Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 133


__ADS_3

Subuh sekali Zia sudah ribut mau membantu Umi bahkan dia juga sampai membangun kan Adam karena dia mencari peniti yang hilang.


"Gus ayo cari" ucap Zia.


Adam yang masih mengantuk pun tak bisa konsen dia malah tertidur sambil duduk.


"Di mana peniti itu padahal aku cuman punya satu" gumam Zia.


"Besok kita cari, atau kita beli saja besok" ucap Adam dengan mata berat karena masih mengantuk.


"Ya gak apa udah ketemu" ucap Zia.


"Di mana" tanya Adam namun matanya masih terpejam.


"Nempel di baju kamu" ucap Zia.


"Ya sudah lah terserah aku ngantuk" ucap Adam.


Zia ke dapur untuk membantu Umi menghangatkan makanan, selama bulan puasa ini Umi selalu masak banyak karena jumlah santri yang ratusan apa lagi puasa begini banyak santri yang nambah lagi saat makan.


"Umi kenapa bisa umi bangun sepagi ini tanpa alarm, aku saja yang pakai alarm selalu telat" ucap Zia.


"Neng terkadang kalau kita berniat baik Alloh akan bangun kan kita, misalkan Umi mau sahur jam 3 tapi terkadang Alloh bangun kan Umi jam 2, asal kan niat kita sungguh sungguh saja" ucap Umi.


"Ya umi kadang aku juga berpikir begitu kalau kita ingin bangun jam 2 maka kita suka bangun jam 1 atau jam setengah satu" ucap Zia.


"Begitu lah, tapi kalau kita bangun jam 1 misal, baik nya jangan tidur lagi karena kalau kita tidur lagi maka takut nya kita kebangblasan bangun siang" ucap Umi.


"Ya juga sih Umi" ucap Zia.


Mereka makan sahur bersama di ruang makan, para santri juga banyak yang mulai makan, sekarang cuaca cukup dingin membuat para santri malas untuk bangun sahur.


Bahkan ada yang sampai pake selimut sambil makan.


"Oh ya Neng kata Abah sekarang akan di adakan ulangan Diniyah, dan tempat ini akan di pakai nantinya" ucap Umi.


"Diniyah itu apa Umi" tanya Zia.


"Ulangan Diniyah neng seperti Fiqih, Arab, hadist, Akidah akhlak dan yang lainnya" ucap Umi.


"Oh aku gak tau" ucap Zia.


"Ya di sini sering di adakan, karena kan saat keluar nanti yang di nilai itu sikap nya neng" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Zia yang sadar kalau selama dia sekolah dahulu dia bahkan tak punya nilai sikap yang baik Zia sering kali menyogok untuk mendapatkan apa yang Zia inginkan.


"Oh ya Neng Zia tau gak kenapa Maya keluar" tanya Umi.


"Maya" ucap Zia.


"Ya Maya yang kelas 3 SMA" ucap Umi.


"Gak tau Umi emang apa alasan nya" tanya Zia.


"Alasan nya katanya dia ingin menikah" ucap Umi.


"Ya syukur lah" gumam Zia yang masih terdengar oleh Umi.


"Kenapa syukur neng bukan nya hanya tinggal beberapa bulan lagi sekolah dia juga akan keluar dari pesantren ini, hanya menunggu sebentar lagi padahal" ucap Umi.


"Ya mungkin udah kebelet nikah" ucap Zia.


"Ya tapi Umi menyayangkan masalah ini Neng karena ijazah SMP saja tak akan cukup untuk melamar pekerjaan" ucap Umi.


"Entah Umi" ucap Zia.


"Umi hanya menyayangkannya" ucap Umi.


"Syukur lah akhirnya Maya siap menikah saja, ini mungkin lebih baik dari pada di lanjutkan sekolah tapi malah merusak nama baik pesantren" batin Zia.


Semua santri langsung sahur, sekarang puasa ke 12 harinya, dan yang paling penting adalah Sekarang akan di adakan ulangan jadi para santri harus tertib.


Semuanya makan walau pun tak terlalu lahap, banyak para santri yang masih mengantuk di ruang makan.


Pagi harinya setelah selesai makan, dengan cepat Zia, Aulia, dan Rosa membersihkan tempat itu karena akan di pakai untuk ulangan.


"Oh ya Ustadzah Zia, kapan kau dan Ustadz Adam menikah" tanya Aulia.


"Sudah lama sih" ucap Zia.


"Oh" ucap Aulia.


"Kata Gus Adam kau seorang janda, ada apa dengan pernikahan mu" tanya Zia.


"Biasa lah mantan suami ku ingin menikah lagi dan aku tak mau jadi aku memilih untuk pisah" ucap Aulia.


"Kenapa begitu" tanya Zia.


"Katanya dia mau menyempurnakan agama nya, dia mau menikah dengan janda supaya dia mendapatkan pahala" ucap Aulia.


"Adakah menyempurnakan agama dengan menikah lagi" tanya Zia.


"Mungkin ada tapi bagi aku yang awam ini aku gak rela kalau harus di madu" ucap Aulia.


"Ya sih, yang sabar ya mungkin dia bukan jodoh mu" ucap Zia.


"Ya ustadzah Aulia mungkin jodoh mu bisa jadi ada di pesantren ini" sahut Rosa.


"Ya mungkin saja" ucap Aulia tersenyum.


Zia bingung dengan ucapan mereka, namun Zia hanya acuh saja mendengar hal itu.


"Oh ya Ustadzah Zia, aku yakin kalau Ustadz Adam pasti baik pada mu kan" tanya Aulia.


"Ya Gus Adam sangat baik pada ku" ucap Zia.


"Dari jaman kami sekolah juga Ustadz Adam sudah baik, bahkan dia sangat baik pada semua orang dia juga sangat menghargai wanita" ucap Aulia.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya aku adalah teman nya dulu" ucap Aulia.


"Oh pantas kau sangat tau kehidupan Gus Adam" ucap Zia.


Rosa hanya tersenyum tipis saat melihat Zia yang cemburu pada ucapan Aulia.


"Peluang besar" gumam Rosa.


Para santri mulai masuk ke dalam ruangan makan, mereka melaksanakan ulangan nya dengan tertib.


Sekarang Zia mengajar di kelas 1 SMP.

__ADS_1


"Baik lah buka buku kalian dan tulis ini, setelah kalian selesai tulis aku akan jelaskan" ucap Zia.


"Baik kak" serempak.


Adam datang ke sana dengan membawakan buku Absensi.


"Assalamualaikum kak Zia" ucap Adam.


"Gus" ucap Zia tersenyum pada suaminya itu.


"Baik lah siapa yang tak masuk" tanya Adam.


"Kinan sama Rara" ucap santri.


"Gak ada lagi" tanya Adam.


"Gak" ucap Zia.


Sekarang Adam berjalan ke arah kelas yang di gurui oleh Aulia.


"Assalamualaikum Ustadzah Aulia" ucap Adam.


"Waalaikum salam Ustadz Adam, jangan panggil Ustadzah panggil saja Aulia" ucap Aulia tersenyum.


"Kau juga memanggil aku Ustadz, baik siapa yang tak masuk" tanya Adam.


"Gak ada semua nya masuk" ucap Aulia.


"Syukur lah" ucap Adam.


Zia hanya menatap mereka yang sangat akrab sekali saat mengobrol, ada rasa cemburu di hati Zia apa lagi Aulia ini adalah teman masa kecil nya.


"Kak kami sudah menulis" ucap santri.


Namun Zia tak mendengar karena Zia melamun saja sejak tadi sambil menatap Adam dan Aulia yang tengah mengobrol.


"Kak" ucap para santri lagi.


"Hey kalau ngajar itu yang bener, bukan malah melamun saja" teriak Bu Isma pada Zia.


Zia tersentak kaget.


"Apa" tanya Zia.


"Kalau ngajar itu yang bener bukan malah melamun" geram Bu Isma.


Zia hanya diam saja dan menunduk.


"Entah kenapa pesantren ini aneh membiarkan orang berandalan menjadi guru" ucap Bu Isma.


Zia tak menanggapi karena kalau Zia melawan maka Bu Isma akan semakin bicara yang tidak tidak.


"Kalau aku berkuasa di sini, aku tak akan mungkin membiarkan orang seperti dia ada di sini" ucap Bu Isma.


"Jaga mulut mu Bu" sahut Adit yang langsung bangun dari tempat duduknya.


"Apa kau berandalan mau membela lagi" tanya Bu Isma.


"Kau tau mulut mu itu sangat berisik" ucapnya.


"Tapi aku lebih baik dari dia" ucap Bu Isma tak mau kalah.


"Setidaknya aku tak mun afik" ucap Bu Isma.


"Adit diam" sahut Zia.


"Kak tapi dia" ucap Adit.


"Diam" ucap Zia lagi.


Adit langsung diam karena mendengar ucapan Zia.


Adam mendekat pada Bu Isma.


"Silahkan kembali Bu" ucap Adam.


"Ya" ucapnya ketus.


Adam hanya menggeleng geleng kan kepalanya saja.


"Astaghfirullah" gumam Adam.


"Seharusnya kau berpikir Ustadz, istri mu di hina orang apa kau tak marah" sahut Adit pada Adam.


Adam hanya menatap pada Adit.


"Kalau tak bisa membahagiakan setidaknya jangan hanya bisa menyakiti" ucap Adit lagi.


"Adit stop" geram Zia.


"Aku hanya membela mu" ucap Adit.


"Tapi kau salah Adit" ucap Zia.


"Salah kah aku membela orang yang benar" tanya Adit.


"Jangan pernah urusi kehidupan ku, lagi pula aku yang salah" ucap Zia.


Adam hanya melihat saja perdebatan ini, kalau Adam melawan maka Adam akan sama saja seperti mereka.


Zia tak menggubris lagi ucapan Adit dia fokus pada pelajaran nya yang terpotong karena perdebatan itu.


"Maaf ya aku sedang tak fokus" ucap Zia.


"Ya kak tak apa" ucap para santri.


Zia kembali menjelaskan bahkan para santri yang lain juga belajar lagi, mereka seolah memahami isi hati Zia yang tak mau berdebat karena terakhir kalinya waktu pelajaran terhenti lama karena perdebatan Zia dan Bu Isma.


Siang hari nya para santri istirahat walau pun hanya diam saja tapi Abah menyarankan harus istirahat.


Para santri putra sangat ribut hanya karena ada katak yang masuk ke dalam pesantren.


Fauzi yang melihat pun terkejut karena para santri putra sangat ribut.


"Hey" sahut Fauzi.


"Gus ada katak" ucap santri itu.


"Katak biarkan dia keluar sendiri" ucap Fauzi.


"Kenapa Gus" tanya santri itu.

__ADS_1


"Kalian harus ingat ini, dari Abdullah bin Amru, ia berkata.


"Jangan lah kalian membunuh katak karena suara nya adalah tasbih, dan jangan pula kalian membunuh kelelawar, karena ketika Baitul maqdis roboh ia berkata: "wahai Rabb, berikanlah kekuasaan pada ku atas lautan hingga aku dapat menenggelamkan mereka".


"Oh" ucap para santri paham.


"Jangan di bu nuh ya" ucap Fauzi.


"Ya Gus" ucap santri.


"Baik lah kembali ke sana" ucap Fauzi.


"Ya".


Zia masuk ke dalam rumah Umi di sana ada Umi yang tengah istirahat di kursi ruang tamu.


"Sudah istirahat Neng" tanya Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Zia duduk di sana, dia menyandarkan punggungnya pada kursi hinaan yang Bu Isma ucapkan tadi membuat Zia sedikit sakit hati.


"Ada apa" tanya Umi.


"Tak ada Umi hanya ada masalah sedikit saja" ucap Zia.


"Masalah apa cerita saja pada Umi" ucap Umi.


"Tidak Umi aku yang salah jadi aku pantas mendapatkan ini" ucap Zia.


"Ya tak apa kalau kamu tak mau cerita tapi neng sebuah masalah tak akan selesai kalau hanya di pikir kan saja" ucap umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Saat ini sebuah mobil datang ke pesantren mobil itu tak lain adalah mobil Sofi.


Sofi keluar dari mobil dengan membawa banyak sekali paper bag.


"Ayo bawa masuk ke dalam" titah Sofi pada anak buahnya.


Umi cukup terkejut karena melihat banyak paper bag di halaman rumah nya.


"Ada apa itu" tanya Umi yang di balas gelengan kepala oleh Zia.


"Ada apa ini" tanya Umi namun dia melihat ada Sofi di halaman rumah nya jadi dia paham maksud nya datang ke sini.


"Di mana Rena, panggil kan Rena" sahut Sofi.


Karena merasa namanya di panggil Rena pun datang ke sana, Sofi memeluk putri kandungnya itu.


"Aku bawakan ini semua untuk mu" ucap Sofi.


"Tak perlu" ucap Rena singkat.


"Aku khusus bawa kan ini untuk mu" ucap Sofi.


Rena menatap pada Umi, dan Umi hanya mengangguk kan kepala saja.


"Baik lah terima kasih tapi aku tak bisa berlama lama karena ada sesuatu yang harus aku kerja kan" ucap Rena yang langsung pergi dari sana.


"Putri ku sudah besar" ucap Sofi.


Sofi mendekat pada Umi.


"Arum aku titip semua ini untuk Rena" ucap Sofi.


"Kau tak perlu khawatir aku akan bujuk dia untuk memakai nya" ucap Umi.


"Baik lah aku sibuk aku akan pulang sekarang" ucap Sofi.


Umi tak menjawab dia hanya menatap kepergian Sofi dan anak buah nya.


"Akan aku pasti kan Ning Rena tak akan jatuh ke kehidupan Sofi" gumam Umi.


Abah baru saja pulang dari rumah Ustadz Hasan, namun Umi Pastikan kalau Abah tak di biarkan masuk karena kertas yang tadi Abah bawa untuk di berikan pada Ustadz Hasan Abah bawa pulang lagi.


"Assalamualaikum" ucap Abah.


"Waalaikum salam" ucap Umi.


Abah Langsung masuk ke dalam dan duduk di kursi bersebrangan dengan Zia.


"Tak di suruh masuk kan" Tanya Umi.


"Ustadz Hasan nya tak ada" ucap Abah.


"Umi bilang juga apa, Abah jangan terlalu baik pada orang begitu jadi nya" ucap Umi.


"Sudah lah Umi" ucap Abah.


"Abah saat ini Abah ada dalam kuasa nya Ustadz Hasan apa Abah tak sadar, Ustadz Hasan itu sangat pintar dia mempertanyakan setiap uang yang keluar padahal dia juga tau kalau sebenarnya uang donatur itu masuk ke dalam rekening nya" ucap Umi.


"Tak apa lah Umi" ucap Abah.


"Abah dia menjadi semena mena pada kita" ucap Umi.


"Umi sudah Umi sudah" ucap Abah.


"Terserah" ucap Umi yang kesal dan Langsung duduk di kursi.


"Belanjaan Siapa ini" tanya Abah namun Umi tak menjawab.


"Punya Ning Rena Abah dari Bibi Sofi" ucap Zia.


"Oh" ucap Abah.


Mereka masuk lagi ke dalam Madrasah karena pelajaran akan di mulai lagi.


Hingga siang hari nya mereka selesai belajar.


Semua santri melakukan tadarus bersama di mesjid, setelah selesai para santri istirahat satu jam penuh.


Sambil menunggu Sholat Ashar.


Adzan Ashar berkumandang semua santri melaksanakan sholat 4 rakaat itu, hingga selesai mereka bebas para santri memutuskan untuk jalan jalan ngabuburit sambil menunggu Adzan Maghrib.


Zia juga ikut bersama dengan Rena dan Gita, mereka berbelanja makanan untuk takjil di pasar.


Hingga tiba Adzan Maghrib pun berkumandang semua santri langsung memakan makanan yang mereka beli di pasar tadi tak lupa Umi juga menyuguhkan puding coklat dan roti untuk para santri.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2