
Pagi hari nya Zia dan para santri yang lain akan beres beres karena sekarang hari Minggu jadi mereka semua tak ada pelajaran.
Zia membereskan kamar nya bersama dengan Rena dan Gita.
Namun tiba tiba saja Fauzi datang ke sana karena akan memanggil Zia.
"Zia" sahut Fauzi yang baru saja datang ke sana.
"Ya Gus ada apa" tanya Zia.
"Sejak kemarin Ainun sangat ingin menemui mu kata nya dia ingin meminta maaf pada mu" ucap Fauzi.
"Aku akan ke sana" ucap Zia.
"Ya terima kasih" ucap Fauzi.
"Ya sama sama Gus" ucap Zia.
Zia sekarang berjalan ke arah UKS karena akan melihat Ainun yang kata nya ingin bertemu dengan nya.
"Ai" sahut Zia dari arah pintu masuk ruangan UKS.
"Zia" ucap Ainun.
Zia masuk kedalam dan mendekat pada Ainun yang sekarang masih berbaring di blangkar UKS karena semalaman Ainun juga menginap di UKS.
"Ada apa kata Gus Fauzi kau memanggil ku" tanya Zia.
"Terima kasih Zia karena sudah menolong ku" ucap Ainun.
"Tak masalah" ucap Zia.
"Oh ya maaf kan aku Zia karena aku selalu berbuat Dosa pada mu mungkin ini karma yang aku dapatkan dari itu" ucap Ainun.
"Tak apa Ainun aku sudah maaf kan, ya walau pun aku masih merasa sedikit marah tapi tak apa lah seiring waktu juga mungkin akan hilang" ucap Zia.
"Maaf" ucap Ainun.
Fauzi dan Bidan datang ke sana karena sekarang Bidan akan mencabut inpus yang ada di tangan Ainun.
"Mau di periksa" tanya Zia.
"Ya saya akan mencabut inpus nya" ucap Bidan.
"Kalau begitu aku permisi dulu, cepat sembuh Ainun" ucap Zia.
"Ya pasti" ucap Ainun.
Zia keluar dari sana, Zia menatap pada Rena, Gita dan beberapa santri putri yang lain yang sedang menunggu Zia di sana.
"Kak Zia" sahut Rena.
"Ya" ucap Zia.
Zia mendekat ke sana.
"Kak mau gak jalan jalan ke villa tak jauh kok dari sini" ucap Rena.
"Villa" tanya Zia.
"Emang ada" tanya Zia lagi.
"Ada kak" ucap Rena.
"Ayo Kak ikut saja" ucap Gita.
"Kita banyak kan kok" ucap Gita lagi.
"Ya lagi pula kami sudah bicara pada Abah" ucap yang lain.
"Ya baik lah" ucap Zia.
"Yeayy" sahut santri putri itu.
Sekitar enam santri putri akan jalan jalan ke Villa dan Zia hanya ikut saja karena di pesantren juga mau apa karena sekarang santri bebas selama empat jam.
Di perjalanan mereka bercanda tawa sambil menikmati suasana pedesaan yang sangat asri belum terkena campur tangan manusia, seperti limbah pabrik dan polusi udara.
"Kak apa semalam kak Zia melakukan Sholat itu" tanya Rena.
"Tidak Ning aku ketiduran" ucap Zia.
"Lakukan siang saja" ucap Rena.
"Jangan Ning aku malu karena kan akan banyak para santri di sana yang akan lihat aku Sholat" ucap Zia.
"Ya juga ya nanti mereka tanya kak Zia Sholat apa" ucap Rena.
"Ya nanti malam saja" ucap Zia.
Sedangkan di pesantren Umi sedang kebingungan mencari anak bungsu nya yang tak ada di kamarnya.
"Ada apa umi" tanya Abah yang melihat istri nya sedang melamun.
"Abah Rena tak ada di kamar nya" ucap Umi.
"Umi Ning Rena kan pergi jalan jalan" ucap Abah.
"Jalan jalan ke mana Abah" tanya Umi.
"Ke Villa, tak apa lah sekali sekali banyak juga santri putri yang ikut" ucap Abah.
"Ck Abah ini kenapa di ijin kan" ucap Umi.
"Emang nya kenapa" tanya Abah.
"Umi merasa tak enak hati pada Rena Abah" ucap Umi.
"Istighfar Umi" ucap Abah.
"Astagfirullah" ucap Umi sambil mengusap wajah nya.
"Umi hanya berprasangka buruk saja" ucap Abah.
"Umi akan suruh Adam menyusul ke sana" ucap Umi.
"Apa" tanya Abah.
"Ya untuk berjaga jaga saja kan" ucap Umi.
Belum juga Abah perbolehkan Umi sudah pergi dari sana mencari cari Adam.
"Bukan nya gak boleh tapi di sana ada Zia, Abah takut Adam akan semakin dekat dengan Zia yang bukan muhrim nya itu" gumam Abah sambil menarik nafas kasar.
Sedangkan Umi sekarang mencari Adam yang sekarang berada di Madrasah.
"Dam" sahut Umi.
"Ya Umi" tanya Adam.
"Adik mu pergi ke Villa apa bisa kau susul mereka" tanya Umi.
"Tapi Umi bagai mana ya" ucap Adam.
"Ada apa Gus" tanya Farid yang baru saja datang ke sana.
"Ini Gus Farid, Ning Rena pergi ke Villa Umi hanya khawatir saja " ucap Umi.
__ADS_1
"Emang nya dengan siapa Ning Rena ke sana" tanya Farid.
"Mungkin dengan Gita dan Neng Zia" ucap Umi.
Adam menatap pada Umi.
"Zia ikut ke sana" batin Adam.
"Biar aku saja yang akan jaga mereka Umi" ucap Farid.
"Yang benar Gus" tanya Umi pada Farid.
"Ya Umi" ucap Farid.
"Aku juga akan ikut ke sana" ucap Adam.
"Baik lah ayo" ucap Farid.
"Kalian jaga mereka jangan sampai terjadi apa apa" ucap Umi.
Adam dan Farid berjalan ke arah Villa, sedangkan santri putri sudah sampai di villa itu.
"Wah bagus ya" ucap santri yang lain.
"Pemandangan nya aestetik sekali" ucap Gita.
"Andai saja kita bisa bawa ponsel mungkin kita bisa Selfi" ucap Santri yang lain.
"Ya ponsel ku ada di Gus Adam" ucap Zia.
"Yahh gak jadi foto foto" ucap yang lain.
Zia duduk di atas jalanan, jalanan di sana sangat bersih bahkan tak ada sampah di sana.
"Villa siapa ini" tanya Zia.
"Kata nya milik orang cina tapi aku kurang tau pemiliknya" ucap Rena.
"Apa ini memang di perboleh kan untuk umum" tanya Zia.
"Boleh asal jangan masuk ke dalam Villa saja karena takut ada yang hilang" ucap Rena.
"Apa kalian pernah datang ke sini sebelumnya" tanya Zia.
Semua menggeleng hanya Rena dan salah satu santri saja yang menganggukkan kepala nya.
"Kalau begitu kita samaan" ucap Zia.
"Kak apa di kota kakak ada Villa begini" tanya salah satu santri bernama Rini.
"Ada banyak sekali, kau tau bahkan di sana ada rumah yang lebih besar dari Villa ini" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Rini.
"Aku sangat ingin ke kota, aku bosan hanya berada di kampung" ucap Rini.
"Tapi kalau aku bisa memilih aku lebih baik tinggal di sini" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Rini dan santri yang lain.
"Karena di kota itu sebuah harga diri itu bisa di beli oleh uang, kalian tau di kota wanita itu tak ada harga nya hanya 50 dari 100 persen wanita yang berharga di sana" ucap Zia.
"Emang nya kenapa " tanya Rini.
"Kalian akan melihat seorang wanita menjajakan dirinya dengan harga murah" ucap Zia.
"Oh ya apa kakak juga begitu" tanya Rini yang polos.
"Hah tentu saja tidak aku memang na kal tapi aku gak seperti itu" ucap Zia.
"Ya memang gampang tapi tetap saja jika kita tak punya bakat atau tak punya ijazah tinggi maka tak akan punya kerjaan paling jadi official boy kalau di perusahaan" ucap Zia.
"Oh" serempak.
"Memang nya kalian dari mana saja" tanya Zia.
"Aku dari kampung sini" ucap yang lain.
"Aku dari Garut".
"Aku dari Tasik".
"Kalau aku dulu tinggal di Bandung".
"Aku dari kampung sini" ucap Rini.
"Tak apa seharus nya kalian bersyukur karena kalian bisa hidup baik baik dan damai di kampung ini tak seperti aku" ucap Zia.
Tiba tiba saja sebuah mobil hitam berhenti di hadapan mereka yang sedang duduk di jalanan.
Keluarlah beberapa orang laki laki seperti body guard dari dalam mobil itu.
"Tangkap wanita itu" ucap nya menunjuk Rena.
"Aku" gumam Rena.
Saat kedua laki laki itu akan menangkap Rena, Zia dan para santri putri lain langsung meng halangi kedua laki laki itu.
"Jangan berani berani pegang teman kami" ucap Gita.
"Ya siapa kau" tanya yang lain.
"Kami anak buah nya Sofi kami akan membawa dia ke hadapan Sofi karena kan dia keponakan Sofi" ucap laki laki itu.
"Bilang pada Dia jangan ganggu keluarga Abah" ucap Rena.
"Ikut lah bersama kami nona karena ini permintaan Bibi anda" ucap laki laki itu.
"Aku tak Sudi ikut dengan mu" ucap Rena.
Namun laki laki itu memaksa bahkan sekarang Rena sudah di tarik oleh kedua laki laki itu.
"Lepaskan dia" ucap yang lain.
"Tolong... Tolongg..." Teriak para santri yang ada di sana.
Bahkan untuk teriak pun rasa nya percuma karena tak akan ada yang menolong apa lagi Villa itu sangat jauh dari tempat tinggal warga di sana.
"Hey" teriak Adam dan Farid yang tak jauh dari sana.
"Ck so mau jadi pahlawan" ucap laki laki itu.
"Lepas kan adik ku" ucap Adam dengan suara tegas.
"Aku akan membawa nya ke hadapan Nyonya Sofi" ucap nya.
"Bilang pada Nyonya mu itu kalau siapa pun tak akan ikut dengan nya karena dia orang ja hat" ucap Adam.
Dua orang maju ke hadapan Adam dan berkelahi dengan Adam walau pun sebisa mungkin Adam melawan nya, karena Adam tak di bekali ilmu bela diri jadi Adam tak terlalu bisa bela diri.
Farid yang berada di samping Adam pun melakukan perlawanan karena ingin membantu Adam, namun bukan nya mengalah kan musuh dia malah kalah dengan sendiri nya.
Karena bagi Abah sebagai pemimpin pesantren, Abah tak belajar bela diri karena dia lebih suka menyelesaikan kan masalah dengan cara kekeluargaan bukan dengan cara perkelahian.
Jadi Abah tak mengijin kan ekskul bela diri di adakan di pesantren itu walau pun sudah banyak para santri yang minta bahkan banyak juga yang ber minat.
Karena menurut Abah menyelesaikan masalah dengan berkelahi itu bukan lah hal yang bagus apa lagi sampai ada pertumpahan darah, Abah sangat tak mau jika itu terjadi.
__ADS_1
(Kembali lagi ke perkelahian..)
"Kak Zia kita bantu Gus Adam" ucap Rini.
"Ya tapi bagai mana" tanya Zia.
Zia melihat ada kayu dan batu batu di sana.
"Ayo kita bantu Pakai itu saja" ucap Zia menunjuk kayu untuk bahan bangunan.
Zia mengambil kayu bahkan Rini dan Gita pun sama, mereka memukul mukul kan kayu itu pada laki laki itu sampai mereka merasa kesakitan karena beberapa santri juga melemparkan batu ke arah mereka.
"Argh dasar santri si al lan " geram nya.
"Rasa kan ini" ucap Zia.
"Berani nya kau ambil teman kami maka ini balasan yang pantas untuk mu" ucap Gita memukul mukul kan kayu itu dengan cukup keras.
Karena merasa kalah jumlah mereka pun pergi dari sana dengan naik mobil hitam itu.
"Alhamdulillah" serempak.
"Kalian tak apa" tanya Adam.
"Tak apa Gus" ucap yang lain.
"Ning" ucap Zia pada Rena.
"Aku baik baik saja kak" ucap Rena.
"Terima kasih karena sudah menolong aku" ucap Rena lagi.
"Tak apa Ning kita kan teman" ucap Gita.
"Sebaik nya kita pulang saja" ucap Adam.
"Tapi Gus kita mau foto foto" ucap Rena.
"Ya ampun di saat genting begini kalian mau foto foto" ucap Adam.
"Sekali sekali kan Gus" ucap santri yang lain.
"Baik lah jangan lama lama lima menit" ucap Adam.
Rena mengulurkan tangannya.
"Pinjam ponsel nya" ucap Rena.
"Ya ampun sudah nawar pinjam lagi" gumam Adam.
"Benar saja" ucap Rena.
Semua santri di sana melakukan foto foto Selfi bahkan dengan jahil nya Rena memotret Zia yang sekarang hanya diam saja di pinggir karena tak ikut berfoto foto.
"Benar ya yang cantik ber pose apa pun tetap saja cantik" gumam Rena melihat hasil jepretan nya.
Sedangkan Adam sekarang duduk di pinggir jalan menatap pada Farid yang wajah nya babak belur.
"Beneran kau tak apa apa" tanya Adam.
"Santai saja Gus" ucap Farid.
"Sudah ayo pulang, lihat Gus Farid terluka" ucap Adam.
"Ya Gus" serempak.
Rena mengembalikan ponsel Adam pada pemilik nya,.
"Gus jangan lupa kirim ke nomor aku ya" ucap santri yang lain.
"Ya nanti di kirim ke grup" ucap Adam.
"Jangan Grup Gus ke chat pribadi" ucap nya.
"Ya" ucap Adam malas.
Mereka semua pulang ke pesantren namun karena perjalanan yang mereka lewati berbeda dengan jalanan yang tadi mereka lalui, jalanan sekarang lebih licin dan tanah nya juga basah.
"Kata nya jalan pintas tapi licin begini" ucap Zia.
"Ya aku baru tau kalau jalanan nya licin" ucap Adam.
"Tak apa kita jalan pelan pelan saja" ucap Rena.
Mereka semua berjalan saling beriringan dengan Farid yang berada di barisan paling depan dan Adam di barisan paling belakang.
Zia berada di depan Adam, sedangkan Adam hanya tersenyum saja melihat crush nya berada dekat dengan nya.
"Zia aku besok berangkat" ucap Adam.
"Hah besok" tanya Zia.
"Ya, aku harap kau fikir kan lagi ucapan ku" ucap Adam.
"Kenapa Gus kau selalu memajukan hari kepergian mu" tanya Zia.
"Memajukan bagai mana" tanya Adam.
"Aku dapat kabar dari teman aku Yasya kalau dia bilang besok ya besok" ucap Adam.
"Jadi kamu mau berangkat dengan nya" tanya Zia.
"Ya Doa kan aku di sana supaya aku bisa belajar lebih giat dan aku di sana sehat sehat" ucap Adam.
"Amin" serempak.
"Cuman Crush nya dong yang di ajak bicara kita mah enggak" ucap Rena meledek Adam.
"Aku bicara pada kalian juga" ucap Adam.
"Masa" tanya Rena.
"Beneran" ucap Adam.
"Oh ya Gus bisa kah aku tanya sesuatu" tanya Zia.
"Tanya apa" tanya Adam.
"Jika seorang wanita suka pada laki laki terus mengajak nya menikah apa salah" tanya Zia.
"Tak salah" ucap Adam.
"Oh " ucap Zia.
"Emang kenapa" tanya Adam.
"Apa kau suka pada laki laki" tanya Adam.
"Hah tidak " ucap Zia.
"Jangan bohong aku sangat tau kau Zia" ucap Adam.
"Tidak ada hanya tanya saja" ucap Zia.
"Ya baik lah" ucap Adam.
bersambung
__ADS_1