
Malam hari nya para santri selesai melaksanakan sholat tarawih dan malam ini juga Abah melaksanakan dzikir dan tadarus.
Keesokan harinya para santri sahur dengan makanan seadanya.
Kabar kedatangan Ustadz Arifin Langsung menyebar di telinga para santri.
Ada yang menunggu hal itu dan ada juga yang kurang senang dengan kedatangan dia ke pesantren.
Namun karena mereka patuh pada Abah mereka tak berani bilang pada Abah.
Namun Abah sudah ingatkan pada para santri untuk tidak terlalu berharap karena hal yang paling menyakitkan adalah berharap kepada manusia.
"Ya Alloh semoga tak terjadi apa apa nanti nya" batin Abah menghawatirkan kedatangan Arifin.
Hari Minggu adalah hari bebas, para santri mulai merapihkan kamarnya masing masing bahkan ada juga yang membantu tukang yang membangun kelas.
Abah cukup bersyukur karena beberapa Minggu saja kelas sudah hampir beres hanya Tinggal mempercantik saja dinding dengan mengecat tembok.
Saat ini Zia tengah menatap ke arah gerbang masuk pesantren, hingga ada sebuah mobil berwarna hitam yang masuk ke dalam pesantren.
Para santri yang ada di sana langsung menatap pada mobil itu.
Turun lah seorang laki laki yang para santri kenal dengan Ustadz Arifin.
Ustadz penceramah yang nama nya tengah melambung tinggi namun dengan kejayaan nya itu dia lupa pada siapa dia belajar dahulu.
"Assalamualaikum" ucap Arifin.
"Waalaikum salam" ucap para santri serempak.
Arifin masuk ke dalam rumah Abah, Abah sekeluarga menyambut nya dengan baik karena Abah juga tak ingin ada masalah nanti nya.
"Ada apa datang kemari" tanya Abah.
"Hari ini aku tak ada jadwal jadi aku datang kesini karena untuk memenuhi permintaan Abah untuk ceramah di sini" ucap Arifin.
"Oh" ucap Abah.
"Baik lah aku mau ceramah nya di mulai sekarang karena bagi ku waktu adalah uang" ucap Arifin.
"Ustadz kalau kau menganggap waktu adalah uang kenapa kau kemari, karena Abah tak yakin akan membayar mu" ucap Abah.
"Aku tak akan minta bayaran" ucap Arifin.
"Sebentar lagi saja para santri sedang sibuk membereskan kamar mereka" ucap Abah.
"Ishh apa pesantren ini masih menggunakan peraturan yang dulu, Abah seharusnya kau sewa Marbot untuk membereskan kamar para santri" ucap Arifin.
"Ya tapi selagi kita masih bisa melakukan nya sendiri apa salahnya" ucap Abah.
"Pemikiran Abah sangat singkat, padahal Abah dari sekalian banyak santri mereka pasti kecapean karena pelajaran lalu mereka di suruh beberes sendiri" ucap Arifin.
"Tapi ini sudah kita lakukan selama 24 tahun kan" ucap Abah.
"Ya tapi sekarang jaman nya berbeda bah" ucap Arifin.
"Abah hanya ingin menjadi kan para santri sebagai orang yang mandiri, karena kita gak akan tau kalau kita pakai pembantu apa para santri akan bisa mencuci pakaian nya sendiri" ucap Abah.
"Terserah lah" ucap Arifin.
Lama mereka diam, akhirnya Arifin bicara lagi pada Abah.
"Kapan bisa mulai acaranya aku sudah terlalu lama di sini" ucap Arifin.
"Baik lah ayo kita ke mesjid sekarang" ucap Abah.
Mereka pergi ke Mesjid, namun Abah memanggil Luthfi terlebih dahulu.
"Ya ada apa Abah" tanya Luthfi.
"Panggil para santri supaya datang ke sini" ucap Abah.
"Tapi Abah mereka tengah mencuci pakaian mereka" ucap Luthfi.
"Sebentar saja" ucap Abah.
"Baik Abah" ucap Luthfi.
Luthfi memanggil para santri untuk datang ke mesjid, padahal mereka tengah mencuci pakaian bahkan ada juga yang mengantri akan mandi.
"Ayo segera lah ke Mesjid" ucap Luthfi.
"Tapi Gus kami belum selesai" ucap para santri.
"Kata Abah sebentar saja" ucap Luthfi.
Para santri semua langsung meninggal kan pekerjaan nya karena merasa di panggil oleh Abah.
Luthfi berjalan ke arah kamar para santri putri.
"Abah meminta kita untuk segera ke mesjid sekarang" ucap Luthfi.
"Tapi aku belum selesai" ucap santri putri.
"Sebentar" ucap Luthfi.
Para santri langsung berjalan ke arah mesjid, Luthfi masuk memastikan kalau tak ada lagi santri yang tertinggal di dalam kamarnya.
"Ayo" ucap Luthfi.
Luthfi berjalan melihat lihat kamar santri.
"Ayo" ucap Luthfi.
"Ada apa Gus" tanya Gita.
"Kata Abah kita di minta ke mesjid" ucap Luthfi.
"Aku belum mandi" ucap Gita.
"Tak apa lah Git kita mandi nya nanti saja" ucap Rena sambil membenarkan kerudung nya.
"Baik lah Ayo" ucap Luthfi.
Mereka semua masuk ke dalam mesjid, Adam dan Zia yang masih ada di halaman rumah Abah pun jadi heran karena para santri menuju mesjid semuanya.
"Ada apa Gus" tanya Zia.
"Entah aku gak tau" ucap Adam.
__ADS_1
"Kita ke sana saja" ucap Zia.
"Baik lah ayo" ucap Adam.
Mereka juga masuk kedalam mesjid.
"Assalamualaikum" ucap Arifin.
"Waalaikum salam" serempak para santri.
"Baiklah aku akan mulai pengajian nya" ucap Arifin.
Arifin membacakan mukadimah yang cukup panjang.
"Bagai mana hidup di pesantren" tanya Arifin.
"Baik ustadz" serempak.
Arifin tersenyum mendengar hal itu.
"Kalian akan tau rasanya hidup jika tinggal di kota bukan di kampung" ucap Arifin.
Para santri tersentak kaget namun mereka tak bisa bicara karena Takut nya Abah marah.
"Hidup kalian itu masih panjang jangan mau di jajah orang lain, kalian harus menentukan hidup kalian sendiri kalian jangan mau di suruh untuk mandiri mandiri mandiri karena kita juga butuh orang lain, manusia itu makhluk sosial jadi saling membutuhkan, kamu membutuhkan pembantu dan pembantu membutuhkan pekerjaan, kalau semua hal di lakukan sendiri maka pembantu Harus mencari pekerjaan apa" ucap Arifin yang membuat santri tak paham pada perkataan nya.
"Apa lagi kalian seperti terkurung dalam aturan aturan bo doh yang membuat kalian stres, hidup lah di kota kalian akan tau rasanya hidup di atas kaki sendiri apa lagi hidup di kota itu bebas kita bisa menentukan hidup kita sendiri" ucap Arifin.
Abah menatap pada Arifin yang tengah fokus pada para santri.
Bahkan santri senior seperti Adam, Fauzi dan Farid pun sudah menampakan wajah tak suka pada Arifin.
"Hidup itu hanya satu kali jadi nikmati saja karena kita gak akan tau kapan kita mati, jadi untuk apa kita berada dalam posisi terkurung dalam sangkar, bahkan burung juga berusaha keluar hanya untuk hidup bebas, lalu kenapa kita malah memilih diam di dalam sangkar" ucap Arifin.
"Jangan lupakan kalau mati juga hanya satu kali Ustadz" ucap Adam dengan wajah yang datar.
"Setidaknya kita tak di kekang" ucap Arifin.
"Ustadz apa yang harus kita lakukan kalau sedang bulan puasa tapi kita malah tidur terus" ucap santri.
"Puasanya secara tidak langsung batal" ucap Arifin.
"Kenapa" tanya santri itu.
"Karena kebanyakan tidur akan membuat kita semakin lapar dan jauh pada Alloh karena bukan puasa begini kita di anjurkan untuk melakukan itikaf dan tadarus Al-Qur'an kalau kita tidur terus maka kita akan melewatkan pahala itu" ucap Arifin.
"Apa di pesantren ini kalian tak di ajarkan, sampai sampai kalian tak tau jawaban nya itu, gak heran lah orang kampung jadi pendidikan seadanya hidup seadanya, makan nya aku Saran kan pesantren lah di kota ada pesantren Nurul Huda yang menyajikan berbagai macam pelajaran bahkan di sana juga ada beasiswa untuk para santri kuliah di universitas yang kalian inginkan" ucap Arifin lagi.
Abah tersentak kaget, dengan secara tidak langsung Arifin sudah mempromosikan pesantren lain pada para santri.
Abah tak bicara dia hanya diam saja mendengar kan penjelasan yang di bicarakan oleh Arifin.
"Apa lagi kalian akan mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan apa yang kalian butuh kan" ucap Arifin.
Semua santri saling menatap satu sama lain, bahkan Abah dan yang lain nya pun hanya diam saja.
"Itu hanya saran aku saja selebihnya terserah kalian, aku gak akan rugi kalau kalian tak masuk ke pesantren itu tapi justru kalian lah yang akan rugi" ucap Arifin.
Adam menatap dengan tatapan tajam pada Arifin.
"Ustadz bisakah sampaikan ceramah yang bermanfaat saja pada para santri" tanya Adam.
"Kurang bermanfaat apa ilmu yang aku bagikan ini" ucap Arifin.
"Ilmu ku banyak yang belum kalian pelajari jadi kalau aku berikan semuanya pada kalian aku takutkan akan memakan waktu yang banyak apa lagi waktu ku juga tak banyak di sini" ucap Arifin.
"Oh" ucap Adam.
"Baik lah hanya itu saja yang bisa aku sampai kan" ucap Arifin.
"Mau kemana Ustadz, bahkan aku saja belum mendengar tema apa yang kau sebut kan" ucap Abah.
"Ilmu ku terlalu berharga" ucap Arifin tersenyum angkuh pada Abah.
"Ustadz lebih baik anda pulang karena di sini kau tak akan menghasilkan uang" ucap Adam yang sudah cukup marah pada kesombongan Arifin.
"Kau mengusir aku" tanya Arifin.
"Bukan mengusir hanya saja aku tak mau kau berlama lama di sini karena kau sendiri yang katakan kalau Waktu mu itu sangat berharga" ucap Adam.
"Kau sombong Adam, bahkan belum tentu kau punya ilmu yang aku punya" ucap Arifin.
"Aku bo doh dalam ilmu Ustadz tapi setidaknya aku tak bod oh dalam adab" ucap Adam.
"Berani sekali kau bicara begitu" ucap Arifin
"Maaf Ustadz" ucap Abah.
"Menyesal aku berada di sini, kau anak kecil tapi omongan mu sangat besar aku hanya berharap semoga kau merasa kan apa yang aku rasakan" ucap Arifin.
Adam memutar bola matanya malas.
"Silahkan" ucap Adam yang langsung berdiri dan mempersilahkan Arifin untuk pergi dari sana.
"Adam Duduk" ucap Abah penuh penekanan.
Adam kembali duduk karena tak mau membantah Abah.
Sedangkan di barisan paling belakang.
"Suami mu Sangat berani" ucap Ainun berbisik pada Zia.
"Suami siapa dulu" ucap Zia.
"Dasar sombong" ucap Ainun tersenyum.
"Sombong kepada orang sombong itu shodaqoh" ucap Zia.
"Terserah" ucap Ainun.
Arifin berdiri dan hendak memukul Adam.
Dengan cepat Abah langsung menghentikan aksi nya itu.
"Kalau kau mau melakukan kekerasan bukan di sini tempatnya" ucap Abah.
"Abah untuk pertama kali nya aku di permainkan begini, aku tak rela aku akan pasti kan kalau kalian akan menyesal karena melakukan ini padaku" ucap Arifin.
"Apa yang akan kau bukti kan" tanya Abah.
__ADS_1
"Aku punya segalanya" ucap Arifin.
"Satu hal yang kau tak punya adab" ucap Adam.
"Dam diam" ucap Abah.
"Baik lah kalau kau merasa kau pintar tolong Jawab pertanyaan Abah" ucap Abah
"Apa" tanya Arifin.
"Kenapa tuhan menamakan dirinya sebagai Alloh SWT" tanya Abah.
Arifin berpikir sejenak.
"Ya karena itu terserah padanya" ucap Arifin.
"Jelaskan pada ku kenapa ada hari dan kenapa ada wedal" tanya Abah.
Arifin langsung kebingungan karena dia belum pernah belajar itu sebelum nya.
"Aku akan pergi dari sini lama lama di sini aku jadi pusing" ucap Arifin yang langsung pergi dari sana.
"Astaghfirullah" ucap Abah.
"Kalian boleh kembali lagi, maaf sudah menganggu waktu kalian" ucap Abah pada para santri.
"Siap Abah" ucap para santri serempak.
Semua santri kembali ada yang melanjutkan mencuci pakaian ada yang membereskan kamarnya ada juga yang mengantri untuk mandi.
"Ada ada saja dia ini" ucap Abah.
"Abah lain kali jangan biarkan dia datang kesini" ucap Adam.
"Mau bagai mana Dam, dia mantan santri di sini, mereka bebas datang kemari" ucap Abah.
"Oh baik lah" ucap Adam.
"Baiklah kembali lagi" ucap Abah.
Adam kembali lagi ke rumah namun dia melihat Zia yang sekarang ada di halaman mesjid bersama dengan Ainun.
"Zia" sahut Adam.
Zia yang masih mengobrol dengan Ainun pun langsung pergi dari sana.
"Aku akan pulang" ucap Zia.
"Ya aku juga akan pulang" ucap Ainun.
Zia berjalan ke arah rumah Abah.
"Ada apa Gus" tanya Zia.
"Bisa kah kau pijat aku, badan ku terasa nyeri" ucap Adam.
"Baik lah ayo" ucap Zia.
Mereka masuk ke kamar.
Adam membuka kaos hitam yang dia pakai.
"Aku akan sambil tengkurap" ucap Adam.
"Kau lupa melepas kan sesuatu" ucap Zia.
"Melepas kan apa" tanya Adam.
"Sarung mu" ucap Zia.
"Aku sakit badan Zia" ucap Adam.
"Ya deh ya, rupanya suami ku tak bisa di ajak bercanda" ucap Zia.
Adam mendekat pada Zia, dengan cepat Adam menghujani Zia dengan beberapa kecupan.
"Pijat sekarang atau aku akan pergi" ucap Adam.
"Ya sayang" ucap Zia.
Zia memijat mijat punggung Adam.
"Gus apa yang di maksud Abah tadi" tanya Zia.
"Yang mana" tanya Adam.
"Yang kenapa tuhan menamakan dirinya Alloh" tanya Zia.
"Simpel Zia, ada hadist yang mengatakan.
"Berfikir lah tentang ciptaannya dan jangan berpikir tentang pencipta karena kamu tak akan mampu memikirkan nya" begitu lah kata hadist" ucap Adam.
"Lalu jawaban apa" tanya Zia.
"Tak ada jawaban nya, hanya Alloh saja yang tau" ucap Adam.
"Oh lalu tentang hari" tanya Zia.
"Ya hari, kamu gak tau hari? Hari biasa Senin selasa Rabu Kamis itu hari" ucap Adam.
"Kalau wedal" tanya Zia.
"Wedal itu hari juga cuman lebih ke simbol" ucap Adam.
"Apa maksudnya" tanya Zia.
"Jadi begini kalau di wedal, Senin itu bunga, selasa api, Rabu daun, kamis angin, Jumat air, Sabtu bumi, dan Minggu Mega" ucap Adam.
"Maksud nya" tanya Zia yang belum paham.
"Ya jadi begini gak akan ada Senin kalau gak ada Selasa gak akan ada Selasa kalau gak ada Rabu, jadi saling melengkapi lah" ucap Adam.
Adam melihat Zia yang masih berpikir.
"Begini lah kalau di wedal ya, Senin itu kan bunga, setangkai bunga tak akan hidup kalau tak ada api atau panas nya api, lalu bunga tak akan tumbuh kalau tak di barengan dengan daun yaitu Rabu, bunga juga tak akan tumbuh kalau tak ada angin, lalu di siram pakai air yaitu Jumat, tapi ada hal yang membuat semua itu sia sia, kalau bunga tak di taman di bumi atau di tanah, lalu ada Minggu yang artinya Mega dan Mega ini berfungsi untuk melindungi bunga dari panas nya Matahari" ucap Adam.
"Aku gak paham" ucap Zia.
"Sudah lah jangan di pikirkan lagi pula itu menurut aku saja yang paling penting semuanya berperan penting dalam kehidupan manusia" ucap Adam.
__ADS_1
"Ya baik lah" ucap Zia.
bersambung...