Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 44


__ADS_3

Malam harinya Zia tak mengajar Adam karena Adam marah pada Zia terlihat dari cara Adam bicara bahkan gelagat Adam pun bisa Zia rasakan.


"Gus" panggil Zia ada Adam.


Adam hanya menatap sekilas lalu kembali melanjutkan tadarus nya,


Zia pun tak tau kesalahan apa yang dia perbuat pada Adam hingga Adam marah begitu padanya.


"Baiklah sepertinya kau tak mau bicara dengan ku" sahut Zia dari arah belakang.


Zia memutuskan ke rumah Abah karena akan ijin kalau besok pagi Zia akan pulang dulu, mungkin Zia ingin libur beberapa hari saja.


"Assalamualaikum Abah" ucap Zia.


"Waalaikum salam" ucap Abah sambil membukakan pintu rumahnya.


"Zia ada apa malam malam datang kemari" tanya Abah.


"Ya Abah" ucap Zia.


"Mau ngajar Adam, Adam nya di Mesjid Neng" sahut Umi dari arah dalam rumah.


"Ayo masuk" ucap Abah.


Zia masuk dan duduk di ruang tamu.


"Tidak Umi aku bukan mau ngajar, tapi aku mau minta ijin" ucap Zia.


"Ijin apa" tanya Umi.


"Mau ijin kalau besok aku akan pulang mungkin dua sampai tiga hari aku akan libur" ucap Zia.


"Kenapa Neng" tanya Umi.


"Tidak Umi hanya saja aku ingin pulang" ucap Zia.


"Oh silahkan Zia kalau kamu mau libur dulu tak apa" ucap Abah.


"Terima kasih Abah umi" ucap Zia.


"Ya Neng" ucap Umi.


"Oh ya Umi saya mau ambil ponsel dari Gus Adam" ucap Zia.


"Sebentar Umi ambilkan" ucap Umi yang langsung mengambil ponsel Zia di kamar Adam.


"Terima kasih Umi" ucap Zia.


"Ya sama sama" ucap Umi.


"Aku permisi maaf sudah mengganggu, Assalamualaikum" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.


"Waalaikum salam" ucap Abah dan Umi.


Zia menutup kembali pintu rumah Umi dan Abah, namun saat Zia hendak berbalik ada Adam yang berdiri di hapannya.


Zia terkejut karena ada Adam disana.


Namun Zia tak bertanya apa apa karena Zia tau Adam sedang marah padanya.


Zia langsung pergi dari sana tanpa berkata apa apa, bahkan Adam pun tak berkata apa apa pada Zia.


Adam masuk kedalam rumah.


"Kasihan Neng Zia, pasti dia sedang sakit hati" ucap Umi.


"Bagai mana lagi Umi mungkin bukan jodohnya" ucap Abah.


"Ya Abah, Umi harap dengan Zia pulang dia bisa melupakan masalah ini" ucap Umi.


"Apa Zia pulang" tanya Adam.


"Ya dia ijin pada Abah kalau dia mau pulang" ucap Umi.


"Oh ya" tanya Adam tak percaya.


"Ya tapi ini lebih baik dari pada Zia berada di sini" ucap Umi.


Adam keluar dari sana hendak menemui Zia yang sekarang sudah masuk kedalam kamarnya.


"Ahh Zia sudah ke kamar" ucap Adam.


Adam kembali lagi ke rumahnya menemui Umi dan Abah.


"Umi kapan Zia akan pulang" tanya Adam.


"Pagi" jawab Umi.


"Oh" ucap Adam.


"Adam tadi Neng Zia membawa ponselnya" ucap Umi.


"Ya tak apa" ucap Adam.


Adam semalaman tak bisa tidur karena memikirkan Zia yang akan pulang.


"Astagfirulloh kenapa bayangan Zia selalu berputar putar di dalam kepala ini" ucap Adam.


Pagi harinya, Zia sudah mengemasi pakaiannya karena akan pulang terlebih dahulu, entahlah sekarang Zia terasa sangat cengeng bahkan dia langsung lari dari kenyataan pahit itu.


Setelah selesai Sholat Shubuh Zia langsung pergi dari sana untuk pulang ke rumah orang tuanya yang berjarak 1 km dari pesantren.


Adam mencari cari Zia dan saat ini Zia sudah hendak pulang dengan menarik koper,


Adam langsung menyusul Zia yang sekarang sudah berada di gerbang.


"Zia" sahut Adam.


Zia menatap ke belakang, menatap pada Adam yang baru saja memanggilnya.


"Kau akan pulang" tanya Adam.


"Ya" jawab Zia.


"Aku antar" ucap Adam.


"Tidak usah" ucap Zia.


"Ayo lah Zia" ucap Adam.


"Aku bisa sendiri Gus, lagi pula kau marah kan pada ku" jawab Zia.


Zia pergi sendiri tanpa menatap Adam lagi.


Tapi Adam tak mau Zia pergi darinya.


"Zia dengarkan aku, apa kau tak mau bertanya pada ku kenapa aku marah" tanya Adam.


"Untuk apa" tanya Zia.


"Kau tak peka" ucap Adam.


"Ya lalu kenapa kau marah Ustadz" tanya Zia.


"Karena kau mabuk, katanya kamu mau hijrah belajar menjadi baik tapi kenapa mabuk lagi" tanya Adam.

__ADS_1


"Aku hanya stres saja" ucap Zia.


"Baiklah aku akan pergi, oh ya aku lupa" ucap Zia yang langsung mengambil kertas yang dia lipat di saku jaketnya.


"Apa ini" tanya Adam.


"Surat cinta" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.


Adam menatap pada kertas itu lalu menatap pada Zia.


Adam penasaran dan membuka kertas itu ternyata isinya adalah bahasa inggris yang di artikan ke bahasa indonesia.


"Aah Zia" ucap Adam kesal.


Zia pulang ke rumahnya, dan saat itu Zia di sambut dengan kebahagiaan oleh orang taunya,


"Zia kenapa pulang" tanya Nita.


"Mah aku hanya ingin pulang saja" ucap Zia.


"Baiklah ayo masuk dan makan" ucap Nita.


"Aku gak lapar mah" ucap Zia.


"Lalu kau pulang mau apa" tanya Nita.


"Mau tidur" ucap Zia yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


Zia tidur di kamarnya, rasanya Zia sangat ingin menangis karena selalu saja Zia gagal dalam percintaan.


"Siapa lagi yang harus aku percayai" gumam Zia sambil menghapus air matanya.


Zia tertidur di kamarnya hingga siang harinya Zia bangun dan perutnya sangat lapar.


Zia keluar dari kamarnya dan melihat kalau mamah dan papahnya sedang makan,


"Kau mau apa" tanya Nita pada Zia yang sekarang akan duduk dan makan.


"Mau makan mah" ucap Zia.


"Cuci muka dulu Zia" ucap Nita.


"Ck mamah aku sangat lapar" ucap Zia.


"Biarkan saja Nit lagi pula Zia masih cantik walau pun tak cuci muka" ucap Topan.


"Ya pah, mamah sangat cerewet sekarang aku harap papah tak marah kalau mamah cerewet terus" ucap Zia.


"Papah sudah terbiasa" ucap Topan.


"Huh anak dan papah ini sama saja" ucap Nita kesal.


"Mamah marah" ucap Zia yang langsung pergi ke kamar mandi.


Zia menatap pantulan cermin yang berada di kamar mandi,


"Kurang apa aku padahal aku cantik" ucap Zia.


Brakkk


Suara keras terdengar di luar, Zia kaget mendengarnya, Zia hendak keluar dari sana namun tiba tiba pintunya macet dan gak bisa di buka.


"Siapa kalian" tanya Topan menatap pada laki laki asing yang baru datang itu.


"Jangan banyak bac*t, tangkap mereka" suara orang itu yang terdengar oleh Zia.


"Siapa mereka" gumam Zia.


"Tolong..... Lepas" teriak Nita.


"Kenapa pintu ini selalu macet" geram Zia.


Dengan sekuat tenaga Zia membuka pintu itu dan akhirnya pintu terbuka, Zia melihat keributan apa di luar dan ternyata kedua orang tuanya di bawa orang asing.


"Mamah" gumam Zia.


Zia bersembunyi di bawah meja makan karena orang orang itu menatap pada Zia.


Mobil yang berada di halaman rumah Zia pun melaju.


Zia menatap pada plat nomor mobil terakhir.


"Plat ****" gumam Zia.


Zia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Rayhan.


"Ayo kak angkat" ucap Zia.


📞📞


..."Kak" teriak Zia saat panggilannya sudah tersambung....


..."Ada apa Zia" tanya Rayhan....


..."Kak mamah dan papah di culik" teriak Zia panik....


..."Di culik bagai mana" tanya Rayhan....


..."***** nomor plat mobil yang menculik mamah dan papah, ayolah kak cari mamah dan papah" ucap Zia....


..."Baik lah kakak akan mencarinya" ucap Rayhan....


📞📞


"Ahh bagai mana sekarang aku harus apa" gumam Zia panik.


Zia membereskan makanan yang sudah tersaji di meja makan, karena kejadian ini rasa lapar Zia jadi hilang seketika.


Drtt drt


"Kak Ray, ada apa dia menghubungi aku lagi apa mamah sudah ketemu" gumam Zia.


📞📞


..."Zia mobilnya warna apa" tanya Rayhan....


..."Mobilnya tiga kak, pertama lamborgini warna merah dan keduanya Avanza warna hitam" ucap Zia....


..."Kalau yang ber plat itu warna" tanya Rayhan....


..."Warna hitam kak" ucap Zia....


..."Baiklah" ucap Rayhan....


..."Kak aku mohon tolong selamatkan mamah dan papah, aku yakin orang itu orang jahat kak" ucap Zia....


..."Ya kakak akan cari" ucap Rayhan....


📞📞


"Ya alloh tolong selamatkan kedua orang tua ku" ucap Zia berdoa.


Zia duduk di meja makan dengan terus menatap pada jalanan karena siapa tau saja orang tuanya bisa segera pulang.


Zia menangis karena baru saja hatinya di sakiti dan sekarang orang tuanya di culik.

__ADS_1


Zia mengusap air matanya yang terus menerus keluar.


Zia menatap pada jam dinding.


"Sekarang sudah waktunya Sholat Dzuhur" gumam Zia.


Zia melaksanakan Sholat dengan khusyuk bahkan Zia juga berdoa agar orang tuanya selamat dari penculik itu.


Sedangkan di pesantren Adam sedang menatap pada halaman pesantren dari depan rumahnya. Adam melamun memikirkan Zia yang saat ini hatinya terasa sangat sunyi karena Zia tak ada.


"Ya alloh baru juga beberapa jam aku sudah galau" gumam Adam.


"Gus ayo sudah waktu Sholat" ucap Fauzi menepuk punggung Adam.


"Ya ayo" ucap Adam.


Langkah Adam terhenti saat melihat Farid membawa banyak sekali undangan pernikahan.


"Undangan dari siapa Gus" tanya Fauzi.


"Undangan dari Ning Husna kalau yang ini khusus dari Ustadz Haddad untuk Zia" ucap Farid.


"Oh Zia gak ada, dia pulang" ucap Fauzi.


"Lalu bagaimana aku memberikan udangan khusus ini" ucap Farid.


"Biar aku yang berikan" ucap Adam.


"Benarkah Gus" tanya Farid.


"Ya tak masalah" ucap Adam sambil mengambil undangan dari tangan Farid.


Sedangkan Zia saat ini sudah melaksanakan Sholat bahkan dia juga berdoa agar orang tuanya baik baik saja.


Drtt drtt


Ponsel Zia bergetar.


📞📞


..."Kaka ipar" ucap Zia sambil menangis....


..."Zia bagai mana sekarang apa mamah dan papah sudah ketemu" tanya Raya....


..."Belum kak" ucap Zia....


..."Bagai mana ini" ucap Raya cemas....


..."Kakak tenang lah nanti kalau sudah ketemu aku akan beri kabar lagi" ucap Zia....


..."Aku yakin pak Ray akan segera menemukannya" ucap Raya....


..."Ya kak semoga saja bisa ketemu" ucap Zia....


...📞📞📞...


Zia semakin menangis namun Zia mendapat pesan dari Rayhan.


{Zia kakak sudah kirim kan anak buah kakak untuk menjemput mu, bersiaplah sekarang} pesan dari Rayhan.


"Baiklah aku akan kemasi pakaian ku" gumam Zia.


Zia mengemasi pakiannya pada tas besar, bahkan Zia tak melupakan sejadah dan mukena nya.


Zia mengunci pintu rumah orang tuanya itu, dan Zia memilih menunggu di luar rumah.


Saat itu Adam datang kesana karena akan memberikan undangan tadi.


"Zia" sahut Adam.


"Gus mau apa kesini" tanya Zia.


"Aku akan memberikan ini, tapi Zia kenapa kamu bawa tas besar, kamu mau kemana" tanya Adam.


"Aku akan ke kota, Gus orang tua ku di culik" ucap Zia.


"Apa di culik, naik apa kamu ke kota" tanya Adam.


"Anak buah kakak akan menjemput ku" ucap Zia.


"Oh ya tapi kau akan kembali kan" tanya Adam.


"Aku tak janji Gus" ucap Zia.


"Zia kau akan meninggalkan aku" ucap Adam.


"Maaf aku gak ada waktu mungkin itu mobil anak buah kakak" ucap Zia.


"Zia ini undangan dari Ustadz Haddad" ucap Adam.


Zia mengambilnya dan segera pergi dari sana naik pada mobil yang sekarang menjemputnya.


Adam menatap kepergian Zia.


Hatinya merasa tak ikhlas tapi mau bagai mana lagi Adam tak bisa melarang Zia karena ini masalah orang tuanya.


Adam kembali ke pesantren dengan langkah yang guntai karena jujur saja Adam sangat sepi karena kehilangan zia.


Zia di dalam mobil menatap pada undangan pernikahan itu, tapi Zia tak ada niat untuk membukanya.


"Aku harus apa" gumam Zia.


Namun ada secarik kertas yang berada di dalamnya dan terlihat oleh Zia,


"Apa ini" tanya Zia.


Zia membukanya dan melihat kertas itu ternyata isinya adalah..


...( Aziya dengan berat hati aku meminta maaf pada mu, niat hati aku ingin sekali menemui mu namun waktu tak membiarkan kita bertatap pandang, aku sangat menyesal Zia karena sudah menyakiti hati mu, aku sangat menyesal Zia, aku tau aku jahat tapi aku doa kan semoga ada laki laki yang baik yang bisa menjadi imam mu, tiada hal yang membahagiakan bagi ku selain kedatangan mu. Haddad)...


Zia membacanya dengan air mata yang tak henti hentinya menetes, bahkan sekarang air matanya sudah membasahi seluruh pipinya.


"Tenang Nona Tuan pasti akan membebaskan orang tua Nona" ucap Anak buah Rayhan yang sekarang sedang mengemudikan mobil.


"Ya" ucap Zia.


Zia akhirnya sampai di kediaman Rayhan, setelah turun dari mobil Zia di sambut hangat oleh kakak iparnya.


"Kak" ucap Zia pada Raya dan langsung memeluknya dengan penuh kesedihan.


"Kak apa kak Rayhan sudah menemukan mamah dan papah" tanya Zia.


"Belum ada kabar" jawab Raya.


"Oh ya bagai mana ini aku takut mamah dan papah kenapa kenapa" ucap Zia.


"Kamu jangan cemas, aku sangat yakin kalau mamah dan papah akan baik baik saja" ucap Raya.


"Ya semoga saja" ucap Zia.


Raya dan Zia berada di ruang tengah, mereka sesekali melihat ponselnya karena takutnya ada yang menghubunginya atau memberikan kabar baik.


Zia sejak tadi hanya menangis saja karena tak bisa membayangkan bagai mana kondisi orang tuanya sekarang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2