Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 60


__ADS_3

Setelah Sholat subuh para santri di ijin kan istirahat selama beberapa menit.


Zia sekarang masuk ke rumah Umi karena sudah sangat lama Zia tak pernah lagi menolong Umi memasak.


Walau pun akhirnya Zia hanya mencuci piring kotor, tapi karena itu Zia sadar kalau ternyata memang sudah menjadi tugas nya.


"Assalamualaikum Umi" ucap Zia.


"Waalaikum salam Neng Zia ada apa" tanya Umi.


"Boleh bantu" tanya Zia.


"Boleh ayo" ucap Umi mengajak Zia masuk ke dalam rumah.


"Semua nya sudah selesai hanya saja nasi nya belum matang Neng" ucap Umi.


"Kenapa tak di kompor gas saja Umi, kenapa harus di sana" ucap Zia pada tungku yang terbuat dari tanah liat.


"Ini nama nya Hawu Neng" ucap Umi.


"Hawu" gumam Zia.


"Ya kamu tunggu di sini kalau api nya padam kamu tiup pakai ini" ucap Umi.


"Apa nama nya" tanya Zia.


"Song song" ucap Umi.


"Hah song song" ucap Zia tersenyum karena nama nya sangat aneh sekali bagi Zia.


"Umi ke depan dulu ya" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Zia.


Zia menunggu sampai api itu padam, namun sejak tadi tak padam padam bahkan kaki Zia merasa kepanasan karena api yang panas.


"Susah sekali ternyata memasak pakai ini" gumam Zia.


Tanpa Zia sadari api nya padam dan menimbulkan asap yang banyak dari dalam nya.


"Bagai mana cara pakai song song ini" gumam Zia.


Zia meniup nya di bagian tengah tengah dan mengarahkan pada tunggu itu.


Namun sejak tadi api nya tak nyala nyala malah asap nya semakin banyak.


Ohokk


Ohokk


Zia ter batuk batuk karena asap nya yang sangat tebal membuat mata Zia menjadi perih juga.


"Astagfirullah" ucap Umi yang baru saja datang ke sana.


"Umi ini kenapa api nya tak nyala" ucap Zia sambil mengucek mata nya karena perih.


"Neng asap nya sangat banyak" ucap Umi.


Umi membuka kan pintu dan jendela yang ada di dapur itu supaya asap nya keluar dan berganti dengan udara yang segar.


Umi mengambil alih song song dan meniup supaya api nya nyala lagi.


"Tak apa Neng" tanya Umi.


"Tak apa Umi hanya perih saja" ucap Zia.


"Umi ternyata susah memakai ini" ucap Zia.


"Ya kalau belum terbiasa memang begitu tapi kalau sudah terbiasa maka bisa" ucap Umi.


"Aku gak bisa ah Umi" ucap Zia mengeluh.


"Tak apa kau petik saja cabai di kebun mau kan" tanya Umi.


"Baik Umi" ucap Zia.


Zia berjalan dengan menenteng ember plastik Karena Akan memetik cabai.


"Zia" sahut Fauzi.


"Ya Gus ada apa" tanya Zia.


"Bisa kah ajak Ainun kau mau memetik cabai kan, bisa kau ajari Ainun" ucap Fauzi.


"Bisa" ucap Zia.


"Ai ikut lah Zia untuk memetik cabai" ucap Fauzi.


"Ck ya aku akan ikut" kesal Ainun.


Zia jalan lebih dahulu,


"Ayo turun" ucap Zia.


"Kau saja aku ogah" ucap Ainun.


"Terserah kalau kau mau di marahi Gus Fauzi" ucap Zia.


Dengan terpaksa Ainun turun ke kebun cabai, dengan jalanan yang becek dan licin membuat Zia dan Ainun harus jalan perlahan.


"Setau aku memetik nya begini" ucap Zia mempraktekkan memetik cabai.


"Ba cot" ucap Ainun.


"Kau ini di kasih tau ya" ucap Zia kesal.


"Bagai mana tadi" tanya Ainun.


"Terserah" ucap Zia kesal.


Karena tak hati hati Ainun terpeleset dan jatuh tepat di pohon cabai punya Umi.


Brugh


"Ainun" ucap Zia.


"Awwss" Ainun meringis kesakitan karena pan tat nya kena tanah.


"Kau ini lihat pohon cabai Umi jadi rusak, bahkan cabai nya tak bisa di panen" ucap Zia mengkhawatirkan pohon cabai punya Umi.


"Kau lebih sayang pada tanaman atau aku lihat baju aku kotor bahkan pan tat aku sakit" ucap Ainun.


"Itu salah mu kenapa tak hati hati" ucap Zia.


"Karena kau tak bilang kalau ini licin" ucap Ainun malah menyalahkan Zia.


"Apa kau tak bisa melihat tanah nya saja becek berarti licin begitu saja kau tak paham" ucap Zia.


"Diam kau" ucap Ainun.


"Kau serakah ingin menang sendiri" ucap Zia.


"Diam" bentak Ainun.


Zia malas meladeni Ainun dia lebih memilih memetik cabai lagi karena dia belum dapat banyak.


Namun Ainun sangat lah bar bar dia mengambil tanah yang becek dan melemparkannya pada Zia.

__ADS_1


Pukk


Tanah itu mengenai baju gamis Zia.


"Inun kau sangat tak sopan" bentak Zia marah.


"Rasain" ucap Ainun.


Ainun sekarang akan naik ke jalanan karena akan menjauhi Zia yang sekarang marah pada nya.


"Semoga saja kau jatuh Ainun biar semua baju mu semakin kotor" ucap Zia.


Dan benar saja..


Brugh


Ainun jatuh namun sekarang posisi nya Ainun seperti rebahan di atas pohon cabai yang sekarang akan panen.


"Hahaha hahaha makannya jangan sombong lihat kan kena batunya" ucap Zia tertawa berhak bahak.


"Zia" teriak Ainun.


Adam dan Fauzi yang sadar pada perdebatan itu pun langsung Berlari ke sana melihat ada apa yang terjadi di antara Zia dan Ainun.


"Astagfirullah" ucap Adam dan Fauzi serempak.


Fauzi membantu Ainun yang sekarang terjatuh bahkan baju Ainun sekarang sangat kotor.


Zia hanya menatap dengan senyuman manis di bibir nya.


Ainun dan Fauzi masuk terlebih dahulu ke pesantren karena Ainun sekarang sangat kotor.


"Ayo aku bantu" ucap Adam mengulur kan tangannya.


"Aku belum selesai" ucap Zia melanjutkan kembali memetik cabai nya.


Adam diam di sana sambil menunggu Zia selesai memetik Cabai, bahkan seharusnya Adam sekarang mengajar tapi dia lebih memilih menemani Zia di sana.


Sedang kan Ainun sekarang dibawa oleh Fauzi ke kamar mandi untuk di bersihkan,


Umi melihat Ainun yang kotor terkena lumpur.


"Astagfirullah" gumam Umi.


Umi langsung berjalan ke arah kebun cabai yang berada di luar pesantren.


"Astagfirullah kebon cabe Umi" ucap Umi terkejut melihat pohon cabai nya hancur.


"Ini kenapa Neng" tanya Umi.


"Maaf Umi, ini semua gara gara Ainun" ucap Zia.


"Tak apa Umi kita tanam lagi nanti" ucap Adam.


"Ya baik lah tak apa" ucap Umi yang langsung pergi dari sana.


Zia menyelesaikan memetik cabai nya.


"Pergi lah Gus katanya ada jam pelajaran" tanya Zia.


"Ya nanti saja sekarang biar kan Gus Farid saja yang masuk" ucap Adam.


"Zia baju mu kotor" ucap Adam saat Zia sudah selesai memetik cabai dan kembali ke jalan.


"Ya ini karena Ainun dia membuat nya jadi kotor, tapi aku senang karena dia mendapat batu nya" ucap Zia tertawa kecil.


"Jangan begitu tak baik Zia mentertawakan orang yang baru kena musibah" ucap Adam.


"Salah siapa" tanya Zia.


"Jangan menasehati aku Gus, aku tau tapi aku senang saja sekarang" ucap Zia yang langsung berjalan menuju pesantren.


"man ahabbaka nashahaka" ucap Adam.


"Apa artinya" tanya Zia yang sekarang berjalan beriringan dengan Adam.


"Siapa yang mencintai mu maka dia akan menasehati mu" ucap Adam.


"Kau mencintai ku" tanya Zia.


"Kau fikir" tanya Adam.


"Oh" ucap Zia acuh.


Adam menyodorkan tangannya pada Zia.


"Maaf kita bukan muhrim" ucap Zia.


"Bukan tangan mu tapi ember nya aku takut kau berat" ucap Adam.


"Aku fikir" ucap Zia.


"Kau bilang bukan muhrim tapi kemarin kau memeluk ku" ucap Adam.


"Itu hanya salah paham" ucap Zia.


"Hah" ucap Adam hanya melongo mendengar jawaban dari Zia.


"Apa dia tak salah bicara" gumam Adam.


"Wanita memang begitu Gus mereka selalu benar" ucap Farid yang sekarang berada di depan gerbang masuk pesantren.


"Astagfirullah Gus Fauzi sedang apa di sana" tanya Adam.


"Hah aku sedang menjaga keamanan, takut nya ada para santri yang berdua an" ucap Farid.


Adam tersenyum tipis karena dari perkataan Farid, Adam paham kalau dia tengah membicarakan nya bersama dengan Zia.


"Baik lah aku permisi" ucap Adam yang langsung pergi dari sana dengan menahan malu pada Farid.


Adam berjalan ke arah rumah Umi.


"Umi ini Cabai nya" ucap Adam.


"Ya tolong bilangin sama Neng Zia terima kasih" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Adam.


Adam sekarang akan mengajar ke kelas karena sekarang dia akan mengajar kelas 2 SMP.


"Dari mana Gus" tanya Adam pada Fauzi yang baru saja keluar dari kamar santri putri.


"Aku dari kamar Ainun, Gus maaf karena Ainun kebun cabai Umi jadi rusak, maaf juga karena Ainun selalu cari gara gara pada Zia" ucap Fauzi.


"Tak apa biar kan ini menjadi ujian bagi Umi dan Zia" ucap Adam.


"Aku sangat malu pada Umi dan Zia Gus" ucap Fauzi.


"Jangan begitu ayo kita masuk kelas saja" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Fauzi.


Adam masuk ke kelas 2 SMP namun ada pak Didin di sana.


"Ganti jadwal Gus" ucap pak Didin dari dalam kelas.


"Oh baik lah" ucap Adam.

__ADS_1


Adam berjalan ke kelas 1 SMA karena setelah mengajar kelas 2 SMP Adam akan mengajar kelas 1 SMA.


Namun di sana sudah ada Guru yang mengajar, Adam hanya melewati saja dan Adam melihat lihat kelas yang kosong.


"Assalamualaikum apa kelas ini tak ada guru" tanya Adam.


"Waalaikum salam, tidak Gus" jawab santri serempak.


"Boleh aku yang isi" tanya Adam.


"Tentu saja Gus boleh" ucap para santri yang lain.


Adam masuk dan duduk di kursi untuk Guru,


"Apa di kelas ini ada jadwal aku" tanya Adam.


"Harus nya pak Didin Gus"jawab salah satu santri.


"Oh tapi kata pak Didin ganti jadwal" ucap Adam.


"Mungkin pak Didin lupa Gus karena kan dia sudah tua" ucap santri.


"Ya tapi tak apa lah ayo belajar" ucap Adam.


Adam membuka buku catatan santri yang satu Minggu lalu mereka pelajari.


"Assalamualaikum" sahut Zia dari ambang pintu kelas itu.


"Waalaikum salam" ucap Adam dan sebagian santri.


"Bisa saya masuk, maaf saya terlambat" ucap Zia.


"Silahkan" ucap Adam.


Zia masuk ke dalam dan duduk di bangku nya yang paling belakang.


"Hanya dia santri yang bisa bebas masuk jam berapa saja" bisik santri putri yang lain.


"Diam crush nya Gus Adam".


"Ck dia banyak uang jadi bebas".


"Ya apa lagi papah nya Donatur terbesar di pesantren ini".


"Hanya kalah harta saja bukan kalah ilmu".


Bisik bisik para santri putri terdengar sampai ke telinga Adam.


Namun Adam hanya tersenyum saja mendengar hal itu.


"Buka pembelajaran Minggu lalu" ucap Adam yang langsung mengajar para santri.


Zia hanya memperhatikan saja pada apa yang sekarang Adam bicarakan, tetapi bukan itu yang sedang mengganggu fikiran Zia tapi cara Adam berpakaian.


Adam hanya memakai kaos hitam polos dan sarung hitam polos dan kopiah di kepala nya.


Tapi hal itu membuat Zia mengakui ketampanan Adam yang sangat terpancar kalau Adam memakai pakaian hitam.


"Jaga matanya ya, nanti bisa kena Zi na mata" ucap Adam menyindir pada Zia dan pada santri wanita yang lain.


"Ya Gus" serempak.


Zia langsung tersadar saat Adam bicara begitu karena Zia yakin kalau Adam bicara begitu itu pada dirinya.


Hingga jam pelajaran selesai Adam keluar dari sana karena sekarang akan masuk ke kelas 1 SMA.


"Assalamualaikum" ucap Adam masuk ke dalam kelas 1 SMA.


Sedangkan Zia sekarang dia di ajari oleh pak Didin, Zia sangat malas kalau belajar bahasa Inggris apa lagi pak Didin memang benar dia mengajar Inggris sesuka dirinya.


Karena sejak tadi dia membacakan Inggris tapi tak mengartikannya.


"Kenapa aku malah ngantuk" gumam Zia.


Ainun masuk ke kelas itu karena di suruh oleh Abah, dari pada diam saja lebih baik ikut masuk ke sana.


"Maaf saya terlambat" ucap Ainun.


"Your speak English" tanya Pak Didin.


Karena tak mau ambil pusing Ainun pun meng iya kan ucapan Pak Didin karena Ainun juga tak terlalu pandai bahasa Inggris.


Ainun duduk cukup jauh dari Zia, sedangkan pak Didin dia terus saja menjelaskan tanpa berniat mengartikan.


Zia langsung ber pikir pada Adam yang akan ke London.


"Apa dia jadi ya ke London" gumam Zia.


Pelajaran Inggris yang mem bosan kan bagi Zia pun akhirnya selesai sekarang waktunya istirahat.


Berada di sini membuat Zia seperti anak SMA lagi, bahkan waktu istirahat para santri menghabiskan waktunya dengan jajan di warung sebelah.


Zia pun sama dia sekarang jajan dan duduk di teras kelas, persis saat dia masih SMA dulu bedanya Zia saat itu jajan di kantin dan makan di kantin.


Kalau sekarang ada sedikit perbedaan di antara keduanya.


"Aku dahulu menyia nyia kan hidup ku" batin Zia menyesali kehidupan nya dahulu.


"Oh ya Ning" tanya Zia.


" Ya kak" tanya Rena.


"Apa Gus Adam jadi pergi ke luar negeri" tanya Zia.


"Jadi tinggal satu Minggu lagi, pokok nya Senin depan dia berangkat" ucap Rena.


"Oh" ucap Zia.


"Ada apa" tanya Rena.


"Kangen ya" lanjut nya.


"Gak hanya tanya saja" ucap Zia.


"Bohong" ucap Rena.


"Beneran" ucap Zia.


"Ya katanya sih begitu, tapi kalau mau lebih jelas tanya saja langsung pada orang nya" ucap Rena.


"Oh ya Ning boleh aku tanya" ucap Zia.


"Tentu saja" ucap Rena.


"Wanita yang kemarin datang ke sini apa itu keluarga Abah" tanya Zia.


Wajah Rena langsung berubah seketika saat Zia bertanya wanita yang datang kemarin.


"Tapi kalau kau tak mau bicara tak apa aku paham" ucap Zia yang menyadari kalau Rena jadi berubah.


"Dia bibi ku nama nya Sofi, dia adik Abah" ucap Rena.


"Oh" ucap Zia.


"Dia punya karakter yang menyimpang dari Abah, ya pokok nya kak Zia juga paham kan dengan apa yang aku ucapkan" Ucap Rena tersenyum Pada Zia.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2