
Adam dan Fauzi sudah bersiap akan pergi bahkan sekarang Adam sudah menggendong tasnya di pundak.
"Gus ayo kita pergi" ucap Adam.
"Ya sudah ayo, aku sudah memasukan buku semalam pada tas ku ini" ucap Fauzi.
"Aku hanya ingin setelah ini Pesantren ini akan semakin maju" ucap Adam.
"Ya Gus kita kembalikan lagi santri yang pernah keluar dari pesantren ini karena kasus itu" ucap Fauzi.
"Aku harap kita bisa melakukannya" ucap Adam.
"Fauzi" teriak Ainun dari arah mesjid karena sekarang Ainun sedang membersihkan lantai mesjid.
"Ya ampun" gumam Fauzi.
"Gus sebaik nya kau temui saja dulu" ucap Adam.
"Aku permisi dahulu Gus maaf" ucap Fauzi.
"Tak masalah" ucap Adam.
Farid datang ke sana,
"Gus aku sudah cegat mobil yang akan membawa kalian ke sana" ucap Farid.
"Terima kasih Gus" ucap Adam.
"Oh ya dimana Gus Fauzi" tanya Farid.
"Ainun memanggilnya" ucap Adam.
"Oh ya" ucap Farid.
"Memang nya ada hubungan apa mereka" tanya Farid.
"Entah aku kurang tau tapi katanya mereka teman" ucap Adam.
"Ohh" ucap Farid.
Adam melihat Zia sekarang tengah membawa satu kantong kresek hitam.
"Dari mana" tanya Adam.
"Dari warung" ucap Zia.
"Aku akan pergi, setelah pulang dari sana aku mau kau" ucap Adam sengaja memotong ucapannya.
"Apa" tanya Zia.
"Kau lebih peka" ucap Adam.
"Bukan kah kau yang tak peka Gus kau selalu saja menyalahkan aku" ucap Zia.
"Ya aku salah maaf " ucap Adam.
"Sudah lah aku sibuk " ucap Zia yang langsung pergi dari sana meninggal kan Adam dan Farid.
"Gus apa kau suka pada Zia" tanya Farid.
"Aku bahkan sudah pernah mengajak nya menikah" ucap Adam.
"Oh ya lalu apa jawab an nya" tanya Farid.
"Dia tak mau melibatkan pertemanan dengan percintaan" ucap Adam.
"Sangat rugi Zia karena menolak mu padahal kan banyak para Akhwat yang ber rebut ingin menikah dengan mu" ucap Farid.
"Gus aku tak se play boy itu" ucap Adam.
"Benar Gus" ucap Fauzi.
Sedangkan Fauzi sekarang tengah bicara dengan Ainun, di depan mesjid karena tadi Ainun memanggilnya.
"Kau akan kemana" tanya Ainun menatap pada Fauzi.
"Aku akan ke pengajian, kau diam lah di sini aku tak mau sampai aku dengar lagi kalau kau bertengkar dengan Zia" ucap Fauzi ketus pada Ainun.
"Zia lagi Zia lagi kau tau dia sangat menyebalkan" ucap Ainun.
"Kau tau Ai, Zia itu Crush nya Gus Adam aku tak mau kalau kita bermasalah dengannya coba pahami lah Ai" ucap Fauzi.
"Lalu aku harus apa" tanya Ainun.
"Kalau kau begini terus sudahlah batal kan pernikahan kita" ucap Fauzi.
"Apa" ucap para santri serempak yang mendengarkan di sana.
"Gus Fauzi akan menikah dengan Ainun" tanya para santri.
Fauzi hanya menatap para santri dengan acuh karena sekarang dia tengah marah pada Ainun.
"Gak bisa begitu Fauzi kita sudah sepakat" ucap Ainun.
"Per setan dengan kesepakatan itu Ai" ucap Fauzi yang langsung pergi dari sana meninggal kan Ainun dan para santri yang saat ini tengah menunggu kepastian.
"Fauzi" sentak Ainun.
"Aku tak habis pikir padanya" gumam Ainun.
Fauzi dan Adam pergi dari sana menuju lokasi pengajian itu, di sana sudah banyak para santri wanita dan santri laki laki.
Adam duduk di salah satu kursi bersama dengan Fauzi hanya mereka berdua yang tak mengenal siapa pun,
"Ustadz Adam ya" tanya seorang wanita yang memakai kerudung berwarna hitam.
"Siapa" tanya Adam.
"Aku Aulia, kau masih ingat pada ku aku teman kau saat SD " ucap nya.
"Aulia" ucap Adam mengingat ingat siapa wanita yang berada di hadapannya itu.
"Oh Aulia putra sulung Ustadz Tegar" tanya Adam.
"Ya kau masih ingat ternyata" ucap Aulia.
"Subhanallah aku sangat pangling melihat mu" ucap Adam.
"Ya aku banyak berubah beberapa tahun ini" ucap Aulia.
"Oh ya kenalkan ini Gus Fauzi dia Teman aku di pesantren" ucap Adam.
"Assalamualaikum" ucap Fauzi.
"Waalaikum salam" ucap Aulia tersenyum.
"Oh ya dimana kamu tinggal sekarang" tanya Adam.
"Aku tinggal di kota ini sekarang" ucap Aulia.
"Wah jauh ya" ucap Adam.
"Ya, aku tak sangka kita akan bertemu lagi setelah sekian lama" ucap Aulia.
__ADS_1
"Ya, Aulia dimana suami mu" tanya Adam.
"Hah" ucap Aulia menatap sendu pada Adam.
"Aku janda, suami aku pergi karena aku tak mau di poligami" ucap Aulia.
"Maaf aku lancang menanyakan itu" ucap Adam.
"Tak apa" ucap Aulia.
"Tapi aku salut pada mu kau wanita kuat" ucap Fauzi.
"Ya terima kasih" ucap Aulia.
"Oh ya aku permisi aku harus ke sana dulu" ucap Aulia.
"Ya" ucap Adam.
"Dia teman mu" tanya Fauzi.
"Ya teman SD bahkan aku sudah lupa Gus" ucap Adam.
"Ya bahkan kita akan lupa jika sudah punya yang baru " ucap Fauzi.
"Kau sangat benar" ucap Adam.
Acara nya pun di mulai, sambutan demi sambutan berjalan dengan lancar bahkan Adam waktunya maju ke depan sekarang.
Saat Adam berada di depan semua wanita yang ada di sana ustadzah dan semuanya pun menatap Adam dengan sangat terpana, apa lagi Adam sangat tampan dari pada yang lain.
"Siapa dia".
"Apa dia dari pesantren Al Zakaria"
"Tampan nya".
"Sungguh begitu indah ciptaan Alloh yang satu ini".
"Ya Alloh tolong persatu kan aku dengannya".
"Lihat laki laki yang satu nya lagi dia juga tampan kan".
"Tetap saja tak setampan yang di depan".
Semua wanita berbisik bisik membicarakan Adam yang sekarang tengah wawancara di depan sana.
"Alhamdulillah terima kasih Ustadz Adam karena sudah datang jauh jauh dari sana ke sini" ucap MC saat Adam sudah selesai wawancara.
"Ya terima kasih juga karena sudah mengundang kami" ucap Adam.
"Ya Ustadz".
Adam kembali duduk hingga acara pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan, saat ini para tamu undangan di persilahkan menikmati makanan dan minuman yang sudah di siapkan di sana.
Dua orang wanita cantik memakai hijab datang pada Adam,
"Assalamualaikum Ustadz Adam" ucap keduanya.
"Waalaikum salam" ucap Adam.
"Ustadz apa kalian akan pulang sekarang" tanya salah satu dari kedua wanita itu
"Ya karena kami akan menginap di mana jika di sini terus " ucap Fauzi.
"Ya" ucap Adam membenarkan perkataan Fauzi.
"Padahal kami sangat ingin mengobrol banyak dengan mu" ucap nya.
"Kalau begitu datang lah ke pesantren kau akan puas bicara dengan ku di sana" ucap Adam.
"Ustadz aku seorang guru di salah satu sekolah bisa kah aku minta nomor kamu, siapa tau saja kita bisa sharing " ucapnya.
Adam memberikan nomornya pada wanita itu.
"Save Rasty" ucapnya.
"Ya" ucap Adam.
"Terima kasih" ucap nya.
"Sama sama" ucap Adam.
Mereka berdua pergi dari sana, dan sekarang Adam dan Fauzi saling menatap karena jujur saja mereka sangat tak jelas bagi Adam dan Fauzi.
"Ayo makan" ucap Fauzi.
"Baik lah" ucap Adam.
Bahkan Adam sedang makan pun semua wanita mencuri curi pandang pada Adam, membuat Adam sedikit risih karena dia malu.
"Gus semua wanita melihat mu" ucap Fauzi.
"Ya aku sangat risih" ucap Adam.
"Apa ada sesuatu di wajah ku" tanya Adam.
"Kau tampan Gus" ucap Fauzi.
"Alhamdulillah" ucap Adam.
Seseorang mendekat pada meja makan yang sedang Adam dan Fauzi duduki.
"Ustadz kalian sangat tampan" ucap wanita itu.
"Hadza min Fadli Rabbi" ucap Adam dan Fauzi serempak.
"Artinya" tanya wanita itu.
"Semua ini adalah karunia dari Allah" ucap Fauzi.
"Oh" ucapnya yang langsung pergi dari sana.
Ustadz Tegar datang ke sana karena kata Aulia, Adam adalah temannya saat SD.
"Ustadz Adam" ucap Ustadz Tegar.
"Ya Ustadz" ucap Adam.
"Kata Aulia kau teman Aulia dari SD" tanya Ustadz Tegar.
"Ya Ustadz apa anda lupa pada ku aku Adam anak Abah Zakaria" ucap Adam.
"Abah" gumam nya sambil berfikir.
"Oh ya aku ingat" ucap Ustadz Tegar.
"Ya" ucap Adam.
"Kau sudah besar sekarang" ucap Ustadz Tegar.
"Ya aku tak sangka kalau kita akan ketemu lagi di sini " ucap Adam.
"Ya" ucap Ustadz Tegar.
__ADS_1
"Silahkan di lanjut makan nya, saya akan ke sana dulu" ucap Ustadz Tegar.
"Ya ustadz" ucap Adam.
Di pesantren saat ini sudah malam hari, semua santri sudah melaksanakan Sholat Maghrib dan isya secara berjamaah.
Para santri sekarang akan ke Madrasah untuk tadarus, tetapi Zia, Rena dan Gita sekarang berjalan di belakang para santri yang lain.
Karena langit sangat gelap bahkan jalanan pun tak terlihat jelas, Ainun berjalan di belakang Zia dia hendak mengerjai Zia.
Ainun memasukan kaki nya ke mukenah yang sekarang masih Zia pakai.
Ainun menarik kebelakang dengan kakinya,
Slett
Bugh
Mukenah Zia Sobek dan Zia terjatuh ke tanah.
"Kak Zia" ucap Rena dan Gita bersamaan.
"Awss" Zia meringis kesakitan karena siku nya terkena pada batu kerikil yang ada di tanah.
"Apa kakak baik baik saja" tanya Gita.
"Kak Ainun kenapa harus melakukan itu, kau ja hat tau gak" ucap Rena marah pada Ainun.
"Ck hanya begitu saja sudah kesakitan" ucap Ainun meledek Zia.
"Awas ya kau" ucap Zia.
Ainun pergi dari sana meninggalkan Zia yang masih berada di tanah, sedangkan Rena dan Gita sekarang tengah membantu Zia untuk berdiri.
"Yah mukena aku sobek mana sobek nya besar lagi "ucap Zia
"Lalu bagaimana sekarang kak" tanya Rena.
"Aku harus pulang sekarang" ucap Zia.
"Tapi kak ini sudah malam" ucap Rena menghalangi Zia untuk pulang karena sudah malam juga.
"Tapi Ning aku terpaksa karena aku tak punya mukena ganti dan siapa juga yang akan meminjam kan aku" ucap Zia.
"Pinjam punya umi saja" ucap Rena.
"Tapi aku malu kalau harus terus menerus meminjam punya umi" ucap Zia.
"Aku akan pulang saja" ucap Zia.
"Hati hati kak jangan lupa pulang lagi ke sini" ucap Rena.
"Ya pasti" ucap Zia.
Zia akan pulang karena dia akan menjahit mukena nya, bukan Zia yang akan menjahitkan tapi mamah nya karena Zia tak bisa menjahit pakaian.
Langkah demi langkah Zia susuri menuju ke arah jalan rumahnya, keadaan sekitar sangat gelap bahkan tak ada orang orang yang berlalu lalang entah karena mereka sudah tidur atau memang malam ini sedikit dingin, jadi warga pun memilih berada di rumahnya.
namun sayang dengan secara tiba tiba saja lampu seluruh kampung di sana mati tak ada apa pun yang nyala, sehingga membuat jalanan jadi sangat gelap.
Zia menatap pada sekeliling arah, gelap dan tak ada cahaya sedikit pun, tiba tiba saja bayangan kegelapan dahulu terlintas di pikiran Zia.
"Aaaaa" teriak Zia yang langsung lari dari sana.
Namun saat sudah berlari Zia menabrak seseorang, karena pikiran Zia sedang di kuasai rasa takut, Zia memeluk orang yang ada di hadapannya itu.
Bahkan Zia saja tak tau siapa orang yang ada dihadapan nya itu, bisa saja itu orang lain atau orang ja hat tapi Zia tak mempermasalah kan itu karena rasa takutnya.
"Eughh" ucap seseorang yang berada di samping Zia.
Hanya sebentar saja lampu padam, sedetik kemudian lampu menyala dan memperlihatkan wajah seseorang yang Zia peluk itu.
"Zia" gumam Adam yang sekarang tengah di peluk oleh Zia.
Sedangkan Fauzi saat dia melihat adegan itu dia langsung memalingkan wajah dan membelakangi Adam dan Zia.
"Zia" ucap Adam.
Zia tersadar kalau sekarang dia tengah memeluk Adam.
"Gus Adam" ucap Zia dengan rasa takut.
"Tenang lah ada aku" ucap Adam.
"Syukurlah kau ada di sini aku sangat takut Gus" ucap Zia.
"Kau mau kemana malam malam" tanya Adam pada Zia sedangkan Fauzi sekarang sudah melihat lagi pada dua sejoli itu.
"Gus lihat mukenah aku sobek aku akan pulang dan menjahitnya" ucap Zia.
"Malam begini" tanya Adam.
"Jangan pulang Zia karena kalau kau pulang takut kau wanita jangan keluar malam malam" ucap Fauzi.
"Ya Gus Fauzi benar, ayo pulang biar aku yang jahitkan " ucap Adam.
"Kau bisa" tanya Zia.
"Tentu saja" ucap Adam.
"Ayo, Zia kenapa bisa sobek begitu" tanya Adam sambil berjalan lagi ke pesantren karena Adam dan Fauzi baru saja pulang dari acara pengajian itu.
"Kau tau ini semua karena salah Ainun dia menarik mukenah ku dengan kakinya sampai aku jatuh ke tanah "ucap Zia menjelaskan.
Fauzi hanya tersenyum tipis saja karena ada rasa malu pada Zia karena Ainun selalu saja buat masalah.
Adam paham dengan perasaan Fauzi,
"Sudah tak apa mungkin kau tersandung saja "ucap Adam.
"Tersandung bagai mana aku jelas jelas di..." Ucap Zia terpotong saat melihat kalau Adam meng kode Zia agar diam dengan menaruh jari telunjuk Nya di mulutnya.
"Aku akan jahitkan" ucap Adam
"Terima kasih" ucap Zia.
"Ya sama sama" ucap Adam.
Setelah sampai di pesantren,
"Gus aku akan ke kamar dahulu, mungkin aku langsung istirahat karena aku sangat mengantuk" ucap Fauzi.
"Ya Gus selamat istirahat" ucap Zia.
"Ya" ucap Fauzi.
"Ayo ikut aku ke rumah" ucap Adam.
"Ayo" ucap Zia.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah Umi, saat itu keadaan rumah cukup sepi karena mungkin saja Umi dan Abah sedang mengajar di madrasah.
Adam menyimpan tasnya di kursi lalu Adam mencari jarum dan benar untuk menjahit mukenah Zia.
__ADS_1
bersambung...