternyata Zia perhatian pada nya.


"Ya Alloh kalau memang Zia jodoh ku tolong gerak kan hati Zia untuk mencintai ku, tapi kalau memang bukan buat lah hati ku ini mengerti" gumam Adam berdoa.


"Gus Fauzi" ucap Adam membangunkan Fauzi yang masih tidur di samping nya.


Fauzi membuka matanya.


"Apa sudah siang" tanya Fauzi.


"Sudah Adzan subuh Gus" ucap Adam.


"Oh ya, Astagfirullah aku kesiangan" ucap Fauzi.


"Baik lah ayo kita ke mesjid" ucap Adam.


Adam melihat kalau Ainun masih tidur di ranjang nya.


"Gus calon istri mu masih tidur" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Fauzi.


"Aku akan ke sana duluan, bicara lah dari hati ke hati" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Fauzi.


Fauzi masuk kedalam kamar Ainun yang sekarang masih tidur.


"Ai bangun lah Ai" ucap Fauzi membangunkan Ainun.


Namun Ainun tak bangun dia malah tidur dan menutup wajah nya dengan selimut.


"Ai bangun sudah siang" ucap Fauzi.


Ainun tetap tak bangun juga, karena terlanjur kesal Fauzi pergi dari sana apa lagi sekarang sudah akan Sholat di mesjid.


Semua santri melaksanakan Sholat subuh dengan khusyuk.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2