
Sekarang sudah malam, waktu menunjukan pukul delapan malam sekarang Adam akan ceramah di hadapan para santri, karena ada waktu selama satu jam saat santri akan tidur.
Adam sudah berdiri di hadapan para santri, dia membaca pada satu lembar kertas yang akan dia bacakan sekarang, karena Adam sudah mencatat setiap kata yang akan dia bahas saat berceramah.
"Assalamualaikum wr wb" ucap Adam memulai ceramahnya.
"Waalaikum salam" serempak para santri menjawab.
"Hamdan Washukron lilah ama bakdu, Alhamdulilah kita masih di beri waktu untuk menghadiri ceramah ini, aku akan membahas tentang arti sebuah kebaikan, baiklah setiap manusia pasti punya kesalahan dan kebaikan, lalu apa arti dari sebuah kebaikan, akan aku jelaskan, membaca dari kisah nabi Muhhamad Shallaullahu alai wasalam, di kisahnya banyak sekali orang benci padanya bahkan sampai ada orang yang terang terangan yang mengatakan secara langsung padanya, tetapi apa kah Nabi kita marah? Tentu saja tidak dia malah tersenyum dan memaafkannya, lalu bagaimana dengan kita bahkan sikap kita sangat jauh bukan, nah satu hal yang harus kita contoh dari kisah ini, pernah suatu ketika Nabi Muhamad menemukan seorang gelandangan yang matanya buta, dia sangat membenci pada nabi Muhamad namun Nabi tak pernah membalas kebencian itu, dia membalasnya dengan kebaikan, setiap hari nabi memberinya makan selalu menanyakan kabarnya bahkan Nabi sampai menyuapinya dengan kasih sayang, karena si gelandangan itu tak bisa melihat dia tak tau siapa yang sedang menyuapinya itu bahkan dia tak tau namanya itu siapa, suatu ketika nabi perpesan pada Abu bakar temannya saat Nabi akan menghembuskan nafas terakhirnya, nabi berpesan agar Abu bakar bisa menggantikan dia memberi orang buta itu makan, setelah nabi tiada Abu bakar datang pada si buta itu dia menyuapi si buta itu namun ada perkataan yang membuat Abu bakar marah, si buta itu berkata
" Kau tau kabar tentang muhamad si pendusta itu aku dengar pengaruhnya sangat luas entah apa yang dia gunakan bisa bisa nya dia mengaku sebagai rasul, memang nya siapa dia" ucap Si buta itu yang tak tau bicara dengan siapa karena dia buta, lalu sebagai teman Nabi Muhamad, Abu bakar sangat marah pada si buta itu dia menyuapi si buta itu dengan sedikit menekan nekan kan makanan pada mulut si buta itu, karena merasa aneh si buta itu pun berkata "kau kasar sekali, aku rasa engkau orang yang berbeda, siapa engkau sebenarnya" lalu Abu bakar pun menjawab "aku orang yang biasa memberi mu makan" jawab Abu bakar, si buta berkata lagi " bohong, kau orang yang berbeda orang yang biasa mendatangi ku selalu menyapa ku dengan lemah lembut, iya menanyakan kabar ku dan menyuapiku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, belum pernah aku temui orang sebaik itu, pantasnya dia lah yang menjadi rasul" ucap si buta itu, karena dia belum tau kalau yang selalu menyuapinya itu adalah Nabi Muhamad, lalu Abu menjawab "engkau benar bapak ku, aku memang bukan dia" si buta itu kaget lalu bertanya " lalu siapa engkau" tanya Si Buta, "aku salah satu dari sahabatnya nama ku Abu bakar" si buta itu kaget, si buta bertanya " lalu kemana sahabat ku yang selalu mendatangi aku itu" tanya si buta, "orang yang engkau maksudkan itu sudah meninggal dua hari yang lalu" jawab Abu bakar, si buta kaget dan menangis bahkan dia sampai menjatuhkan tongkat yang berada di tangannya, "kenapa orang sebaik itu meninggal, padahal aku belum sempat membalas kebaikannya, dia orang terbaik yang pernah aku temui di muka bumi ini, bahkan melebihi saudara saudara ku sendiri, Bahkan aku belum tau namanya" ucap si buta itu, Abu bakar menatap pada si buta itu, "mau kah kau aku beri tau siapa orang itu" tanya Abu bakar, "apa kau tau" tanya Si Buta, "dia lah Muhammad rasulullah shallahu alaihi wasalam" jawab Aku bakar, "hah dia muhamad benarkah apa yang kau katakan" ucap Si buta terkejut hingga menangis dan memeluk abu bakar" ucap Adam sambil menarik nafas.
"Di cerita itu kita bisa lihat kalau nabi muhamad itu tak pernah menyombongkan dirinya, contohnya nabi Muhamad tak pernah membicarakan siapa namanya pada si buta itu, walau pun selalu mendapat ucapan pedas dari si buta itu tapi nabi muhamad tak pernah benci padanya, bahkan dia selalu memberikan si buta itu makan, nah dari cerita itu aku harap kalian semua bisa mencontoh sikap nabi yang tak pernah membalas jika di hina, cukup sekian yang bisa aku berikan Wabilahi taufik wal hidayah wassalamualaikum wr wb" ucap Adam.
Semua santri bubar dan tidur di kamarnya, malam yang sunyi dan sepi bahkan cuaca pun sangat dingin di luar sana membuat para santri enggan untuk melepas selimutnya.
Tetapi Zia saat ini sedang menatap pada langit langit kamarnya, Zia melihat pada Rena dan Gita mereka sudah tertidur, Zia mengingat kejadian siang tadi.
Flash back on siang tadi.
Zia sudah selesai Sholat Ashar, dan sekarang Zia hendak menuju Madrasah, Haddad menghentikan langkah Zia.
"Aziya" ucap Haddad.
"Ya" tanya Zia.
"Bisa kita bicara" tanya Haddad.
"Bicara apa, aku hanya punya waktu sebentar" ucap Zia.
"Aku tak akan lama" ucap Haddad.
"Apa" tanya Zia.
"Aku rasa kau wanita yang tepat Zia, mau kah kau menikah dengan ku, aku janji akan menjaga mu membahagiakan mu Zia, bahkan aku akan membimbing mu menjadi istri ku" ucap Haddad.
"Haddad tapi bukan kah ini sangat mendadak, bahkan kita belum saling mengenal, ya aku akui kita satu kampus dahulu tapi posisinya kau tau aku dan aku tak tau kau haddad" ucap Zia.
"Ya".
"Maaf bukan maksud aku tapi, aku tak bisa menikah dengan laki laki yang tak aku ketahui asal usulnya" ucap Zia.
"Bagaimana kalau kita menikah saja dan pacaran setelah menikah" ucap Haddad.
"Aku akan fikirkan dulu" ucap Zia.
Flash back off.
Zia bingung dengan ucapan Haddad, Zia sangat ingin menikah dengan seorang Ustadz yang bisa membimbingnya nanti tetapi Zia tak tau sikap Haddad bahkan Zia hanya takut kalau nantinya Haddad akan seperti Akash.
Jujur saja Zia pun sudah mempunyai perasaan pada Haddad tetapi jika untuk menikah secepat itu Zia takut masa lalunya terulang lagi.
Apa lagi bayang bayang Akash yang sedang bulan madu bersama dengan istrinya masih tersimpan di benak Zia.
"Ya alloh apa Haddad baik untuk ku, aku percaya kalau Haddad baik tetapi bagaimana dengan Ustadz Mansyur bahkan saat kami bertemu pun dia seolah memberikan aku tatapan tak suka" gumam Zia.
Zia bingung dengan semua ini, ketika dia bisa secepatnya melupakan Akash dan berpindah pada hati yang lain, tetapi perasaannya itu di halangi dengan restu orang tua Haddad.
Zia tak mau kalau sampai hubungan Haddad dan orang tuanya rusak karena hubungan Haddad dan Zia, walau bagai mana pun Zia tak mungkin bersikap egois di masalah ini.
Tak terasa akhirnya Zia tertidur juga, hingga dengkuran halus terdengar dari Zia.
Pagi sekali kira kira pukul setengah empat pagi, Haddad sudah berada di depan pintu kamar Zia, walau pun laki laki tak boleh masuk ke kamar Wanita tetapi Haddad punya alasan kuat untuk masuk, yaitu dengan beralasan akan membangunkan santri wanita padahal tugas itu sudah menjadi tugas para senior wanita.
Namun di sisi lain ada Husna yang melihat kejadian itu, lama Husna bersama dengan Haddad, Husna mulai suka pada Haddad apa lagi Haddad adalah sosok yang sangat baik dan perhatian.
__ADS_1
Hal itu menjadi suatu ketertarikan bagi Husna, apa lagi Husna juga sangat ingin segera menikah mengingat umurnya yang sudah cukup matang bagi seorang wanita untuk menikah.
"Zia, aku tak suka pada mu, kalau sampai Ustadz Haddad suka pada mu aku tak akan memaafkan mu" gumam Husna yang tak jauh dari sana.
Rena mencoba membangunkan Zia yang sekarang masih rebahan di kasur.
"Kak Zia ayo bangun" ucap Rena.
"Emmtt ya aku bangun sekarang, aku kedinginan Ning" ucap Zia.
"Kalau gak mau dingin Nikah kak" ucap Gita yang langsung di sambut gelak tawa oleh Rena.
"Ahh kalian masih kecil jangan bicarakan tentang menikah aku saja yang sudah tua belum menikah" ucap Zia namun matanya masih terpejam.
"Kak kami akan duluan kesana, awas jangan sampai bangun terlambat" ucap Rena yang langsung pergi dari sana.
Rena dan Gita membuka kunci pintu kamarnya itu karena semalam di kunci dari dalam, namun betapa terkejutnya mereka saat melihat Haddad yang berdiri disana.
Namun mereka berdua tak berisik karena Haddad menaruh telunjuknya di depan mulutnya meng kode supaya tak berisik.
"Mana Zia" bisik Haddad.
"Masih tidur" jawab Rena dengan suara pelan.
"Baiklah boleh aku bangunkan Zia" tanya Haddad.
"Boleh" jawab Gita dengan suara pelan juga.
Haddad masuk kedalam sedangkan Rena dan Gita masih disana karena ingin melihat reaksi Zia saat mendapati kalau Haddad lah yang membangunkannya.
Haddad mengambil sapu yang berada di pojokan, dia pun memukul mukul pelan kaki Zia dengan gagang sapu itu.
"Arggh Ning aku sudah bangun" ucap Zia namun masih dengan mata tertutup.
Hadadd terus saja memukul pelan kaki Zia.
"Haddad kau kenapa di sini" tanya Zia.
"Membangunkan mu" jawab Haddad.
"Bukan begitu tapi kan laki laki gak boleh masuk kesini" ucap Zia.
"Aku bisa" ucap Haddad.
"Ah ya, baiklah aku akan bangun lagi pula Adzan Shubuh sebentar lagi" ucap Zia.
"Ayo" ucap Haddad yang mengikuti Zia dari belakang.
Zia menatap pada kedua temannya yang sekarang sedang mengintipnya dari depan kamar mereka.
"Awas kalian" gumam Zia saat mereka berjarak sangat dekat.
Rena dan Gita hanya tertawa kecil saja melihat tingkah Zia yang malu malu itu.
"Aziya hari ini aku akan pulang" ucap Haddad yang sekarang berada di belakang Zia.
"Pulang? Kenapa?" tanya Zia.
"Aku akan beri tau Abi kalau aku akan melamar mu" ucap Haddad.
"Haddad, kalau misalkan Abi mu tak setuju bagaimana" tanya Zia.
"Mana mungkin, setau aku Abi juga suka pada mu" ucap Haddad.
"Ya suka tapi belum tentu kan dia memberikan restu nantinya" ucap Zia.
__ADS_1
"Kenapa kau berfikir begitu" tanya Haddad.
"Bukan begitu Haddad tapi kan, aku na kal dan abi kamu suka, aku hanya malu saja kalau kau menikah dengan wanita na kal seperti aku" ucap Zia.
"Kamu baik, dan menurut ku dengan kau masuk kesini juga kamu sudah berniat mau belajar Zia" ucap Haddad.
"Ya tapi" ucap Zia.
"Sudah jangan tapi tapian, waktu Sholat Shubuh sebentar lagi jadi ayo segera Wudhu" ucap Haddad.
"Siap bos" ucap Zia.
Haddad berjalan ke tempat Wudhu laki laki sedangkan Zia masih berdiri disana, karena tempat Wudhu nya penuh.
Adam melewati Zia, dan Adam hanya tersenyum saja saat bertatap mata dengan Zia.
"Gus" ucap Zia menyapa yang hanya di balas anggukan kepala oleh Adam.
"Allohu akbar... Allohu akbar" Adzan Shubuh berkumandang di Mesjid sedangkan para santri sekarang sudah banyak yang siap di dalam mesjid.
Sebagian melakukan dahulu Sholat Sunat
Semua santri melakukan Sholat sunnah Qobliah Shubuh, sedangkan yang lain hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara.
Salat sunnah Qobliah dilakukan sebelum atau sesudah azan? Pada dasarnya, salat sunnah sebelum subuh dilakukan di antara azan dan iqamah subuh. Tepatnya, sesudah azan dan sebelum iqamah pengerjaan salat berjamaah.
Sedangkan Sunnah berati Sholat yang jika tidak di lakukan tidak berdosa, sedangkan jika melaksanakannya berarti memperoleh pahala.
Tetapi Zia dia hanya diam saja karena tak bisa bacaan Doa nya, kalau saja Zia tau mungkin Zia akan melakukannya bahkan mau bertanya pun Zia malu.
Seorang santri membacakan Iqamah karena sekarang para santri akan melakukan Sholat Fardhu Shubuh.
Saat ini Adam lah yang menjadi Imam yang memimpin di depan, hingga sampai selesai Adam juga membacakan Wirid di depan dengan menggunakan Tasbih.
Bahkan sekarang para santri pun banyak yang membawanya sedangkan Zia tak punya dan hanya memakai jari saja mengikuti Gita yang juga sama menggunakan jari tangan.
Hingga sampai selesai, pukul tujuh pagi semua santri sudah berada di kamarnya masing masing bahkan ada yang menjemur pakaian, sedangkan Zia memilih masuk kedalam rumah Umi dan menemui Umi.
Karena semenjak kejadian itu Zia tak pernah main lagi ke rumah Umi, bahkan sudah dua hari ini Zia tak membantu Umi mencucikan piring kotor Umi.
"assalamualaikum" ucap Zia di depan pintu rumah Umi.
"waalaikum salam" sahut Umi dari dalam.
Umi membukakan pintu.
"neng Zia, Umi kita teh siapa, hayu masuk kedalam, lama Neng Zia jarang ke sini bahkan saat ketemu sama Umi ge Neng Zia tak pernah nanya" ucap Umi.
"ya Umi, sekarang kan aku belajar tapi Umi aku datang kesini karena rindu ingin mencuci piring kotor Umi" ucap Zia.
Umi tersenyum pada Zia.
"kamu mah, tak apa Neng Zia fokus saja belajar piring kotor biar Umi yang bersihkan" ucap Umi.
"tidak Umi aku hanya rindu saja, ya sekalian ingin belajar beres beres rumah" ucap Zia malu malu.
"ya tak apa, tapi menurut Umi mah, Neng Zia harus Fokus belajar ya bukannya mau secepatnya keluar dari sini karena mau menikah" ucap Umi.
"aah Umi bisa saja, tapi Umi sekarang Aku berubah Fikiran aku sekarang mau lama lama di sini saja, aku mau belajar supaya bisa menjadi Zia yang baru, yang Alim dan sangat taat pada agama" ucap Zia.
"aminn, tapi bukannya mau segera menikah" tanya Umi.
"ya sih tapi kan jodoh gak akan kemana Umi" ucap Zia.
"menikah lah dengan Adam" ucap Umi.
__ADS_1
"umi" sahut seseorang dari arah pintu, dan hal itu membuat Zia dan Umi kaget.
bersambung...