
Adam harus kembali dari kamar Zia tanpa balasan maaf, Adam sungguh menyesal karena sudah melakukan itu entah kenapa amarahnya sekarang tak bisa dia kendalikan.
"Tidurlah di luar, renungi kesalahan mu" ucap Abah.
Adam hanya mengngangguk paham saja karena begitulah Abah setiap Adam melakukan kesalahan pasti Abah memintanya untuk tidur di Mesjid dan merenungi kesalahannya.
Sampai malam harinya Zia tak keluar dari kamar bahkan makanan pun Rena yang antar ke dalam kamar, Adam memastikan kalau Zia harus makan sampai Adam rela menunggu Rena di luar kamar untuk melihat kalau Zia makan.
Setelah mengajar para santriwan dan santriwati, Adam menatap Mesjid yang luas itu tak ada siapa pun disana, hanya ada dia dan keheningan.
"Ini lebih baik" gumam Adam.
Adam meringkukkan tubuhnya di atas sejadah rasa dingin menyeruak sampai ke kulit Adam, Adam menggigil kedinginan tapi dia coba tahan karena ini lah hukuman yang pantas untuknya.
Saat ini Zia sedang duduk di bibir ranjang ada Marwah yang sudah tidur di bawahnya, Zia merasa bersalah apa lagi mendengar dari Rena kalau kaki Adam sampai membiru karena Abah.
Dari Rena juga Zia tau kalau sekarang Adam tidur di Mesjid karena hukuman dari Abah.
Zia menatap jam dinding yang ada di kamarnya.
Jam menunjukan pukul dua belas malam dan Zia masih tak bisa tidur karena kejadian tadi siang.
Zia memutuskan untuk keluar dari kamar karena ingin ke kamar mandi.
Namun mata Zia menatap Mesjid dia jadi teringat pada Adam yang sudah Zia pastikan berada di sana.
Langkah kaki Zia menuju Mesjid, Zia tau betul kalau wanita yang sedang datang bulan tak boleh masuk kedalam Mesjid.
Jadi Zia hanya melihat Adam dari jendela besar Mesjid itu dan benar saja Adam sedang tidur disana dengan badan yang mengigil kedinginan karena tak memakai selimut.
Zia mengambil selimut kecil yang berada di kamarnya, karena Zia membawa dua selimut kecil jadi pikir Zia tak masalah jika harus meminjamkannya pada Adam.
Namun setelah membawa selimut, Zia bingung harus bagaimana cara masuk kedalam Mesjid karena dia tak mungkin masuk kedalam.
"Hey kau akan masuk" tanya Zia pada seorang laki laki santriwan yang akan masuk kedalam mesjid.
"Ya" jawabnya.
"Tolong berikan selimut ini pada Gus Adam" titah Zia.
"Gus Adam sedang tidur" ucapnya.
"Tolong pakaikan selimut ini kasihan nanti dia sakit" ucap Zia.
"Baiklah" ucap laki laki itu.
Zia menatap pada laki laki itu yang sekarang sedang memakai selimut pada Adam, dan dengan cepat laki laki itu keluar lagi dan menghampiri Zia.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Sama sama".
Zia kembali ke kamarnya dan tidur walau pun selalu Zia paksakan karena kantuknya belum datang.
Paginya kira kira pukul 3 dini hari, Adam sudah bangun dan menatap pada selimut yang sekarang sedang membalut tubuhnya.
Adam menatap pada selimut itu.
"Punya siapa ini" gumam Adam, namun pikirannya yang sedang di penuhi Marwah pun mengalih pada Marwah.
"Ning kau sangat perhatian" gumam Adam sambil tersenyum megang selimut itu.
Adam menatap pada jam dinding sudah menunjukan pukul tiga, Adam memutuskan untuk mengambil Wudhu karena sebentar lagi akan Adzan subuh, bahkan para santri pun sudah banyak yang bangun.
Setelah selesai Sholat dan mengaji para santri akan beres beres di kamarnya bahkan ada sebagian yang mencuci karena sekarang hari minggu jadi para Santri bebas dan tak sekolah.
"Zia maafkan aku karena sudah menyuruh mu kemarin, tapi benar Zia aku lupa" ucap Marwah lemah lembut padahal dalam hatinya dia mengumpat kesal pada Zia.
"Tak masalah, justru aku lah yang harus minta maaf aku salah" ucap Zia.
"Kau tak marah" tanya Marwah.
"Tidak".
"Syukurlah" ucap Marwah.
__ADS_1
Zia pergi dari sana membawa pakian kotornya karena sekarang dia akan mencucinya, dan untuk pertama kalinya Zia mencuci baju sendiri karena selama ini pakian Zia selalu di cuci oleh pembantu dan itu pun menggunakan mesin cuci.
Dan sekarang Zia mencuci menggunakan tanganya sendiri.
Dengan di temani oleh Rena dan Gita, Zia pun mencuci bajunya di tempat para santri lain mencuci pakian juga.
Sedangkan di dalam kamar Adam datang untuk menemui Marwah, niat Adam akan mengembalikan selimut itu.
"Ning ini selimut mu, terima kasih" ucap Adam.
"Hah selimut? Itu bukan selimut ku Gus ini selimut ku" ucap Marwah sambil memegang selimutnya yang berada di atas ranjangnya.
"Oh lalu ini punya siapa" tanya Adam yang langsung pergi dari sana meninggalkan Marwah.
"Tak apa lah nanti juga pasti akan ada yang mencari, biar aku cuci saja" ucap Adam.
Adam mencium Selimut itu wangi parfum lavender yang selalu Zia pakai.
"Aku tau bau siapa ini" gumam Adam.
"Ning apa ini selimut mu" tanya Adam pada adiknya Rena.
"Bukan Gus, kau tau kan selimut kita sama lagi pula aku gak punya motif begini" ucap Rena.
"Oh terima kasih".
" sama sama".
Adam melihat Zia yang sekarang sedang menjemur pakian, ada Fauzi juga yang membantu Zia menjemurkan pakaian Zia.
"Syukurlah Zia sudah bisa tersenyum lagi" ucap Adam.
Adam mencuci selimut itu dan menjemurnya, semua pakaian para santri di jemur secara bersamaan di lapangan yang cukup luas di belakang Madrosah.
Para santri hanya tinggal menamai saja pakiannya supaya tak tertukar dengan punya orang lain.
Adam duduk di taman dia melihat lukanya yang masih sangat perih apa lagi sekarang warnanya membiru dan jika Adam sentuh maka rasanya akan sangat sakit.
Zia datang kesana sambil membawa obat merah dan kapas.
Zia duduk di kaki Adam jika Adam duduk di kursi taman maka Zia duduk di tanah yang di tumbuhi rumput liar yang pendek pendek.
"Kenapa duduk di bawah, ayo naiklah" titah Adam namun hanya penolakan yang Adam dapatkan.
Zia mengeluarkan obat merah dan kapas yang berada di saku gamisnya, dengan teliti Zia mengobati luka Adam karena dari dulu juga Zia sering mengobati Lukas anak buah kakaknya yang sering terluka.
"Tetap begini jangan sampai basah" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.
"Tunggu Zia" ucap Adam yang menghentikan langkah Zia.
"Terima kasih dan Maaf" ucap Adam.
Namun Zia tak menjawab dia hanya pergi saja dari sana meninggalkan Adam sendirian.
"Aku tau kamu marah, tapi kamu masih perhatian" gumam Adam.
Hari ini Zia memutuskan untuk pergi ke pasar bersama dengan Rena dan Gita, tak ada sesuatu yang akan Zia beli hanya saja Zia ingin jalan jalan karena bosan berada di pesantren.
Adam pulang ke dalam rumah dia masuk kedalam kamarnya, namun satu hal yang menjadi pusat perhatian Adam yaitu ponsel Zia yang pernah adam simpan di atas meja kecil.
"Ada banyak yang menelpon Zia" gumam Adam.
Drttt drtt
📞📞
"Zia ayolah jangan menolak aku lagi aku akan datang kesana, aku tau kalau kau sekarang ada di pesantren" ucap Akash mantan kekasih Zia.
"Maaf Zia sedang belajar" ucap Adam.
📞📞
Ucap Adam yang langsung menutup ponselnya dan menaruhnya di tempat semula.
Adam keluar dari kamarnya dan mencoba menemui teman temannya.
__ADS_1
"Gus Fauzi" sapa Adam.
"Gus Adam ayo pergi" tanya Fauzi.
"Kemana" tanya Adam.
"Aku akan ikut Zia, Ning Rena, dan Gita, mereka akan pergi ke pasar jalan jalan" ucap Fauzi.
"Oh".
"Ayo ikut ada Gus Farid juga" ucap Fauzi.
"Ayo" ucap Adam.
Ketiga wanita itu sudah menunggu di luar pesantren, dan ketiga Gus tampan itu keluar dan menghampiri mereka.
"Ayo berangkat" ucap Fauzi.
"Tunggu aku lupa membawa uang" ucap Zia.
"Tenang saja Ukhti ada Abang Fauzi di sini, biarkan aku yang mentraktir kalian" ucap Fauzi.
"Terima kasih Gus" ucap Rena dan Gita.
"Kau sangat baik Gus Fauzi, aku suka padamu Insya alloh kalau aku sudah punya uang aku akan mengantinya" ucap Zia.
"Tak masalah" ucap Fauzi.
"Jangan begitu kau kemarin membayarkan pembal*t yang aku beli" ucap Zia.
"Hah pembal*t" gumam Adam tak percaya.
"Baiklah ayo berangkat" ucap Farid.
Mereka berenam pergi ke pasar tak ada yang akan mereka beli hanya saja mereka ingin melihat lihat barang dagangan yang berada di pasar.
"Ning lihat jilbab, katanya kau mau Jilbab" ucap Gita pada Rena.
"Ya antar aku kesana" ucap Rena.
"Ayo Kak" ucap Rena pada Zia.
Selagi Rena dan Gita memilih Jilbab, Zia hanya melihat lihat saja tak ada yang bisa membuatnya suka, namun matanya menatap pada sesuatu yang membuat matanya berbinar.
"Kerang ijo" gumam Zia.
Namun Zia mengurungkan niatnya karena Zia sekarang tak punya uang bahkan uang sisa dua puluh ribu pun tak Zia bawa.
"Kau mau jajan Ukhti" tanya Fauzi.
"Tidak" jawab Zia.
"Kalau mau sesuatu bilang saja aku yang akan bayar" ucap Fauzi.
"Kak Zia lihat Jilbab ini bagus untuk mu" ucap Rena sambil memakai kan Jilbab itu pada kepala Zia.
"Tuh kan cantik" ucap Rena.
"Bagaimana Gus cantik kan" tanya Gita pada ketiga Gus yang berada di sana.
Zia menatap pada cermin yang ada di sana.
"Kau sangat cantik Ukhti, aku pangling melihanya" ucap Farid.
"Bidadari dari mana yang ada di hadapan aku ini" ucap Fauzi.
Adam hanya menatap kagum pada Zia bahkan senyumannya sangat tulus pada Zia.
"Gus aku heran padamu, kau suka pada Ning Marwah atau Zia" tanya Farid dengan nada berbisik pada Adam.
"Kau ini, jelas jelas aku suka Ning Marwah" ucap Adam.
"Tapi cinta mu lebih tulus pada Zia, bahkan senyuman mu pun tulus pada Zia" ucap Farid.
"Ahh jangan ngada ngada Gus" ucap Adam.
__ADS_1
Bersambung..