Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 76


__ADS_3

Di pesantren sekarang Adam tengah mempersiapkan diri supaya bisa secepatnya lancar saat ijab qobul nanti.


"Gus katanya sekarang jadi imam harus nya Gus Farid tapi sekarang dia ijin pulang dulu" ucap Fauzi.


"Ya" ucap Adam yang langsung berjalan mengikuti langkah Fauzi.


Saat Adam hendak ke mesjid, datang Yasya ke sana karena akan membuktikan kalau Adam benar benar akan menikah, apa lagi dia baru saja mendengar kabar itu dari orang lain.


"Gus" sahut Yasya.


"Gus kau datang" tanya Adam.


"Aku mau tanya saja apa kau benar akan menikah Gue kau tega tak memberi tau aku padahal kita selalu chattingan" ucap Yasya langsung ngegas.


"Ya Gus maaf aku lupa hari Rabu aku nikah jadi aku niat nya akan memberi tau kamu besok saja" ucap Adam.


"Kau ini" ucap Yasya.


"Maaf, lagian sekarang sudah tau kan jadi aku harap kau datang, oh ya kau tau Gus, Gus Ilham juga akan menikah karena kemarin katanya orang tua wanita itu datang lagi, dan kau tau wanita nya siapa" tanya Yasya.


"Siapa" tanya Adam dan Fauzi yang ada di sana.


"Kinanti wanita yang bercadar adik kelas kita saat sd" ucap Yasya.


"Wah benar kah" tanya Fauzi.


"Ya beneran" ucap Yasya.


"Apa Gus Ilham mau" tanya Adam.


"Tentu saja dia kan cantik ya walaupun kita tak tau kan wajah nya seperti apa tapi aku yakin dia cantik" ucap Yasya.


"Ya, ya sudah ayo sholat" ucap Adam.


"Ayo aku juga sudah jauh jauh datang kemari mau Sholat di sini" ucap Yasya.


"Oh ya Gus aku lihat di rumah Zia sudah ramai bahkan rumah nya pun sudah di hias bagus sekali terlihat sangat mewah ada panggung pula kaya nya orang tua Zia mau ngadain dangdutan" ucap Fauzi.


"Hah masa sih" tanya Adam.


"Beneran" ucap Fauzi.


"Ya bener banget aku juga yang cukup dekat dengan rumah nya tau Gus, Umi aku juga bantu di sana" ucap Yasya.


"Oh ya semewah itu" tanya Adam.


"Ya" ucap Yasya.


Mereka masuk ke mesjid karena akan melaksanakan Sholat Ashar bersama sama, bahkan para santri juga sudah banyak yang bersiap menunggu Adzan di dalam mesjid.


Semua sudah melaksanakan Sholat Ashar, Fauzi dan santri Senior yang lain sekarang mengajar para santri Sedangkan Adam sekarang dia akan membeli cincin yang pas untuk Zia.


"Adam ayo segera lah bersiap" ucap Umi.


"Umi kenapa ajak Ning Rena" tanya Adam saat melihat adik nya yang juga ada di sana.


"Ya biar sekalian kan, jadi anggap saja Ning Rena ini sebagai model nya karena umi yakin kalau tangan mereka satu ukuran" ucap Umi.


"Ya sudah lah terserah" ucap Adam.


"Sudah lah Gus Adam jangan begitu pada adik sendiri aku janji tak akan minta yang macam macam" ucap Rena.


"Terserah" ucap Adam.


Mereka berangkat ke pasar yang ada di kampung sana walau pun cukup jauh dari pesantren, setidak nya ada pasar yang lengkap di sana.


Hal yang paling ada tunggu tunggu adalah saat akan melewati pasar itu maka dari jalan akan terlihat rumah Zia walau pun agak jauh.


Adam berharap kalau ada Zia di sana, setidaknya rasa rindunya bisa terobati karena melihat Zia ada di sana.


"Kak Zia sedang apa ya" tanya Rena menatap pada rumah Zia karena sekarang mereka akan melewati rumah Zia walau pun terlihat dari kejauhan.


"Mana aku tau" ucap Adam.


Namun Adam juga sangat penasaran dia sepanjang perjalanan dia melihat rumah Zia hingga matanya menatap seorang gadis cantik dengan kerudung merah yang sekarang tengah membawa nampan yang berisi kan air minum.


Siapa lagi kalau bukan Zia orang nya.


Adam merasa sangat bahagia karena Doa nya terkabul setidaknya Adam bisa melihat Zia walau pun dari jarak jauh.


"Apa itu kak Zia" tanya Rena padahal dia sudah tau kakak nya itu sudah lama melihat Zia.


"Mana" tanya Adam berbohong karena malu pada adik nya itu.


"Sudah jangan bicara lagi ayo sebelum semakin sore" ucap Umi.


"Ya umi ayo, Ning Rena tuh yang banyak berhenti" ucap Adam.


"Aku ya yang salah" ucap Rena.


"Tentu saja" ucap Adam.


"Lalu siapa yang lama menatap pada kak Zia" tanya Rena.


"Ada Zia" tanya Umi.


"Ada umi di rumah nya" ucap Rena.

__ADS_1


"Sudah lah ayo" ucap Adam yang langsung jalan duluan.


"Gus Adam pasti kangen pada kak Zia" gumam Rena.


Mereka sampai di pasar, tanpa banyak persimpangan lagi, umi langsung menuju ke toko emas karena akan membeli emas.


Lama Umi dan Rena memilih sedangkan Adam hanya menatap saja karena tak paham pada ukuran dan gram nya emas.


Adam ke sana hanya untuk membayar saja karena uang untuk membeli emas semua dari Adam.


"Bu bungkus anu ye sareng kalung anu ye" (Bu bungkus yang ini sama kalung yang ini) ucap Umi.


"Aya deui anu sanes" (ada yang lain lagi) tanya penjual toko.


"Te anu eta we" (udah yang itu saja) ucap Umi.


Penjualan toko membungkus kan emas nya dan memberikan pada Umi.


"Adam bayar" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Adam.


Adam membayar sejumlah harga emas itu, terlihat kalau Umi dan Rena saat ini tengah memilih pakaian.


"Umi mau beli pakaian lagi" tanya Adam.


"Katanya Ning Rena mau" ucap Umi.


"Ya kak" ucap Rena.


"Baik lah aku tunggu di sana" ucap Adam.


Namun Adam melihat banyak sekali para santri yang datang ke sana,


"Kalian sedang apa" tanya Adam pada santri putri yang sekarang ada di sana.


"Gus kami akan belanja" ucapnya.


"Belanja kenapa" tanya Adam.


"Kami sudah ijin pada Abah dan Abah juga mengijinkan" ucap para santri itu.


"Ya sudah terserah, tapi jangan pulang lewat Maghrib ya" ucap Adam.


"Siap Gus" serempak.


Adam menunggu Rena dan Umi di warung dekat sana, apa lagi Adam juga kenal dengan penjual nya.


"Adam iraha mulang ti London" (Adam kapan pulang dari London) tanya ibu warung yang tak lain adalah ibu nya teman Adam.


"Bagja bisa ka luar negeri" ucap ibu itu.


"Ya Bu" ucap Adam.


Umi dan Rena datang ke sana.


"Ayo dan pulang" ucap Umi.


"Ya ayo" ucap Adam.


"Bu saya permisi mau pulang, titip salam pada Dendi datang hari Rabu saya mau nikah, ibu juga sekalian datang ya" ucap Adam.


"Ka urang mana nikah teh" (dengan orang mana menikah nya) tanya ibu itu.


"Murang kalih na Pak Topan" ucap Adam.


"Oh".


Di rumah Zia sekarang keadaan cukup tenang lagi karena baru saja ada kejadian yang membuat orang lain terkejut pada kakak nya Zia.


"Kak Rayhan" ucap Zia yang langsung masuk ke dalam kamar kakak nya itu.


"Apa" tanya Rayhan ketus.


"Jangan begitu kak, kau menendang mang Koko dia itu tetangga mamah untung saja dia baik" ucap Zia.


"Zia aku beneran melihat mang itu mengarah kan pisau itu pada mamah, aku tak ngada ngada" ucap Rayhan.


"Tapi tetap saja kak aku malu ih" ucap Zia.


"Sudah lah maaf kan kakak, sekarang aku sedang banyak pikiran jadi masalah sepele saja aku anggap besar" ucap Rayhan.


"Rubah sikap kak sebelum kak Raya mengetahui siapa kakak sebenar nya, aku tak mau dia sampai kecewa karena melihat sikap asli kakak yang jauh dari kata baik" ucap Zia.


"Zia aku hanya ingin membelas kematian Nenek dan masa lalu ku yang suram karena Dion" ucap Rayhan.


"Kak sudah lah maaf kan saja, lagi pula Nenek juga sudah tenang di alam sana, sekarang pikirkan saja bagai mana hidup kakak" ucap Zia.


"Kau tak akan paham Zia" ucap Rayhan.


"Kak aku juga sama, sama merasakan akibat nya tapi mau bagai mana lagi ini sudah menjadi takdir" ucap Zia.


Rayhan memutar bola matanya malas meladeni adik nya itu yang sekarang banyak ceramah.


"Lalu apa dengan balas dendam Nenek akan hidup lagi, keluarga kita akan balik lagi seperti dahulu?, Hah tidak kan?" Tanya Zia.


"Ya Zia aku tau tapi setidaknya aku bisa melampiaskan amarah ku ini pada orang yang sudah menghancurkan keluarga kita" ucap Rayhan.

__ADS_1


"Ya sudah terserah kakak saja" ucap Zia.


Zia keluar dari kamar kakak nya itu, karena sekarang Zia akan melaksanakan Sholat Ashar.


Terlihat kalau di kamar Zia sekarang sudah ada kakak ipar Zia yang sedang duduk di ranjang.


"Kak" tanya Zia.


"Zia" ucap Raya yang sekarang lebih banyak diam dan seperti ketakutan.


"Kak kau kenapa" tanya Zia.


"Tak ada aku hanya ingin saja di sini boleh kan" tanya Raya.


"Tentu saja boleh" ucap Zia.


Puput datang ke sana.


"Zia apa pakaian mu sudah di simpan" tanya Puput.


"Sudah Aunty" ucap Zia.


"Raya kenapa ada di sini" tanya Puput.


"Ya Aunty aku hanya ingin saja di sini" ucap Raya.


"Oh, baik lah aunty akan ke sana dulu" ucap Puput.


"Ya" ucap Zia dan Raya.


Zia dan Raya melaksanakan Sholat Ashar bersamaan, dan Alhamdulillah nya Raya setelah sholat dia cukup merasa lega tak seperti tadi yang ketakutan.


"Kak ada apa coba ceritakan pada ku" tanya Zia.


"Tidak ada aku hanya merasa capek saja" ucap Raya berbohong.


"Oh beneran" tanya Zia.


"Beneran Zia, aku tak bohong" ucap Raya.


"Baik lah kalau begitu istirahat saja dulu kalau capek jangan di paksa kan nanti sakit" ucap Zia.


"Ya" ucap Raya.


Zia mulai sedikit merasa aneh pada kakak ipar nya itu, dia kemari tanya tentang Rayhan dan sekarang malah menjadi sering melamun dan ketakutan.


Flash back on


"Zia apa aku bisa bertanya sesuatu" tanya Raya.


"Tanya apa" ucap Zia.


"Apa mas Ray punya bisnis lain selain perusahaan" tanya Raya.


"Ada sih kak malahan kak Ray itu punya markas" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Raya.


"Ya aku pernah ke sana dulu" ucap Zia.


"Untuk apa" tanya Raya.


"Menyusul kak Ray" ucap Zia.


"Bukan maksud aku buat apa markas" tanya Raya.


"Katanya kak Ray itu punya bisnis jual beli bahkan sampai ke luar negeri" ucap Zia.


"Bisnis apa ya" tanya Raya.


"Senjata" ucap Zia.


"Maksud nya" tanya Raya.


"Aku gak tau tapi kata kak Ray dalam bidang senjata" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Raya.


"Apa kakak gak tau" tanya Zia.


"Tidak" ucap Raya menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa begitu seharus nya kakak tau, aku akan beri tau kan alamat nya, aku tulis kan alamat nya kakak tinggal cari saja" ucap Zia menulis alamat di secarik kertas.


"Aku akan cari alamat nya, kalau sudah di kota" ucap Raya.


"Ya cari saja" ucap Zia.


Flash back off..


"Apa kak Raya ketakutan karena itu, apa jangan jangan dia tau kalau kakak itu seorang Mafia" batin Zia.


"Aku akan ke depan" ucap Raya yang langsung pergi meninggalkan Zia di kamarnya.


"Ya kak" ucap Zia.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2