Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 130


__ADS_3

Puasa hari ke 8 ini, baru pertama kali Umi bangun kesiangan.


Semua santri sudah bangun sedang kan nasi belum hangat,


"Neng semalam ada makan dari warga, kita beri kan itu saja pada para santri" ucap Umi.


"Ya Umi biar aku yang bagikan" ucap Zia.


Zia melihat kantong plastik yang besar ternyata isinya kue basah dan banyak sekali.


"Gus tolong bagikan ini untuk santri putra" ucap Zia pada Luthfi.


"Baik lah, bagai mana keadaan Ning Rena" tanya Luthfi.


"Dia baik baik saja" ucap Zia.


"Baik lah" ucapnya yang langsung pergi dari sana meninggal kan Zia karena akan membagikan kue basah pada para santri putra.


Zia membagikan makanan itu pada santri putri, semua orang di bagi satu orang satu, Zia berpikir kalau bagai mana para santri akan kenyang kalau satu orang satu.


"Kak beri aku dua" ucap santri.


"Nanti ya kalau ada sisa aku beri dua" ucap Zia.


"Ck satu saja gak akan kenyang" ucapnya.


"Hey bersyukur saja segini juga sudah syukur" ucap salah satu santri yang lain.


Zia hanya tersenyum saja mendengar hal itu, setelah selesai membagikan ada sisa beberapa biji saja.


"Kak masih ada gak" tanya santri tadi.


"Hah kebetulan habis, ini untuk Rena dan santri yang lain" ucap Zia.


"Oh" ucapannya ketus.


Zia keluar dari ruang makan karena dia ingin memberikan kue itu untuk Rena.


Namun ada santri putra yang datang ke sana.


"Kak di ruang makan kurang 3" ucapnya.


Zia memberikan tiga kue basah itu.


"Apa para santri senior sudah kebagian" tanya Zia.


"Belum" ucapnya.


"Oh baik lah" ucap Zia.


Zia membagi nya untuk para santri senior dengan menitipkan pada Fauzi.


Namun Zia melihat kalau kue nya tinggal satu.


"Tak apa lah ini untuk ning Rena" ucap Zia yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Ning ini kue" ucap Zia.


"Wah terima kasih" ucap Rena.


"Bagai mana apa tangan mu masih sakit" tanya Zia.


"Tidak tapi masih sedikit kram" ucap Rena.


"Barusan Gus Luthfi menanyakan mu" ucap Zia sambil berbisik.


"Benarkah" tanya Rena.


"Ya aku bilang kau baik baik saja" ucap Zia.


"Ya tak apa" ucap Rena.


"Baik lah aku akan bantu Umi" ucap Zia.


Akhirnya nasi sudah hangat juga Zia dengan cepat membawa nya ke ruang makan santri putri dan Farid yang membawa untuk santri putra.


Saat ini Rena tengah memakan kue pemberian Zia, dia tengah asik memakan kue itu sambil mengutak atik ponsel Abah karena sedang membuka sosial media nya.


"Bi Umi wa Abi, fatayyuka sayidi, sholatun wa salam, alaika yaa nabi, Habibi yaa Muhammad, atayta bissalami...." Namun Rena tak melanjutkan nyanyinya karena ada Luthfi di sana yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Gus" ucap Rena.


"Kenapa tak di lanjut, aku hanya mau mengambil makanan" tanya Luthfi.


"Hah" ucap Rena tersenyum.


"Bagai mana kondisi mu" tanya Luthfi.


"Alhamdulillah" ucap Rena.


"Aku akan ke dapur untuk ambil makanan" ucap Luthfi.


"Ya" ucap Rena.


Luthfi berjalan ke arah dapur, sekarang pipi Rena sangat panas karena malu ketahuan nyanyi di hadapan Luthfi.


"Astaghfirullah kenapa aku tak sadar kalau ada Gus Luthfi" gumam Rena.


Saat ini di halaman pesantren Zia sudah selesai menata makanan di meja dia kembali ke rumah Umi untuk makan di sana bersama dengan Rena.


Adam datang ke sana dan langsung mencekal tangan Zia.


Karena terkejut Zia sigap langsung menepis tangan Adam.


"Apa" tanya Adam.


"Huhh aku pikir kau siapa" ucap Zia.


"Kau pikir aku siapa" tanya Adam.


"Sudah lah ayo makan, udah mau imsyak" ucap Zia.


"Baik lah tuan putri" ucap Adam.


"Sudah lah" ucap Zia.


"Oh ya apa Ning Rena baik baik saja" tanya Adam.


"Dia baik baru saja aku lihat kalau dia sudah mendingan" ucap Zia.


"Sebaik nya dia jangan puasa dulu karena kan dia belum sehat total" ucap Adam.


"Aku gak tau itu terserah Ning Rena" ucap Zia.


"Aku kakak nya aku berhak padanya" ucap Adam namun ada hal yang membuat Adam berpikir,


"Kalau Ning Rena bukan anak Abah melainkan anak Bibi Sofi mungkin Rena dan aku saudara apa aku berhak terhadap nya" gumam Adam.


"Dia adik mu" ucap Zia.


"Tapi Zia" ucap Adam.


"Sudah Gus, jangan di bahas" ucap Zia.

__ADS_1


Adam mengambil sesuatu dari kantong baju Koko nya.


"Untuk mu" ucap Adam.


"Lalu kau" tanya Zia.


"Aku sudah makan tadi" ucap Adam.


"Terima kasih" ucap Zia.


Semuanya makan bersama para santri juga makan di ruang makan sedang kan Zia dan keluarga nya Makan di rumah.


"Ayo berdoa sebentar lagi imsyak" ucap Adam.


"Nawaitu sauma ghadin an'adai fardi syahri Ramadana hadzihisanati lillahita'ala.


Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardu di bulan Ramadan tahun ini karena Allah ta'ala" ucap Adam.


"Amin" ucap Umi dan Zia.


Karena hari ini Rena gak akan puasa karena di larang oleh Adam takut nya Rena tak kuat untuk puasa.


"Baik lah Umi akan segera wudhu seperti nya Umi akan sholat di rumah, Umi Sangat mengantuk Umi mau tidur" ucap Umi.


"Ya Umi tidur saja" ucap Zia.


"Tolong bereskan makanan di ruang makan" ucap Umi.


"Ya Umi aku akan bereskan" ucap Adam.


Umi ke dapur, Rena melihat hal itu.


"Kak aku masih tak habis pikir, bagai mana mungkin aku dan Bibi Sofi golongan darah nya sama tapi Abah dan Bibi Sofi yang jelas jelas adik kakak" ucap Rena.


Adam dan Zia kaget mendengar ucapan Rena.


"Ning bisa saja kan seorang anak akan ikut gen keluarga nya" ucap Adam.


"Tapi apa mungkin Gus" tanya Rena.


"Mungkin saja ya kan Zia" ucap Adam meminta alasan yang masuk akal pada Zia.


"Ya Ning bahkan aku juga golongan darah aku A dan golongan darah papah AB dan mamah B, kami berbeda" ucap Zia.


"Apa mungkin Zia orang tuanya A atau B lalu anak nya bisa O" ucap Rena.


"Mungkin saja apa pun bisa terjadi kan" ucap Adam.


"Tapi muka kalian seperti yang sedang menyembunyikan sesuatu" ucap Rena.


"Menyembunyikan apa" tanya Zia.


"Ya mana mungkin kami menyembunyikan sesuatu" ucap Adam.


"Ya sudah tak apa lah" ucap Rena.


Kira kira pukul sembilan pagi, Zia mengajar santri kelas 2 SMA Zia sebenarnya malas untuk bertemu dengan Adit namun dia tak mungkin tak mengajar karena itu sudah menjadi kewajiban nya.


Zia berjalan ke arah kelas 2 SMA dia melihat ada Aulia juga di sana.


"Wanita itu mengajar apa" gumam Zia.


"Selamat pagi" ucap Zia.


"Pagi kak" serempak.


"Baik lah kita kumpulkan pekerjaan rumah yang dulu pernah aku berikan" ucap Zia.


"Ada" ucap Zia.


"Kami tak mengerjakan" ucap para santri.


"Tak ada yang mengerjakan satu pun" tanya Zia.


Ada beberapa orang yang mengerjakan.


"Baik lah kita kerjakan bersama saja sekarang" ucap Zia.


Zia menggurui kelas itu, walau pun sejak tadi Adit memperhatikan Zia tapi Zia pura pura gak tau saja supaya Adam tak marah lagi padanya.


Hingga selesai jam pelajaran, sekarang Rosa baru datang ke sana entah kemana dia karena sekarang dia baru bisa ke pesantren lagi.


Rosa melihat Adam yang tengah tertawa tawa dengan seorang wanita yang tak Rosa kenal.


"Siapa wanita itu" gumam Rosa.


Dia melihat ke arah Rumah umi yang tak jauh dari sana.


Rosa melihat kalau Zia sekarang tengah kesal melihat kedua sejoli itu.


"Aku punya rencana bagus, hahaha semoga saja dengan rencana ini aku bisa singkirkan Zia" gumam Rosa tersenyum ja hat.


Sedangkan Zia sekarang tengah kesal karena Adam semakin akrab dengan wanita yang bernama Aulia itu.


"Akan aku pantau Gus, kalau sampai kalian macam macam aku tak akan biarkan itu" geram Zia.


Zia memantau hingga Adam dan Wanita itu selesai berbincang bincang.


Adam berjalan ke arah Zia namun Abah menghalangi jalan Adam.


"Dam" ucap Abah.


"Ya Abah ada apa" tanya Adam.


"Jauhi wanita itu, ingat kau sudah menikah" ucap Abah.


"Tapi aku hanya mengobrol" ucap Adam.


"Hanya mengobrol kan, kau tau sebuah perasaan datang nya dari mana hah? Dari saling pandang dari saling ngobrol dari saling curhat, kau sudah punya istri, kalau kau saja tak rela kalau zia di pegang orang maka Zia juga gak akan rela kau mengobrol sambil tertawa begitu dengan wanita itu" ucap Abah.


"Dia hanya teman Abah lagi pula status nya juga Seorang janda" ucap Adam.


"Lalu apa dengan status nya seorang janda maka kau bisa mendekati nya, kau sudah punya istri ingat itu" ucap Abah.


"Ya abah" ucap Adam.


"Hargai lah istri mu" ucap Abah.


Zia yang masih memantau Adam pun sekarang Merasa cukup lega karena Adam mengobrol dengan Abah bukan dengan Aulia.


Zia masuk ke dalam rumahnya karena akan membantu Umi mengupas ngupas sayuran untuk di jadikan bahan masakan.


Hingga selesai, sore hari nya kebanyakan para santri setelah sholat Ashar ada yang jalan jalan ke luar, saat ini Zia tak mau jalan jalan karena rasanya Zia sangat mengantuk.


"Zia" ucap Adam.


"Ya Gus ada apa" tanya Zia.


"Mau jajan" tanya Adam.


"Gak ah aku bosan Gus, aku ngantuk juga aku mau tidur" ucap Zia.


"Baik lah" ucap Adam.

__ADS_1


Zia masuk ke dalam kamarnya dan tidur di kamarnya.


Hingga lama sekali Zia tidur bahkan sekarang sudah hampir berbuka puasa tapi Zia belum juga Bangun.


Adam ke kamar Zia hendak membangun kan Zia.


"Zia bangun sayang" ucap Adam.


"Ya Gus sebentar aku lagi ngantuk ini" ucap Zia dengan mata yang masih tertutup.


"Baik lah aku akan tunggu di ruang tamu ya" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Adam keluar dia menatap jam yang menunjukkan pukul enam kurang beberapa menit saja.


"Assalamualaikum" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Aulia dengan membawa satu rantang makanan.


"Waalaikum salam" ucap Adam.


"Ustadz Adam aku masak banyak hari ini jadi aku membagikan nya pada mu, kau terima ya" ucap Aulia.


"Oh terima kasih" ucap Adam.


"Ya sama sama, kalau begitu aku permisi ya mau buka juga" ucap Aulia.


"Ya" ucap Adam.


Adzan berkumandang di mesjid, Adam langsung mengambil dua gelas air minum untuk nya dan untuk Zia.


Adam tak lupa juga membawa sendok makan karena akan makan duluan.


Adam membacakan Doa niat berbuka puasa.


Adam meneguk air dalam gelas itu hingga tandas.


Adam membuka rantang itu dan isinya beberapa lauk dan nasi untuk Adam berbuka puasa.


"Kaya nya enak" ucap Adam menyendok kan tempe bacem pada satu rantang yang isi nya nasi.


Ada telur balado juga di sana Adam menyendok nya ke dalam rantang yang ada di tangan nya.


Zia keluar dari kamarnya.


"Kau mau makan" tanya Zia.


"Ya ini pemberian Aulia, ayo kau harus coba" ucap Adam.


"Wanita itu lagi" tanya Zia kesal.


"Kenapa" tanya Adam.


Saat ini Adam hendak memakan nasi dan lauk itu, dengan Cepat Zia mendekat pada Adam dan Zia melemparkan rantang yang masih berada di tangan Adam.


Prangg..


Sehingga membuat Rantang itu jatuh ke lantai dan makanan nya berceceran di lantai.


Adam tak marah dia hanya menatap Zia dengan tatapan aneh.


"Wanita itu lagi wanita itu lagi tak bisa kah kau hargai aku Gus" ucap Zia.


"Maksudnya" tanya Adam.


"Tak bisa kah kalau ada wanita itu kau tolak, Gus aku panas melihat kalian berdua, aku istri mu aku berhak marah" ucap Zia marah pada Adam.


"Tapi Zia, Aulia itu baik" ucap Adam.


"Ya baik karena kau suka Kan padanya, kau ingin menjanda kan istri mu karena janda hah" geram Zia.


"Zia bukan.." ucap Adam terpotong karena Zia sudah kembali masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


"Astagfirullah" gumam Adam.


Rena datang ke sana,


"Ada apa Gus" tanya Rena.


"Biasa kakak mu marah pada ku" ucap Adam.


"Kenapa bisa" tanya Rena.


"Dia cemburu" ucap Adam.


"Oh tadinya aku mau mengajak kak Zia buka di ruang makan" ucap Rena.


"Datang lagi nanti sekarang dia tengah marah" ucap Adam yang langsung membereskan makanan yang terbuang sia sia itu.


Zia marah sampai sampai dia tak buka puasa, saat ini di dalam kamar Zia tengah menangis.


Adam masuk ke dalam kamarnya, dia menggeleng kan kepala nya melihat Zia berbaring di kasur dengan posisi membelakangi nya.


Adam duduk di samping Zia yang sedang tertidur, Adam menepuk pelan punggung Zia.


"bangun lah maafkan aku ayo kita makan" ucap Adam.


"makan saja sendiri bukan nya masakan wanita itu lebih enak" ucap Zia dengan nada ketus.


"Abah benar tentang mu" ucap Adam.


"apa kata Abah" tanya Zia.


"Abah kata kalau menantunya itu cemburuan" ucap Adam.


"aku gak cemburuan" ucap Zia.


"ayo lah bangun kita sholat Maghrib" ucap Adam.


"gak mau bangun" ucap Zia.


"ayo buka" ucap Adam.


"gak mau buka puasa" ucap Zia ketus.


"baik lah aku akan Sholat di sini" ucap Adam.


"terserah" ucap Zia.


Zia masih marah sekarang Adam sudah melaksanakan Sholat Maghrib di kamar, bahkan Adam juga membawa kan nasi dan makanan untuk Zia.


namun Zia tak juga bangun dia masih marah pada Adam, sebelum Zia makan Adam juga tak akan makan.


hingga sholat isya dan sholat tarawih Adam melaksanakan di kamarnya, dan Zia belum juga mau bangun dari tidur bohong nya.


akhirnya Adam selesai sholat tarawih, kira kira pukul delapan lebih baru Zia merasa perut nya lapar, dia bangun dan Adam memperlakukan Zia layak nya seorang ratu.


"aku suapin" tanya Adam.


"gak perlu" ucap Zia.


Adam hanya tersenyum saja melihat Tingkah laku Istri nya itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2