Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 156


__ADS_3

Kabar bapaknya Rosa meninggal juga sampai ke pesantren.


Abah turut berduka cita pada hal itu, namun Abah tak bisa melihat nya karena jaraknya juga cukup jauh dari pesantren.


Mereka hanya bisa mendoakan saja karena, sekarang Abah mulai membenteng madrasah bahkan rencana nya Abah juga akan membatasi kamar santri putra dan putri dengan tembok yang akan menghalangi mereka untuk tak saling melihat.


Bahkan para pekerja dan bahan bangunan pun sudah ada di pesantren, semua nya hanya tinggal mengerjakan saja.


Bahkan umi juga sekarang sudah masak untuk makan para pekerja itu.


Umi cukup bersyukur kalau hari libur begini dia bisa sedikit bebas dari kerjaan sibuknya, yaitu memasak untuk para santri apa lagi kalau gak puasa para santri bisa ada yang makan sampai tiga atau empat kali dalam satu hari.


"Neng bisa tolong umi memotong bawang" tanya Umi.


"Boleh umi" ucap Zia yang langsung memotong motong bawang yang sudah di kupas.


"Oh ya neng kemarin kata Adam ada wanita yang memakai cadar yang meneror mu" tanya Umi.


"Ya umi Gus Adam menangkapnya tapi aku maafkan saja karena kasihan aku padanya" ucap Zia.


"Kenapa kasihan" tanya Umi.


"Ya umi katanya gak sengaja dia melakukan itu pada ku ya aku maafkan saja" ucap Zia.


"Kata Adam Kau tak membuka cadar nya" tanya Umi.


Zia menggeleng kan kepala nya.


"Tidak umi tak sopan bukan kalau kita membuka cadar seseorang" ucap Zia.


"Ya neng kau benar tapi kenapa gak di buka saja siapa tau saja kalian saling mengenal" ucap umi.


"Tidak umi bahkan matanya saja tak aku kenal" ucap Zia.


"Umi heran kalian tak saling mengenal tapi kenapa orang itu bisa meneror kamu apa lagi dengan hantu Begitu" ucap Umi.


"Entah Umi aku juga merasa aneh hanya saja aku percaya karena dia pasti alim dia Sholehah mana mungkin dia melakukan itu aku yakin dia pasti paham pada agama" ucap Zia.


"Neng awas jangan tertipu dengan orang yang berpakaian tertutup mereka juga manusia mereka juga punya salah mereka juga punya dosa jadi kita tak bisa berasumsi mereka benar karena pakaian karena yang berpakaian preman saja belum tentu dia ja hat" ucap Umi.


"Ya umi tapi apa mungkin" ucap Zia.


"Kata Abah sih orang itu pernah berdonasi ke pesantren ini" ucap Umi.


"Kapan" tanya Zia.


"Kemarin kemarin kata Abah" ucap Umi.


"Bagus lah kalau begitu" ucap Zia.


"Umi saran kan lain kali waspada ya karena sekarang itu manusia sudah semakin nekad" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Zia.


Rena datang ke sana.


"Lagi ngomongin apa" tanya Rena.


"Lagi ngomongin kamu" ucap Zia.


"Masa sih" tanya Rena.


"Gak ada lah" ucap Zia.


"Biar aku bantu" ucap Rena yang langsung mengambil satu buah tomat dan hendak memotong nya.


"Ning lihat dulu ponsel ku tadi Gus Luthfi mengirimkan pesan untuk mu" ucap Zia.


"Masa sih" tanya Rena.


"Ya" ucap Zia.


"Aku akan ambil ponsel nya di kamar kakak kan" ucap Rena.


"Ya ambil saja" ucap Zia.


Rena mengambil ponsel Zia dan langsung membaca pesan dari Luthfi.


{Tolong sampaikan kepada Rena, uhubikuldiz 'ahbabatni lah} pesan dari Luthfi. (Aku mencintaimu, aku mencintaimu karena dia "Alloh")


Rena langsung salting melihat hal itu, dia tau kenapa Luthfi mengirim bahasa Arab pada nya karena dia tak mau Zia sampai tau isi hati nya.


{ana 'aydan 'uhibuk kathiran ya rajil} balas Rena. (Aku juga sangat mencintai mu wahai lelaki ku)


Tanpa berlama lama Luthfi langsung membalas nya.


{sati qryban li'aqtarih ealayk} (aku akan segera datang untuk melamar mu).


{Sawf antazir} balas Rena (aku tunggu).

__ADS_1


Rena sangat bahagia, dia langsung menghapus pesan itu karena tak mau sampai Zia mengetahui nya.


Rena langsung mendekat pada Zia yang sudah selesai memotong motong sayuran


"Sudah" tanya Zia.


"Sudah" ucap Rena.


"Apa katanya" tanya Zia.


"Gak ada" ucap Rena.


"Masa sih" tanya Zia.


"Ya kak" ucap Rena.


"Terserah" ucap Zia.


Sore harinya Zia duduk di kamarnya sambil mengutak atik ponsel nya, dia melihat lihat akun sosial media nya yang ramai itu.


"Lagi apa" tanya Adam yang baru saja datang ke sana.


"Lihat ini" ucap Zia.


Adam melihat layar ponsel Zia.


"Gus kalau kita meninggalkan apa kita akan di hisab" tanya Zia.


"Tentu saja, lama nya kita di hisab sesuai banyak nya dosa kita, semakin banyak dosa kita maka kita akan lama di hisab" ucap Adam.


"Apa kita akan masuk surga" tanya Zia.


"Ada dalam hadits


Yang Artinya:  “Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, dari Nabi saw, ia pernah berlibur: Penghuni surga akan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka, kemudian Allah ta'ala memerintahkan: Keluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya ada iman seberat biji sawi. Maka keluarkanlah mereka dari neraka yang warnanya (badannya) benar-benar hitam, lalu dimasukkan ke dalam sungai hidup atau sungai kehidupan, lalu tumbuhlah mereka seperti biji yang tumbuh setelah air bah, adakah engkau tidak melihatnya, sesungguhnya ia keluar bewarna kuning yang melilit.” [SDM. al-Bukhari dan Muslim]


setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan masuk surga, sekalipun di antara mereka ada yang masuk surga secara bertahap.


ada orang yang beriman yang sebelum masuk surga, ia masuk neraka terlebih dahulu, yang lamanya sesuai dengan berat atau ringannya dosa yang telah diperbuatnya selama hidup nya di dunia" ucap Adam.


"Lalu apa kita akan menyesal" tanya Zia.


"Tentu saja Zia lihat di Quran surat Al Fatir ayat 37.


Yang Artinya: Mereka berteriak di dalam (neraka) itu, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, bukan (seperti perbuatan) yang pernah kami kerjakan dahulu." (Dikatakan kepada mereka,) "Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa (yang cukup) untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka, rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun." Begitu lah" ucap Adam.


"Zia hidup itu ibarat begini, ibarat aku kerja ke luar kota dan otomatis kamu nunggu di sini kan, misal aku kerja lama sekali ke luar kota terus kamu di sini itu nunggu uang dari aku, nunggu transferan dari aku untuk makan untuk resiko setiap hari, kalau misal aku gak kirim uang kamu bisa apa, misal kamu di sini gak kerja kamu hanya mengharapkan aku untuk pulang dan membawa uang.


Tapi aku di sana gak kerja misal, kerjaan aku cuman diam berbuat maksiat aku pengangguran aku jadi beban, lalu kamu di sini sampai rela ngutang hanya untuk memberi makan anak misal, nah lama gitu aku di sana lalu aku pulang ke sini datang aku ke pesantren, tapi aku gak bawa uang aku gak bawa apa apa, bagaimana perasaan kamu" tanya Adam.


"Ya marah lah, kamu kerja jauh gak bawa uang" ucap Zia.


"Ya begitu sama, misal aku mati aku gak bawa apa apa sedang kan di dunia aku selalu berbuat maksiat berbuat dosa, lalu saat aku pulang aku gak bawa amal satu pun, nanti rasa penyesalan kita akan muncul, "kemana saja aku saat hidup", "aku melakukan apa saja saat hidup", "waktu aku hidup sangat lama jadi apa yang aku berbuat di dunia sampai sampai pulang gak bawa apa apa" mungkin begitu juga kata kata yang akan kau keluar kan" ucap Adam.


"Tentu saja aku pasti marah bayang kan saja kau lama di luar kota tapi pulang tak bawa apa apa, misal aku bilang pada orang orang yang aku hutangi, kalau aku akan bayar saat kau pulang tapi kau pulang tak bawa apa apa, entah seberapa malunya aku nantinya" ucap Zia.


"Ya begitu di akhirat juga sama" ucap Adam.


"Ya yah semoga saja kita pulang bawa amal yang cukup untuk bekal kita di akhirat" ucap Zia.


"Ya kita perlu memperbanyak amal yang baik, tapi Zia ada dosa besar yang lebih besar dari Zi na, dan selalu kita lakukan setiap saat" ucap Adam.


"Apa" tanya Zia.


"Ghibah" ucap Adam.


"Oh, tapi bener juga Gus kalau ada orang yang kumpul pasti membicarakan orang lain" ucap Zia.


"Makan nya Zia lebih baik kita menyendiri saja, bukan memutus silaturahmi tapi terkadang lebih baik menyendiri dari pada kumpul tapi membicarakan orang lain" ucap Adam.


Malam hari nya mereka baru saja pulang dari mesjid karena baru saja melaksanakan sholat Maghrib dan isya berjamaah.


"Mau makan sesuatu" tanya Adam.


"Aku punya cemilan" ucap Zia.


"Cemilan apa" tanya Adam.


"Ada makanan" ucap Zia.


"Baik lah ayo kalau kamu gak punya kita beli sekarang ke warung" ucap Adam.


"Gak usah aku punya" ucap Zia.


"Baik lah" ucap Adam.


Mereka pulang ke rumah, Zia langsung membuka cemilan nya yang ada di kamar nya.


Mereka ngemil sambil menonton film horor di laptop Adam.

__ADS_1


"Ini itu seru sekali" ucap Zia.


"Aku pernah nonton, biasa saja" ucap Adam.


"Aku bicara pada Ning Rena bukan pada mu" ucap Zia pada Adam.


"Ya tapi aku pernah nonton" ucap Adam.


"Sudah lah kalian ini hanya karena masalah film ini saja" ucap Rena.


"Tapi ini seru loh" ucap Zia.


"Ya seru tapi aku pernah lihat" ucap Adam.


"Terserah" ucap Zia.


Saat itu layar laptop menampilkan hantu dari Film yang tiba tiba menjadi dekat dengan kamera sehingga terlihat lebih menakutkan.


"Aaaa" Rena dan Zia berteriak karena terkejut, Adam langsung memeluk Zia padahal Zia hanya ketakutan karena melihat hal itu.


Rena melihat pada Adam dan Zia.


"Ck kalian gak punya perasaan, padahal aku kan jomblo kalian berani sekali bermesraan di depan aku" ucap Rena.


"Ning kau ini, nanti juga kalau kau sudah menikah kau akan tau rasanya" ucap Zia.


"Sudah lah aku akan ke kamar, aku tidur duluan ya" ucap Adam.


"Ya aku menyelesaikan ini dulu" ucap Zia.


"Oh ya kak saat Gus Adam melamar kakak bagai mana reaksi kak Zia" tanya Rena.


"Rasanya itu dag dig dug malu Ning" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Rena.


"Ya tapi kau harus tau ada yang lebih malu dari itu" ucap Zia.


"Apa" tanya Rena.


"Malam pertama" ucap Zia.


Tiba tiba saja lampu langsung padam, hanya menampakan layar laptop saja yang menyala itu pun menampilkan gambar hantu.


"Kak mana ponsel kak Zia" tanya Rena.


"Aku gak tau" ucap Zia.


"Bagai mana ini mati lampu" ucap Rena.


Rena akan berdiri namun Zia menarik nya.


"Mau kemana aku ikut" ucap Zia.


"Namun saat mereka akan berjalan ke kamar Zia, tiba tiba kamar Abah terbuka tapi tetap gelap.


Zia membuka pintu kamar nya karena keadaan sangat gelap mereka gak bisa lihat apa apa.


Namun saat mereka melihat pada arah kamar Abah, terlihat kalau di sana ada cahaya namun Abah mengarahkan senter dari ponsel ke wajah nya.


Sehingga membuat nya terlihat sangat menyeramkan.


"Aaaaaa" teriak Rena dan Zia yang melihat Abah.


Adam yang baru saja hendak keluar pun langsung berteriak saat melihat Abah.


"Aaaaa" teriak Adam.


"Ada apa" tanya Abah.


"Abah ih aku kaget" ucap Rena.


"Takut kenapa hanya karena Abah mengarahkan senter ini pada wajah Abah kalian ketakutan" ucap Abah.


"Abah kami terkejut" ucap Adam.


"Baik lah ayo tidur, Ning kata Umi kamu tidur lah, Abah akan tidur di kursi" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Rena yang langsung masuk ke dalam kamar umi.


"Baik lah Abah aku akan tidur" ucap Adam.


Lampu akhirnya nyala, Zia langsung menutup laptopnya dan membawa nya ke kamar, Adam membereskan bekas makanan yang tadi mereka makan.


"Abah aku ke kamar" ucap Adam.


"Ya" ucap Abah.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2