Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 145


__ADS_3

Hari Sabtu pun tiba sejak kemarin Adam tak selera untuk makan, tapi tetap dia paksakan walaupun hanya satu sendok saja.


Hari ini para santri ada yang di jemput pulang karena mulai Senin besok sudah libur mendekati idul Fitri 1444 hijriah.


Padahal rencana nya Abah akan memindahkan para santri ke kelas baru Senin besok, tapi mau bagai mana lagi bahkan pesantren orang lain juga sudah banyak para santri yang di jemput pulang.


Abah mengumpulkan para santri untuk mewawarkan bahkan sebentar lagi hari raya idul Fitri.


"Assalamualaikum" ucap Abah.


"Waalaikum salam" serempak.


"Hari ini kalian bisa pulang ya, untuk merayakan hari raya idul Fitri di rumah masing masing, Abah berpesan jangan sampai tinggal kan Sholat jangan tinggalkan puasa, untuk tanggal masuk nya lagi Abah akan kirim pesan pada kalian nanti" ucap Abah.


"Baik Abah" serempak para santri.


"Baik lah sekarang kalian bisa berkemas atau kalau mau menginap lagi di pesantren karena belum di jemput, tak apa ya tapi beri tau Abah atau Umi supaya nanti tak terlewat kalau buka puasa dan Sahur" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Para santri.


"Kalian bisa bubar" ucap Abah.


Para santri bubar setelah mengucapkan terima kasih dan salam pada Abah.


Ada hal yang membuat Abah tersenyum setiap kali melihat nya.


Abah melihat Adam yang sekarang kerjaan nya hanya melamun saja, bahkan semenjak Zia di pulangkan Adam sampai tak nafsu makan.


"Dam" ucap Abah yang mendekat pada Adam.


"Ya Abah" tanya Adam.


Abah tersenyum getir melihat Adam yang keadaan nya sangat kacau itu.


"Jemput saja Zia, semenjak kemarin sampai sekarang kau hanya melamun saja Abah tau kau memikirkan Zia" ucap Abah.


"Tapi Abah" ucap Adam.


"Dam apa lagi yang akan di pertimbangkan kau cemburu pada Zia, namun amarah mu sudah menguasai mu, ingat lah ini dam selama menikah dengan mu apa pernah Zia bertemu dengan laki laki itu" tanya Abah yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Adam.


"Apa pernah Zia mengkhianati mu sebelum nya" tanya Abah.


"Belum" ucap Adam menggeleng.


"Abah yakin ada yang mau menjebak Zia, Abah tau betul Zia dia tak mungkin melakukan itu" ucap Abah.


"Tapi bah aku lihat dengan mata kepala aku sendiri, bahkan Gus Luthfi saksinya" ucap Adam.


"Adam namanya juga mata dia bisa salah lihat dan menimbulkan permasalahan, makan nya kita tak boleh menggunakan mata kita pada hal yang tidak tidak, sama hal nya telinga saja bisa salah dengar, sebelum kau memulangkan Zia harus nya kau tanya dulu ada apa karena Dam wanita itu sangat sensitif dia akan melihat seorang laki laki dari kepercayaan nya pada dia, kalau kau tak adil begitu bagaimana Zia bisa percaya" ucap Abah.


"Aku harus apa" ucap Adam.


"Tanya kan pada Zia apa yang sebenarnya terjadi, jangan mengambil keputusan saat kau marah dan jangan memberikan janji di saat bahagia" ucap Abah.


Adam tak menjawab dia hanya diam saja memikirkan hal yang harus dia lakukan.


"Aku akan pikirkan lagi, nanti setelah ada Jawaban nya aku akan lakukan yang terbaik" ucap Adam.


"Jangan terlalu lama kau tau Zia itu menarik untuk kaum Adam yang melihat nya takutnya dia di ambil orang" ucap Abah.


"Tapi Zia tak seperti itu Abah" ucap Adam.


"Kau tau Zia tak seperti itu tapi kenapa hanya karena yang kau lihat Zia berdekatan dengan laki laki kau berasumsi Zia selingkuh, padahal kau tau Zia tak mungkin melakukan nya" ucap Abah.


Adam berpikir sejenak, apa yang di katakan Abah itu ada benarnya.


"Kenapa aku melupakan hal itu" gumam Adam.


"Alangkah baiknya kau segera jemput Zia, Abah khawatir pada mu, lihat saja baru satu hari kemarin Zia tak ada kau sudah melupakan cara memakai sarung" ucap Abah tersenyum.


Adam melihat sarung yang dia pakai, ternyata Adam memakai sarung dengan terbalik.


"Astaghfirullah pantas saja para santri melihat ku" gumam Adam.


"Kau tau kan peran Zia di dalam kehidupan kamu itu seperti apa" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Abah saran kan segera lah minta maaf kalau tidak bukan hanya sarung yang terbalik tapi kehidupan mu bisa terbalik" ucap Abah.


"Ya Abah aku akan memikirkan nya" ucap Adam.


Abah tersenyum saja melihat Adam yang banyak pikiran itu.


"Masalah mu hanya segitu, bahkan saat aku muda dulu aku lebih parah" gumam Abah.


Sedangkan Zia saat ini dia tengah muntah muntah, kedua orang tua nya khawatir melihat Zia yang sering muntah muntah.


"Zia kita ke dokter saja ya" ucap Nita.


"Tidak mah aku baik baik saja" ucap Zia.


"Kalau begitu batal kan saja puasa mu" ucap Nita.


"Tidak mah kata Gus Adam..." Ucap Zia yang terpotong.


Zia berfikir tentang Adam sudah hampir mau dua hari tapi Adam tak pernah melihat nya atau bahkan memberikan Zia kabar.


Bahkan pesan yang Zia kirim kan saja tak pernah Adam lihat, dan Adam juga tak menyalakan ponsel nya.


"Aku akan ke kamar" gumam Zia.


"Tapi Zia kamu sakit" ucap Nita.


"Apa jangan jangan Zia hamil" tanya Topan.


"Hamil? Bagus lah kalau begitu jadi kita akan punya dua cucu sekaligus" ucap Nita.


"Tapi mah bisa saja Zia hanya masuk angin" ucap Topan.


"Ya sih mamah gak akan terlalu berharap" ucap Nita.


Zia merebahkan tubuhnya di atas kasur, air mata Zia selalu saja menetes.


"Aku rindu" ucap Zia.


Akhir akhir ini Zia sering membayangkan Adam yang ada di sisinya, bahkan Zia Seolah merasa kan kehadiran Adam di samping nya.


Zia melihat Adam yang sekarang ada di samping nya, Zia merasakan seolah Adam sedang memeluk nya dari belakang.


Hingga tak terasa Zia pun terlelap dalam tidur nya.


Di pesantren Adam saat ini tengah menjemur pakaian Zia yang baru saja Adam cuci yang kemarin kemarin Zia pakai dan basah karena kehujanan.


Adam baru bisa mencuci nya sekarang karena baru hari ini Adam ingat tentang cucian.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucap Aulia yang baru saja datang ke sana.


"Waalaikum salam" ucap Adam.


"Gus apa Zia belum kemari" tanya Aulia.


"Belum" ucap Adam.


"Kenapa tak kau jemput" tanya Aulia.


"Aku akan jemput" ucap Adam.


"Syukur lah kalau begitu" ucap Aulia.


"Mau masuk" tanya Adam.


"Gak usah aku hanya mau bertanya tentang Zia saja" ucap Aulia.


"Oh" ucap Adam.


Adam masuk ke dalam rumah nya, dia menyimpan ember yang baru saja dia gunakan untuk pakaian.


Adam merebahkan tubuh nya di atas kasur.


Adam penasaran pada ponsel nya dia menghidupkan ponsel nya yang tak pernah dia sentuh semenjak kejadian itu.


Adam melihat banyak sekali pesan masuk yang tak lain pesan itu dari Zia.


{Maafkan aku}


{Gus aku tak melakukan apa apa}


{Aku menyesal maafkan aku Gus}


{Apa pun yang terjadi aku tak mau kita pisah begini}


{Maafkan aku}


Begitu lah pesan dari Zia, Adam hanya melihat saja tanpa mau membalas.


"Zia aku sebenarnya tak mau seperti ini tapi entah lah hati ku ini sangat cemburu rasanya" gumam Adam.


Adam merebahkan tubuhnya dan tak lama setelah itu Adam tertidur Sangat pulas karena semalaman Adam tak tidur dengan benar.


Sedangkan di kota sana, segerombolan laki laki membawa senjata tengah mengepung seseorang yang sudah membuat adik dari ketua nya itu sedih.


"Tuan apa itu orang nya" tanya anak buahnya.


"Buat dia kapok" ucapnya.


Rayhan adalah kakak nya Zia, beberapa hari sebelum nya dia mendapatkan telpon dari Zia sambil menangis katanya akash sudah membuat rumah tangga nya berantakan.


Flash back onn


Setelah di pulangkan oleh Adam, Zia langsung saja menelpon kakak nya untuk membalas apa yang Akash perbuat padanya.


📞📞


"Kak, aku dan Gus Adam pisah ranjang" ucap Zia.


"Kenapa bisa" tanya Rayhan.


"Akash datang ke sini dia menjebak aku kak, aku tak terima apa lagi Gus Adam sekarang menjauhi aku" ucap Zia.


"Harus aku apa kan cecunguk itu" tanya Rayhan dengan suara berat.


"Apa perlu aku juga mengancam suami mu untuk kembali lagi pada mu" tanya Rayhan.


"Gak usah suami ku biar kan menjadi urusan ku" ucap Zia.


"Ya terserah" ucap Rayhan.


📞📞


Zia mematikan ponsel nya dia hanya merebahkan diri nya di kasur sambil menangis sesenggukan.


Flash back off.


Bughh


Bughh


Bughh


Akash langsung terbaring di tanah saat mendapat kan pukulan dari anak buahnya Rayhan.


Dengan cepat Rayhan datang ke sana menarik kerah baju yang Akash gunakan.


"Berani sekali kau menganggu kehidupan adik ku" ucap Rayhan.


"Maafkan aku, aku terpaksa" ucap Akash.


"Terpaksa bagai mana kau sudah menghancurkan kehidupan adik ku kalau kau sampai berani mendekat lagi maka aku tak akan segan segan membuang mu ke lubang buaya" ucap Rayhan.


"Ampun kak" ucap Akash.


"Makan nya cari lawan itu yang sepadan Zia di lawan" ucap Rayhan yang langsung tertawa.


Rayhan melepaskan cekalan tangan nya dan mendorong Akash menjauh darinya.


"Ayo kita pergi" ucap Rayhan.


Malam hari nya setelah Adzan Maghrib Adam memutuskan untuk bertanya pada Zia tentang kebenaran nya.


Adam berjanji bahwa dia akan mendengar kebenaran dari Zia dan percaya pada Zia.


Setelah berbuka Adam langsung bersiap.


Tentu saja hal itu menjadi tontonan gratis bagi Abah dan Umi.


"Adam Adam, aku heran dengan mu" ucap Abah.


"Ada apa Abah" tanya Umi.


"Adam memulangkan Zia tapi Adam sendiri yang merasa kehilangan karena tak ada Zia, makan nya Dam jangan pernah mengambil keputusan di saat marah rugi sendiri kan" ucap Abah.


"Abah sudah jangan goda Adam, nanti gak jadi jemput nya" ucap Umi.


Adam hanya diam saja malu pada Abah dan Umi menggoda nya.


"Adam jadi menjemput Zia kalau tidak mau dengan siapa dia melaksanakan ibadah Sunnah nya" ucap Abah tersenyum bahkan sampai tertawa.


"Abah" ucap Adam dengan pipi yang panas karena di goda terus oleh Abah.


"Adam kau ini" ucap Abah.

__ADS_1


"Baik lah aku akan berangkat" ucap Adam.


"Gak makan dulu" tanya Umi.


"Jangan di kasih makan Umi, biar Zia tau kalau Adam sangat kurus tanpanya" ucap Abah.


"Abah sudah kasihan Adam" ucap Umi yang ikut tersenyum.


"Jangan lupa belikan makanan, masa mau main ke rumah mertua gak bawa apa apa" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Jangan lupa lihat sarung dulu takut nya terbalik lagi" ucap Abah.


"Astaghfirullah Abah" ucap Adam.


"Kau sangat lucu sekali, Abah heran kayanya kau ini seorang pelawak dalam bentuk putraku" ucap Abah.


"Abah mulai" ucap Umi.


"Sudah lah Umi, kapan lagi kan kita menggoda Adam" ucap Abah.


"Dam kau berangkat sekarang" ucap Umi.


"Salam pada Zia kalau dia tidak pulang kau juga jangan pulang" ucap Abah.


"Abah" ucap Adam.


"Hahahah sudah lah berangkat aku tidak bisa menahan tertawa kalau kau ada di sini terus" ucap Abah.


"Baik lah aku berangkat, Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikum salam" ucap Abah dan Umi.


Adam datang ke sana dengan memakai motor karena kalau berjalan kaki pasti akan lama.


Sesampai nya di perkarangan rumah Orang tua Zia, Adam langsung mengetuk pintu.


"Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikum salam" ucap Topan yang langsung membuka kan pintu nya.


"Nak Adam" ucap Topan.


"Pah aku datang" ucap Adam.


"Ayo masuk nak Adam" ucap Topan.


"Di mana Zia" tanya Adam.


"Zia ada di kamar nya dia masih tidur, tadi juga mamahnya sudah bangunin tapi Zia gak bangun" ucap Topan.


"Bisa saya lihat" tanya Adam.


"Nak Adam ini, tentu saja kamu kan suaminya kamu bebas" ucap Topan.


"Baik lah saya permisi" ucap Adam.


Adam masuk ke dalam kamar Zia, dan benar saja Zia masih terlelap tidur di atas ranjang nya.


Adam duduk di samping ranjang Zia.


Adam membangun kan Zia dengan menepuk nepuk pipi Zia.


"Zia ayo bangun" ucap Adam.


Zia perlahan membuka mata nya, satu hal yang pertama kali Zia lihat adalah Adam.


"Kau tampan sekali, Gus aku tak salah laki laki itu yang melakukan nya, demi Alloh aku tak akan menduakan mu, hahahaha Gus Gus aku jadi gi la sekarang aku menghayal kan kau ada di sini, aku melihat kau ada di atas lemari, aku melihat kau ada di atas ku, tapi aku tau kau hanya lah bayangan saja" ucap Zia yang langsung memukul Adam dengan sangat keras.


"Awss" Adam meringis.


Zia terkejut ternyata kali ini bayangkan itu tak hilang malam terasa sangat nyata.


Zia Langsung terbangun menatap pada Adam yang sekarang ada di hadapannya.


"Gus" ucap Zia.


"Ya aku" ucap Adam.


"Kau ada di sini" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Kapan kau datang" tanya Zia.


"Baru saja" ucap Adam.


Zia langsung memeluk Adam yang sekarang ada di hadapannya itu.


"Jangan ceraikan aku" ucap Zia.


"Aku gak akan menceraikan kamu" ucap Adam.


"Benarkah" ucap Zia.


"Ya, tapi aku mau kau jelas kan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Adam.


Zia menceritakan semua nya pada Adam, Adam hanya mengangguk angguk kan kepala nya saja mendengar Zia berbicara.


"Apa kau yakin tak berbohong" tanya Adam.


"Aku yakin kalau aku berbohong aku mau deh punya anak dua belas" ucap Zia.


Adam tersenyum dan langsung memeluk Zia dengan sangat erat.


"Mana mungkin aku menceraikan mu Zia, Abah benar tentang mu" ucap Adam.


"Abah bilang apa" tanya Zia.


"Abah bilang kalau aku kacau tanpa ada kamu" ucap Adam.


"Separah itu kah" tanya Zia.


"Mungkin" ucap Adam.


Adam memberikan segelas air pada Zia untuk membatalkan puasa nya.


"Minum lah" ucap Adam.


Zia berdoa dan meminum air itu hingga habis.


Adam mendekat pada Zia, Adam mendarat kan ciuman pada Zia.


Tak ada penolakan dari Zia hingga setelah itu mereka berdua bergulat dalam satu ranjang.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2