
Adam membuat soal ujian yang cukup banyak padahal Abah hanya menyuruh Adam membuat kan dua puluh soal saja karena itu hanya untuk poin tambahan saja.
Karena soal untuk ujian Nasional sudah di beri kan oleh pemerintah pendidikan.
Adam memberikan soal dan jawaban nya itu pada Abah.
"Ini Abah" ucap Adam.
"Mata kamu sembab jalan kamu sempoyongan, fiks kamu bukan Adam" ucap Abah.
"Aku adalah majnun yang di tinggalkan Layla nya" ucap Adam yang langsung masuk ke dalam kamar nya kembali.
Rena yang mendengar hal itu langsung teringat pada Luthfi, karena kata Luthfi dia akan menjadi Qais kalau dia benar menjadi Qais dia pasti akan seperti adam.
"Ning sadar Ning kalau Gus Luthfi itu sudah tak mau pada mu apa lagi kau seorang janda" batin Rena.
Adam langsung bersiap karena akan menemui Zia, hari ini adalah hari terakhir Adam ada di Indonesia karena besok Adam harus ke London lagi untuk kuliah.
"Aku jadi menyesal sekolah di London" batin Adam.
Adam memakai sorbannya namun hanya Adam gantungkan saja di pundaknya.
"Andai saja Zia tak marah begini, ya Alloh kalau Zia masih mau melanjutkan sidang ini mungkin saat aku pulang dari luar negeri aku sudah menjadi duda" ucap Adam.
Adam menyisir rambut nya.
"Apa mungkin setelah aku pulang nanti Zia sudah menikah lagi apa mungkin dia memilih laki laki yang kaya raya dan tampan lalu Zia akan tinggal di kota, ya Alloh membayang kan nya hati aku sakit sekali" ucap Adam sambil meringis akan menangis.
Semenjak Zia pergi Adam menjadi laki laki yang cengeng tak heran kalau Adam gampang sekali menangis dia tak bisa jauh dari Zia.
Untuk pertama kalinya Adam menyayangi seseorang menggunakan hati dan akal nya, sehingga saat Zia tak ada akal nya tak bisa berpikir dengan baik.
"Hati ku sudah aku titip kan pada Zia" batin Adam.
"Hasbunalloh wa nimal wakil" gumam Adam menyerah kan semua masalah ini pada Alloh SWT.
Sedang kan di rumah Zia sekarang ada Umi di sana, umi mau bertanya saja pada Zia apa benar dia akan menceraikan Adam.
"Neng bagai mana kamu tau Adam hancur sekali tak ada kamu" ucap Umi.
"Tapi umi aku gak mungkin memaafkan dia apa lagi aku jelas melihat dia dengan wanita itu" ucap Zia.
"Neng umi tau kamu cemburu hingga itu kamu gak bisa berpikir jernih, tapi tolong pikir kan lagi karena umi yakin kalau kalian itu tak bisa saling jauh" ucap Umi.
"Ya umi" ucap Zia.
"Kau tau Neng, dahulu juga umi begini ya kurang lebih nya begini lah, rasanya tuh kaya sakit hati sekali tapi kita gak bisa memutuskan dengan secara sepihak karena hanya dengan melihat setengah itu tak akan bisa membuktikan orang lain benar atau salah kecuali kita melihat dari awal sampai akhir" ucap Umi.
Zia hanya menunduk saja dia tau umi bicara apa.
"Kau tau semalaman Adam menangis karena memikirkan kamu" ucap Umi.
"Separah itu kah" tanya Nita yang baru datang ke sana sambil membawa cemilan dan minuman untuk Umi.
"Maaf jika merepot kan Bu Nita" ucap Umi.
__ADS_1
"Tak umi" ucap Nita.
"Ya aku juga baru lihat ternyata di balik Adam yang murah senyum itu ada sosok yang sangat cengeng" ucap Umi.
"Tuh Zia" ucap Nita.
"Tapi umi kalau bertemu dengan Gus Adam rasanya itu..." Ucap Zia terpotong karena tak mau sampai umi merasa sakit hati.
"Umi gak akan marah kan" tanya Zia.
"Kenapa marah, lanjut kan saja tenang umi mendukung mu" ucap Umi.
"Rasanya itu jijik sekali ingin aku tampar saja dia kalau ada di hadapanku" ucap Zia.
"Hey Zia jangan begitu" ucap Nita.
"Tapi ini beneran mah, maaf umi tapi ini sudah berlangsung lama sebelum bertengkar pun aku sangat malas dekat dengan nya" ucap Zia.
"Tak apa umi paham" ucap Umi.
"Ya aku juga salah karena sudah mengusir Adam dari kamar tapi kan Umi aku tak menyuruh Gus Adam untuk tidur di mesjid bersama dengan wanita itu" ucap Zia.
"Neng begini saja, umi tau Adam salah tapi tolong pertimbangkan lagi karena besok dia akan berangkat ke London lagi" ucap Umi.
"Secepat itu kah" tanya Zia.
"Ya karena kata teman nya tiket nya lebih murah, umi harap hubungan kalian bisa di perbaiki" ucap Umi.
"Amin" ucap Nita.
"Satu hal yang harus kamu tau, kalau saat umi mengandung Adam dulu umi sangat geram pada Abah bahkan apa pun yang di lakukan Abah selalu salah di mata umi, bahkan umi dan Abah tak tidur satu Kasur karena mencium bau keringat Abah saja sudah membuat Umi mual, umi sering kok usir Abah dulu dari kamar" ucap umi.
"Ya umi sama dulu juga aku saat mengandung Zia aku sangat benci pada papahnya Zia, bahkan masalah kecil pun bisa menjadi sangat besar waktu itu" ucap Nita.
"Semua wanita mengalami nya" ucap Umi.
Umi dan Nita menatap pada Zia.
"Apa mungkin Zia hamil" tanya Nita.
"Ya bisa jadi" ucap Umi.
"Gak mana mungkin" ucap Zia.
"Bisa saja kan" ucap Nita.
"Ya neng karena ciri ciri nya sama seperti kita waktu hamil" ucap Umi.
"Periksa ya" ucap Nita.
"Gak akan aku gak akan di periksa" ucap Zia.
"Ayolah Zia" ucap Nita.
"Gak mau" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.
__ADS_1
"Maaf umi, Zia sering marah akhir akhir ini" ucap Nita.
"Tak apa Bu Nita" ucap Umi.
"Kemarin kemarin Zia Sering mual dan muntah tapi saat aku ajak periksa dia tak mau katanya sudah sembuh lah sudah inilah itulah" ucap Nita.
"Tak apa Bu namanya juga anak muda" ucap Umi.
Adam berjalan ke arah rumah Zia setiap pagi dan malam Adam akan datang namun tak Zia gubris bahkan Zia juga sampai Menyuruh orang tuanya untuk tak membuka kannya.
"Semoga kali ini aku bisa bicara dari hati ke hati" gumam Adam.
Adam merasakan lelah dia saat ini merasa sangat capek berjalan apa lagi rasanya rumah Zia sangat jauh saat ini.
Adam mencoba untuk berjalan dengan cepat namun malah membuat Adam semakin kecapekan.
"Kenapa melelahkan sekali" gumam Adam.
Adam berpapasan dengan para santri putri yang entah dari mana pagi sekali.
"Gus" ucapnya yang hanya di balas senyuman oleh Adam.
Sebenarnya hanya sebuah senyuman saja bisa membuat para santri bahagia dan berharap pada Adam padahal mereka tau kalau Adam punya istri.
Sesampainya di sana Adam melihat uminya yang baru saja keluar dari rumah Zia.
"Assalamualaikum" ucap Adam.
"Waalaikum salam" ucap umi dan nita.
"Mah apa Zia nya ada" tanya Adam.
"Maaf tapi kamu saja ya yang panggil kemarin juga Zia sangat keras kepala" ucap Nita.
"Oh baiklah" ucap Adam yang langsung masuk dan menuju kamar Zia.
Tokk
Tokk..
Adam mengetuk pintu kamar Zia namun tak ada jawaban dari Zia.
"Zia" ucap Adam.
Namun Zia di dalam sana merasakan marah pada Adam apa lagi dia sudah berani mengetuk pintu nya.
"Pergilah aku tak mau melihat mu" geram Zia dari dalam.
"Zia maafkan aku" ucap Adam.
Namun tak ada jawaban dari Zia hingga satu jam kemudian Adam pergi dari sana karena Adam juga malu kalau harus berlama lama di sana padahal Zia tak mau menemui nya.
"Zia malam ini aku akan datang lagi" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.
bersambung
__ADS_1