Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 93


__ADS_3

Adam melihat preman itu datang, ada rasa cemas di diri Adam karena takut nya mereka akan macam macam di pesantren apa lagi mereka datang bersama dengan Zia dan Umi.


Adam menatap dari jarak jauh karena takut nya mereka melakukan sesuatu.


Preman itu sadar kalau sekarang mereka tengah di awasi oleh Adam.


"Umi, kakak ipar kami permisi karena ada hal yang harus kami selesai kan" ucapnya.


"Ya terima kasih karena sudah membantu" ucap Umi.


"Ya" ucap mereka yang langsung pergi dari sana menuju ke pasar lagi.


Adam mendekat pada Zia yang sekarang ada di teras rumah Umi.


"Zia kenapa mereka datang" tanya Adam.


"Mereka ingin membantu Gus, mereka maksa jadi aku perbolehkan" ucap Zia.


"Oh tak apa, tapi mereka tak berbuat macam macam kan" tanya Adam.


"Tidak" ucap Zia.


Mereka masuk ke dalam rumah karena akan melihat barang belanjaan tadi dari pasar.


"Kamu belanja apa" tanya Adam.


"Aku belanja ini" ucap Zia memperlihatkan kresek kecil pada Adam.


"Apa" tanya Adam.


"Sesuatu" ucap Zia.


"Awas Mulai main rahasia rahasiaan sekarang" ucap Adam.


"Isi nya itu tak penting bagi laki laki Gus" ucap Zia.


"Tapi aku mau lihat" ucap Adam merebut kresek itu dan membuka nya.


"Astaga warna pink" gumam Adam.


"Aku juga bilang apa? Itu tak penting untuk mu" ucap Zia merebut nya kembali.


"Ya sudah lah tak masalah, apa yang kau belikan untuk ku" tanya Adam.


"Aku beli ini" ucap Zia memberikan minuman Boba pada Adam.


"Kau beli ini" tanya Adam.


"Ya kau tak suka" tanya Zia.


"Suka sih" ucap Adam.


"Gak papa kalau gak suka biar aku yang minum" ucap Zia.


"Suka Aziya yang cantik dan baik hati rajin menabung" ucap Adam mencubit hidung Adam.


"Kau tau ekspresi memelas kucing saat ingin minta makan" tanya Zia.


"Tau" ucap Adam.


"Sama seperti mu sekarang Gus" ucap Zia.


"Awas ya, gak akan aku kasih ampun nanti" ucap Adam.


"Masa" tanya Zia meledek Adam.


"Sudah lah ayo ke kamar" ucap Adam.


"Mau apa" tanya Zia.


"Istirahat" ucap Adam.


"Oh baik lah" ucap Zia.


Mereka istirahat di kamar dan melakukan aktifitas yang sempat ter tunda tadi.


Skipp


Sekarang kira kira pukul 2 sore hari, semua santri sedang bersiap karena akan ke Madsarah untuk tadarus.


Bahkan Zia dan Adam juga ikut ke sana karena ingin ikut tadarus.


"Gus aku tak bisa ikut lama karena akan membantu Umi masak" ucap Zia.


"Tak masalah Zia" ucap Adam.


"Oh ya Gus kapan Gus Ilham menikah" tanya Fauzi.


"Katanya tiga hari lagi" ucap Adam.


"Apa kau akan datang" tanya Fauzi.


"Ya insya Alloh" ucap Adam.


Mereka masuk dan melakukan tadarus bersama sampai selesai, bahkan Abah juga ada di sana karena memimpin tadarus.


Sebenarnya Abah sudah tak sanggup mengurus pesantren karena Abah juga sudah tua tapi Abah belum sepenuhnya percaya pada Adam apa lagi Adam belum cukup tegas untuk memutuskan sesuatu.


Saat ini murid baru yang ikut sekolah pun ikut tadarus juga di sana.


Mungkin karena orang tuanya yang maksa karena semua nya tau kalau orang seperti mereka tak akan mungkin mau ke sana kalau tanpa paksaan orang tuanya.


Tadarus nya berjalan dengan lancar bahkan Madrasah pun di penuhi suara santri santri mengaji.


"Baik lah selesai kalian punya waktu lima menit untuk sekarang melaksanakan shalat Ashar berjamaah" ucap Abah.


"Baik Abah" serempak.


"Assalamualaikum" ucap Abah yang langsung pergi dari sana.


"Waalaikum salam" serempak.


Para santri juga ikut bubar karena akan mengambil mukenah ke kamar nya dan santri putra akan mengambil sarung dan peci nya.


Zia saat ini sedang berjalan bersama dengan Rena dan Gita.


Ketiga murid baru itu datang ke sana karena akan mendekat pada Zia.


"Bu guru" sahut Radit.


Zia menatap pada Radit dan kedua teman nya itu.


"Apa" tanya Zia.


"Kau sama ya, di kelas jutek di sini juga jutek" ucap Radit.


"Lalu, menurut ku kau juga sama di kelas kau seperti Beran dalan dan di luar juga sama seperti Beran dalan bahkan mungkin lebih" tanya Zia.


"CK kau menyebalkan" ucap Radit.


"Aku lebih baik melihat mu di kelas, dengan seragam SMA mu dari pada harus melihat celana jeans yang lutut nya bolong dan rambut model cep mek yang selalu kau pamerkan itu" ucap Zia.


"Lalu menurut mu apa aku mau melihat mu yang judes itu setiap aku datang ke sini, hah tidak mungkin kalau bukan karena paksaan orang tua ku mungkin aku tak akan datang kemari" ucap Radit.


"Ck, kau tak ingin melihat ku tapi menurut ku suami ku mau lama lama menatap diri ku" ucap Zia berdecak kesal.


"Hah kau sudah punya suami" tanya salah satu teman nya yang bernama Arfa.


"Tentu saja guru yang kau panggil seumuran ini, sudah berusia 24 tahun sekarang" ucap Zia.


"Hah 24 tahun, aku fikir kau masih belasan tahun Bu" ucap Rezky.


"Mata mu memang buram ternyata" ucap Zia.


"Aku masih punya masalah dengan mu, awas ya jangan berani macam macam lagi" ucap Radit.


"Yang mulai duluan siapa, yang ngancam siapa" ucap Zia.


"Aku akan berikan kau perhitungan" ucap Radit.


"Terserah kalau kau bisa matematika" ucap Zia.


Hahahah


Suara tawa dari mulut Rena, Gita, Rezky, dan Arfa terdengar sampai di telinga para santri yang lain.


"Ada apa" tanya Adam.


"Tak ada hanya saja sedang membahas hal yang receh" ucap Zia.


"Oh baik lah segera lah bersiap karena akan Sholat Ashar" ucap Adam.


"Ya Gus" serempak.


Zia mengambil mukenah nya di rumah Umi, karena sekarang mereka akan Sholat.


Setelah Sholat Zia akan membantu Umi memasak.


Setelah selesai melaksanakan Sholat akhirnya Zia langsung pulang karena akan membantu Umi memasak.


Sekarang santri makan cukup tepat karena biasa nya pukul dua siang sudah makan tapi sekarang sudah Sholat Ashar tapi belum makan.

__ADS_1


Zia berjalan masuk ke dalam rumah Umi.


"Umi ada yang bisa aku bantu" tanya Zia.


"Semua nya sudah selesai Neng, tinggal membawa saja ke tempat makan" ucap Umi.


"Biar aku bantu" ucap Zia.


Zia membantu Umi membawa makanan itu ke ruang makan, para santri juga sudah bubar dari mesjid tinggal menunggu makanan datang.


"Semuanya sudah selesai" gumam Zia.


Rosa datang ke sana.


"Zia mau gak bantu aku menjaga keamanan, santri" ucap Rosa.


"Oh boleh" ucap Zia.


"Tapi Zia bisa kah kau antar aku ke gudang, tadi aku akan mengambil sapu baru di sana kata Umi juga ada, tapi aku takut kalau sendiri" ucap Rosa.


"Oh baik lah ayo" ucap Zia.


"Terima kasih sudah mau membantu ku, setelah Ning Husna mengandung dia ke kota aku tak punya teman sekarang" ucap Rosa.


"Ya, tapi Ning kemana saja kau" tanya Zia.


"Aku ke kota Zia ada urusan dulu, waktu itu aku pulang ke sini dan mamah aku masuk rumah sakit Jadi aku pulang lagi ke kota" ucap Rosa.


"Oh" ucap Zia.


Sesampainya di gudang, gudang itu sangat sepi dan kosong karena letak nya di belakang pesantren jadi terlihat sedikit seram.


"Apa sapu nya di dalam" tanya Zia


"Kata Umi sih begitu" ucap Rosa.


"Tapi Ning di dalam gelap" ucap Zia.


"Bentar ya aku ambil kan senter dulu, tapi Zia kau jangan pergi dulu nanti aku akan kembali lagi" ucap Rosa.


"Oh baik lah" ucap Zia.


Zia menunggu di sana karena akan mengambil sapu, sedang kan Rosa sekarang bukan mengambil sapu tapi dia mengambil kayu yang cukup besar.


Saat Zia membelakangi posisi Rosa, di kesempatan itu Rosa perlahan berjalan mendekat pada Zia dan..


Bugh


Kayu itu Rosa pukul kan pada punggung Zia dan sudah pasti itu kena ke kepala Zia.


Tiba tiba saja Zia merasa pusing sehingga membuat Zia jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


Brugh.


Zia terjatuh ke tanah, Rosa tersenyum tipis karena misi nya berhasil untuk menyingkirkan Zia.


"Rasain" gumam nya.


Rosa mengangkat tubuh Zia dan menyeret nya masuk ke dalam gudang yang gelap dan kotor itu.


Sapu baru hanya lah alasan Rosa untuk menjebak Zia karena yang benar adalah gudang itu sudah tak terpakai lagi, bahkan di dalam nya hanya ada sampah seperti kertas dan alat yang lain yang tak terpakai.


Rosa menyandarkan Zia pada tembok yang kotor di sana.


Karena tak mau ada yang curiga Rosa pun pergi dari sana tapi dia mengunci pintu terlebih dahulu.


Lalu kuncinya Rosa buang ke sembarang arah, tepat nya ke sawah petani yang ada di belakang pesantren.


"Beres" gumam nya.


Dia ke ruang makan karena akan makan.


"Ning Rosa kapan datang" tanya Umi.


"Umi aku baru sampai kemarin" ucap Rosa.


"Oh bagai mana keadaan mamah mu" tanya Umi.


"Baik Umi, dia sudah mendingan" ucap Rosa.


"Ya ayo makan lah yang banyak" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Rosa.


Rosa tersenyum bahagia karena misi nya selesai, hanya tinggal menghitung menit saja seseorang akan sadar kalau Zia tak ada di sana.


Rosa menyuap kan makanan pada nya, Rosa melihat kalau sekarang Gus Adam tengah sibuk sendiri seperti mencari cari seseorang.


Sudut mata Rosa melihat gerak gerik Adam sambil menyuapkan makanan nya pada mulut nya.


"Satu.... Dua... Ti.." gumam Rosa.


Adam masuk ke dalam ruangan itu.


"Assalamualaikum apa kalian melihat Zia" tanya Adam pada semua santri.


"Tiga.." gumam Rosa tersenyum ja hat.


"Tidak Gus" serempak para santri menjawab karena tak melihat Zia.


"Tadi ada Gus, tadi dia membantu Umi membawakan makanan" ucap Umi.


"Tapi dia tak ada Umi" ucap Adam.


"Kemana Neng Zia" tanya Umi.


"Aku akan cari di madrasah siapa tau dia di sana" ucap Adam.


"Ya cari Dam" ucap Umi.


"Ck bo doh" Rosa berdecak.


Adam mencari cari beberadaan Zia namun tak Adam temukan, Adam melihat ke arah Madrasah di sana ada Ainun dan Fauzi yang tengah membicarakan pernikahan mereka.


"Gus cari apa" tanya Fauzi yang melihat Adam seperti kebingungan.


"Cari Zia Gus gak ada" ucap Adam.


"Zia? Kemana Zia" tanya Ainun.


"Entah aku cari tak ada" ucap Adam.


"Apa mungkin dia di rumah" ucap Fauzi.


"Justru karena tak ada di rumah aku mencari dia" ucap Adam.


"Apa mungkin Zia marah pada mu" tanya Ainun.


"Marah kenapa" tanya Adam.


"Entah, apa kalian berantem tadi" tanya Ainun.


"Tidak kami tak berantem" ucap Adam.


"Kami tak lihat" ucap Fauzi.


"Oh baik lah aku akan mencari ke kamar mandi mesjid takut nya di sana" ucap Adam.


"Aku akan bantu cari" ucap Fauzi.


"Terima kasih" ucap Adam.


"Aku akan cari ke warung" ucap Fauzi.


Fauzi hendak pergi dari sana.


"Fau kau akan meninggalkan aku" ucap Ainun.


"Ayo lah kita cari Zia kasihan dia" ucap Fauzi.


"Baik lah aku ikut" ucap Ainun.


Sedangkan Adam dia mencari di kamar mandi mesjid tapi tak ada bahkan saat itu ada satu pintu yang tertutup, Adam menunggu di sana.


"Semoga saja isinya Zia" gumam Adam.


Lama Adam menunggu orang yang ada di kamar mandi itu, lalu pintu itu terbuka.


Adam melihat nya dan ternyata...


Bukan Zia, yang keluar dari sana adalah santri putra.


"Gus mau ke WC" tanya nya.


"Tidak aku hanya mau mencari Zia" ucap Adam.


"Kak Zia" ucap Santri itu.


"Kau melihat nya" tanya Adam.


Santri itu berfikir.

__ADS_1


"Lihat tadi saat baru keluar dari mesjid" ucap Nya.


"Oh baik lah" ucap Adam.


Adam mencari ke mana tempat yang belum dia datangi, Adam mencari di kamar santri wanita karena takut nya bersama dengan Rena atau Gita.


Adam mencari ke sana, karena Adam adalah keamanan jadi Adam bisa bebas masuk ke sana.


"Apa kalian lihat Zia" tanya Adam.


"Gak lihat" ucap nya.


"Oh baik lah" ucap Adam.


Adam mencari lagi, namun tak ada dia sekarang mentok di kamar Rena adiknya.


Tak ada siapa siapa di sana karena Tadi Adam lihat kalau Rena ada di ruang makan dan tengah makan.


"Astaghfirullah di mana Zia" gumam Adam.


Sedangkan Fauzi yang sekarang tengah mencari Zia dengan Ainun pun tak membuah kan hasil karena Zia tak ada di warung.


"Apa Zia merajuk pada Gus Adam lalu dia kabur" tanya Ainun.


"Zia itu bukan kamu" ucap Fauzi.


"Ck seharusnya kau lihat dari aku kalau saja aku bisa kabur apa lagi Zia" ucap Ainun.


"Jangan sama kan Zia dengan mu" ucap Fauzi.


"Kenapa" tanya Ainun.


"Zia itu istrinya Gus Adam dan kamu calon istri aku" ucap Fauzi.


"Slebew" ucap Ainun.


"Ayo lah jangan banyak bercanda kita cari Zia kasihan Gus Adam mencari Zia sendirian" ucap Fauzi.


"Gus Adam sayang ya pada Zia" ucap Ainun.


"Ya tentu saja" ucap Fauzi.


"Apa kalau nanti aku gak ada kau akan mencari ku" tanya Ainun.


"Tergantung kalau kau kabur Aku tak akan mencari mu karena percuma saja mengejar orang yang lari" ucap Fauzi.


"Kau ini" ucap Ainun.


Adam dan Fauzi bertemu di halaman pesantren.


"Bagai mana Gus Fauzi" tanya Adam.


"Tak ada Gus" ucap Fauzi.


"Astaga kemana Dia" gumam Adam.


"Apa mungkin Zia ke pasar" tanya Ainun.


"Gak mungkin karena tadi siang dia sudah ke pasar bersama Umi" ucap Adam.


"Lalu kemana dia sekarang" tanya Ainun.


Adam semakin cemas sekarang, bahkan pikiran Adam sudah berkelana ke mana mana, Adam berfikir kalau Zia di bawa preman itu karena preman itu dendam pada Adam.


"CK bagai mana ini" gumam Adam mengusap wajah nya gusar.


"Sabar Gus aku yakin Zia akan segera di temukan" ucap Fauzi.


"Ya amin" ucap Adam.


"Baik lah Fau ayo kita bantu cari lagi" ucap Ainun.


"Gus aku akan bantu kau cari kau tenang saja" ucap Fauzi.


"Ya aku berharap kita bisa temukan Zia, aku takut orang tuanya tau dan akan mengalahkan aku" ucap Adam.


"Tenang Gus" ucap Fauzi.


Mereka mencari berpencar namun tetap saja tak ada yang menemukan bahkan sekarang Gus Farid dan yang lain nya juga membantu mencari.


Sekarang waktu juga sudah semakin petang bahkan sudah akan adzan Maghrib sekarang tapi Zia belum juga di temukan.


"Ya Alloh kemana Neng Zia" gumam Umi cemas pada keberadaan Zia yang sejak tadi tak di temukan padahal sudah berjam jam.


"Kapan terakhir kali para santri melihat Zia" tanya Abah.


"Umi gak tau karena para santri tak ada yang tau" ucap Umi.


"Astaghfirullah" ucap Abah.


Sedang kan sekarang Rosa hanya berada di kamarnya rebahan saja karena dia tengah senang pada momen kehilangan Zia ini.


"Gus Adam" sahur santri.


"Ya" tanya Adam.


"Tadi aku lihat Kak Zia dengan Ning Rosa" ucap salah satu santri.


"Apa" tanya Adam tak percaya.


"Benar Gus" ucapnya.


"Aku akan tanya kan pada Ning Rosa" ucap Adam yang sekarang langsung pergi ke kamar Rosa.


Tokk


Tokk


"Siapa yang datang ini" gumam Rosa malas membuka pintu kamarnya.


"Ya siapa" tanya Rosa yang langsung membuka kan pintu.


"Ning Rosa kata santri yang lain katanya kau tadi bersama dengan Zia" tanya Adam yang sekarang di ambang pintu kamar Rosa.


"Oh ya tadi aku dan Zia akan ambil sapu di kelas dan setelah itu aku tak lihat lagi Zia" ucap Rosa berbohong.


"Oh ya" tanya Adam.


"Beneran Gus, aku tak enak badan jadi aku tak bisa membantu mu mencari Zia" ucap Rosa.


"Tak masalah, ya sudah kau istirahat saja" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Rosa.


Rosa kembali menutup pintu kamarnya.


Rosa berputar putar bahkan dia seperti menari nari merayakan Zia yang sampai sekarang belum ketemu.


"Aku akan balas kan semua hinaan dari mu pada ku Zia" gumam Rosa.


Malam semakin larut tapi Zia masih belum ketemu juga.


"Para santri sekarang kalian boleh istirahat" sahut Abah.


"Tapi Abah Zia belum ketemu" ucap Adam.


"Gus para santri butuh istirahat" ucap Abah.


"Lalu Zia bagai mana" tanya Adam.


"Besok kita cari lagi" ucap Abah.


"Tapi" ucap Adam keberatan.


Karena para santri patuh pada Abah, mereka pun istirahat sekarang sedang kan Adam hanya berdiri sendirian di sana.


"Dam pulang lah dulu" ucap Abah.


"Ya" ucap Adam terpaksa pulang.


Adam duduk di kursi dengan wajah yang gusar, bahkan dalam hati Adam ingin menangis dan menjerit jerit, karena Zia belum di temukan.


"Tenang Gus minta petunjuk pada Alloh" ucap Abah.


Adam tak bicara lagi karena dia sekarang tengah bingung.


"Makan lah Dam" ucap Umi.


"Gak usah Umi" ucap Adam.


"Serahkan semua nya pada Alloh Dam, hanya dia yang sekarang bisa membantu mu" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


Adam membersihkan badan nya, dan dia segera mengambil Wudhu karena akan melaksanakan Sholat isya yang tadi terlewatkan oleh Adam.


Adam melakukan Sholat nya di kamar, hingga selesai Adam pun berdoa meminta petunjuk pada Alloh, agar Zia segera di temukan.


Jujur saja Adam sudah prestasi karena takutnya kabar ini sampai ke mamah nya Zia, takutnya mereka akan datang ke sana dan mencari Zia.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2