Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 150


__ADS_3

"Aaaa" teriak Zia.


Adam langsung berjalan ke arah kamarnya karena mendengar teriakan dari Zia.


Saat Adam masuk ke kamar Adam mendapati Zia yang sudah pingsan di lantai.


"Astaghfirullah Zia" ucap Adam yang langsung merangkul Zia dan memindahkan nya ke kasur.


Rena, Umi dan Abah datang ke sana,


"Ada apa Gus" tanya Rena.


"Gak tau Zia langsung pingsan padahal baru saja dia dari kamar mandi" ucap Adam.


Namun mata Adam melihat pada alat yang dia ambil dari orang baju hitam malam itu, alat itu menyala namun tak ada lagi.


"Apa Zia takut karena alat itu" batin Adam bertanya tanya.


"Beri dia minyak kayu putih Dam" ucap Umi.


Adam mengoles kan minyak kayu putih pada kening dan leher Zia.


Tak lupa Adam mendekat kan juga pada hidung nya supaya Zia bisa menghirup nya.


"Apa Neng Zia melihat sesuatu" tanya Umi.


"Entah umi aku gak tau" ucap Adam.


"Apa mungkin kak Zia melihat hantu" tanya Rena.


"Ah mana ada" ucap Adam.


"Lalu kak Zia kenapa" tanya Rena.


Mata Zia perlahan terbuka dia menatap pada Adam yang ada di depan mata nya.


"Gus" ucap Zia yang langsung memeluk Adam dengan sangat erat.


"Zia kamu kenapa ayo cerita" ucap Adam.


"Aku takut" ucap Zia.


"Ada apa" tanya Adam.


"Aku lihat wanita wajah nya hancur, di sana di di sana" ucap Zia sambil menunjuk dinding putih.


"Aku lihat dia di sana" ucap Zia yang langsung memegang kepalanya.


"Zia gak ada gak ada wanita di sana" ucap Adam meyakinkan.


"Ada Gus wajah nya hancur dia mendekat pada ku" ucap Zia sambil ketakutan bahkan tubuh nya bergetar hebat.


Adam langsung memeluk Zia memenangkan Zia supaya tak ketakutan lagi.


"Jangan takut ada aku" ucap Adam.


"Gus wanita itu" ucap Zia.


"Gak ada Zia gak ada" ucap Adam.


"Ning ambil kan minum" ucap Umi pada Rena.


Rena mengambil kan minum untuk Zia.


"Ini kak minumlah" ucap Rena.


Zia meminumnya namun hanya dua tegukan saja.


"Tenang ya ada aku" ucap Adam.


Di rasa sudah tenang Umi dan Rena kembali ke kamarnya, Adam memeluk Zia dengan sangat erat.


"Tidurlah" ucap Adam.


"Aku takut" ucap Zia.


Namun sekarang Zia sudah cukup tenang dia tertidur lagi dengan cukup pulas.


"Tidur lah Zia" ucap Adam membelai halus kepala Zia.


Pagi hari nya Zia hanya melamun saja di kursi ruang tamu, Adam melihat nya dengan kasihan apa lagi semalam Zia tidur tak begitu pulas.


"Siapa yang berani menakuti nakuti Zia" batin Adam.


Namun sejak pagi ada hal yang Adam heran kan, dia mendengar suara takbir di kumandangkan di mesjid sebelah.


"Apa lebaran nya besok" tanya Adam.


Adam melihat Abah yang akan masuk ke dalam rumah.


"Abah apa sekarang takbiran" tanya Adam.


"Sekarang gerhana matahari hibrida, kau kumandang kan saja takbir Dam" ucap Abah.


"Oh baik lah kalau begitu aku akan ke mesjid" ucap Adam.

__ADS_1


"Ya sebentar lagi kita sholat Gerhana" ucap Abah.


"Baik lah Abah" ucap Adam.


Adam mendekat pada Zia yang melamun.


"Zia ayo aku akan ke mesjid kau ikut ya" ucap Adam.


"Baik lah" ucap Zia.


"Jangan melamun terus" ucap Adam.


"Tidak" ucap Zia menggeleng.


"Baik lah ayo" ucap Adam.


Mereka ke mesjid, Adam mengumandangkan takbir, jujur saja Adam tak tau kalau sekarang ada gerhana matahari karena Adam tak punya televisi apalagi Adam juga jarang melihat berita di ponsel.


Abah, umi dan Rena datang ke sana untuk sholat gerhana.


Adam mengajak Zia untuk mengambil wudhu terlebih dahulu.


Dalam Al Qur'an surat Fushilat ayat 37


Yang Artinya : "Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,"


Niat sholat Sunnah gerhana.


Ushallî sunnatal khusûf rak'ataini imâman/makmûman lillâhi ta'âlâ


"Niat Saya shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT."


Dari Aisyah mengatakan.


Yang Artinya, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasul, beliau kemudian pergi ke masjid mengerjakan shalat, dan di belakang beliau orang-orang membuat shaf (menjadi makmum),” (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).


Ada pula dalam khutbah nya Rasulallah Saw berkata:


Yang Artinya, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bagian dari kekuasaan Allah. Gerhana bulan atau matahari terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, takbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakan shalat dan bersedekalah wahai umat Muhammad,” (Hadist Riwayat Muslim).


Rasul menyampaikan hal ini sebagai koreksi atas keyakinan masyarakat Arab pra-Islam yang memahami gerhana sebagai tanda dari kematian dan kelahiran.


Kebetulan ketika terjadi gerhana saat itu, anak Rasulullah saw, Ibrahim meninggal dunia. Ibrahim putra Rasulullah dari Marya Qibtiyyah.


Dengan adanya khutbah tersebut, Rasul ingin menegaskan bahwa gerhana tidak ada kaitannya dengan kematian putranya atau siapa saja. 


Setelah selesai mereka langsung kembali ke rumah, terlihat kalau Zia sekarang sudah mulai bicara lagi dengan Rena bahkan dia sudah bisa bercanda lagi.


Hari ini Umi mengajak Zia dan Rena ke pasar karena akan belanja,


Ada yang bilang kalau lebaran itu hari Sabtu ada juga yang bilang hari Jumat.


Sesuai rencana Zia, Umi dan Rena pergi ke pasar mereka belanja banyak sekali bahkan Umi juga membeli kue kering banyak.


"Apa umi akan masak sebanyak ini" tanya Rena pada Zia yang mengikuti Umi dari Belakang.


"Mungkin Umi mau masak banyak kali" ucap Zia.


"Kakak tau kalau lebaran begini Keluarga kiyai Zaki akan datang semua, mereka semua akan minta makan dan setelah itu buat masalah" ucap Rena.


"Masa sih" tanya Zia.


"Ya seperti setiap tahun nya anak cucu Kiyai Zaki akan buat masalah dengan berbagai perkara, misalnya mengungkit ungkit masa lalu atau mengungkit masalah warisan banyak lah pokoknya nanti juga kakak akan tau" ucap Rena.


"Lalu bagaimana Abah" tanya Zia.


"Abah akan diam saja mendengar kan apa yang anak cucu kiyai Zaki ucapkan" ucap Rena.


"Lalu reaksi Kiyai Zaki" tanya Zia.


"Dia hanya diam saja sama seperti Abah, dan yang paling emosian kalau menyangkut ini adalah Gus Adam, nanti nya Abah akan membela Gus Adam dan masalah pun di mulai" ucap Rena.


"Lalu" tanya Zia.


"Akhirnya mereka baikan lagi" ucap Rena.


"Ada yah yang seperti itu" tanya Zia.


"Tentu saja ada" ucap Rena.


Sedangkan di sebuah rumah di kampung itu, seorang wanita dengan gaun hitam yang membalut tubuh nya membuat dia semakin mempesona, namun tidak hanya baju nya yang hitam bahkan hati nya juga sangat hitam.


"Semalam bagai mana" tanya nya pada bawahan yang dia tugas kan untuk memata matai keluarga Zia.


"Rencana nya berjalan lancar, aku dengar kalau wanita itu berteriak ketakutan mungkin dia melihat hantu itu" ucapnya.


"Bagus kan" tanya nya.


"Bagus nona hanya saja alat itu sudah di ambil oleh suaminya" ucap bawahan nya itu.


"Di ambil kemana" tanya nya dengan nada membentak.


"Di bawa masuk ke dalam, mungkin dia menyimpan nya di lemari jadi saat nyonya menekan tombol nya alat itu masih bisa berfungsi" ucap nya.


"Oh itu Sangat bagus" ucapnya, wanita itu mengambil sebuah alat yang cukup besar namun seperti sebuah speaker.

__ADS_1


"Nanti aku ingin kau memasang ini" ucapnya.


"Baik nyonya" ucapnya.


"Hahahah aku sudah yakin lama lama dia bisa gi la" ucap nya tertawa.


Dia duduk di kursi sambil meminum segelas minuman keras yang sudah menjadi candu baginya.


Seorang gadis lugu yang tak bisa apa apa sekarang bisa melakukan banyak hal dengan uang hasil menjual tanah nya di kampung.


Dia pernah gagal di sebuah universitas yang terkenal namun bukan karena gagal masalah pelajaran dia gagal karena masalah biaya.


Dia terpaksa keluar dari universitas itu, namun dalam hati nya dia membenci seseorang, yaitu Aziya Yunita Wijaya.


Entah masalah apa yang di buat Zia hingga dia sangat benci pada Zia, bahkan sampai sekarang pun dia masih menyimpan rasa bencinya itu.


Padahal sudah hampir beberapa tahun kebelakang kejadian itu terjadi hanya karena dia melihat Zia bahagia hatinya merasa sangat panas.


Dia ingin sekali menghancurkan Zia, tak Perduli tentang uang, apa lagi dia juga rela menjual tanah milik orang tuanya di kampung dengan harga yang cukup murah untuk bisa laku cepat.


Tak perduli pada orang tuanya yang kecapean hanya untuk menggarap tanah itu, bahkan tanah itu lah menjadi satu satu nya mata pencaharian orang tua nya.


Bibirnya yang merah meracau tak jelas.


"Kau berurusan dengan orang yang salah" gumam nya tersenyum menyeringai.


Sedangkan Adam saat ini dia tengah membuka alat yang dia temukan itu.


Tak ada yang aneh hanya ada kabel kecil di dalam nya.


"Ada apa di dalam nya" gumam Adam.


Hingga sore hari Adam mengoprek alat itu namun tak ada yang Adam temukan.


"Kalau ini tak bisa aku temukan Masalah nya maka aku pasti kan ini tak akan hidup lagi" gumam Adam.


Dengan secara bersamaan seorang wanita menekan tombol untuk menyalakan alat itu.


Hal itu membuat Adam tersetrum karena ada listrik di dalamnya.


"Aaawwss" Adam meringis kesakitan tangannya sampai merah karena panas sambil tersetrum.


Adam melempar alat itu ke arah lantai namun tiba tiba saja alat itu langsung meledak dan mengeluarkan api yang cukup besar.


"Astagfirullah" ucap Adam.


Adam melihat api itu, takut nya api itu merambat ke arah mana mana, Adam melihat handuk yang masih basah.


Adam langsung menutup alat dan api itu dengan handuk Adam yang masih basah.


Adam bisa bernafas lega karena api nya bisa padam dengan segera.


Namun ada hal yang Adam takutkan handuk nya bolong dan terbakar.


Adam takut Zia marah apa lagi hanya itu handuk Zia satu satunya,


"Astaghfirullah aku tak sadar sudah membakar handuk ini" gumam Adam.


Abah datang ke sana dia melihat asap yang sangat tebal di rumah.


"Ada apa ini" tanya Abah.


"Ini Abah sebuah alat terbakar" ucap Adam.


"Astaghfirullah Dam hati hati lah" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


Di waktu yang bersamaan wanita itu juga merasa kan kesetrum namun dengan tegangan yang cukup rendah tak seperti Adam yang sangat besar.


Dia langsung melempar kan alat nya itu.


"Apa yang Adam lakukan pada alatnya itu" ucapnya marah.


"Mungkin alatnya di hancur kan nona, karena kedua nya mempunyai magnet yang cukup besat mungkin saja mereka saling mengalir kan listrik" ucap bawahan nya.


"So tau" ucap Wanita itu.


Dia mengambil sebuah gamis dan cadar yang akan dia pakai, tak lupa dia juga memakai softlens untuk menutupi matanya yang coklat itu.


"Aku akan datang ke pesantren memastikan" gumam nya.


Sedangkan Zia baru saja pulang dia di hadapkan dengan handuk yang terbakar di tangan suami nya.


"Gus Handuknya" tanya Zia meminta penjelasan.


"Ya Zia maaf aku tak sengaja" ucap Adam.


"Hah kau ini, ini kan handuk kesayangan aku Gus handuk ini handuk yang aku sangat sukai aku bahkan menunggu lama untuk menjahit handuk ini dan kau malah membakar nya, kau ja hat Gus" ucap Zia.


"Tapi Zia maaf" ucap Adam.


Namun Zia hanya langsung saja masuk kedalam dan menutup pintu nya.


Adam melihat pada Abah namun Abah hanya menggelang saja.

__ADS_1


Adam hanya pasrah saja mendapatkan amarah dari Zia.


"Nasib" ucap Adam.


__ADS_2