Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 27


__ADS_3

Keesokan harinya pesantren sedang tak baik baik saja, karena ada sebuah pemberi tauan dari pemerintah kalau pasar tempat mereka belanja akan di tutup sementara karena para polisi melihat adanya transaksi jual beli sejenis sabu sabu.


Dan di duga hal itu di lakukan oleh santri Al Zakaria, jadi para polisi datang kesana untuk memeriksa setiap santri disana.


"Pak saya yakin ini pasti salah, mana mungkin ada santri yang berani menjual sabu begitu" ucap Abah mencoba membela santriwan karena adanya berita ini aktifitas santri jadi terganggu.


"Tapi pak saya mohon kerja samanya" ucap Polisi.


Karena berita yang Polisi itu kantongi, pelakunya adalah seorang wanita dan laki laki yang memakai baju alim,


"Saya mohon pak, hanya karena anda mendapat kabar tak seharusnya anda seperti ini pada kami" ucap Abah.


"Pak saya hanya akan memeriksa urin saja kalau memang anak santri bapak yang pernah mengonsumsi minuman saya akan tindak lanjuti" ucap Polisi.


"Baiklah tapi saya harap kalian bisa tertib" ucap Abah mengalah dan langsung pergi dari sana.


Satu persatu santri wanita dan laki laki di periksa urin karena ingin membuktikan kalau para santri di sini bukan penikmat alkohol.


Tapi bagaimana dengan Zia?


Abah bertanya tanya dalam hati karena takutnya Zia juga akan ikut di periksa, otomatis hasilnya Zia akan positif mengonsumsi minuman keras.


"Pak tolong jangan seperti ini, lihat pak para warga melihat kita" ucap Adam pada polisi.


"Maaf tapi kami hanya ingin tertib saja" ucap Polisi itu.


Semuanya di periksa bahkan Abah dan Umi pun juga ikut di periksa, guru guru dan para senior pun ikut di periksa karena takutnya mereka salah satu pengonsumsi minuman keras.


Semua santri menunggu di halaman pesantren, karena hasilnya belum keluar bahkan pak polisi itu menggeledah setiap kamar kamar para santri hanya untuk memastikan kalau tak ada sabu yang lain.


"Semua aman Dam" ucap polisi.


"Baiklah bawa hasilnya kemari" titah pak polisi.


"Redan, Rudi, Jaja, Raka, Aziya, kalian di nyatakan pengonsumsi minuman keras" ucapnya.


"Hah" ucap Zia terkejut.


"Semuanya boleh kembali ke tempatnya masing masing" titah polisi itu.


"Dan nama yang kami sebutkan tadi, di harap datang kemari" ucapnya.


Kelima orang itu mendekat pada polisi yang ada disana, sedangkan Abah yang mendengar hal itu langsung kaget karena Aziya ikut terpanggil.


"Pak lepaskan Aziya dia memang pengonsumsi minuman keras karena dia salah pergaulan" ucap Abah.


"Tak masalah Abah, Abah tenang saja" ucap Zia.

__ADS_1


"Tapi Zia kau" ucap Abah.


"Aku baik" ucap Zia.


"Kalian masuk lah ke mobil biar di periksa di kantor" titah polisi pada kelima orang tersebut.


"Pak anda gak bisa sembarangan begini, mereka memang dulunya pengonsumsi minuman, maka dari itu orang tua mereka memasukan mereka ke sini pak" ucap Adam.


"Tetap saja kami akan memeriksa mereka, siapa tau saja mereka penadah nya" ucap Polisi itu enteng.


Dengan terpaksa Abah membiarkan kelima santri itu di bawa ke kantor, bahkan polisi itu seakan enggan mendengarkan penjelasan dari pihak pesantren.


"Bagaimana ini Abah" tanya Adam.


"Kita tunggu saja keputusannya" ucap Abah.


"Aku harap yang melakukannya cepat ketemu supaya tak melibatkan para santri lagi" ucap Adam.


"Aminn".


Sedangkan Zia dan keempat santri laki laki yang berada dalam mobil hanya bisa diam saja karena tak tau harus bagaimana, bahkan jika untuk menjelaskan pun sangat susah apa lagi mereka seolah menutup telinga dari kejujuran.


Sesampainya di kantor polisi, Kelima santri turun dan di periksa satu persatu bahkan banyak sekali pertanyaan yang di lontarkan untuk para santri itu.


"Pak kami bukan krim inal kenapa harus di periksa begini" protes Zia.


"Ya kami tau dan sekarang kami sudah tak minum lagi" ucap Zia lagi.


"Atau jangan jangan kalian yang menjual beli sabu sabu itu" ucapnya.


"Pak coba bapak pikir, seorang penjual Rokok mereka menjual Rokok tapi kita gak akan tau kan apa dia mengonsumsi atau tidak, bisa saja dia tak suka Rokok kan, nah begitu juga dengan penjual sabu" ucap Zia.


"Ohh berusaha sok pintar ya" ucapnya.


"Bukan begitu, tapi pak bisa saja kan ada orang lain yang menyamar menjadi anak santri, baju alim itu banyak, bahkan baju seragam pesantren pun banyak bisa di beli di mana saja" ucap Zia.


"Ya tapi kenapa harus menyamar".


"Buka mata pak, di kampung sebelah banyak preman kan tapi kenapa hanya kampung kita saja yang di periksa, kalau hanya untuk baju itu bukan sebuah alasan yang kuat pak" ucap Zia.


"Pikk, penjarakan gadis ini aku yakin dia yang melakukannya" titah polisi itu.


Zia di bawa paksa untuk masuk kedalam sel,


"Lepas..... Bde... Bahh.... Kalian jahat..." teriak Zia berontak.


Di pesantren Abah semakin cemas karena tak ada kabar juga dari kepolisian bahkan panggilan dari Abah pun tak ada yang di angkat olehnya.

__ADS_1


Kekhawatiran Abah semakin menjadi jadi saat Nita dan Topan datang kesana.


"Assalamualaikum Abah" sahut Topan dari arah luar rumah Abah.


"Waalaikum salam pak Topan" ucap Abah.


"Ayo masuk pak" ucap Abah mempersilahkan Topan dan Nita masuk.


"Tidak usah Abah, kami hanya sebentar, hanya mau memberikan ini pada Zia" ucap Nita.


"Masuklah dulu ada hal yang harus kalian tau" ucap Abah.


"Ada apa Abah" tanya Topan saat mereka sudah duduk di rumah Abah.


"Zia" ucap Abah.


"Ya ada apa dengan Zia Abah" tanya Topan.


"Apa Zia na kal lagi Abah" tanya Nita.


"Zia di tangkap polisi, maafkan saya tapi polisi itu datang dan mengecek urin para santri ada lima orang santri yang di duga mengonsumsi minuman keras, kami sudah membicarakan kejujurannya tapi mereka seolah menutup mata" ucap Abah.


"Ya alloh kenapa Zia bisa di bawa" ucap Nita sambil menutup mulutnya tak percaya.


"Maaf Bu kami tak bisa apa apa karena kasus itu mereka jadi melibatkan pesantren ini" ucap Abah.


"Apa ada kabar terbaru Abah" tanya Topan.


"Belum ada" jawab Abah.


"Mas kita ke kantor polisi saja" ucap Nita.


"Ya ayo Nit" ucap Topan.


"Abah kami akan kesana sekarang" ucap Topan pada Abah.


"Maaf Abah gak bisa ikut" ucap Abah.


"Tak apa Abah, kami berangkat Assalamualaikum" ucap Topan.


"Waalaikum salam".


"ya alloh masalah apa lagi yang sedang kami hadapi ini, aku harap tak akan mengganggu ketengtraman pondok pesantren ini" ucap Abah seraya berdoa.


Abah berjalan mengambil wudhu dan melakukan sholat taubat dan mendoakan para santri santrinya supaya kejadian ini tak terulangi lagi.


Bahkan terlihat jelas jika saat sedang Sholat Abah meneteskan air mata karena baginya dia sudah gagal mengurus pesantren ini.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2