Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 127


__ADS_3

Hari ini para santri sudah menunggu di Madrasah, Zia keluar dari dalam Rumah Abah namun Zia melihat Adam Tengah bicara dengan seorang wanita yang belum pernah Zia lihat sebelumnya.


"Siapa itu" gumam Zia.


Sedangkan Adam saat ini dia tak menyangka kalau teman sekolah nya dulu akan datang ke pesantren.


"Kau Aulia kan Putri nya Ustadz Tegar" tanya Adam.


"Ya Ustadz Adam" ucap Aulia.


"Jangan panggil ustadz panggil saja Adam kita kan seumuran" ucap Adam.


"Tak apa Ustadz Aku malu kalau harus menyebutkan nama" ucap Aulia, seorang janda yang Adam temui saat di Tasik.


"Kamu yang melamar pekerjaan di sini" tanya Adam.


"Ya Abi yang bicara pada Abah kamu, dan Alhamdulillah aku di terima" ucap Aulia.


"Oh syukur lah" ucap Adam.


"Oh ya apa sekarang aku sudah mulai mengajar" tanya Aulia.


"Jangan kamu istirahat saja dulu, pasti cape kan perjalanan jauh" ucap Adam.


"Hah ya baik lah aku akan pulang saja, nanti malam aku akan kesini lagi" ucap Aulia.


"Ya" ucap Adam tersenyum.


Zia hanya menatap Adam dari kejauhan saja.


"Dengan ku dia sangat kerus tapi dengan wanita lain dia malah akrab sekali" ucap Zia.


Mereka semua masuk ke Madrasah namun tak ada pelajaran sekarang hanya tanya jawab saja antar santri dan para guru.


Zia duduk di sebelah Adam namun sayang Adam seolah acuh pada Zia, bahkan Adam langsung pindah tempat duduk supaya tak berdekatan dengan Zia.


"Kenapa dia" gumam Zia.


Para Santri sudah menyiapkan catatan nya bahkan mereka juga sudah mempersiapkan banyak pertanyaan untuk mereka tanya kan.


"Ada yang mau tanya" tanya Fauzi.


"Gus" serempak para santri mengacung kan tangan nya.


"Kita mulai dari santri laki laki" ucap Fauzi.


"Gus aku mau tanya kalau misal kita batal puasa karena sakit misal kan, apa kita bisa membayar fidiah dengan apa" tanya nya.


"Akan aku jawab, syekh Nawawi Banten menjelaskan.


Bagi orang sakit, berlaku pada tiga kondisi yang berkaitan dengan boleh atau tidaknya menjalankan puasa.


Pertama :Bila diduga adanya mudarat yang memungkinkan tidak menunaikan ibadah puasa, maka makruh berpuasa bagi orang yang sakit dan diperbolehkan baginya berbuka.


Kedua: Bila mudarat yang diduga tersebut terwujud dengan dugaan yang kuat dapat menimbulkan kerusakan dan hilangnya manfaat suatu anggota badan, maka haram berpuasa bagi orang tersebut dan wajib berbuka (alias haram berpuasa). Bila ia tetap berpuasa sehingga meninggal dunia, maka ia meninggal dalam keadaan maksiat


Ketiga: Bila sakit yang diderita adalah sakit ringan seperti pusing, sakit gigi, maka tidak diperbolehkan berbuka (alias wajib berpuasa), kecuali bila khawatir akan bertambah sakitnya dengan berpuasa.


Dari kitab Fatawa al-Ramli yang berbunyi, "Imam al-Ramli menjawab bahwa fidiah adalah ibadah harta seperti zakat dan kafarat, maka niatkanlah mengeluarkan fidiah karena tidak berpuasa Ramadan."


Jadi Fidiah puasa disyaratkan berupa makanan pokok dengan memberi makan kepada satu orang miskin.


Untuk fidiah puasa orang sakit keras, lansia, ibu hamil dan menyusui, boleh dilakukan setelah subuh setiap hari puasa atau di luar bulan Ramadan, paham" ucap Fauzi.


"Paham" serempak.


"Ada yang mau tanya lagi" tanya Adam.


"Gus santri putri dulu" teriak para santri putri di belakang.


"Ya ya baik lah" ucap Adam.


Seorang santri putri mengacungkan tangan nya.


"Gus mau tanya kan ada 4 wanita yang sudah Alloh, yang pertama Maryam binti Imran a.s, lalu Khadijah binti khuwalid, Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Saw, dan Asiyah istri Fir'aun, pertanyaan nya kenapa Siti Asiyah bisa Alloh janji ka masuk surga padahal sudah jelas kalau dia istri Fir'aun" tanya nya.


"Siti Asiyah" gumam Adam.


"Bukan hanya istri Fir'aun, Siti Asiyah juga ibu angkat Nabi Musa a.s. yang pada saat itu ia temukan di Sungai Nil dalam sebuah keranjang dan kemudian dirawat dari kecil hingga Nabi Musa dewasa,


Dalam Al Qur'an surat Al qasas ayat 9 yang artinya:


“(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari.


Siti Asiyah berkata begitu pada Fir'aun, pada saat itu Firaun menghabisi semua nyawa anak laki laki karena dia mendapat mimpi kalau salah satu anak laki laki akan membunuhnya kelak, namun karena Firaun sangat cinta pada Istri dia mengijinkan istri nya merawat Nabi Musa as.


Walau Asiyah adalah seorang istri dari seorang Raja Firaun yang pada saat itu mengakui dirinya sebagai Tuhan dan harus disembah, tetapi Asiyah berpegang teguh pada pendiriannya dan mengikuti ajaran yang diperintahkan oleh Nabi Musa a.s. yaitu tetap menyembah Allah SWT. walau dengan cara diam-diam supaya tidak diketahui oleh suaminya yaitu Raja Firaun.


Ada beberapa alasan mengapa Asiyah di jamin masuk surga oleh Alloh SWT.


Pertama: dia mengajukan beberapa syarat saat akan di nikahi Firaun.


Asiyah mau di nikahi Firaun dengan tiga syarat yaitu membebaskan kedua orang tuanya dari penjara, membuat rumah yang indah, dan juga menjamin segala kebutuhan pokok untuk orang tuanya.


Kedua: percaya pada kebesaran Allah SWT.


Ketiga: memberikan kasih sayang yang tulus untuk nabi Musa as.

__ADS_1


Keempat: beriman kepada Allah hingga sampai akhir hayat" ucap Adam menjelaskan.


"Terima kasih Gus" ucap santri wanita itu.


"Sama sama" ucap Adam.


Tanya jawab berlangsung lagi hingga siang hari, bel pulang berbunyi karena sekarang puasa jadi tak ada istirahat ada juga paling lima sampai sepuluh menit.


Semua santri bubar karena akan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.


Zia melihat Adam yang masuk ke dalam rumah, dalam pikiran Zia sekarang lah waktu nya untuk bertanya pada Adam.


Namun belum juga berjalan jalan Zia sudah di halangi oleh Ainun.


"Zia" ucapnya.


"Apa Inun" tanya Zia kesal.


"Saran mu sangat bagus, Fau luluh juga pada ku" ucap Ainun.


"Ya terserah lah" ucap Zia.


"Kau kenapa" tanya Ainun.


"Kau enak Gus Fauzi luluh pada mu, tapi suami ku dia marah tanpa alasan pada ku, kalau kau sudah selesai aku akan pergi sekarang" ucap Zia yang langsung pergi dari sana menuju ke arah rumah Umi.


Zia langsung masuk ke dalam kamar nya karena ingin menyusul Adam yang sekarang ada di dalam kamar nya.


"Gus" Sahut Zia.


Adam menatap pada istri nya, namun Adam hanya menatap sekilas saja karena Adam masih marah pada Zia.


Namun Zia tak pernah menerima kecuekan, dia berjalan menuju tempat Adam duduk, Zia memeluk Adam dengan sangat erat.


"Kau kenapa" tanya Zia.


"Tak ada" ucap Adam.


Cup


Zia mencium bibir Adam sekilas karena Adam menghindar dari Zia.


"Kau kenapa, bilang pada ku? Apa karena wanita itu yang membuat my seperti ini" tanya Zia.


"Wanita mana" tanya Adam dingin dan datar.


"Wanita yang tadi pagi yang memakai kerudung merah, pasti karena dia kan, rasakan saja kalau sampai dia berani merebut mu dari ku maka aku tak akan membiarkan dia hidup" ucap Zia yang langsung berdiri dan langsung melipat kemeja tangan nya.


Adam hanya tersenyum tipis melihat istrinya itu.


"Ayo bilang kau kepincut wanita itu kan" tanya Zia marah.


"Lalu ada apa kenapa kau marah" tanya Zia.


"Soal tangan mu yang di pegang oleh santri baru itu" ucap Adam datar.


"Karena itu, ya ampun Gus kau cemburu" tanya Zia.


"Aku gak cemburu cuman wajar bukan kalau aku marah kalau kamu di pegang orang lain apa lagi laki laki" ucap Adam.


"Aku tak salah Gus, dia yang mencekal tangan ku lalu dia bilang dia suka padaku, sampai sekarang aku marah padanya" ucap Zia.


"Kau tak bohong" tanya Adam.


"Tentu saja tidak" ucap Zia.


"Tapi kau harus di hukum" ucap Adam.


"Hukum apa" tanya Zia.


"Aku akan memukul mu" ucap Adam.


"Hah kenapa begitu" tanya Zia sambil melihat Adam yang langsung keluar dari kamar nya mengambil sapu lidi yang ada di ruang tamu.


Adam kembali lagi ke kamar nya sambil mengambil sapu lidi di tangan nya.


"Kau gi la gus" ucap Zia.


Zia mencoba menghindar dari Adam namun Adam tetap saja mendekat pada Zia.


"Gus aku tak salah" ucap Zia mencoba menghindar, Zia takut karena rasanya pasti akan sangat sakit.


"Tapi ini hukuman yang pantas untuk mu" ucap Adam.


"Aku gak salah Gus" ucap Zia yang sekarang sudah berjalan ke arah belakang hingga terpentok ke dinding kamar itu bahkan kaki Zia sudah berada di atas kasur.


Zia menutup mata nya karena takut pada Adam apa lagi wajah Adam yang sekarang sudah sangat menakutkan.


Adam memukul kan pelan sapu lidi itu pada kaki Zia yang terhalang oleh rok.


Zia menatap pada Adam yang sekarang berada di hadapan nya.


"Kenapa pelan" tanya Zia.


"Aku gak mungkin menyakiti mu Zia" ucap Adam yang langsung memeluk Zia.


Zia membalas pelukan Adam.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tak salah" ucap Zia.


"Tak apa aku paham" ucap Adam.


Malam hari nya sekarang para santri sudah selesai melaksanakan shalat tarawih, para santri ada yang memilih tidur dan ada juga yang memilih tadarus bersama.


Zia dan Adam Langsung kembali ke kamar nya karena Adam Sangat mengantuk.


"Gus" ucap Zia yang sekarang tengah menyiapkan tempat tidur untuk Adam.


"Ya ada apa" tanya Adam yang sekarang tengah menyimpan kopiahnya.


"Aku perhatikan kau selalu risih kalau Ning Rena dekat dengan Gus Luthfi" tanya Zia.


"Aku lihat di cctv kalau mereka ada apa apa" ucap Adam.


"Ada apa apa bagai mana" tanya Zia.


"Ya aku melihat kalau Ning Rena dan Gus Luthfi bicara berdua di kamar santri putra lalu setelah itu Gus Luthfi memberikan gelang nya pada Rena" ucap Adam.


"Kau tau" tanya Zia.


"Aku lihat bahkan Gus Fauzi juga lihat" ucap Adam.


"Wah kenapa kau baru bilang sekarang" tanya Zia.


"Salah siapa? Kamu juga baru tanya sekarang" ucap Adam.


"Ya sih, tapi Gus apa kau merestui mereka" tanya Zia.


"Merestui apa" tanya Adam.


"Ya apa kau setuju kalau mereka sampai pacaran" tanya Zia.


"Gak ada, gak ada pacaran pacaran aku tak akan membiarkan hal itu terjadi" ucap Adam.


"Gus, Ning Rena itu sudah besar jadi wajar bukan kalau dia menentukan hidup nya sendiri" ucap Zia.


"Ya Zia tapi aku hanya mau Ning Rena itu Sukses aku mau dia bahagia" ucap Adam.


"Ya tapi kalau bahagia nya bersama dengan Gus Luthfi bagai mana" tanya Zia.


"Asal kan Ning Rena sudah besar maka aku akan ijin kan mereka" ucap Adam.


"Ya tapi Gus kalau misalkan Beberapa tahun lagi Ning Rena menikah maka Gus Luthfi kira kira berapa tahun ya" tanya Zia.


"Sekarang dia umurnya 27 tahun aku 26 tahun kalau nunggu Ning Rena tamat SMA 3 tahun dan kuliah 4 tahun misal jadi 7 tahun, kira kira umur Gus Luthfi 34 tahun" ucap Adam.


"Waw sudah tua ya" ucap Zia.


"Jangan di sebut tua nya Zia" ucap Adam.


"Ya yang tua terkadang lebih de wa sa" ucap Zia.


"Apa aku tak cukup de wa sa untuk mu Zia" tanya Adam.


"Kau sangat de wa sa Gus" ucap Zia.


"Ah sudah lah ayo tidur sudah malam" ucap Adam yang langsung rebahan di samping Zia.


Seperti biasa setiap pukul 2 dini hari Zia selalu saja membantu Umi menghangatkan makanan karena Zia kasihan melihat Umi yang harus menghangatkan makanan Sendirian.


Sahur kali ini Adam dan Zia sahur di rumah, bahkan Umi dan Abah juga sahur di rumah jadi mereka semua ngumpul di sana.


"Alhamdulillah sekarang sudah puasa ke 6 hari, gak kerasa ya padahal baru kemarin kita puasa" ucap Abah.


"Ya Abah begitu lah Waktu" ucap Adam.


"Ya kita tak bisa menebak" ucap Umi.


Siang hari nya para santri belajar seperti biasa namun ada yang baru yaitu guru tambahan yang sudah mulai mengajar dan baru saja dua orang.


Hingga sampai sore harinya para santri melakukan jadwal dengan tertib, hanya saja para santri putri yang lagi datang bulan mereka tak bisa ikut sholat dan kajian.


Mereka hanya diam saja di kamar, atau kalau tidak mereka membantu Umi mencoba masakan Umi.


malam hari nya mereka semua berbuka bersama bahkan para santri sekarang sudah memakan puding yang umi buatkan karena sesuai jadwal mereka tak boleh makan dahulu sebelum sholat Maghrib.


tetapi ada pengecualian untuk para santri yang emang sudah tak kuat ingin makan.


Abah membolehkan mereka makan.


karena Abah bukan melarang cuman takut nya mereka kekenyangan dan takut nya mereka mengundur undur kan waktu sholat.


Di dalam Qur'an surat Maryam ayat 59, Alloh SWT berfirman.


Yang Artinya : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


Yang Artinya : “Itulah sholatnya orang munafik, duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai sholat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam sholatnya kecuali sedikit. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).”


 bersambung


mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan atau ada kesalahan dalam hadits dan yang lain nya...


Mak othor mohon maaf sebanyak banyaknya..

__ADS_1


semoga amal baik kalian di ganti oleh Alloh SWT..


amin


__ADS_2