Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 109


__ADS_3

Bel pulang pun berbunyi semua santri kembali ke kamar nya karena sebentar lagi akan melaksanakan Sholat Jumat berjamaah.


Karena sekarang hari Jumat para santri putra melaksanakan Sholat Jumat nya di mesjid.


Adzan di mesjid pun berkumandang membuat semua santri langsung masuk ke dalam Mesjid.


Zia paham saat Radit dan kedua temannya masuk ke dalam Mesjid, Zia Langsung berpikir kalau mereka pasti akan Sholat.


Zia sekarang tengah bersiap di kamar nya karena akan sholat juga ke mesjid.


Zia sudah memakai mukenah dan mengambil wudhu di rumah supaya Zia tak harus mengambil wudhu lagi di kamar mandi mesjid.


Zia merasa heran karena melihat Radit dan teman teman nya yang masih ada di sana dengan membawa sarung dan kopiah.


"Apa dia akan mondok di sini juga" gumam Zia yang tak terlalu di pikirkan.


Sholat sekarang tanpa imam karena seperti biasa santri putri akan melaksanakan sholat secara masing masing.


Setelah selesai mereka langsung ke kamar nya, makan siang sebentar lagi jadi para santri harus segera bersiap.


Gus Luthfi yang biasa nya menjaga di kamar Santri putra sekarang dia berada di halaman pesantren, bahkan sekarang dia menjaga di sana.


Karena Abah mendapatkan laporan kalau ada para santri yang berani dekat di halaman pesantren.


Sebenarnya Abah tak melarang kalau para santri putra dan santri putri berinteraksi bebas cuman satu hal yang Abah takut kan, takut nya para santri semakin berani dan mencuri curi waktu untuk bersama di luar pesantren.


"Gus sedang apa Gus Luthfi" tanya Zia pada Adam di sana juga ada Rena yang sejak tadi mencuri curi pandang pada Luthfi.


"Dia menjaga di sini, karena kemarin Abah dapat kabar kalau ada santri yang pacaran" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya makan nya Ning jangan pacaran" kesal Adam yang melihat kalau Rena menatap pada Luthfi.


"Apa Gus? Kenapa aku" tanya Rena.


"Jangan terlalu dekat dengan laki laki, ingat Ning manusia punya Nafsu takut nya tak bisa mengendalikan" ucap Adam yang masih kesal karena melihat rekaman yang menampakkan Rena dan Luthfi.


"Gus kau ini kaya yang tak pernah muda saja" ucap Zia menyenggol lengan Adam.


"Aku tak mau karena Ning Rena itu masih sangat kecil" ucap Adam.


"Tapi Gus Ning Rena juga perlu kan dekat dengan santri putra" ucap Zia.


"Kalau aku bilang tidak ya tidak" ucap Adam Tegas dan langsung pergi dari sana.


Zia hanya menatap kepergian Adam.


"Tuh kan kakak kamu itu selalu saja ingin menang sendiri" ucap Zia pada Rena.


"Tak masalah Kak, lagi pula aku tak terlalu berharap pada Gus Luthfi" ucap Rena.


"Kenapa" tanya Zia.


"Lihat lah kak dia sudah tua, umur nya sudah matang untuk menikah kalau dia menunggu aku mau sampai kapan kak, aku masih kecil bahkan untuk lulus SMA pun aku perlu 3 tahun lagi" ucap Rena.


"Jangan menyerah begitu" ucap Zia.


"Tapi mau bagai mana lagi" ucap Rena.


"Besok Sabtu kan bagai mana kalau Minggu kita ke pasar" ucap Zia.


"Ya Ayo" ucap Rena.


"Baik lah" ucap Zia.


Malam hari nya Zia sudah berada di dapur bersama dengan Adam karena mereka akan membuat cemilan untuk mereka makan.


"Biar aku yang aduk" ucap Adam.


"Kenapa apa aku salah" tanya Zia.


"Tak salah hanya saja kau lama" ucap Adam.


"Oh" ucap Zia.


Zia menatap pada suaminya yang sekarang tengah masak.


"Gus kenapa kau tak ambil jurusan tata boga saja" ucap Zia.


"Buat apa" tanya Adam.


"Ya biar kau bisa jadi koki aja sekalian" ucap Zia.


"Itu pun kalau jadi Koki bagai mana kalau di ajari yang lain" tanya Adam.


"Ya sih, baiklah terserah apa mau mu saja" ucap Zia.


"Oh ya Zia, Gus Ilham dan Gus Yasya memberi tau kalau beberapa bulan lagi kita akan ke luar negeri lagi, tapi untuk kali ini lebih lama" ucap Adam.


"Hah kapan" tanya Zia.


"Entah tapi nanti di beri tau lagi" ucap Adam.


"Lama ya" tanya Zia.


"Ya mungkin sekitar satu tahun" ucap Adam.

__ADS_1


"Hah satu tahun, ya Alloh Gus itu sangat lama lalu aku di sini ngapain saja" ucap Zia.


"Zia jangan begitu kau lakukan aktifitas di sini seperti biasa dan aku akan belajar di sana" ucap Adam.


"Ya tapi" ucap Zia lagi.


"Soal biaya" tanya Adam.


"Bukan" ucap Zia.


"Kau tenang saja Zia soal biaya aku akan berikan kau uang lebih untuk setahun, jadi aku menafkahi mu kan" ucap Adam.


"Tapi Gus" ucap Zia.


"Apa lagi" tanya Adam.


"Aku akan kangen dengan mu" ucap Zia.


"Kau ini Zia sekarang tekhnologi sudah canggih kalau kau kangen pada ku tinggal telpon saja apa susah nya ya kan" ucap Adam.


"Ya Gus aku tau tapi bagai mana ya" ucap Zia.


"Apa lagi ayo lah kita goreng saja ini jangan banyak bicara" ucap Adam.


"Ya ayo" ucap Zia.


Pagi hari nya setelah melaksanakan Sholat Subuh, para santri langsung makan bersama bahkan sudah beberapa hari ini Radit dan kedua teman nya ikut makan di sana.


Ibu nya Radit dan ibu nya Rezky datang ke sana.


"Assalamualaikum" sahut mereka.


"Waalaikum salam" ucap Zia dan Adam yang sekarang tengah makan di dapur.


Abah keluar dari kamar nya.


"Ya ada apa" tanya Abah keluar dari rumah.


"Abah maaf kami menganggu pagi pagi" ucap nya.


"Tak apa Bu ayo masuk" ucap Abah.


"Ya Abah terima kasih" ucap Ibu nya Rezky.


"Ada apa datang kemari" tanya Abah yang tak suka basa basi.


"Jadi begini Abah kemarin Radit maksa pada saya, katanya dia ingin masuk pesantren di sini apa kah boleh?, apa masih ada kamar yang tersisa?" tanya Ibu nya Radit.


"Alhamdulillah tentu saja boleh, di sini kamar banyak karena kemari kemarin sempat ada kasus kan jadi pesantren kita kebawa bawa" ucap Abah.


"Dan sekarang sudah di polisi kan" ucap Ibu nya Radit.


"Ya terkadang baik buruk nya seseorang tak bisa kita lihat dengan baik bu" ucap Abah.


"Ya Abah".


"Apa Rezky juga akan masuk" tanya Abah.


"Ya Abah sama dengan Arfa juga kata mamahnya masukkan juga biar sekalian soal biaya nya berapa ya" tanya Ibu Radit.


"Kami tak mentarif biaya Bu, karena pesantren ini bisa berkembang karena donatur yang selalu memberikan, hanya saja para santri hanya harus membayar biaya makan saja, soal uang jajan itu di tanggung orang tua" ucap Abah.


"Oh baik lah Abah" ucap Ibu nya Radit menyodorkan uang pada Abah.


"Ibu ini terlalu banyak para santri yang lain juga hanya saya pinta dua ratus ribu hanya untuk biaya makan saja" ucap Abah.


"Dua ratus ribu apa cukup" tanya Ibu nya Rezky.


"Alhamdulillah cukup" ucap Abah.


"Baik lah Abah kita titip anak anak di sini" ucap Ibu nya Radit.


"Ya tak masalah" ucap Abah.


"Mungkin mulai besok anak anak akan mengambil pakaian nya dan pindah ke sini" ucap Ibu nya Radit.


"Ya kami di sini akan persiap kan kamar nya" ucap Abah.


"Baik lah Abah terimakasih kami permisi dulu" ucap nya.


"Ya" ucap Abah.


Zia sekarang berada di ruang makan karena akan menjaga di sana, Adam juga sama dia menjaga di ruang makan santri Putra.


"Ning di panggil Abah" ucap Gita pada Rena.


"Oh aku akan ke sana" ucap Rena yang langsung berangkat tanpa memperdulikan makanan nya yang ada di atas lantai.


"Ada apa" tanya Zia.


"Gak tau" ucap Gita.


"Apa penting ya" tanya Zia.


"Entah" ucap Gita.


Mereka menghabiskan makanan nya sampai habis, semua santri langsung menuju kamar nya bersiap karena akan belajar.

__ADS_1


Zia menatap pada Rena yang baru saja datang ke sana dengan terburu buru.


"Ada apa Ning" tanya Zia.


"Ini Abah minta buku Absen" ucap Rena.


"Oh" ucap Zia.


"Aku akan makan dulu nanti setelah ini aku akan bersiap" ucap Rena.


"Ya Ning aku duluan ya" ucap Gita.


"Ya" ucap Rena yang langsung menghabiskan makanan nya.


Zia menuju ke rumah Abah di sana juga sudah ada Adam yang sedang bersiap akan mengajar.


"Mau berangkat Gus" tanya Zia.


"Ya kamu cepat lah bersiap" ucap Adam.


"Ya aku akan bersiap" ucap Zia.


Di Madrasah santri sudah berdatangan hanya beberapa santri saja yang belum ke sana, Abah sudah ada di paling depan, saat ini Abah tengah melihat lihat buku absen melihat siapa saja yang tak masuk.


"vanes" sahut Abah menatap pada santri putri yang bernama Vanes.


"Kenapa kemarin tak hadir" tanya Abah.


"Hadir ke mana Abah" tanya Vanes.


"Kamu kemarin ijin, kamu ke mana" tanya Abah.


"Tapi Abah kemarin aku ada, aku masuk sekolah kemarin ya kan Fit" tanya Vanes pada teman nya.


"Ya Abah kemarin Vanes ada dia sama aku" ucap nya.


"Tapi di sini kamu ijin" ucap Abah.


"Salah yang nulis mungkin Abah aku ada" ucap Vanes.


"Munaf kamu juga gak ada" ucap Abah.


"Ada Abah" ucap Munaf.


"Robi, Arka, Patimah, Rena" ucap Abah.


"Aku ada Abah" ucap Arka.


"Ada Rena juga kemarin kan Ning Rena masuk" ucap Abah berfikir sejenak.


Zia dan Adam baru saja datang ke sana dia saat ini tengah mengelap kaki nya pada lap di sana.


"Siapa yang kemarin bagian Absen" tanya Abah pada santri senior.


"Gus Adam" jawab Fauzi.


"Adam" gumam Abah.


Rosa yang saat itu ada di sana tersenyum tipis saat Adam dan Zia hendak masuk ke dalam.


"Ya Abah jadwal absen memang Gus Adam tapi karena kemarin Gus Adam belajar jadi aku suruh Zia yang mengabsen para santri" sahut Rosa.


Yang membuat Zia menatap pada Abah, karena Zia tau kalau sekarang Sedang ada masalah.


"Ada apa" tanya Zia.


"Kemarin aku suruh kamu menulis para santri yang gak masuk kan" tanya Rosa.


"Ya, tapi saat aku lihat absen sudah di isi" ucap Zia.


"Tapi Zia di sini tertulis kalau para santri yang hadir di sini jadi ijin" ucap Abah.


"Aku pikir Gus Adam yang sudah mengabsen jadi aku tak mengabsen lagi" ucap Zia.


"Tapi kemarin aku tak absen" ucap Adam.


"Apa tapi pas aku lihat di sana sudah ada" ucap Zia.


"Sudah tak masalah" ucap Abah karena tak mau ada perdebatan di sana.


"Abah akan hapus ini dan beri tau Abah siapa saja yang kemarin tak masuk" ucap Abah.


Para santri membicarakan nama santri yang tak masuk karena alasan sakit dan ada juga yang ijin pulang.


Zia merasa bersalah karena dia tak teliti kemarin.


"Aku pikir Gus Adam yang isi" gumam Zia.


Pelajaran pun di mulai, entah kenapa Zia sangat merasa kalau setelah Zia keluar dari penjaga para santri terlihat seperti tak suka pada Zia.


Karena Zia menggurui jadi dia harus sabar dan tak boleh asal bicara, karena takutnya para santri yang lain akan semakin tak suka pada Zia.


"Baik lah aku akan tulis kan pelajaran kalian di papan tulis kalian tulis di buku masing masing ya" ucap Zia.


"Ya kak" serempak.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2