
Keesokan harinya Zia sudah bersiap untuk mencuci pakaian karena hari ini hari minggu jadi mereka sekarang libur sekolah.
Sesuai dengan jadwal Para santri libur sampai siang dan pukul dua belas siang para santri akan melakukan pelajaran pelajaran yang tak tertulis di jadwal.
"Kak Zia, Gus Adam mengajak kita ke hutan" ucap Rena.
"Ke hutan, mau apa" tanya Zia.
"Kita akan mencari kayu bakar, ayolah kita ikut saja" ucap Gita.
"Apa tak akan menganggu nantinya" tanya Zia.
"Tidak akan kita justru akan membantu" ucap Rena.
"Ayolah Umi juga ikut" ucap Gita.
"Baiklah ayo aku ikut" ucap Zia.
Saat itu Zia berpapasan dengan Haddad yang sudah rapih dengan setelan koko dan sarung.
"Zia mau kemana" tanya Haddad.
"Haddad aku akan ikut ke hutan, lalu kau mau kemana" tanya Zia.
"Aku ada undangan dari kampung sebelah, sayang sekali kalau aku tak kesana mungkin aku akan ikut dengan mu" ucap Haddad.
"Semangat pak ustadz ku" ucap Zia.
"Aahh kau ini" ucap Haddad.
Zia berkumpul dengan Rena dan Gita bahkan ada Adam, Umi dan Fauzi juga disana.
"Kau akan ikut" tanya Adam.
"Ya bolehkan" tanya Rena.
"Kita akan ke hutan cari kayu bakar Ning, bukan mau jalan jalan" ucap Adam menatap pada adiknya.
"Sekalian menemani Umi Gus" ucap Rena.
"Pakailah celana panjang" ucap Adam.
"Oh ya aku lupa" ucap Rena.
Gita, Zia dan Rena pergi kamar mereka untuk mengganti pakaian memakai celana dan baju panjang saja karena mereka akan ke hutan mencari kayu bakar.
Semua berangkat dengan jalan kaki, hutan itu berada tak jauh dari pesantren bahkan banyak juga warga yang mencari kayu bakar disana.
Lagi pula di hutan itu juga ada petani yang menanam kopi jadi mereka merawat hutan agar tak terlalu banyak tanaman liar yang akan membuat para warga susah melewatinya.
Zia berjalan dengan membawa sebuah samping, karena kata Umi pakai sarung juga bisa.
Mereka semua berjalan cukup jauh hingga akhirnya sampai ke tempat yang banyak kayu bakarnya.
"Apa ini punya orang" tanya Zia.
"Bukan Neng, kalau di hutan siapa saja bisa membawanya asal jangan merusak pohon yang di tanam saja" ucap Umi.
"Oh" ucap Zia.
Rena dan Gita membeberkan samping nya agar memanjang di atas tanah, lalu mereka menaruh kayu bakar di atasnya.
Zia pun melakukan hal yang sama karena jujur saja ini pertama kalinya.
Saat itu Adam tengah mengumpulkan kayu bakar tanpa Adam sadari di belakangnya ada jurang namun cukup dangkal, Zia melihat Adam yang satu langkah lagi akan terjatuh ke bawah.
"Gus Adam" ucap Zia yang langsung berlari ke arah Adam dan menarik Adam supaya tak jatuh ke jurang itu.
"Huh Zia untung saja" ucap Adam.
Namun tiba tiba tanah yang di pijak keduanya ambruk sehingga mereka berdua jatuh ke bawah.
"Aaaaaa" teriak Zia kaget.
Tanah nya ambruk karena tak ada pohon disana jadi tak ada penahan sehingga jika di injak dua orang maka akan ambruk.
Rena dan Gita langsung melihat kearah jurang tempat Adam dan Zia terjatuh.
Namun tampaknya mereka tak kenapa kenapa hanya kaki Zia saja yang terluka.
"Awwss" ucap Zia pada kakinya yang terdapat luka membiru.
"Kau tak apa" tanya Adam pada Zia.
"Tak hanya kaki ku kayanya terkilir" ucap Zia.
Adam melihat kaki Zia dan memijat mijatnya dengan perlahan.
"Aahh Gus Sakit, awwss" ucap Zia.
"Hey kalian sedang apa" tanya Umi dari atas.
"Diam lah Zia nanti Umi sangka aku meng apa apa kan kamu" ucap Adam.
"Tapi Gus sakit" ucap Zia.
"Kecil kan suara mu" ucap Adam.
"Umi kami jatuh dan Zia kakinya terkilir" ucap Adam.
"Apa masih bisa jalan" tanya Umi.
"Masih Umi" jawab Zia.
"Ayo naik" ucap Umi.
Adam hendak berjalan ke atas, namun Adam menatap pada Zia yang sedang berusaha bangun tapi terlihat sangat kesusahan.
"Kau bisa jalan" tanya Adam.
"Kaya nya tidak kaki aku sakit" ucap Zia.
"Aku bantu" tanya Adam menyodorkan tangannya.
"Tapi kita bukan Muhrim" ucap Zia.
"Baiklah aku akan jalan terlebih dahulu" ucap Adam.
"Kau tak peka Gus" gerutu Zia.
"Yasudah ayo" ucap Adam membantu Zia bangun.
Zia menatap Adam dengan senyuman di bibirnya.
"Jangan melihat aku seperti itu nanti kau suka" ucap Adam.
__ADS_1
"Dasar kepedean" ucap Zia.
"Ayo jalan" ucap Adam.
Namun Zia kesusahan saat berjalan, jadi Adam menuntun Zia dengan erat karena Zia berjalan perlahan.
"Maaf aku menyusahkan mu" ucap Zia.
"Bukan kah aku teman mu, di pertemanan tak ada yang kata maaf dan terima kasih" ucap Adam.
"Baiklah Pak Ustadz aku paham" ucap Zia.
"Tapi sebagai imbalannya" ucap Adam.
"Hah kau tak ikhlas menolong ku" ucap Zia yang langsung melepaskan tangan Adam yang mencekal tangannya.
"Bukan tak ikhlas tapi setiap kebaikan harus ada imblannya kan" ucap Adam.
"Huhh kau sama saja seperti yang lain" ucap Zia.
"Aku bercanda Zia" ucap Adam sambil tersenyum melihat Zia yang sekarang sedang kesal.
"Baiklah apa yang kau mau" tanya Zia.
"Aku mau belajar bahasa inggris, tapi jam belajar nya tambah jadi satu jam" ucap Adam.
"Baiklah bayarannya jadi dua kali lipat" ucap Zia.
"Hah kau" ucap Adam.
"Hahahaha, Gus aku bercanda, oh ayolah kita teman kan aku akan membantu mu sampai kau bisa tapi aku mau kau mengajari aku apa saja pelajaran di pesantren" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Adam.
"Sama sama pak Ustadz ganteng" ucap Zia yang langsung berjalan perlahan dengan sendiri tanpa bantuan Adam.
"Astagfirulloh kenapa jantung ini" gumam Adam sambil memegang jantungnya yang ber detak kecang.
Adam langsung menyusul Zia, dan berjalan di samping Zia namun tidak membantu Zia karena sekarang jantung Adam sedang tak baik baik saja.
"Gus" tanya Zia.
"Ya".
"Dengan siapa kau akan ke london" tanya Zia.
"Ada teman ku dari kampung sebelah" ucap Adam.
"Oh".
Zia dan Adam naik ke atas.
"Kalian tak apa apa" tanya Umi.
"Tidak Umi hanya kaki aku sedikit terkilir" ucap Zia.
"Tapi bisa jalan" tanya Umi.
"Bisa".
" baiklah ayo pulang, kayu bakar Zia biar Umi yang bawa kau jalan saja pelan pelan" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Zia.
Mereka semua pulang dari sana menuju pesantren, walau pun dengan jalan perlaham Zia akhirnya bisa juga pulang ke pesantren.
"Zia" sahut Adam.
"Jangan lupa" ucap Adam.
"Bawel" ucap Zia sambil tersenyum.
"Awas kau" ucap Adam.
"Aku akan mandi dulu tunggu aku di rumah Umi" ucap Zia.
"Baiklah" ucap Adam.
Sedangkan di sisi lain para santri membicarakan Zia dan Adam karena merasa kalau Adam dan Zia akrab jadi mereka berpikir kalau Zia dan Adam memiliki hubungan.
"Yang aku dengar Gus Adam menjadikan Zia sebagai guru les nya" ucap satu santri wanita.
"Aku yakin mereka ada apa apa, kalian lihat kan dari cara mereka bicara dan mengobrol mereka sangat akrab bukan" ucap santri yang lain.
"Ya kau benar padahal Gus Adam jarang bicara akrab dengan wanita, kecuali Umi dan Ning Rena" ucap santri yang lain.
"Apa jangan jangan Zia pacaran sama Gus Adam".
"Bisa jadi".
"Tapi yang aku dengar Zia pacaran sama Haddad" ucap yang lain.
"Aku ingin di posisi kak Zia yang di perebutkan oleh kedua Ustadz yang tampan dan pintar" ucap santri wanita.
"Jangan menghayal, kak Zia itu cantik tapi agama nya masih kurang".
"Ya terkadang yang pintar akan kalah sama yang cantik" ucap santri yang lain.
Sedangkan Husna yang mendengar hal itu hanya diam mengintip saja dari arah belakang mereka.
"Tak benar, Zia selingkuh dari Ustadz Haddad" ucap Husna.
Sesuai janji Zia datang ke rumah Umi dan di sana ada Abah yang sedang merawat tanamannya.
"Assalamualaikum Abah" ucap Zia.
"Waalaikum salam, ada janji dengan Adam" tanya Abah.
"Ya abah" ucap Zia.
"Masuk saja, Adam ada di dalam" ucap Abah.
"Permisi Abah" ucap Zia.
"Ya" ucap Abah.
Saat Zia akan masuk Zia di kejutkan dengan Adam yang sekarang sedang memakai celana pendek dan kaos polos.
Zia langsung berbalik membelakangi Adam.
"Astagfirulloh, Zia kenapa gak ketuk dulu pintu" ucap Adam yang langsung masuk ke kamarnya mengambil sarung dan baju koko.
"Tadi pintunya tidak di kunci dan kata Abah masuk saja" ucap Zia.
"Ck Abah padahal aku baru selesai mandi" ucap Adam malu karena bisa bisa nya Zia melihat Adam yang sedang memakai kaos dan celana pendek.
__ADS_1
Zia menunggu Adam di ruangan tamu rumah Umi dan Abah, walau pun ada rasa tak enak karena langsung masuk tadi. Tetapi Zia juga tak salah karena Abah mengijinkan Zia masuk.
Adam datang kesana dengan pakaian lengkap dan duduk di samping Zia.
"Gus maafkan aku" ucap Zia tak enak.
"Tak masalah" ucap Adam.
"Benar Gus, tapi bukan kah laki laki tak masalah jika ber pakaian begitu di hadapan wanita karena aurat laki laki hanya dari pusar saja" tanya Zia.
"Ya tapi tetap saja aku malu Zia, atau jangan jangan kau suka kalau aku memakai pakaian begitu" tanya Adam.
"Ya ampun Gus, kau tau bahkan dulu aku pernah melihat perut laki laki tanpa sehelai benang pun" ucap Zia.
"Apa dia memakai celana" tanya Adam.
Zia mengerutkan keningnya.
"Ya tentu saja Gus dia pakai celana" ucap Zia.
"Lalu kalau kau pernah melihat laki laki tak pakai baju, lalu kenapa tadi pas kau melihat ku kau langsung ber balik membelakangi ku" ucap Adam.
"Aku hanya malu saja Gus, ibarat begini kau tertutup maka aneh saja kalau aku melihat kau hanya memakai kaos, tetapi laki laki di disko itu ber beda mereka dengan sengaja memperlihatkannya" ucap Zia.
"Jadi kau lebih suka aku yang mana" tanya Adam.
"Maksudnya" tanya Zia.
"Lupa kan saja" ucap Adam.
"Aah kau tak jelas" ucap Zia.
"Baiklah ayo belajar" ucap Adam.
"Ayo buka bukunya" ucap Zia.
"Apa saja" tanya Adam.
"Kita perkenalan saja ya" ucap Zia yang di balas anggukan kepala oleh Adam.
"Hallo my name is Aziya, you can call me Zia, I live in bandu** city, I want to be a doctor, anggap saja aku mau menjadi dokter" ucap Zia.
"Oh kalau misal orang lain tanya makanan kesukaan aku" ucap Adam.
"Nanti orang itu akan tanya What do you want to eat, lalu kamu jawab my favorite food is rice, itu pun kalau kau suka nasi" ucap Zia.
"Oh jadi rice itu nasi" ucap Adam.
"Ya, and this is a bowl, ini adalah mangkuk" ucap Zia.
"Mangkuk bahasa inggrisnya Bowl" ucap Adam sambil menulisnya.
"Lalu kalau inggrisnya sarung atau sholat lima waktu" tanya Adam.
"Sholat lima waktu pray five times, kalau baju koko Shirt koko dan kalau sarung ya sarung saja" ucap Zia.
"Apa lagi" tanya Adam.
"Jam Clock, hand phone inggrisnya A phone, kalau gelas ya Glass, air bahasa inggrisnya water, kalau api fire, kalau kalau kamar bed Room" ucap Zia.
"Kalau tanya siapa nama kamu" tanya Adam.
"What is your name" ucap Zia.
"Oh" ucap Adam.
Banyak lagi kata kata yang Zia ucapkan dan Adam tulis di bukunya hingga satu jam berlalu, Haddad datang kesana karena dia sudah selesai ber ceramah di kampung sebelah.
"Assalamualaikum" ucap Haddad.
"Waalaikum salam Ustadz Haddad" ucap Adam.
"Lagi apa" tanya Haddad karena menyadari ada Zia juga di sana.
"Lagi belajar, apa ceramahnya lancar" tanya Adam.
"Cukup lancar" ucap Haddad.
"Ustadz minumlah kau terlihat sangat kecapean" ucap Adam.
"Ya terima kasih" ucap Haddad.
Zia yang peka pun membawa satu gelas yang berisi air dari nampan yang tadi Umi bawakan dan memberikannya pada Haddad.
"Minum lah" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Haddad.
"Pelajarannya sudah selesai maaf aku harus pergi sebentar lagi Sholat Dzuhur" ucap Zia yang langsung berdiri dengan langkah yang tertatih tatih karena menahan sakit kakinya yang bengkak.
"Zia kamu kenapa" tanya Haddad.
"Hanya jatuh saja" ucap Zia.
"Bisa aku lihat" tanya Haddad.
Zia pun mengangkat kan sedikit roknya dan memperlihatkan bengkak di kakinya,
"Kenapa bisa terjatuh" tanya Haddad.
"Maaf Ustadz tadi Zia mau menolong saya tapi kami berdua terjatuh ke jurang" ucap Adam.
"Oh ya apa Gus tak apa apa" tanya Haddad.
"Aku tak apa apa, tapi Zia yang terluka" ucap Adam.
"Zia obati saja dengan salep nanti juga hilang" ucap Haddad.
"Ya, aku permisi Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" serempak.
Haddad melihat punggung Zia yang sekarang sudah tak terlihat lagi.
"Gus rencananya aku akan melamar Zia" ucap Haddad.
Adam bingung.
"Mendadak" tanya Adam.
"Ya mau bagaimana lagi kan, aku suka pada Zia walau pun sikap dan penampilannya masih belum pas tapi aku yakin dengan sedikit perubahan Zia pasti bisa lebih sempurna" ucap Haddad.
"Ya selamat" ucap Adam yang ikut bahagia tapi hatinya seolah tak suka pada ucapan Haddad barusan.
"terima kasih gus" ucap Haddad.
__ADS_1
bersambung..