
Malam harinya Zia menghubungi Adam karena dia ingin menanyakan hadiah apa yang harus Zia pakai saat nanti datang ke acara nikahan Haddad dan Husna.
"Aku akan coba hubungi Adam" gumam Zia.
📞📞
"Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" ucap Adam.
"Maaf ganggu" ucap Zia.
"Tak apa Zia aku sedang santai kok, ada apa" tanya Adam.
"Rencananya aku akan membelikan hadiah untuk Haddad dan Ning Husna, kira kira hadiah apa yang harus aku beli" tanya Zia.
"Euhh menurut aku satu set gelas hias juga bagus" ucap Adam.
"Gelas" tanya Zia.
"Gus masa ke acara nikahan kita beli gelas, jangan gelas bagai mana kalau sarung saja buat Haddad dan buat Ning Husna baju gamis" ucap Zia.
"Sorban saja dan kerudung" ucap Adam.
"Ide bagus" ucap Zia.
"Ya lagi pula Zia, kalau di kampung gelas hias atau jam dinding saja sudah bagus" ucap Adam.
"Besok aku akan beli" ucap Zia.
"Baik lah" ucap Adam.
"Aku akan tidur" ucap Zia.
"Selamat malam" ucap Adam.
"Malam" ucap Zia.
📞📞
"Baiklah aku akan beli kerudung dan sorban" ucap Zia.
Keesokan harinya.
Pagi sekali Zia sudah bangun, sekarang Zia melihat pada kondisi papahnya.
"Pah apa sudah baik" tanya Zia.
"Papah sembuh Zia" ucap Topan.
"Oh ya bagai mana dengan kakak mu" tanya Topan.
"Gak tau kayanya mereka masih tidur, karena kak Raya juga belum keluar kamar" ucap Zia.
"Dimana mamah" tanya Zia.
"Mamah kamu sedang masak, biasa lah wanita" ucap Topan.
Jujur saja ucapan papahnya itu membuat Zia sedikit tersinggung karena selama ini Zia tak pernah memasak di dapur bahkan mencuci piring pun Zia baru melakukannya di pesantren.
"Pah aku akan ke dapur menemui mamah" ucap Zia.
"Ya sayang" ucap Topan.
Zia berjalan ke arah dapur ternyata mamah dan kakak iparnya sedang memasak di dapur, Zia berjalan ke arah wastafle yang di atasnya sudah menumpuk piring kotor.
Zia kesana dan hendak mencucinya.
"Mau apa Non" tanya Bi Ratna.
"Mau cuci piring" jawab Zia.
"Non biar bibi saja" ucap Bi Ratna.
"Tidak Bi, kan biasanya bibi yang ngerjain ini dan sekarang biarkan aku saja yang mencucinya" ucap Zia.
"Tapi Non" ucap Bi Ratna menatap pada Nyonya besar.
Nita menganggukan kepalanya.
"Baiklah bibi akan bersihkan halaman rumah" ucap Bi Ratna.
"Ya" ucap Raya.
"Bagai mana kondisi Rayhan, Ray" tanya Nita.
"Sudah mulai membaik mah, aku sudah oleskan salep pada lukanya bahkan dia juga sudah meminum obat" ucap Raya.
"Syukur lah" ucap Nita.
"Raya" teraik Rayhan dari kamarnya.
"Mah pak Ray memanggil aku akan kesana" ucap Raya.
"Ya" ucap Nita.
Raya pergi dari sana ke dalam kamarnya.
"Zia kapan kau akan ke pesantren lagi" tanya Nita.
"Besok mah" ucap Zia.
"Besok, kenapa" tanya Nita.
"Mah, Haddad dan Ning Husna akan menikah dan besok aku akan pulang lalu besoknya lagi aku datang ke pernikahan" ucap Zia.
"Ya baiklah, tapi mamah tak akan pulang karena kakak kamu juga belum sembuh total" ucap Nita.
"Ya tak apa mah" ucap Zia.
Sedangkan di pesantren Adam sedang melihat para santri yang sekarang sedang ber baris untuk makan.
Lalu Adam melihat ada sekumpulan santri wanita yang sedang makan sambil bicara.
Adam tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Yang aku dengar, Ustadz Haddad dan Ning Husna sedang ber duaan di gudang itu yang dekat pesantren" ucap salah satu santri wanita.
"Masa sih" tanya yang lain.
"Beneran aku juga gak percaya tapi yang jelas mereka kepergok ber duaan di gudang" ucap nya.
"Aku gak percaya" ucap yang lain.
__ADS_1
"Ya mau bagai mana lagi kau tau kan kalau Ustadz Haddad itu sangat mencintai Zia, lalu kenapa yang di nikahi Ning Husna" tanya nya.
"Karena kan Ustadz Mansyur tak merestui hubungan mereka" ucapnya.
"Ya tapi bukan berarti mereka di gudang dan melakukan sesuatu kan" ucap yang lain.
"Sudah jangan fitnah" ucap yang lain lagi.
"Bukan fitnah tapi aku bicara jujur" ucapnya.
Adam hanya mendengarkan dengan tak percaya karena mana mungkin Ustadz Haddad melakukan itu, fikir Adam.
"Makan lah jangan banyak bicara" ucap Adam pada santri wanita itu.
"Gus" ucapnya yang langsung menunduk.
"Jangan asal bicara, tak boleh begitu kalau salah bicara nanti jatuh nya fitnah" ucap Adam.
"Ya gus" ucap mereka serempak.
Adam kembali ke tempat makan para santri laki laki dan di sana semuanya aman terkendali, bahkan mereka hanya mengobrol ringan saja.
"Gus mau makan" tanya Fauzi.
"Nanti saja" ucap Adam.
"Makan lah Gus biar aku yang jaga keamanan" ucap Fauzi.
"Baik lah" ucap Adam.
Sedangkan sekarang Zia sudah di jemput Alena di halaman rumah Rayhan.
"Mah aku akan berangkat" tanya Zia.
"Mau kemana" tanya Rayhan yang sekarang berada di ruang tamu bersama dengan yang lain.
"Aku mau beli hadiah buat Ustadz Haddad yang akan menikah" ucap Zia.
"Jangan lama lama apa lagi dengan Alena" ucap Rayhan.
"Ya kak" ucap Zia.
"Zia jangan main lagi ya" ucap Nita.
"Ya mah, aku berangkat Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" serempak.
Zia keluar dari rumah, Alena yang menunggu dari kejauhan hanya terkejut melihat pakaian Zia yang sekarang sama seperti ibu ibu.
"Zia mana pakian se*si mu" tanya Alena.
"Untuk apa" tanya Zia.
"Masa kau mau main pakai baju begini" ucap Alena.
"Alena apa salah pakai baju ini" tanya Zia.
"Tak salah cuman kau salah tempat saja" gumam Alena.
"Kau bilang apa" tanya Zia.
"Tidak ayo berangkat" ucap Alena.
"Al bisa gak antar aku ke pasar" tanya Zia.
"Pasar" tanya Alena.
"Ya" ucap Zia.
"Memang nya kau mau apa" tanya Alena.
"Aku mau belanja" ucap Zia.
"Mal" tanya Alena.
"Kesana juga boleh" ucap Zia.
"Baiklah" ucap Alena.
Mobil mewah Alena berhenti di pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota itu, Alena dan Zia turun dari sana lalu masuk ke dalam.
Zia melihat lihat toko yang menyediakan kerudung dan sorban,
"Aziya ya" tanya seseorang wanita menyapa Zia.
"Ya" tanya zia.
"Masya alloh, kau Aziya kan teman kuliah dulu" ucap wanita berkerudung panjang itu.
"Ya siapa ya" tanya Zia.
"Aku Anya teman kuliah kamu dulu, Masya alloh Aziya kau sangat cantik" ucap nya.
"Kau terlalu ber lebihan" ucap Zia.
"Oh ya kau pemilik toko ini" tanya Zia.
"Ya, biasa usaha kecil kecilan" ucap Anya.
"Mau cari apa" tanya Anya lagi.
"Aku mau cari kerudung dengan sorban apa ada" tanya Zia.
"Ada mau yang couple" tanya Anya.
"Boleh" ucap Zia.
Alena hanya bisa memutar bola matanya malas karena sekarang Zia ter lihat begitu akrab dengan siapa saja padahal dahulu Zia adalah wanita yang paling sombong.
"Lihat" ucap Anya.
"Wah bagus" ucap Zia.
"Al lihat bagus kan" tanya Zia.
"Ya terserah" ucap Alena.
"Aku ambil yang ini saja" ucap Zia.
"Mau yang lain lagi" tanya Anya.
"Ah tidak" ucap Zia.
__ADS_1
"Aku punya baju untuk mu" ucap Anya yang langsung memperlihatkan gamis dan kemeja batik couple untuk pasangan.
"Aziya dulu kau tak datang saat aku menikah, dan ini anggap saja aku memberi soupenir pada mu, mohon di terima ya" ucap Anya.
"Jangan Anya ini pasti mahal aku bayar ya" ucap Zia.
"Tak usah aku sengaja kok memberikan ini pada semua teman kuliah tapi aku berikan tapi hanya satu setel saja tak couple tapi untuk mu aku beri kan dua karena kau teman terbaik aku" ucap Anya.
"Ah terima kasih Anya tapi apa tak berlebihan" tanya Zia.
"Kenapa ber lebihan kau bisa berikan pada suami kamu kan" ucap Anya.
"Aku belum menikah" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Anya.
"Belum ada jodoh nya" ucap Zia.
"Aziya kau sangat berubah sekarang, dimana kamu tinggal" tanya Anya.
"aku di pesantren Al Zakaria sekarang" ucap Zia.
"Guru" tanya Anya.
"Murid lebih tepatnya santri" ucap Zia.
"Oh baiklah, aku akan bungkuskan" ucap Anya.
Anya memberikan sebuah paper bag pada Zia.
"Berapa" tanya Zia.
"Seratus ribu" ucap Anya.
Zia mengambil uang merah tiga lembar dan memberikannya pada Anya.
"Ini kebanyakan Zia" ucap Anya.
"Tak apa aku punya rezeki sedikit tolong di terima ya" ucap Zia.
"Oh ya soal baju ini aku sangat berterima kasih pada mu, aku pamit Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" ucap Anya.
"Sudah" tanya alena.
"Sudah" ucap Zia.
"Ayo kita ke cafe teman ku sudah menunggu kita" ucap Alena.
"Baiklah ayo" ucap Zia.
Mereka sekarang menuju ke arah cafe.
"Zia apa kau tak sadar" tanya Alena.
"Kenapa" tanya Zia.
"Kau jadi pusat perhatian di mal itu Zia" ucap Alena.
"Lalu" tanya Zia.
"Mereka melihat pada mu dengan tatapan aneh Zia kau mirip ibu ibu" ucap Alena.
"Sudah lah jangan di bahas aku tak peduli pada orang lain" ucap Zia.
Mereka sampai di cafe tempat yang sudah Alena janjikan bersama dengan teman temannya, bahkan di sana banyak sekali para laki laki dan wanita yang berpakaian dan ber sikap layaknya Zia di masa lalu.
"Hy kenalkan dia Zia teman ku" ucap Alena pada teman temannya.
"Apa kau tak salah datang Nona, ini cafe bukan pengajian" ucap laki laki yang duduk di sana.
Hahahah
Semua yang ada di sana mempertawakan Zia yang sekarang masih berdiri,
"Apa sekarang pengajian nya pindah ke Cafe" tanya yang lain.
"Len ibu pengajian mana yang kau bawa nongkrong begini" ucap yang lain lagi.
"Diam kau ini teman ku" ucap Alena.
"Zia duduk lah aku akan mencari minuman yang halal untuk mu" ucap Alena yang langsung pergi ke tempat pelayan berada.
Sedangkan Zia sekarang tengah di tatap oleh teman teman Alena, bahkan mereka secara blak blakan menghina Zia.
"Lihat baju nya" bisik wanita yang ada di sana.
"Hahah apa dia tak punya baju" ucap yang lain.
"Hey ibu pengajian siapa nama mu" tanya yang lain.
"Kau tak pantas di sini, kau lebih pantas di mesjid pengajian".
"Atau jangan jangan kau na kal tapi memakai kerudung, seperti iblis ber kedok malaikat".
" benar juga itu".
Brakk
Zia menggebrak meja yang ada di hadapan nya itu.
"Nama aku Aziya Yunita Wijaya, terima kasih atas tongkrongan kalian, tapi kau benar aku seharus nya ada di mesjid dari pada si sini melihat kalian yang beran dalan ini kau tau bukan manusia yang aku lihat tapi aku sedang melihat hewan" ucap Zia.
"Jamuan nya sangat manis tapi aku harus pergi, selamat siang" ucap Zia.
Zia pergi dari sana dengan keadaan marah karena mereka sudah berani meng hina dirinya.
Alena datang ke meja yang tadi Zia duduki dengan membawa satu gelas air putih.
"Di mana Zia" tanya Alena.
"Pergi dia marah marah" jawab yang lain.
"Apa" tanya Alena.
Alena menyusul Zia yang sekarang sudah berada di luar dengan menjinjing paper bag.
"Zia jangan pulang dulu" ucap Alena.
"Kenapa" tanya Zia.
"Kita belum minum" ucap alena.
__ADS_1
bersambung..