Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 42


__ADS_3

Sekarang sudah pukul sembilan malam, Haddad akan pulang ke rumah Ustadz Hasan abinya Husna dan saat itu Haddad pulang bersama dengan Husna karena mereka satu arah.


Tiba tiba mereka mendengar ada suara dari balik gudang warga yang tak terpakai, dan gudang itu tak jauh dari pesantren.


"Ustadz kau dengan sesuatu" tanya Husna.


"Ya kaya suara minta tolong" ucap Haddad.


"Siapa ya" tanya Husna.


"Ayo kesana kita lihat" ucap Haddad.


"Tidak ah aku takut" ucap Husna.


"Takut apa kan ada aku" ucap Haddad.


Mereka berdua mendekat pada gudang itu karena malam hari jadi Haddad tak bisa melihat dengan jelas karena gelap.


"Kau bawa senter" tanya Haddad.


"Tidak" jawab Husna.


"Aku akan masuk dan lihat ada apa di dalam" ucap Haddad.


"Baiklah jangan lama lama" ucap Husna melihat Haddad dari arah pintu gudang itu.


Husna melihat ke arah sekeliling sepi dan sangat dingin, namun dari arah belakang ada yang mendorong Husna hingga Husna masuk kedalam gudang itu.


"Aaaaaa" teriak Husna.


"Ada apa Ning" tanya Haddad.


"Ada yang.. " ucap Husna terhenti saat melihat kalau pintu gudang itu ter tutup dan ada yang menguncinya.


"Ustadz lihat pintunya ter kunci" ucap Husna panik.


"Apa" tanya Haddad.


Haddad langsung mengedor gedor pintu itu, namun tak ada yang membukanya.


"Pintunya terkunci di luar" ucap Haddad.


"Hah lalu bagaimana ini" tanya Husna semakin panik.


"Ada orang di luar" teriak Haddad.


"Bagaimana Ustadz" ucap Husna semakin cemas.


"Pintunya ter kunci, kenapa tapi Ning masuk" ucap Haddad.


"Ada yang dorong Ustadz" ucap Husna.


"Hahh baiklah mau bagaimana lagi sekarang tak ada orang yang akan menolong kita" ucap Haddad.


"Hah yang benar saja Ustadz masa kita akan bermalam di sini dan hanya berdua" ucap Husna.


"Lalu" tanya Haddad.


"Gudang apa ini, bau sekali bahkan sangat gelap bagaimana kalau ada ular" tanya Husna.


"Ber fikir positif Ning" ucap Haddad.


"Aaaaaa Abi aku mau pulang" ucap Husna ketakutan.


"Jangan nangis, ada aku" ucap Haddad.


"Tapi Ustadz aku takut" ucap Husna.


"Tenang saja" ucap Haddad.


Mereka berdua duduk berjauhan tetapi ada sesuatu yang membuat Husna semakin terkejut, ada tikus yang sekarang berada di kaki Husna.


"Aaaaaa" teriak Husna yang langsung lari mendekat pada Haddad.


"Ada apa" tanya Haddad.


"Tikus" ucap Husna sambil bergidig geli.


"Tenang lah" ucap Haddad.


Sebenarnya Haddad cukup risih jika harus ber dekatan dengan Husna, apa lagi sekarang mereka satu ruangan dan ruangan itu sangat gelap.


Sedangkan di pesantren,


Zia sekarang berada di rumah Umi karena sejak tadi Zia mengajar Adam bahasa inggris.


Itu pun ada Umi dan Abah yang menemani, jadi sekalian mereka sambil bercanda bahkan Zia pun menuliskan kata kata bahasa indonesia dan dia artikan bahasa inggrisnya.


"Zia terima kasih sudah mengajari Adam" ucap Abah.


"Ya Neng Zia padahal di kampung ini sangat susah mencari guru les bahasa" ucap Umi.


"Sudah tak apa Abah, Umi aku ikhlas bahkan harusnya aku yang ber terima kasih karena sudah di ijinkan masuk ke sini" ucap Zia.


"Zia baik Umi" ucap Adam.


"Seharusnya kalian menikah saja" celetuk Umi yang lansung mendapat tatapan tajam dari Adam.


"jodoh gak tau kan" ucap Umi.


"Jangan begitu Umi lagi pula aku dan Zia sekarang teman" ucap Adam.


"Ya dari teman kan bisa menjadi cinta, ya kan Abah" tanya Umi.


"Sudah Umi jangan comblangi mereka" ucap Abah.


"Sekarang sudah malam" ucap Umi.


"Ya Zia sebaiknya kamu tidur" ucap Abah.


"Adam antar neng Zia sampai kamarnya" ucap Umi.


"Jangan Umi aku bisa sendiri" ucap Zia.


"Jangan begitu Neng, sudah malam biar Adam yang antar" ucap Umi.


"Baiklah aku akan antar Zia" ucap Adam.


Zia menyobek kan satu lembar kertas yang sudah dia tuliskan dan memberikannya pada Adam.


"Terima kasih" ucap Adam.


"Sama sama" ucap Zia.


"Manis sekali" ucap Umi melihat dua insan itu.


"Umi Abah aku permisi, Assalamualaikum" ucap Zia.


"Waalaikum salam" ucap abah dan Umi.


Zia di antar sampai ke kamarnya oleh Adam, di perjalanan mereka jalan berdampingan.


"Bagaimana kaki mu" tanya Adam.


"Sudah mendingan" ucap Zia.


"Syukurlah" ucap Adam.


"Oh ya Gus, apa kau akan lama di luar negri" tanya Zia.


"Kenapa kamu akan kangen ya" tanya Adam menggoda Zia.


"Kangen" gumam Zia kesal.

__ADS_1


"Aku hanya tanya saja" ucap Zia.


"Mungkin hanya dua bulan saja karena aku akan ambil sekolah online Zia" ucap Adam.


"Daring" tanya Zia.


"Ya aku tak mungkin tinggal lama di sana, karena biaya hidup akan sangat banyak di sana" ucap Adam.


"Ya benar" ucap Zia.


Jika mengingat luar negri Zia langsung teringat pada Marwah.


"Gus sekarang bagaimana kabar Ning Marwah" tanya Zia.


"Dia di luar negri" ucap Adam.


"Oh apa dengan suaminya" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Kau marah Gus, aku tau kau cemburu" ucap Zia.


"Ya aku cemburu" ucap Adam.


"Waw".


"Aku cemburu melihat kau bersama dengan Ustadz Haddad" ucap Adam.


"Hah kau cemburu, kau cemburu pada ku atau cemburu pada Haddad" ucap Zia sambil terkekeh.


"Lucu" ucap Adam.


"Aku kira kau cemburu pada ku karena aku dekat dengan Ustadz Haddad" ucap Zia.


"Menurut mu aku suka sesama begitu" ucap Adam.


"Gus aku bercanda, maafkan aku" ucap Zia yang tak bisa menghentikan tawanya.


"Baiklah ini kamar mu, selamat tidur Nona" ucap Adam.


"Terima kasih tuan Adam yang ter hormat" ucap Zia sambil menahan tawanya.


"Aku akan pulang" ucap Adam.


"Pulang lah mimpi indah menunggu mu" ucap Zia.


Keesokan harinya para warga seperti biasa bekerja di ladang dekat dengan pesantren, salah satu warga mendekat pada gudang yang di dalamnya terdapat pupuk untuk tanaman.


Dia membuka pintu yang di kunci itu, bahkan ada dua orang warga juga yang datang kesana karena akan membantunya membawakan Pupuk.


Namun betapa terkejutnya mereka saat mendapati dua orang lawan jenis berada di gudang itu dengan posisi berjauhan dan mereka tertidur.


"Astagfirulloh" ucap mereka serempak.


"Lihat mereka ber buat dosa di gudang" ucap salah satu warga.


"Ayo kita laporkan pada Abah" ucap warga yang lain.


"Jangan kita suruh saja mereka menikah, lihat dia anak Ustadz Hasan, kita tutup mulut saja kalau sampai warga tau mungkin gudang kita akan terancam di robohkan" ucap warga yang lain.


"Ya itu betul juga" ucapnya.


"Tutup mulut dan segera bangunkan mereka" titahnya.


Karena hari masih sangat pagi jadi tak banyak warga yang berlalu lalang,


"Neng, neng" ucap warga membangunkan Husna.


Husna pun terbangun dari tidurnya.


"Hah syukurlah untung ada kalian" ucap Husna.


"Ustadz, Ustadz Haddad" ucap Husna membangunkan Haddad.


"Ayo kita pulang" ucap Husna.


"Hah Syukurlah ada kalian" ucap Haddad.


"Terima kasih mang" ucap Husna.


"Neng, kalian berdua di sini? sebaiknya kalian menikah sebelum berita ini sampai ke warga yang lain, takutnya nama pesantren akan tercoreng" ucap warga.


"Tapi mang kita gak melakukan apa apa" bantah Husna.


"Ya lagi pula kami di jebak" ucap Haddad.


"Tetap saja, kalian berdua dan posisinya kalian bukan muhrim" ucap warga yang lain.


"Cepatlah menikah karena kalau tidak kalian yang akan malu" ucap warga.


"Tidak, kami tak melakukan apa apa" ucap Haddad.


"Ya kami tau, tapi kalian berdua semalaman" ucap Warga.


"Ning coba jelaskan" ucap Haddad.


"Mang kami di jebak dan kami tak melakukan apa apa" ucap Husna.


"Lebih baik kalian menikah, kami akan tunggu satu minggu lagi kabar itu" ucap Warga.


"Tapi kami gak akan menikah" ucap Haddad.


"Tolong Neng, jika berita ini menyebar nanti warga akan menghancurkan gudang ini bahkan mungkin warga juga akan menyalahkan kami" ucap Warga.


"Ya ayo Neng demi kebaikan bersama" ucap Warga yang lain.


"Baiklah kami akan menikah" ucap Haddad.


"Tapi Ustadz" ucap Husna.


"Mau bagaimana lagi Ning kita terpaksa" ucap Haddad.


"Baiklah kami harap satu minggu ini kalian sudah menikah" ucap warga.


"Ya baik" ucap Haddad.


Haddad dan Husna pergi dari sana menuju pesantren karena dari sana yang dekat itu hanya pesantren,


"Bagaimana Ustadz" tanya Husna.


"Bagaimana lagi kita terpaksa Ning" ucap Haddad.


"Lalu apa yang akan kita bicara kan pada orang tua kita" ucap Husna.


"Biar aku yang bicara pada Abi sekarang" ucap Haddad.


Haddad mengambil ponselnya yang berada di rumah Adam karena selama di pesantren semua ponsel di titip pada Adam.


"Gus Adam aku ambil ponsel ku" ucap Haddad.


"Kenapa Ustadz" tanya Adam.


"Aku ada perlu" ucap Haddad.


Haddad langsung menjauh dan menghubungi Abinya untuk segera datang ke pesantren.


📞📞


..."Abi aku ingin Abi datang kesini" ucap Haddad....


..."Untuk apa, untuk melamar wanita itu maaf Abi gak bisa" ucap ustadz Mansyur....


..."Melamar Ning Husna anak Ustadz Hasan" ucap Haddad....

__ADS_1


..."Abi akan datang" ucap Ustadz Mansyur....


📞📞


Haddad menatap pada Zia yang sekarang berada di depan kelas.


"Bagaimana aku bilang pada Zia" gumam Haddad.


Haddad mendekat pada Zia.


"Zia ada hal yang akan aku bicarakan" tanya Haddad.


"Ada apa" tanya Zia.


"Bisa kita bicara di tempat lain" ucap Haddad.


"Ayo" ucap Zia.


Mereka berdua duduk di halaman pesantren,


Haddad sebenarnya bingung harus bilang apa karena Haddad takut Zia akan marah dan kecewa.


"Kamu harus bisa Haddad" batinnya.


"Zia aku mau bicara, fyuhh maafkan aku Zia sebentar lagi aku akan menikah dengan Ning Husna" ucap Haddad dengan perasaan takut.


"Hahahahah, Haddad jangan becanda aku tak suka" ucap Zia tertawa.


"Zia ini benar aku tak sedang bercanda" ucap Haddad.


"Kenapa begitu" tanya Zia.


"Ceritanya panjang jadi intinya aku akan menikahi Ning Husna dan sekarang Abi akan datang kesini untuk melamar Ning Husna" ucap Haddad.


"Tapi kau janji akan menikahi aku" ucap Zia.


"Ya tapi kita tak berjodoh Zia" ucap Haddad.


"Se gampang itu Haddad, kau kemarin ber janji menikahi aku dan sekarang kau akan menikahi Ning Husna" ucap Zia yang sekarang sudah bercucuran air mata.


"Aku tau aku tak pantas menjadi istri mu, tapi tolong hargai aku Haddad" ucap Zia.


"Aku minta maaf Zia, aku tau aku salah" ucap Haddad.


"Sudah lah aku paham semuanya" ucap Zia.


"Zia tolong dengarkan aku" ucap Haddad menahan Zia karena saat ini Zia akan pergi.


"Sudah jelas kan" ucap Zia sambil menangis.


"Tolong jangan menangis aku merasa sangat bersalah Zia" ucap Haddad yang sekarang merasa tak tega pada Zia.


"Aku saran kan jangan pernah memberi harapan pada setiap wanita kalau kau tak mau melihatnya menderita" ucap Zia yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.


"Aku mohon Zia mengerti lah" ucap Haddad yang sekarang sudah ikut menangis.


Zia pergi dari sana menuju kamarnya karena entah kenapa Zia selalu sial dalam hal per cintaan.


Zia duduk di sudut ruangan kamar itu dia menangis sejadi jadinya, sedangkan Haddad dia hanya bisa diam tanpa menghentikan Zia yang sudah Haddad pastikan Zia akan menangis.


"Aku salah" gumam Haddad.


Sedangkan Husna dia tengah menangis dan sedang di tenangkan oleh kedua teman kamarnya, Husna menyesali karena semalam dia berada di gudang.


Memang benar Husna sudah suka pada Haddad tapi Husna tak mau menikah secara terpaksa apa lagi Husna sangat yakin kalau Haddad tak akan mungkin menerima nya.


"Kenapa Ning" tanya teman Husna yang bernama Risma.


Bukan nya menjawab Husna malah semakin menangis sesegukan.


Saat bersamaan Haddad datang kesana dan langsung masuk ke kamar Husna.


"Ustadz Haddad" ucap Risma.


"Boleh saya bicara ber dua dengan Ning Husna" tanya Haddad.


"Silahkan Ustadz" ucap Risma yang langsung keluar dari sana bersama dengan temannya itu.


Haddad duduk di kasur Husna.


"Tolong jangan menangis" ucap Haddad.


"Tapi Ustadz bagaimana kalau berita itu sampai menyebar" ucap Husna.


"Aku sudah bicara dengan Zia kalau aku akan menikahi mu, ayo pulang Abi sudah kirim pesan kalau dia sudah berada di rumah mu" ucap Haddad.


"Tapi apa mereka akan merestui hubungan ini" ucap Husna.


"Tentu saja" ucap Haddad.


Mereka berdua pulang ke rumah Husna.


Sedangkan sekarang pelajaran sudah di mulai tetapi Zia masih berada di kamarnya, Adam yang merasa tak melihat Zia pun langsung bertanya pada Rena dan Gita.


"Dimana Zia" tanya Adam.


"aku tak melihatnya Gus" ucap Rena.


"Ya aku juga sejak tadi tak melihatnya" ucap Gita.


"Dimana Zia" gumam Adam.


"Ciee Gus kau sangat perhatian pada kak Zia" ucap Rena.


"Aku hanya bertanya saja" ucap Adam ketus.


"Gus lihat saja di kamarnya siapa tau kak Zia masih tidur" ucap Gita.


"Tapi tadi kak Zia sudah ke kelas kok" ucap Rena.


"Aku akan cari di kamarnya dulu" ucap Adam.


Adam berjalan ke kamar Zia yang berada paling pojok dan benar saja Adam mendapati Zia yang sekarang sedang menangis di pojokan.


"Zia kamu kenapa" tanya Adam.


"Gus Adam" ucap Zia yang langsung menangis sesegukan.


"Kamu kenapa ayo cerita" tanya Adam cemas.


Namun Zia tak menjawab dia hanya menangis saja dan menenggelamkan wajah nya di antara pahanya.


"Cerita pada ku Zia, apa ada yang menyakiti mu" tanya Adam.


Adam paham kalau Zia saat ini pasti sedang sedih Adam duduk tak jauh dari Zia dia menatap pada Zia yang sekarang sedang bersedih.


Lama Zia menangis akhirnya dia menatap juga pada Adam yang masih setia menunggu nya disana.


Zia menghapus air matanya dengan tangannya sendiri.


"Apa yang kau butuhkan, air" tanya Adam.


"Aku butuh bahu" ucap Zia.


"Bahu" gumam Adam.


"Aku butuh bahu untuk bersandar Gus, aku gak bisa menahan sakit ini sendirian" ucap Zia.


"Tapi kita bukan Muhrim" ucap Adam.


Zia menangis lagi dan kembali menenggelamkan wajahnya.


Zia dua kali di sakiti, sabar ya Zia, jodoh mu bukan Haddad tapi Adam..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2