
Malam harinya semua santri yang ikut serta menjadi pengisi acara sedang berlatih dengan benar, bahkan group Qosidah pun sudah Adam latih sejak masih siang tadi.
Sedangkan Rena mencoba berlatih panjang pendeknya Ayat di hadapan Gita dan Zia di Madrasah itu, sedangkan Zia hanya menatap ke arah sekitar dan menemukan Marwah yang sedang mengangkat belanjaan.
Zia keluar dari Madrasah dan mendekati Marwah yang sekarang berada di luar mengangkat barang yang cukup banyak.
"Biar aku bantu, aku gak mau bayi mu kenapa kenapa" tanya Zia menyodorkan tangannya hendak membantu Marwah.
"Pelankan suara mu Zia, kau sungguh tak bisa menjaga amanah" ucap Marwah kesal.
"Ups maaf" ucap Zia.
Zia membawakan semua barang barang yang tadinya berada di tangan Marwah, hanya senyuman meledek yang bisa Marwah berikan, apa lagi Marwah tipikal orang yang cukup antagonis pada orang lain.
"Ning aku harap kau bisa menjaga kandungan mu itu, kau hanya perlu duduk manis saja" ucap Zia.
"Ck dasar Zia sangat banyak sekali bicara" gumam Marwah.
Marwah kembali ke kamarnya dan mencari ponsel kepunyaannya yang sengaja dia simpan karena takut ketahuan para santri yang lain.
📞📞
"Glend aku mau kau jauhkan Zia dariku, apa kau tau Zia tau hubungan kita dan kandungan ini aku harap kau bisa membawanya" ucap Marwah pada Glend.
"Kau atur saja waktu yang tepat untuk aku membawanya" ucap Glend.
"Besok saja karena besok akan ada acara penyambutan di pesantren ini, kau datanglah dan bawa Zia kabur dari sini saat ada kesempatan aku akan menggiring Zia pada perangkap mu" ucap Marwah.
"Baiklah aku akan datang besok" ucap Glend.
📞📞📞
Sedangkan Zia saat ini di panggil oleh Abah, karena sejak tadi Abah tak melakukan apa apa jadi niat Abah ingin mengajarkan lagi ilmu pada Zia.
"Abah memaggil saya" tanya Zia yang baru datang ke mesjid.
"Ya Zia ayo kemari bawa Al Quran mu" titah Abah.
"Baik Abah" ucap Zia.
Zia duduk di hadapan Abah dan melihat Zia membaca Al Quran.
"Zia lihat, jika kamu bertemu dengan huruf mad seperti hamzam, wawu, dan yak, maka kamu harus membacanya panjang" ucap Abah.
"Yaaa" ucap Zia membacanya dengan panjang.
"Ya begitu, lebih teliti lagi dalam membaca ya" ucap Abah.
"Abah kapan aku akan di ajarkan Tajwid" tanya Zia.
"Nanti kalau kau sudah tau panjang pondok suatu huruf baru kau akan Abah ajarkan Tajwid" ucap Abah.
__ADS_1
"Apa aku sudah bisa pulang Abah" tanya Zia.
"Pulang" tanya Abah mengerutkan keningnya.
"Ya Abah aku sudah bisa membaca Al Quran sekarang, bahkan aku tak pernah melupakan Sholat, aku ingin pulang Abah aku juga ingin menikah" ucap Zia.
Abah tersenyum mendengar kejujuran dari setiap perkataan Zia.
"Zia belajarlah yang benar kalau kau sudah tau semua, Abah tak akan melarang kamu untuk pulang, tapi kalau kau pulang sekarang apa yang kau pelajari" tanya Abah.
"aku hanya ingin seperti orang lain Abah" ucap Zia.
"Percayalah Zia, Jodoh itu tidak akan kemana, walau misalkan kau punya pacar di luaran sana kalau Alloh sudah berkata kalian berjodoh maka kalian akan bersama kembali bagaimana pun caranya" ucap Abah.
"Abah apa boleh aku bertanya" tanya Zia yang ingat pada kehidupan Marwah.
"Tanya apa" tanya Abah.
"Abah kalau misalkan kita berbuat hal yang salah, tapi kita tau hal yang kita perbuat itu salah tapi masih kita ulangi lagi dan bahkan kita lakukan lagi, apa kita tidak berdosa" tanya Zia.
"Ada sebuah hadist yang menerangkan " setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik baiknya orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat" ( HR Tirmidzi 2499, Shahih at targhib 3139). begitu bunyi hadist itu yang artinya jika kita tau hal yang kita lakukan itu salah maka secepatnya kita harus bertaubat, bukan melakukan kesalahan lagi kalau begitu kita sama saja jatuh ke lubang yang sama lagi" jelas Abah.
"Oh ya, apa ada sebuah kebohongan untuk menutupi kebenaran" tanya Zia.
"Sebenarnya tak ada Zia, islam itu sangat melarang umatnya untuk berbohong hanya saja ada tiga kebohongan yang di kecualikan menurut islam" ucap Abah.
"Apa Abah" tanya Zia.
"Oh lalu Ning Marwah dia sangat berdosa" gumam Zia.
"Apa jawabannya puas Zia" tanya Abah.
"Cukup Abah terima kasih" ucap Zia.
Zia kembali melanjutkan membaca ayat Al Quran.
Keesokan harinya, semua santri bersiap di depan gerbang untuk menyambut seorang habib yang akan datang dari kota, bahkan semuanya sangat antusias ingin melihat habib yang katanya tampan itu.
Seperti biasa Zia hanya memakai gamis biasa dan kerudung panjang yang hanya Zia pakaikan di kepala tanpa peniti.
Tentu saja semua orang sudah terbiasa dengan penampilan Zia itu, bahkan tak ada orang yang berani menegur Zia.
"Kak kata Umi bisakah kakak datang ke rumahnya" ucap santriwati pada Zia.
"Aku akan kesana" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.
Zia menatap kearah sekitar para santri semua terlihat berbeda bahkan ada yang sampai memakai make up yang cukup tebal, hanya Zia saja yang tak memakainya karena memang Zia tak bisa memakai Make up.
Walau begitu tapi Zia tetap cantik, karena sejak dulu Zia tak pernah absen untuk ke salon dan Zia sangat rutin pakai skincare yang mahal.
Jadi Zia terlihat cantik walau pun tanpa riasan di wajahnya.
__ADS_1
"Umi apa Umi memanggil" tanya Zia yang langsung masuk kedalam rumah Umi.
"Ya Neng, Umi ingin kamu membantu Umi membawakan ini ke Madrasah" ucap Umi sambil menunjuk satu wadah yang isinya kerupuk untuk makan.
"Baik Umi" ucap Zia.
"Maaf ya Umi menyeruh mu Neng, karena yang lain gak ada yang mau" ucap Umi.
"Tak masalah Umi" ucap Zia.
Zia masuk ke dalam Madrasah yang sekarang banyak orang disana, semuanya memakai baju bagus dan sangat rapih bahkan mereka semua hanya duduk dan melihat saja.
"benar kata Umi semuanya tak ada yang mau membantu karena mereka sudah memakai pakaian yang rapih dan bagus, sedangkan aku" ucap Zia menatap tubuhnya dari atas sampai bawah dan tak ada yang bagus.
Tapi Zia tak terlalu memperdulikannya karena nanti juga Zia tak akan maju kedepan, mungkin Zia akan diam di paling pojok menjadi orang yang paling terkucilkan, pikir Zia.
mobil hitam berlabel Avanza itu datang dan terparkir di halaman pesantren yang luas, bahkan semua santri sudah tak sabar melihat betapa tampannya habib yang datang itu, begitu pun dengan Zia dia sangat penasaran se tampan apa laki laki itu sampai para santriwati tak henti hentinya membicarakan Habib itu.
Keluarlah laki laki yang sudah para santri tunggu tunggu itu, semuanya melihat kagum pada laki laki itu tak terkecuali Zia dia sering melihat laki laki yang tampan di kota jadi dia tak terlalu memperdulikannya.
Semuanya masuk kedalam Madrasah, karena keamanannya sangat ketat semua santri hanya duduk dan diam saja dengan tertib.
Husna yang sekarang akan mengisi acara sebagai MC pun maju kedepan dan memulai membuka acara penyambutan itu, mengucapkan terima kasih pada Habib itu sebanyak banyaknya.
Sedangkan di kamar Zia, Rena sedang bersiap karena sekarang akan tampil ke depan membacakan Al Quran, tetapi seseorang mengunci Rena dari luar sehingga Rena tak dapat keluar dari sana.
Gita dan Zia sedang berada di Madrasah jadi tak tau kalau Rena di kunci di dalam kamarnya, bahkan para santri pun tak ada yang berlalu lalang ke kamar.
Husna membacakan semuanya.
"acara kedua adalah pembacaan ayat suci Al Quran yang akan di bacakan oleh Ning Rena" ucap Husna memaki Microphone sampai suaranya terdengar ke luar pesantren.
"Ning Rena mohon segera memasuki area Madrasah" ucap Husna lagi.
Semua orang melihat ke arah sekitar siapa tau menemukan Rena, tapi tak ada yang menemukannya.
"baiklah mungkin Ning Rena sedang sibuk tapi acara harus tetap berjalan, kita panggilkan saja penggantinya Ning Rena yang tak lain adalah Aziya" ucap Husna tersenyum jahat membayangkan akan malunya Zia di atas panggung.
Rosa temannya Husna pun langsung menarik Zia untuk naik ke atas panggung yang sudah Zia pastikan akan di tontong kurang lebih 400 orang santriwan dan santriwati.
"kenapa aku" ucap Zia.
"ayo Zia lihat Ning Rena gak ada jadi kau saja yang naik" ucap Rosa.
"tapi aku" ucap Zia yang langsung naik ke atas panggung karena di dorong oleh Rosa.
Sedangkan Adam yang sejak tadi ada di luar Madrasah langsung masuk kedalam saat mendengar kalau Zia lah yang akan membacakan ayat suci Al Quran.
Adam sangat takut kalau Zia akan mempermalukan pesantren itu apa lagi Adam tau betul kalau Zia tak bisa membaca Al Quran.
Berbeda dengan Adam, Abah Zakaria justru tersenyum dan memberikan Zia semangat supaya Zia membacakannya dengan lancar.
__ADS_1
Bersambung