
Zia sekarang mengajar di kelas 2 SMA, sebenarnya di sana santri nya cukup sedikit tak seperti dulu sebelum kejadian itu terjadi.
"Baik lah kita akan belajar tentang mendeskripsikan suatu barang dengan bahasa Inggris, buka buku kalian" ucap Zia.
Zia langsung menulis pelajaran yang akan dia bahas di papan tulis, bahkan sekarang santri pun tengah menulis juga mengikuti Zia.
Namun ada tiga siswa baru yang tadi masuk bersama dengan orang tuanya, mereka terkenal cukup na kal sampai di keluar kan oleh pihak sekolah nya.
Salah satu siswa itu menyobek kertas di buku nya dan melipatnya sehingga membentuk pesawat kertas.
Dia meluncurkan nya ke arah Zia.
Zia melihat hal itu, ada rasa geram pada diri Zia apa lagi di pesantren ini para santri sangat terkenal dengan kebersihan nya.
Zia tersenyum dia punya ide untuk mengerjai siswa baru itu.
"Oh ya aku sampai lupa ada murid baru ya" tanya Zia.
"Ya kak" serempak.
"Untuk murid baru silahkan ke depan" ucap Zia.
Mereka bertiga maju ke depan, mereka memakai Baju SMA yang tangan nya di gulung padahal mereka memakai baju seragam pendek.
Celana seragam yang panjang tapi lutut nya sobek.
Zia tersenyum pada ketiga murid baru itu.
"Baik lah perkenalkan diri kalian memakai bahasa Inggris" ucap Zia.
"Gak bisa begitu lah, gue gak bisa bahasa Inggris" ucap salah satu di antara mereka.
"Waw, suka suka saya lah kan di sini saya gurunya" ucap Zia.
Sebenarnya para santri yang lain sudah paham pada ucapan Zia karena mereka tau kalau Zia marah saat murid baru itu mengotori kelas dengan pesawat kertas itu.
"Mana ada guru yang seusia dengan murid nya" ucap nya tersenyum ketus.
"Oh seumuran ya, kalau seumuran kenapa kamu masih menjadi murid jadi guru dong" ucap Zia.
"Apa hah lu berani" tanya nya.
"Tak ada dalam kamus manusia harus takut pada manusia" ucap Zia.
"Ck" dia berdecak kesal.
"Baik lah dia tak mau memperkenalkan diri nya, kamu saja duluan" ucap Zia menunjukkan pada laki laki samping murid sombong itu.
"Bisa saya perkenalkan dengan bahasa Indonesia aku gak ngerti bahasa Inggris" ucapnya.
"Tak apa" ucap Zia.
"Perkenalkan saya Rezky asal sekolah SMA Budi Utomo" ucapnya.
"Baik lah silahkan duduk lagi" ucap Zia.
"Tunggu" ucap Zia lagi menghentikan langkah murid itu.
"Ya" tanya Rezky.
"Baju nya jangan di lipat ya, dan kalau bisa rambut nya di biasa kan saja" ucap Zia.
"Baik Bu" ucapnya.
"Dan kamu" ucap Zia.
"Perkenalkan saya Arfa" ucapnya.
"Baik lah Arfa Duduk lah" ucap Zia.
Setelah duduk lagi Zia seolah merasa mengabaikan murid yang satu lagi itu.
"Baik lah sekarang kita lanjutkan ke pelajaran nya" ucap Zia.
"Hey gue belum duduk" sahutnya.
"Duduk saja di sana" ucap Zia.
"Hah tak waras ini guru" ucap nya.
"Kenapa kamu protes bukan nya tadi kamu tak mau memperkenalkan diri, jadi ya sudah jangan" ucap Zia.
"Hah benar benar tak waras, kau bilang pada ku tadi bahasa Inggris dan teman teman ku bahasa Indonesia, gi la apa" tanya nya.
"Kau mau apa" tanya Zia.
"Duduk" ucapnya ketus.
"Di sini aku gurunya, jadi kalau kamu mau bebas maka jadi lah guru" ucap Zia menatap sinis pada murid itu.
"Awas lu ya" ucapnya.
"Sekarang pelajaran ku jadi patuhi apa pun yang aku ucapkan agar kau terbebas dari hukuman, buang itu" ucap Zia menunjuk pada pesawat kertas yang murid itu buat.
"Ogah" ucapnya.
"Tak mau" tanya Zia.
"CK" dia terpaksa mengambil kertas itu dan membuang nya ke tong sampah.
"Sudah" ucapnya.
"Perkenalkan diri mu" ucap Zia.
"Gue Radit" ucapnya.
"Baik lah Adit kau boleh duduk tapi patuhi peraturan ku, walau pun gak bisa nulis tetap diam saja karena kau akan menganggu yang lain" ucap Zia.
"Terserah" ucapnya.
Zia mengajari pelajaran sampai selesai, karena sekarang hari Jumat para santri akan pulang sekolah pukul setengah sebelas.
"Baik lah sekarang kalian bisa istirahat, nanti akan dilanjutkan pelajaran Bu Isma" ucap Zia.
"Ya kak" serempak.
"Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam".
Zia keluar dari kelas menuju ke rumah karena Zia yakin kalau Adam sudah pulang ke rumah.
Zia langsung masuk ke dalam rumah, tanpa Zia sadar kalau di sana ada Abah yang sedang duduk di kursi.
Zia menatap pada Abah dan sekarang juga Abah menatap pada.
Ingin sekali rasanya Zia hilang dari situ.
"Assalamualaikum" ucap Zia yang sudah terlanjur malu karena sembarang masuk.
__ADS_1
"Waalaikum salam" ucap Abah.
Zia masuk ke dalam kamarnya, Adam juga masuk ke rumah menyapa Abah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Zia kau sudah di sini" tanya Adam.
"Ya aku baru selesai mengajar" ucap Zia.
"Tumben gak jajan" tanya Adam.
"Gak ah aku malas jajan sekarang" ucap Zia.
"Tumben" ucap Adam lagi.
"Oh ya Gus apa kau mau makan" tanya Zia.
"Aku masih kenyang Zia" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
"Kau sedang apa" tanya Adam saat melihat Zia memegang perut nya.
"Hah gak ada" ucap Zia.
"Kau lapar" tanya Adam yang hanya di balas anggukan kepala oleh Zia.
"Kenapa gak bilang dari tadi Zia, kau ini, ambil saja sendiri di dapur" ucap Adam.
Namun Zia hanya diam saja di sana.
"Zia ambil makanan di dapur" ucap Adam.
"Malu" ucap Zia.
"Malu kenapa" tanya Adam.
"Ada Abah" ucap Zia setengah berbisik.
"Kau ini malu karena ada Abah, Zia anggap saja kalau Abah itu papah kamu sendiri" ucap Adam.
"Gus kau ini, beda lah" ucap Zia.
"Apa beda nya" tanya Adam.
"Terkadang seorang wanita itu akan merasa canggung jika bersama dengan mertuanya" ucap Zia.
"Ada yang seperti itu" tanya Adam.
"Ada lah, kau kan laki laki mana mungkin kau peka" ucap Zia.
"Ya sudah ayo makan di dapur aku antar" ucap Adam.
"Ayo" ucap Zia.
Zia makan di dapur karena malu pada Abah, sedang kan Adam hanya menatap Zia yang sekarang sedang makan.
"Makan lah aku akan ambil dulu buku untuk pelajaran sekarang" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia yang sekarang tengah makan.
Zia mencuci piring bekas nya makan, karena terasa malu saja kalau di rumah mertua tapi Zia makan tinggal makan dan minum tinggal minum.
"Neng" tanya Umi.
"Ya Umi" tanya Zia.
"Ya sekarang ngajar hanya setengah jam saja Umi" ucap Zia.
"Oh ya nanti sore mau gak ikut Umi ke pasar" ucap Umi.
"Oh boleh Umi" ucap Zia.
"Baik lah sekarang kamu masuk dulu ngajar" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Zia.
Zia masuk ke kamar nya, ada Adam di sana yang sedang duduk di kasur.
"Gus kau tak akan masuk" tanya Zia.
"Masuk tapi nanti" ucap Adam.
"Oh baik lah aku akan masuk" ucap Zia.
"sini" ucap Adam menyuruh Zia mendekat pada nya.
"Apa" tanya Zia.
Adam menarik tangan Zia sehingga membuat Zia terjatuh ke dalam pelukannya.
"Lakukan sekarang" ucap Adam berbisik pada Zia.
"Gak ah aku ada jadwal ngajar sekarang" ucap Zia.
"Ayo lah sebentar saja" ucap Adam mengecup bibir Zia sekilas.
"Gak aku sibuk" ucap Zia membalas mengecup Adam.
"Ayo lah pliss" ucap Adam memohon.
"Gak aku sibuk, maaf" ucap Zia yang langsung turun dari pangkuan Adam.
"Ayo lah Zia sebentar saja" ucap Adam.
Kringg
Bel berbunyi tanda nya para santri akan masuk lagi.
"Sudah mau masuk" ucap Zia.
"Nanti" ucap Adam menatap tajam pada Zia.
"Ya" Ucap Zia tersenyum tipis menatap Adam yang sekarang gelisah.
Setelah selesai belajar sekarang para santri putra melakukan sholat Jumat di mesjid sedang kan para santri putri bisa bebas satu jam sampai sholat Jumat selesai.
Zia melihat kalau Adam sekarang sudah siap akan ke mesjid bersama dengan Gus Fauzi dan Gus Farid.
"Kak" sahut Rena.
"Ya ada apa" tanya Zia.
"Kata Umi mau ke pasar ya, aku ikut boleh" tanya Rena.
"Ya boleh asal dengan satu syarat" ucap Zia.
"Apa" tanya Rena.
"Jangan minta di gendong" ucap Zia tertawa menatap adil iparnya itu.
__ADS_1
"Gak akan minta di gendong" ucap Rena.
"Oh kapan Umi akan berangkat" tanya Zia.
"Katanya sekarang" ucap Rena.
"Baik lah ayo ke rumah Umi" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Rena.
Mereka ke rumah umi.
"Umi kapan akan berangkat" tanya Rena.
"Sekarang" ucap Umi.
"Bentar Umi aku akan ganti dulu baju" ucap Zia.
"Ya cepatlah" ucap Umi.
Zia mengganti baju nya menggunakan gamis yang sederhana saja, dengan kerudung segi empat yang membuat Zia semakin cantik.
"Sudah siap neng" tanya Umi yang melihat Zia keluar dari kamar nya.
"Ayo Umi" ucap Zia.
Mereka pergi dari sana dengan berjalan kaki karena jarang sekali kalau Umi berangkat pakai motor apa lagi Abah tak bisa pakai motor jadi Umi sudah terbiasa berjalan kaki.
"Umi mau belanja apa" tanya Rena.
"Apa lagi ya keperluan dapur" ucap Umi.
"Oh" ucap Rena.
Mereka sampai di pasar dan sekarang di sana sangat ramai padahal hari Jumat pasar itu tak pernah sepi pembeli.
"Umi Arum" sahut seseorang yang kenal dengan Umi.
"Eh Iit" ucap Umi.
"Apa kabar" tanya Bu Iit.
"Alhamdulillah" ucap Umi.
"Kapan kapan datang lah ke mesjid Al hidayah, kita pengajian bareng lagi" ucapnya.
"Ya insya Alloh" ucap Umi.
"Apa ini istri nya Adam" tanya Bu Iit.
"Oh ya, nama nya Zia" ucap Umi.
"Wah cantik ya, beruntung Adam" ucapnya.
"Ya Bu" ucap Umi.
"Apa dia sedang mengandung" tanya Bu Iit.
"Belum" ucap Zia.
"Cepat lah mengandung nak, Umi sangat ingin punya cucu" ucapnya.
"Ya Bu" ucap Zia.
"Mau mengandung bagai mana Gus Adam nya juga tak peka" batin Zia.
"Nanti malam ada pengajian di mesjid Al hidayah, Umi datang ya, tak akan ada yang memimpin Umi bisa kan memimpin" ucap Ibu itu.
"Oh boleh insya Alloh aku akan datang" ucap Umi.
"Ya" ucap Bu Iit.
"Baik lah Bu kami harus belanja jadi maaf ya tak bisa lama lama" ucap Umi.
"Oh ya" ucap nya.
Umi mulai belanja bumbu, seperti biasa ada preman yang dulu pernah menghina Adam, Zia hanya menatap mereka dengan tatapan sinis.
"Kakak ipar kau akan belanja" tanya preman itu.
"Ya" ketus Zia.
"Baik lah kalau ada yang kau butuhkan beri tau saja kita" ucapnya.
"Ya" ketus Zia.
Mereka belanja banyak bahkan sampai beberapa kantong kresek besar yang mereka bawa.
"Kakak ipar biar aku bantu" ucap preman itu.
"Tak usah" ucap Zia.
"Tak apa Kakak ipar pesantren jauh takutnya kau kecapean" ucap nya.
"Tak masalah kami bisa" ucap Zia.
"Kak biarkan saja, biar mereka membawa nya" ucap Rena.
"Tapi Ning mana mungkin aku membiarkan mereka membawa nya" ucap Zia.
"Kakak ipar kami janji akan mengantarkan nya sampai pesantren" ucapnya.
"Baik lah" ucap Zia.
Preman itu membawa kantong kresek belanja Umi ke pesantren, karena masih takut pada Adam tempo lalu jadi dia berusaha untuk baik pada Zia dan keluarga Adam.
"Neng kenapa mereka membawa belanjaan kita" tanya Umi.
"Mereka maksa Umi" ucap Zia.
"Maksa" tanya Umi.
"Kita lihat saja Umi kalau mereka melakukan apa apa kita laporan saja mereka" ucap Zia.
"Ya" ucap Umi.
Terlihat kalau preman itu berjalan baik baik saja tanpa ada yang harus di curigai oleh Zia dan yang lain.
"Mereka tak melakukan apa apa" bisik Rena pada Zia.
"Mungkin mereka memang mau membantu saja" ucap Zia.
"Aneh Neng karena setau Umi mereka gak pernah mau membantu" ucap Umi.
"Sudah Umi mungkin mereka berubah bisa saja kan manusia berubah dengan seiring waktu" Ucap Zia.
"Ya sih" ucap Umi.
bersambung
__ADS_1