
Lepas.... Gus... Tolong......" Teriak Zia.
Adam yang mendengar suara Zia minta tolong pun langsung datang ke ruang tengah karena takut nya Zia kenapa kenapa.
"Zia" ucap Adam namun saat Adam melihat begitu marah Adam pada bibi nya itu yang sekarang akan membawa Zia dari sana.
"Gus" ucap Zia.
"Lepaskan Zia Bi dia tak salah apa apa" ucap Adam.
"Haha Adam Adam kau ini terlalu bo doh kau tak mengundang aku saat kau nikah makan nya aku datang kemari karena ingin menemui istri tercinta mu ini" ucap Sofi.
"Lepaskan Zia" geram Adam.
"Di mana pak tua itu" tanya Sofi.
"Abah tak ada dia menemui uwa Zaki" ucap Adam.
"Hahaha Adam sekarang aku mau membawa Istri mu apa boleh" tanya Sofi.
"Tak boleh" ucap Adam tegas.
Adam mendekat pada Zia yang sekarang tengah di pegangi oleh kedua anak buah Sofi.
"Lepaskan Dia" ucap Adam.
"Kalau mau ambil saja" ucap Sofi.
Adam melepaskan tangan Zia yang sekarang sedang di pegang oleh anak buah itu.
Dengan keras Adam melepaskan tangan Zia dari kedua orang itu.
"Zia mundur lah" ucap Adam.
Adam mendekat pada kedua orang itu tanpa segan segan Adam mendorong orang itu hingga membuat nya terjatuh ke belakang.
"Pergilah" ucap Adam yang masih bisa menahan emosi nya.
"Enak saja" ucap Sofi.
Tanpa segan segan Adam mendorong Sofi dengan keras hingga membuat Sofi terjatuh ke belakang dan terduduk di tanah depan rumah Abah.
"Pergi lah aku sudah ingatkan" ucap Adam.
"Beraninya kau" geram Sofi.
Sofi meng kode pada kedua anak buahnya untuk menyerang Adam.
Benar saja terjadi perkelahian di sana bahkan Adam sudah beberapa kali mendapat tamparan dan bogem mentah dari kedua orang itu.
"Gus" teriak Zia.
Karena para santri banyak di sana mereka langsung mendekat pada Adam dan membantu Adam mengalahkan musuh supaya Adam menang.
Dengan bantuan para santri Adam akhirnya bisa melawan Sofi dan kedua anak buahnya.
"Aku harap kau tak akan datang lagi" ucap Adam.
"Tunggu pembalasan dari ku Anak kecil" ucap Sofi.
Para santri sekarang berani membantu karena tak ada Abah jika saja kalau ada Abah mungkin para santri sudah kena marah karena memu kuli orang lain.
"Gus kau tak apa" tanya Fauzi yang membantu Adam.
"Tak apa aku hanya kena ton jokan saja" ucap adam.
"Cepat lah di obati Gus" ucap Fauzi.
"Ya, terima kasih ya semuanya" ucap Adam.
"Ya gus sama sama" ucap santri serempak.
Zia mendekat pada Adam.
"Ayo masuk" ucap Zia yang langsung menggandeng Adam untuk masuk ke dalam rumah.
"Duduk lah" ucap Zia.
Saat itu Zia tengah mencari kotak p3k.
"Gus apa tak ada kotak p3k" tanya Zia.
"Ada di kamar ku" ucap Adam.
Zia mencari ke kamar dan ternyata ada di sana, dengan segera Zia langsung mengobati luka Adam dengan obat merah.
"Apa sakit" tanya Zia.
"Tidak" ucap Adam.
"Jangan bohong" ucap Zia.
"Beneran" ucap Adam.
Zia mengobati luka Adam dan terasa sangat perih bahkan Adam pun terlihat sedang menahan perih di lukanya itu.
"Sakit" tanya Zia.
Adam menggeleng kan kepala nya.
"Aku harus ke Madrasah dulu Zia ada hal yang harus aku selesaikan, tolong matikan laptop nya pelajaran nya sudah selesai" ucap Adam.
"Ya sudah" ucap Zia.
"Assalamualaikum" ucap seorang wanita di ambang pintu rumah Abah.
"Waalaikum salam" serempak.
"Ustadzah Halimah kapan datang" tanya Adam.
"Ya Gus saya baru datang" ucap Halimah.
"Masuk Ustadzah ada istri saya di dalam" ucap Adam.
"Istri" gumam Halimah.
Halimah langsung masuk ke dalam rumah Abah, dan Halimah langsung mendapat senyuman dari Zia.
"Kamu istri nya Gus Adam" tanya Ustadzah.
"Ya" ucap Zia.
"Syukurlah, aku fikir Gus Adam belum menikah" ucap Halimah.
"Sudah".
"Di mana kamu tinggal" tanya Halimah.
"Di kampung ini juga" ucap Zia.
"Oh" ucap Halimah.
"Ustadzah apa ustadzah baru di sini" tanya Zia.
__ADS_1
"Aku sudah lama di sini cuman satu tahun ini aku ada urusan di kota, aku sedang mengurus perceraian" ucap Halimah.
"Perceraian" tanya Zia.
"Ya aku akan bercerai dan sekarang Alhamdulillah aku sudah terbebas dari nya" ucap Halimah.
"Oh, pantas aku tak pernah melihat mu" ucap Zia.
"Ya".
"Ustadzah bisa aku bertanya" tanya Zia.
"Tanya apa".
"Kau kan sudah pernah menikah bagai mana cara menghadapi suami yang kaku" tanya Zia.
"Wah cerita kita sama ya, aku juga dulu begitu aku dan dia sangat canggung tapi karena sudah menjadi kewajiban seorang istri aku melakukan nya" ucap Halimah.
"Kau yang mulai duluan" tanya Zia.
"Jangan beri tau siapa pun ya, aku melakukan nya duluan karena dia itu sangat pemalu, tapi kan memang kewajiban seorang istri itu harus taat pada suami nya" ucap Halimah.
"Oh ya" tanya Zia.
"Ya kau baca saja di dalam hadits banyak Zia" ucap Halimah.
"Oh ya" tanya Zia.
"Ya aku juga begitu lalu aku mempraktekkan nya" ucap Halimah.
"Ya aku akan coba" ucap Zia.
"Baik lah aku tak bisa lama lama aku harus ke kamar dulu, aku yakin kalau kamar ku pasti berantakan karena selama satu tahun ini tak aku tempati" ucap Halimah.
"Ya".
Adzan Maghrib berkumandang semua santri melaksanakan Sholat Maghrib secara berjamaah sekarang Adam lah yang menjadi imam.
Zia berada di barisan paling belakang bersama dengan Rena dan Gita.
Setelah selesai mereka melakukan tadarus Al-Qur'an.
Hingga sampai Adzan isya mereka sholat secara berjamaah, sholat isya selesai mereka langsung pergi ke Madrasah karena akan belajar di sana.
Malam ini para santri akan melakukan tanya jawab seperti biasa akan dilakukan satu Minggu selama dua kali, guna mengingat kembali pelajaran yang sudah di pelajari supaya para santri tak mudah lupa.
"Kita punya waktu selama satu jam, ayo kalau ada pelajaran yang belum kalian pahami tanya kan saja" ucap Adam.
Seorang santri mengacung kan tangan nya.
"Ya" tanya Adam.
Tanya jawab pun di mulai dan para santri senior menjawab dengan benar bahkan sangat jelas sekali.
Hingga malam harinya mereka selesai belajar dan kembali lagi ke kamar masing masing karena akan tidur.
"Kak sayang sekali ya sekarang kita pisah kamar" ucap Rena.
"Ya tapi mau bagai mana lagi" ucap Zia.
"Semoga sukses ya kak" ucap Gita.
"Ah kalian ini apa apaan" ucap Zia.
"Cie kak Zia" ucap Gita.
"Sudah lah aku harus pulang" ucap Zia.
"Baik lah kami juga akan tidur" ucap Gita.
Zia pulang ke rumah Abah namun sejak tadi Zia tak menemukan Adam.
Tiba tiba ada seseorang yang menarik tangan Zia.
"Hey" tanya Zia saat melihat kalau ada laki laki yang memegang tangan nya namun laki laki itu menutupi wajahnya dengan sorban.
Karena keadaan gelap Zia tak bisa melihat warna sorban dan sarung yang dikenakan laki laki itu.
"Dasar be ren gsek apa kau tak malu asal menarik istri orang hah apa kau tak punya malu" tanya Zia marah.
Zia menarik nafas nya kasar.
"Sekali lagi kau melakukan itu maka aku tak akan segan segan menon jok mu hingga membekas dan kau ingat selama lama nya" geram Zia menunjuk nunjuk orang itu.
"Berani sekali dia menarik tangan ku, bagai mana kalau Gus Adam lihat entar dia salah paham lagi" gerutu Zia.
"Yakin kau mau menon jok ku" tanya laki laki itu sambil membuka sorban yang menutupi wajah tampan nya.
"Gus Adam" ucap Zia.
"Kau sangat galak Zia" ucap Adam tersenyum pada istri nya itu.
"Kau ini" ucap Zia.
"Maaf kan aku, aku salah, tapi apa salah nya menarik tangan istriku sendiri" ucap Adam.
"Ya sudah terserah" ucap Zia.
"Ayo pulang" ucap Adam.
"Ayo" ucap Zia.
Mereka berdua pulang, sekarang Zia akan melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri.
"Zia aku akan ke mandi dulu" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Saat ini Zia langsung masuk ke dalam kamarnya dan Mengganti pakaian nya memakai lin gerie berwarna hitam namun sangat berawang.
Zia membiarkan rambut sebahunya terurai bebas, tak pula Zia juga memakai parfum kesukaan nya.
Zia duduk di pinggir kasur itu.
Adam datang ke sana namun pandangan Adam menunduk karena tengah membuka jam tangan nya yang sejak tadi berada di pergelangan tangan nya.
"Zia sekarang aku akan..." Ucap Adam terpotong karena menatap pada Zia yang sekarang terlihat sangat cantik.
Adam melotot pada Zia yang memakai pakaian seperti itu.
"Astaghfirullah" ucap Adam yang langsung menundukkan pandangan nya.
Zia mendekat pada Adam.
"Apa kau perlu sesuatu" tanya Zia.
"Zia ganti pakaian mu" ucap Adam.
"Hah tapi kenapa" tanya Zia.
"Ganti saja" ucap Adam.
"CK kau menyebalkan" ucap Zia.
__ADS_1
Adam keluar dari kamar dan duduk di kursi ruang tamu.
Zia berjalan ke arah lemari dan mengganti pakaian nya dengan rok dan baju panjang.
Lalu Zia juga kembali mengikat rambut yang terurai dan memakai lagi kerudung.
Adam yang sedang di kursi dia sangat terkejut melihat Zia, apa lagi penampilan Zia yang minim itu membuat nya sangat takut.
"Benar dalam QS Al Yusuf ayat 28, kalau tipu daya wanita itu memang dashyat, astagfirullah Zia" gumam Adam.
Zia datang ke sana.
"Apa kau mau sesuatu" tanya Zia kesal.
"Tak ada aku hanya akan bertanya pada mu, bagai mana kira tidur sekarang" tanya Adam.
"Tidur ya tidur saja" ucap Zia.
"Bukan begitu, tapi yang aku tanya kan begini kasur di kamar ku kecil tak akan muat dua orang kau tidur lah di kamar dan aku akan tidur di sini" ucap Adam.
"Hah kenapa begitu" tanya Zia yang tak setuju dengan keputusan Adam.
"Lalu, aku janji Zia besok aku akan ganti kasur nya" ucap Adam.
"Ck" Zia berdecak kesal.
"Jangan marah" ucap Adam.
"Terserah" ucap Zia yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
"Ambil kan aku bantal dan selimut di kamar" ucap Adam.
Zia masuk dan mengambil kan selimut dan bantal punya Adam.
"Ini" ucap Zia menyerahkan nya pada Adam.
"Terima kasih" ucap Adam namun tak di gubris oleh Zia.
Namun tiba tiba saja saat Zia akan tidur, semua lampu padam hingga hanya gelap saja yang Zia lihat sekarang.
"Aaaaaaa" teriak Zia dari kamar.
Zia berusaha meraba raba arah sekeliling karena Zia panik Zia menubruk dinding kamar sehingga membuat kepala nya terbentur cukup keras.
Dug.
"Awwwss" gumam Zia meringis kesakitan.
Zia keluar dari kamar dan berusaha mencari Adam.
"Gus" teriak Zia padahal dia sudah berada di ruang tengah.
"Ya" tanya Adam.
"Kau di mana" tanya Zia.
Adam mendekat pada Zia, lalu Zia memeluk Adam dengan sangat erat.
"Kau kenapa Zia" tanya Adam.
"Gus aku takut" ucap Zia.
"Tenang lah aku akan cari senter" ucap Adam.
Adam mengambil ponsel nya dari saku baju, Adam membuka ponsel nya dan memencet tombol senter.
Di sana sudah cukup terang walau pun hanya pakai senter saja.
"Sudah ayo duduk" ucap Adam membawa Zia untuk duduk di kursi.
"Jangan takut lagi ada aku" ucap Adam.
"Gus apa akan lama" tanya Zia menatap ke arah sekeliling.
"Entah tapi aku yakin tak akan lama" ucap Adam.
Zia terus saja memegang tangan Adam hingga beberapa lama senter di ponsel Adam mati sehingga membuat keadaan menjadi gelap lagi.
"Gus" teriak Zia.
Zia langsung naik ke pangkuan Adam, bahkan sekarang Zia layak nya anak kecil, Zia memeluk Adam dengan sangat erat tak perduli kalau Adam yang berada di bawah merasa keberatan.
"Astaghfirullah" gumam Adam tak percaya kalau istri nya itu akan bar bar.
Lama mereka dalam posisi itu, akhirnya lampu menyala juga dan menampakan dua insan yang sekarang tengah berdekatan.
Zia menatap pada wajah Adam,
Zia tak percaya kalau dia akan sangat dekat dengan Adam yang tampan itu.
Zia melihat posisi nya yang sekarang tengah berada di atas Adam.
"Astaga" ucap Zia yang langsung turun dan pangkuan Adam.
Zia langsung memalingkan wajah nya dari Adam karena malu pada sikap nya itu.
"Aku akan cas ponsel ku" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Zia duduk di kursi dan merutuki kesalahan nya yang sudah berani pada Adam.
"Kau ini Zia kendali kan diri mu saat takut" gumam Zia.
Adam kembali lagi ke sana.
"Mau tidur di mana" tanya Adam.
"Terserah asal kan bersama dengan mu" ucap Zia.
"Zia kau tak boleh takut hanya mati lampu" ucap Adam.
"Ya gus" ucap Zia.
"Baik lah aku akan bawa kasur lantai punya Umi kita akan tidur di ruang tengah saja" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Adam membawa kasur lantai punya Umi dan membukanya di ruang tengah.
Bukan tanpa alasan Adam belum menyentuh Zia, hanya saja Adam malu pada Zia jadi sampai sekarang Adam belum melakukan nya.
Jika di sebutkan Adam juga laki laki normal dia juga sama seperti yang lain saat melihat pemandangan haram Adam juga merasa tergoda namun Adam selalu menggunakan akal nya dari pada Nafsunya.
"Ayo tidur" ucap Adam.
"Peluk" ucap Zia.
"Hah" tanya Adam.
"Peluk Gus aku takut" ucap Zia.
"Ya ampun Zia" ucap Adam.
__ADS_1
bersambung....