
Pagi sekali kira kira pukul lima pagi, Zia sudah berangkat ke pesantren dengan di antar oleh Lukas anak buah kakaknya.
"Kak Lukas menurut ku, kau dan Alena sangat cocok" ucap Zia.
"Ah mana mungkin" ucap Lukas.
"Ya, aku yakin kalau Alena bersama dengan mu dia pasti akan berubah" ucap Zia.
"Aku gak suka padanya dia terlalu bar bar" ucap Lukas.
"Aku yakin dia akan berubah" ucap Zia.
Di pesantren sekarang Umi dan Abah sudah selesai Sholat Shubuh dan langsung ke rumah.
"Umi akan lihat Adam" ucap Umi.
"Ya lihat tanya kan apa sakit kepalanya sudah mendingan" tanya Abah.
"Ya" ucap Umi.
Umi masuk ke dalam kamar Adam.
"Dam bagai mana apa masih sakit" tanya Umi.
"Cukup baik tapi masih sakit umi" ucap Adam.
"Sudah Sholat Shubuh" tanya Umi.
"Sudah" ucap Adam.
"Baiklah mau makan apa, mau umi buatkan bubur" tanya Umi.
"Tak perlu Umi" ucap Adam.
"Lagi pula aku tak nafsu makan" ucap Adam yang sekarang masih rebahan di atas ranjang.
"Ya baiklah kalau butuh apa apa hubungi Umi" ucap Umi.
"Ya" ucap Adam.
Kira kira pukul delapan pagi Zia baru sampai di pesantren, mobil yang di tumpangi Zia hanya sampai ke depan gerbang saja karena terlihat kalau santri sedang mengantri untuk makan.
"Kak aku akan masuk, terima kasih sudah mengantar kan aku" ucap Zia.
"Ya sama sama" ucap Lukas.
"Hati hati di jalan" ucap Zia.
"Ya" ucap Lukas yang langsung pergi dari sana.
Zia melangkah masuk kedalam, ada Rena dan Gita yang menyambutnya dari arah kelas.
"Kak kapan datang" tanya Rena.
"Baru saja" ucap Zia.
"Baik lah ayo ke kamar" ucap Gita.
Mereka bertiga masuk kedalam kamar karena akan menyimpan tas yang Zia bawa.
"Oh ya kak, besok kan Ustadz Haddad sama Ning Husna akan menikah kakak ikut kan" tanya Rena.
"Insya alloh Ning" ucap Zia.
"Oh ya dimana Gus Adam" tanya Zia yang sejak tadi tak melihat Adam.
"Gus Adam sakit" ucap Rena.
"Sakit? Kenapa bisa sakit?" tanya Zia.
"Entah kemarin saat aku ke kamarnya dia hanya rebahan saja, katanya sakit kepala" ucap Rena.
"Bisa antar aku menemuinya" tanya Zia.
"Ayo" ucap Rena.
Zia membawa batik couple itu karena akan dia berikan pada Adam untuk menjadi pasangan ke acara pernikahan Ustadz Haddad.
Zia dan Rena masuk ke rumah Umi karena Gita tak ikut karena akan sarapan dahulu.
"Assalamualaikum" ucap Rena dan Zia.
"Waalaikum salam" ucap Umi yang saat ini baru keluar dari kamar Adam dengan membawa satu mangkuk bubur yang masih penuh.
"Neng Zia kapan datang" tanya Umi.
"Baru saja Umi, aku baru dapat kabar dari Ning Rena kalau Gus Adam sakit" ucap Zia sambil menyalimi tangan Umi.
"Kau masuk saja, Adam sudah untuk makan" ucap Umi.
"Umi biar aku bujuk" ucap Zia.
"Ya silahkan" ucap Umi.
Zia dan Rena masuk ke dalam kamar Adam.
"Assalamualaikum" ucap Rena.
"Ada apa" tanya Adam yang sekarang tengah ber baring membelakangi pintu.
"Aku bawa sesuatu" ucap Rena.
"Dari santri wanita lagi, Jangan Ning aku tak nafsu makan" ucap Adam tanpa menatap pada Rena.
"Bukan makanan" ucap Rena.
"Lalu" tanya Adam.
"Lihat lah kesini" ucap Rena.
Adam membalikan tubuhnya.
"Apa" ucap Adam yang langsung menatap pada Rena dan Zia yang sekarang ada di sana.
"Zia kapan datang" tanya Adam.
"Baru saja" ucap Zia.
__ADS_1
Zia duduk di kursi yang berhadapan dengan ranjang Adam,
"Ayo makan" ucap Zia.
"Aku gak nafsu makan" ucap Adam.
"Aku punya ini tolong di terima ya" ucap Zia menyerahkan batik yang di bungkus kresek hitam pada Adam.
"Apa ini" tanya Adam yang sekarang bangun duduk di atas ranjang.
"Baju buat besok, cepat sembuh ya" ucap Zia.
"Kau akan ikut" tanya Adam.
"Tentu saja" ucap Zia.
"Kak aku harus sarapan dulu" ucap Rena.
"Ya ning" ucap Zia.
"Ayo makan" ucap Zia.
"Aku gak nafsu" ucap Adam.
"Biar cepat sembuh ayo makan" ucap Zia.
Zia menyuapkan satu sendok bubur pada mulut Adam.
"Zia aku gak nafsu" ucap Adam protes.
"Ayo lah Gus Adam" ucap Zia.
Zia terus menerus menyuapi Adam bahkan Adam protes pun tak Zia dengarkan, setelah bubur nya habis Zia menyimpan mangkuk itu di atas meja kecil.
"Aku akan ambil minum" ucap Zia yang langsung pergi dari sana menuju dapur.
"Aku mual" ucap Adam.
Ohekk ohekk
Adam memuntahkan semua isi perutnya ke atas lantai,
"Ya ampun aku malu" gumam Adam.
"Gus" ucap Zia kaget saat melihat ada muntahan di atas lantai.
"Maaf" ucap Adam.
"Tak masalah biar aku yang bersihkan" ucap Zia.
Zia membersihkan muntahan Adam yang berserakan di lantai.
"Ada apa" tanya Umi yang datang kesana.
"Muntah lagi" ucap Umi.
"Aku mual Umi" ucap Adam.
"Neng Zia jangan, biar Umi saja yang bersihkan" ucap Umi.
"Tak apa Umi biar aku saja" ucap Zia.
"Tidak Umi" ucap Zia membersihkan semuanya dengan kain lap hingga bersih.
"Aku akan cuci kain ini" ucap Zia.
Zia mencucinya tanpa rasa jijik karena waktu itu juga Zia pernah membersihkan muntahan nya sendiri saat mabuk berat.
Zia kembali lagi ke kamar Adam.
"Gus segera lah minum obat aku harus ke kelas aku akan segera belajar" ucap Zia.
"Maaf karena aku, kau membersihkan" ucap Adam.
"Tak apa Gus" ucap Zia.
Zia kembali ke kelas nya untuk ikut belajar bersama dengan santri kelas tiga Sma.
"Zia kapan datang" tanya Farid yang sekarang mengajar di sana.
"Tadi pagi Gus" ucap Zia.
"Baiklah ayo gabung" ucap Farid.
Saat akan belajar, Adam datang kesana.
"Bisa aku masuk" ucap Adam meminta untuk masuk.
"Sudah sehat Gus" tanya Farid.
"Alhamdulilah" ucap Adam.
"Assalamualaikum" ucap Adam.
"Waalaikum salam" serempak.
"Terima kasih buat Gendis, maya, Anggi, mega dan yang lainnya, sudah mengirimkan aku buah tangan" ucap Adam.
"Ya sama sama Gus" ucap mereka.
"Aku permisi, terima kasih Gus" ucap Adam pada Farid dan langsung pergi dari sana.
"Katanya sakit tapi bisa jalan jalan" gumam Zia.
Zia belajar bersama dengan Farid dan santri yang lain, sekarang Zia merasa lebih bebas saja tanpa beban bahkan kalau Haddad akan nikah pun sekarang Zia sudah tak perduli.
"Gus" sapa Fauzi pada Adam yang sekarang sedang duduk di lantai dekat kelas.
"Ya" ucap Adam.
"Bagai mana sudah mendingan" tanya Fauzi.
"Sudah Gus alhamdulilah" ucap Adam.
"Syukurlah, kata yang lain Zia sudah pulang" tanya Fauzi.
"Ya tadi datang melihat aku" ucap Adam.
__ADS_1
"Ahh Mood boster" ucap Fauzi meledek Adam.
"Diam kau" ucap Adam.
"Sekarang aku mengajar di mana" tanya Adam.
"Gus aku fikir jangan dulu deh, karena kan kau baru mendingan" ucap Fauzi.
"Ya baiklah aku akan diam saja" ucap Adam.
"Nanti kalau sudah sembuh ya" ucap Fauzi.
"Siap bos" ucap Adam.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu akbar, allahu akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Hayya 'alashshalaah
Hayya alashshallah
Hayya 'alalfalaah.
Hayya alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah".
Adzan Dzuhur sudah berkumandang di Mesjid, bahkan sekarang para santri pun juga sudah berada di mesjid.
Semua nya melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah karena setelah Sholat mereka akan belajar di Madrasah, tadarus dan belajar tentang hadist hadist yang lain.
Abah mengimami Sholat Dzuhur karena sekarang Jadwal Abah.
Setelah selesai mereka semua bubar dan pergi ke Madrasah.
Sekarang pembatas itu belum di bongkar, karena mulai dari kemarin para santri akan belajar terpisah jadi tak akan ada santri laki laki yang berani menatap pada santri wanita selama belajar.
" baiklah sekarang kita akan belajar tentang qira'at, apa itu qira'at? Ilmu Qira'at merupakanĀ ilmu tentang macam-macam bacaan al-Qur'an yang mana semua bacaan tersebut sambung sampai Rasulullah saw. Dalam Ilmu ini ada berbagai hal yang dipeajari, terutama ilmu tentng cara membaca suatu kata, atau kalimat dalam al-Qur'an" ucap Adam yang menjelaskan di depan.
adam menjelaskan semua pada santri hingga se detail mungkin bahkan Adam juga mempraktekannya pada semua santri.
Setelah selesai semua santri bubar dan istirahat di kamarnya selama satu jam, Zia Rena dan Gita pun kembali ke kamarnya.
"kak apa di kota kau bertemu dengan Ustadz Haddad" tanya Rena.
"ya Ning, bahkan aku bertemu dengan umi nya" jawab Zia.
"oh ya" tanya Rena dan Gita bersamaan.
"kita kenalan" ucap Zia.
"lalu bagai mana apa ustadz Haddad memperkenalkan kakak sebagai sahabat" tanya Gita.
"ya karena kita memang sahabat kan" ucap Zia.
"bukan nya mantan" ucap Rena.
"ayo lah ning jangan ungkit ungkit lagi" ucap Zia.
"oh ya kak aku dengar dari orang lain katanya Ning Husna dan Ustadz Haddad semalaman berada di gudang yang tak jauh dari sini" ucap Rena.
"mereka berdua" tanya Zia.
"ya berdua" jawab Rena.
"aku gak percaya" ucap Zia.
"beneran kak aku juga dengar dari warga yang lain kalau mereka tertangkap basah sedang berduaan di gudang" ucap Rena.
"aku benar benar tak percaya, masa sih Ustadz melakukan itu" tanya Zia.
"ya mungkin saja kan, semua manusia punya naf su kak" ucap Rena.
"ya tapi tak apa lah aku juga sudah melupakan Dia" ucap Zia.
"masa sih" ucap Gita dan Rena bersamaan.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu akbar, allahu akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Hayya 'alashshalaah
Hayya alashshallah
Hayya 'alalfalaah.
Hayya alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah".
Adzan maghrib berkumandang di mesjid.
" alhamdulilah" ucap Zia Rena dan Gita secara bersamaan.
"tak terasa sudah Adzan lagi" ucap Rena.
__ADS_1
"waktu memang cepat Ning" ucap Zia.
bersambung..