Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 125


__ADS_3

Kira kira pukul sembilan pagi Zia dan Adam pulang ke pesantren karena sekarang Adam akan membantu pembangunan kelas lagi.


Mereka berdua berjalan ke arah pesantren karena sekarang masih pagi tak ada orang orang yang berlalu lalang di sepanjang perjalanan.


"Zia aku penasaran pada masa lalu mu, emang nya ada apa sebenarnya" tanya Adam.


"Cerita nya panjang Gus" ucap Zia.


"Panjang" tanya Adam.


"Setelah sampai ke pesantren aku akan ceritakan" ucap Zia.


"Ya baik lah" ucap Adam.


Mereka pulang ke pesantren, sampai di sana Zia melihat ada banyak santri yang baru saja datang.


"Gus mereka kembali" ucap Zia.


"Ya padahal sekarang masih hari Sabtu mereka sangat cepat datang" ucap Adam.


"Senang aku karena kita akan banyak orang lagi" ucap Zia.


"Oh ya Zia aku titip amanah untuk mu, jadi begini Zia, bulan puasa ini Umi akan sangat sibuk karena dia harus menyiapkan makanan subuh sekali bahkan saat itu aku pernah lihat kalau Umi masak dari pukul satu dini hari" ucap Adam.


"Ya lalu" tanya Zia.


"Bantu umi ya aku hanya bisa berharap pada mu Zia" ucap Adam.


"Ya Gus aku akan bantu Umi" ucap Zia.


"Baik lah terima kasih" ucap Adam.


Zia dan Adam sekarang berada di kamarnya.


"Baik lah cerita kan pada ku ada apa" tanya Adam.


"Beberapa tahun yang lalu.." ucap Zia.


Flash back onn.


Di sebuah bagunan yang bernuansa putih itu sekarang tuan Rumah tengah mengadakan acara yasinan hanya di hadiri keluarga saja.


Yang tak lain adalah kediaman Lynda House, sekarang hari pertama Ibu Rubiah yang tak lain adalah Nenek nya Aziya Yunita Wijaya meninggal dunia.


Mereka semua membaca kan surat Yasin di ruang tamu untuk mengirimi Doa pada Bu Rubiah.


Namun tiba tiba saja ada gerombolan yang datang ke rumah itu.


Mereka mengobrak abrik rumah itu hingga semuanya berantakan, namun saat itu Zia dan kakak nya Rayhan yang saat itu masih berusia 12 tahun di paksa untuk pergi oleh mamahnya lewat jalan belakang.


Zia dan Rayhan yang masih kecil pun masuk ke dalam sebuah taksi tetapi mamah nya tak ikut naik karena dia tak mau meninggalkan rumah dan keluarga nya itu.


Hingga saat taksi yang kedua anak itu tumpangi mulai menjauh dari rumah itu, sebuah ledakan terjadi hingga membuat nenek nya Zia, Lynda Arya Wijaya harus meninggal dunia.


Bukan itu saja saat peledakan itu terjadi, Zia dan Rayhan yang di titip kan di kediaman Puput, rumah mereka dan semua aset berharga milik Topan dan Lynda Wijaya di rebut gerombolan itu.


Hingga membuat orang tua Zia tinggal di kampung tempat kelahiran orang tua Zia.


Saat itu juga Zia yang baru berusia 12 Tahun tinggal di kampung ikut kedua orang tuanya.


Di sana tak ada lampu karena keluarga Zia masih baru apa lagi keadaan rumah yang sudah mulai roboh dan lama tak di tempati jadi pihak desa memotong listrik rumah itu.


Zia si anak kecil yang terbiasa dengan kemewahan akhirnya tinggal di kampung tanpa listrik,


Hingga suatu malam Zia tak bisa tidur dia tidur di kamar nya sendirian.


Ada hal yang membuat Zia sampai phobia pada gelap sampai sekarang.


Malam itu hawa terasa sangat dingin Zia menatap pada jendela yang gelap karena tak ada listrik.


Namun tiba tiba ada sebuah bayangan yang muncul di sana membuat Zia sangat ketakutan.


Sebuah sosok yang tak bisa Zia gambar kan membuat Zia sangat ketakutan.


Namun saat mata Zia berkedip sosok itu langsung menghilang.


Beberapa kali Zia mendapati sosok itu hingga Sampai sekarang Zia phobia pada gelap.


Bukan karena apa apa tapi saat gelap Zia selalu memimpikan sosok itu, bahkan kalau Zia menutup mata saja dia berasa melihat bayangan itu.


Tetapi sekarang Zia sudah mulai berani menghadapi kegelapan karena dari dahulu walau pun ada cahaya sedikit saja Zia sangat ketakutan, namun saat bersama dengan Adam, Zia mulai melupakan ketakutan nya itu apa lagi Adam selalu di sisi nya.


Flash back off.


"Oh jadi begitu cerita nya" tanya Adam.


"Ya kurang lebih begitu" ucap Zia.


"Apa yang kau lakukan setelah itu" tanya Adam.


"Aku ke kota Gus, aku sekolah SMP di sana terus saat aku sma aku ke luar negeri karena Aunty Puput juga ke sana, setelah aku kuliah aku ke sini lagi aku hidup bersama dengan kakak" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Adam.


"Kau tau Gus aku sangat menyesal karena sudah menyia nyia kan waktu" ucap Zia.


"Aku paham kau pasti kesepian selama ini tapi Zia seharusnya kau paham kalau sebenarnya orang tua kamu itu hanya ingin kamu dan kakak kamu selamat" ucap Adam.


"Ya tapi hidup tanpa kasih sayang orang tua itu gak enak Gus" ucap Zia.


"Jangan Begitu" ucap Adam.


"Aku kaya gak berguna banget tau gak" ucap Zia.


"Berguna bagai mana" tanya Adam.


"Ya di saat anak anak yang lain sekarang membahagiakan orang tua nya tapi aku apa aku hanya mementingkan diri sendiri, aku tak berguna Gus" ucap Zia.


"Zia jangan anggap kamu tidak berguna mustahil Alloh menciptakan mu menjadi mahluk yang sia sia, bahkan debu sekali pun berguna untuk tayamum" ucap Adam.


"Tayamum apa itu" tanya Zia.

__ADS_1


"Tayamum adalah  pengganti wudhu dalam membersihkan hadas kecil dan hadas besar, tayamum ini biasanya dilakukan ketika ingin sholat namun tidak ada air. Secara istilah tayamum artinya mengusap wajah dan tangan menggunakan debu yang bersih" ucap Adam.


"Mau tau doa nya" tanya Adam.


"Boleh" ucap Zia.


"Nawaitu tayammuma lisstibaahatish sholaati fardhol lillaahi taala. Itu niat tayamum" ucap Adam.


"Kapan kita melakukan tayamum" tanya Zia.


"Saat tak ada air, atau saat kita di pesawat mungkin, karena kan tak mungkin di pesawat berwudhu maka kita bisa bertayamum" ucap Adam.


"Oh, tapi apa hanya dengan debu saja" ucap Zia.


"Ya bisa juga ke tembok, atau dengan debu yang bersih jangan yang kotor" ucap Adam.


"Dan ini doa setelah melakukan tayamum.


Asyhadu an laa Ilaaha illalloh wahdahu laa syariika lahu. Wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj'alni minat tawwaabiina, waj'alni minal mutatohhirina, waj'alni min 'ibaadikas sholihiina" ucap Adam.


"Sama kaya doa sesudah Wudhu" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Siang harinya pesantren kedatangan pak RW dan beberapa tokoh yang lain, Abah sangat khawatir apa lagi pak RW datang ke sana, yang Abah khawatir kan adalah takutnya mereka menanyakan pembangunan yang sedang Abah lakukan apa lagi Abah tak bicara terlebih dahulu.


"Assalamualaikum" ucap pak RW itu.


"Waalaikum salam" ucap Abah yang sekarang tengah membantu mengangkat barang barang.


"Ada apa pak" tanya Abah.


"Saya mau bicara sesuatu" ucap pak pak Rw.


"Oh masuk lah ayo kita bicara di rumah" ucap Abah.


Mereka masuk ke dalam rumah abah.


"Ada apa pak, maaf saya gak bisa menyuguhkan makanan dan minuman" ucap Abah.


"Tak apa Abah, niat kami kemari kami mau tanya" ucap pak RW.


"Tanya apa" tanya Abah yang berusaha untuk baik baik saja.


"Jadi begini eh.. masjid kami tengah di bangun dan sampai sekarang belum selesai dan sekarang bulan Ramadhan jadi para warga pasti ingin sholat tarawih berjamaah jadi kami ingin numpang sholat di mesjid Abah ini" ucap Pak RW.


"Alhamdulillah kalau begitu, aku sangat senang pak, masjid ini juga milik bersama bukan milik saya saja jadi warga bebas kalau mau sholat di sini" ucap Abah.


"Ya kami ijin dulu karena takut Abah tak mengijinkan" ucap pak RW.


"Pak saya tak akan melarang seseorang untuk beribadah justru saya senang kalau ada yang mau gabung, cuman di sini banyak santri dan kondisi nya juga begini" ucap Abah.


"Tak apa Abah kami senang Abah mengijinkan Terima kasih karena sudah mengijinkan" ucap pak RW.


"Pak mesjid ini milik bersama, siapa yang datang ke mesjid dia lah pemilik nya, jadi mesjid itu milik semua orang yang datang" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap pak RW.


"Saya akan beri tau kan pada semua kalau mereka akan datang kemari saat Sholat isya" ucap Pak RW.


"Ya baik lah" ucap Abah.


Sore harinya para santri berdatangan kembali ke pesantren padahal sekarang masih hari Sabtu tetapi mereka sudah datang cepat.


Fauzi dan Ainun yang baru saja kembali mereka langsung menuju ke rumah Abah karena akan membicarakan hal penting.


"Assalamualaikum Abah" ucap Fauzi.


"Waalaikum salam Gus Fauzi, kapan datang" ucap Abah.


"Baru saja Abah" ucap Fauzi sambil menyalami tangan Abah.


"Sini masuk masuk" ucap Abah.


Fauzi dan Ainun masuk mereka duduk berdekatan sekali, Abah merasa cukup risih karena mereka berdekatan takut nya akan menimbulkan fitnahan orang lain.


"Abah kami mau memberi tau" ucap Fauzi.


"Ya apa" tanya Abah.


"Kami sudah menikah Abah, dua hari yang lalu" ucap Fauzi.


"Alhamdulillah selamat ya kenapa gak beri tau" ucap Abah.


"Ya Abah kami hanya menikah di KUA tak apa apa hanya acara sederhana saja" ucap Fauzi.


"Alhamdulillah kalau begitu" ucap Abah yang langsung berjalan ke arah kamarnya dan mengambil amplop.


Abah memasukan uang sama seperti hadiah untuk Ilham tempo lalu.


"Ambil lah anggap saja ini hadiah dari Abah untuk kalian" ucap Abah.


"Abah tak perlu" ucap Fauzi.


"Tak apa kau sudah menjadi putra ku Gus jadi apa salah nya jika orang tua memberikan hadiah pada putranya" ucap Abah.


Fauzi mengambil nya.


"Terima kasih Abah" ucap Fauzi.


"Ya sama sama" ucap Abah.


"Oh ya abah aku punya permintaan" ucap Fauzi.


"Permintaan apa" tanya Abah.


"Kami ingin tinggal bersama" ucap Fauzi.


Abah berfikir sejenak.


"Kalau Abah bilang tak boleh apa kalian akan menuruti Abah" tanya Abah.

__ADS_1


Fauzi terkejut dengan ucapan Abah itu.


"Tentu saja boleh Gus, kalian sudah menikah jadi kalian bebas mau bagai mana juga" ucap Abah tersenyum melihat wajah panik dari Fauzi.


"Alhamdulillah terima kasih Abah" ucap Fauzi.


"Terima kasih Abah" ucap Ainun.


"Ya sama sama" ucap Abah.


Umi dan Zia baru saja kembali dari warung karena mereka baru saja belanja.


"Umi ucapkan selamat pada mereka" ucap Abah.


"Hah ada apa" tanya Umi tersenyum paham.


"Mereka sudah menikah" ucap Abah.


"Hah Alhamdulillah selamat ya Gus" ucap Umi.


"Apa kalian sudah menikah" tanya Zia.


"Ya" ucap Ainun.


Zia langsung memeluk Ainun dan Ainun membalas pelukan Zia.


"Selamat ya" ucap Zia.


"Ya terimakasih" ucap Ainun.


"Selamat ya" ucap Umi.


"Terima kasih Umi" ucap Ainun.


"Ya" ucap Umi.


Sekarang Umi dan Zia langsung memasak yang banyak karena para santri juga sudah mulai datang ke sana.


"Umi bagai mana kalau tak enak, apa lagi tak di coba" ucap Zia.


"Nanti saja neng Zia saat adzan Maghrib kan para santri pasti akan sholat dulu jadi kita coba nanti saja" ucap Umi.


"Umi yakin akan memasak sebanyak ini" tanya Zia.


"Ya untuk sahur juga" ucap Umi.


"Oh" ucap Zia.


"Kadang neng Zia Umi lebih baik masak sekarang karena kalau masak pagi waktu itu juga Umi terlambat bangun dan terpaksa para santri pesan makanan dari luar" ucap Umi.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya Untung nya waktu itu ada yang menyediakan catering di dekat rumah Bu Isna tapi sekarang gak ada" ucap Umi.


"Kenapa" tanya Zia.


"Dia pindah ke kota apa lagi di kampung begini tak ada yang pesan banyak Zia paling hanya lima puluh kotak buat bukber" ucap Umi.


"Oh" ucap Zia.


"Apa lagi Zia kalau bulan Ramadhan begini suka ada yang kasih makanan ke pesantren ini waktu itu juga pernah umi sampai gak masak karena banyak makanan yang datang" ucap Umi.


"Oh ya baik sekali orang itu" ucap Zia.


"Ya neng begitu lah orang kaya" ucap Umi.


Malam hari nya setelah Sholat Maghrib para santri langsung buka puasa mereka makan bersama di ruang makan.


Sekarang pesantren ramai lagi karena para santri kembali dan Zia akan menggurui lagi jadi di siang hari Zia tak akan sibuk dan tak akan merasa bosan lagi.


Setelah selesai makan Rena langsung berkemas karena akan menginap di kamarnya lagi bersama dengan Gita karena sekarang Gita sudah kembali.


"Ning mau Umi bantu" tanya Umi.


"Tak usah Umi aku bisa sendiri" ucap Rena.


Datang lah Luthfi ke sana karena akan memberi taukan pada Abah kalau warga sudah datang.


"Assalamualaikum" ucap Luthfi.


"Waalaikum salam" ucap Umi dan Rena.


"Umi para warga sudah datang, apa Abah ada" tanya Luthfi.


"Umi akan beri tau Abah" ucap Umi.


"Ya" ucap Luthfi.


Sekarang Rena sudah berjalan namun dia kesusahan untuk melihat karena saking banyaknya bantal dan selimut yang akan Rena bawa.


"Aku bantu" ucap Luthfi.


"Tak usah aku bisa" ucap Rena.


Luthfi langsung mengambil bantal dan selimut yang ada di tangan Rena.


"Aku bilang aku bantu jadi aku akan bantu" ucap Luthfi.


"Ishh egois" ucap Rena.


"Tak ada orang tampan yang egois" ucap Luthfi.


"Terserah" ucap Rena namun dia tersenyum tipis melihat Luthfi yang perhatian pada nya.


bersambung


mohon maaf kalau ada kesalahan dalam kata atau tempat waktu dan latar..


terima kasih sudah mampir ke novel Mak othor..


semoga amal baik kalian di balas oleh Alloh subhanallahu wata'ala..

__ADS_1


amin..


__ADS_2