
Rena bertemu dengan Adam kakaknya.
"Gus" tanya Rena pada sang kakak.
"Ada apa Ning" tanya Adam menatap adiknya yang sedang bingung itu.
"Gus aku pikir, sebaiknya kau melakukan Sholat Istikharah bukan apa apa, semoga saja perkiraan kamu yakin kalau Ning Marwah adalah jodoh yang pas" ucap Rena.
"Kau pasti termakan ucapannya Zia kan" tanya Adam penuh selidik.
"Tidak, bukan begitu gus tapi hanya saja sholat Istikharah lebih pas untuk mu" ucap Rena.
"Jangan dengarkan Zia Ning, dia memfitnah Ning Marwah" ucap Adam.
"Gus dengarkan ucapan ku, ya mungkin saja setelah kamu melakukan Shalat Istikharah kamu bisa tau siapa jodoh kamu" ucap Rena.
"Terserahlah" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.
Malam harinya Adam terfikir pada ucapan Rena.
"Kata Ning Rena ada benarnya juga, apa aku melakukan Sholat istikharah" gumam Adam.
Adam menatap pada seluruh ruangan mesjid itu, kosong dan hanya dirinya saja dan satu santri yang sedang tadzarus disana.
Adam bangkit dan hendak melakukan Sholat Istikharah itu.
"Usholli sunnatal istikharah rak'ataini lillahi ta'ala, Allohu akbarr" ucap Adam setengah berbisik.
Setelah menyelesaikan Sholatnya Adam berdoa dengan menengadahkan tangannya.
"Ya alloh kalau memang Ning Marwah jodoh saya tolong lancarkan lah acara nanti, namun jika bukan tolong tunjukan jodoh saya, Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar, aminn" batin Adam.
Adam memutuskan untuk pulang lagi pula hari sudah larut malam juga, dan sekarang waktunya Adam tidur, namun sebelum tidur Adam akan melihat lihat dahulu kamar para santri siapa tau saja ada yang mencurigakan.
Adam melihat dari setiap jendela tak ada yang mencurigakan hanya saja ada satu atau dua santri yang belum tidur.
Adam melewati kamar Zia, Rena, Gita dan Ning Marwah.
Adam melihat dari jendela luar kamar, semuanya sudah tertidur namun satu hal yang membuat Adam terkejut, selimut yang di pakai Zia.
"Selimut itu kan yang waktu itu aku pakai, kenapa sekarang Zia yang pakai, apa itu benar punya Zia" gumam Adam.
Tak mau semakin di buat pusing Adam pun langsung pulang dan tertidur di ranjang kamarnya yang cukup sempit hanya masuk satu orang.
Benar saja Alloh mengabulkan Doa Adam lewat mimpi, Adam bermimpi Zia bahkan sangking terkejutnya Adam, Adam langsung bangun dari tidurnya.
"Astagfirulloh" ucap Adam sambil mengusap wajahnya beberapa kali.
"Kenapa ada Zia di dalam mimpi, dia tersenyum lagi" gumam Adam.
Mimpinya pun seolah berputar putar di benak Adam, sampai sampai Adam terus saja mengingat Zia.
"Ya alloh kenapa ada Zia, apa Zia jodoh saya" batin Adam.
Adam kemudian bangun dan kembali ke Mesjid, dia ingin melaksanakan Sholat tahadzud di sepertiga malam.
Adam mengambil Wudhu dengan cepat dan melakukan Sholat Tahadzud dengan sangat khusu.
__ADS_1
Di dalam mesjid itu hanya ada Adam dan lima santri laki laki yang melakukannya, dari pada tidur dan bermimpi yang aneh aneh Adam memilih membaca Al Quran saja.
Tanpa Adam sadari dia tertidur di mesjid dengan tangan yang masih memegang Al Quran, posisi Adam saat ini sedang bersandar pada tembok mesjid itu.
Adzan subuh sudah akan berkumandang tapi Zia, Rena dan Gita sudah berada terlebih dahulu ke mesjid, dan para santri masih berada di luar menunggu giliran Wudhu.
"Tuh kan aku bilang apa, kita harus bangun pagi jadi gak akan kesiangan" ucap Rena.
"Ya tapi kau membangunkan aku pukul dua dini hari Ning" ucap Zia.
"Ya kak sebenarnya aku gak bisa tidur, jadi aku bangunkan saja kalian dan segera Wudhu supaya bisa langsung masuk ke mesjid" ucap Rena.
Zia menatap pada Adam yang sedang tertidur namun badannya bersandar pada dinding mesjid.
"Ning lihat Gus Adam" ucap Zia.
"Lagi apa Gus Adam" tanya Gita.
"Coba kau lihat Ning" ucap Zia.
"Gak ah aku takut Gus Marah dia kalau bangun tidur pasti marah marah" ucap Rena karena dulu dia pernah membangunkan Adam namun Adam marah marah padahal Adam saat itu sedang mengigau.
"Yasudah biar aku saja yang bangunkan, kasihan dia Ning lihat tertidur sedangkan sebentar lagi para santri akan datang" ucap Zia.
"Ciee yang masih perhatian" ucap Rena.
"Kalian cocok tau" ucap Gita.
"Kalian" kesal Zia.
Zia berjalan ke tempat Adam yang sedang tertidur sambil duduk.
"Gus Adam" ucap Zia.
Karena mendengar ada yang memanggilnya, Adam langsung membuka perlahan matanya, namun betapa terkejutnya Adam saat pertama kali bangun melihat wajah Zia.
"Astagfirulloh" ucap Adam.
"Gus kau tidur" tanya Zia.
Adam langsung menatap ke arah sekitar ternyata benar Adam tertidur di mesjid.
"Sebentar lagi adzan Gus, lihat para santri sudah berdatangan" ucap Zia.
"aku akan ambil Wudzu" ucap Adam.
"Ya itu lebih baik" ucap Zia.
"Allohuakbar Allohuakbar... " Adzan berkumandang di Mesjid paling besar di desa itu.
Semua santri sudah bersiap di atas sejadah untuk menunaikan Sholat dua rakaat sebelum datangnya fajar.
Imam memulai Sholat di barisan paling depan.
Zia menatap pada semua para santri yang berada di sana, sangat banyak dan bahkan mereka semua awal nya Asing tapi mereka semua bisa bertemu di mesjid ini dengan satu tujuan yaitu menuntut ilmu agama.
Setelah melakukan Sholat subuh, para santri bertadzarus di madrasah namun Zia mendapat bimbingan langsung dari Abah sehingga Zia bertadzarus di mesjid bersama Abah.
__ADS_1
"Kamu bisa iqro berapa" tanya Abah.
"Dulu Aku sudah Al Quran Abah, tapi sekarang aku lupa lagi caranya membaca Al Quran" ucap Zia.
"Tak apa tapi kamu tau kan huruf huruf" tanya Abah.
"Tau".
"Ayo bacakan" ucap Abah.
"A'udzu billahi minas syaitanir rajim Bismillah hirohman Nirohim" ucap Zia.
Zia memandang huruf Al Quran surat pertama yaitu Al fatihah.
"Abah aku bisa surat ini" ucap Zia.
"Ayo bacakan" titah Abah.
"Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn
Ar-raḥmānir-raḥīm
Māliki yaumid-dīn
Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim, gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn" ucap Zia membaca Surat pertama.
"Amin" ucap Abah.
"Surat ini kamu bisa ayo lanjut pada Surat Al Baqarah" titah Abah.
"Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm" ucap Zia yang hanya diam saja karena tidak tau harus di baca apa Ayat pertama itu.
"Itu Alif lam mim Zia" ucap Abah.
"Maaf Abah aku lupa" ucap Zia.
"Alif lam mim...." ucap Zia sambil melanjutkan membaca ke ayat berikutnya, walau pun pembacaan Zia masih terbata bata tapi Zia menyebutkan huruf satu persatu dengan benar.
Abah dengan teliti membimbing Zia dan melihat huruf apa saja yang di baca Zia, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul enam pagi.
Dan sekarang waktunya para santri untuk istirahat karena pukul setengah delapan nanti mereka akan sekolah,
Karena sekarang Umi sedang berhalangan dan tak Sholat jadi makanan selesai dengan cepat.
Para santri memutuskan untuk segera makan karena perut mereka juga harus di isi sebelum melakukan aktifitas sehari hari.
Sedangkan Zia lebih memilih masuk kedalam kamarnya terlebih dahulu.
Zia menatap pada Marwah yang sekarang masih tertidur pulas di ranjangnya.
"Apa dia tak Sholat tadi" ucap Zia bertanya tanya.
__ADS_1
Bersambung..