Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 66


__ADS_3

Sesampainya di pesantren Umi langsung memeluk Putri bungsu nya.


"Gus Farid kenapa" tanya Umi.


"Tadi Gus Adam dan Gus Farid berkelahi Umi" jawab Rini.


"Berkelahi dengan siapa" tanya Umi.


"Tadi Anak buah bibi Sofi datang Umi dia mau membawa aku" ucap Rena.


"Apa" ucap Umi kaget mendengar hal itu.


"Ya Umi tapi tak apa ada Gus Adam dan Gus Farid" ucap Rena.


"Ya, tapi kalian tak apa kan" tanya Umi.


"Tidak Umi" ucap mereka serempak.


Semua santri kembali ke kamar nya masing masing, setelah masuk ke dalam rumah Adam Langsung mandi karena merasa gerah.


Adam merebahkan tubuhnya di atas kasur di kamarnya, Adam membuka ponsel nya yang tadi di pakai oleh adik nya.


"Aku akan lihat apa saja yang tadi Ning Rena lakukan" ucap Adam.


Adam membuka galeri karena akan melihat hasil jepretan adik nya.


Adam melihat banyak sekali foto Zia di sana bahkan tanpa Zia berpose pun foto nya terasa sangat bagus.


Dengan pemandangan yang indah membuat Foto itu terasa sangat aestetik.


Adam tersenyum melihat nya.


"Sungguh indah ciptaan mu Ya Alloh" ucap Adam.


Karena Adam bukan laki laki yang ingkar janji dia mengirim kan semua foto itu pada santri yang ikut ke Vila tadi.


Walau pun mereka tak membawa ponsel tapi saat mereka pulang mereka akan melihat nya dan mencetak Foto nya.


"Apa aku kirim kan Foto Zia pada Zia" gumam Adam.


Adam mengirimkan semua Foto Zia pada nomor ponsel Zia.


"Aku harap dia bisa melihat nya nanti" gumam Adam.


Adzan Dzuhur pun berkumandang di mesjid, Adam langsung menuju ke mesjid karena sekarang akan ada Ceramah dan Adam lah yang akan mengisinya.


Zia, Rena, dan Gita juga ke sana sambil menjinjing mukenah untuk mereka Sholat.


"Ning lihat" ucap Gita pada Rena.


Rena dan Zia melihat pada apa yang di lihat Gita.


"Ainun" ucap Zia.


Ainun mendekat pada Zia.


"Kak kau sudah sembuh" tanya Rena.


"Sudah Ning" ucap Ainun.


"Ayo ke mesjid" ucap Rena.


"Ya ayo" ucap Ainun.


Mereka semua ke mesjid mereka melakukan Sholat Dzuhur berjamaah dan mendengarkan ceramah dari Adam.


Para santri bubar sekarang mereka akan istirahat karena hari Minggu memang para santri bebas dari pelajaran.


Zia melihat ada Umi yang sekarang tengah menjinjing ember.


"Umi mau panen cabai" tanya Zia.


"Tidak mau panen jagung" ucap Umi.


"Bisa aku bantu" tanya Zia.


"Bisa" ucap Umi.


"Kalau begitu aku simpan dulu mukenah ini" ucap Zia.


"Ya" ucap Umi.


Zia secepat Kilat menyimpan mukena nya karena akan membantu Umi memetik jagung.


Setelah lama di pesantren Zia sekarang berfikir untuk menjadi petani bahkan Zia juga bercita cita ingin menjadi petani yang sukses.


"Umi apa jagung ini jagung yang sama yang pernah kita tanam dulu" tanya Zia.


"Ya" ucap Umi.


"Memang nya berapa lama usia jagung sampai bisa di petik" tanya Zia.


"Sekitar empat bulan lah" ucap Umi.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya" ucap Umi.


Zia memetik jagung dan memasukan nya ke dalam ember yang Umi bawa tadi.


"Umi apa mayoritas di desa ini semua nya petani" tanya Zia.


"Ya mereka semua sebagai petani tapi ada juga yang kerja ke kota" ucap Umi.


"Oh ya" tanya Zia.


"Hanya sebagai tukang kuli bangunan karena kan di kota pekerjaan selalu melihat ijazah, di kampung ini laki laki biasa nya hanya tamatan SMP bahkan kebanyakan hanya sampai SD" ucap Umi.


"Oh" ucap Zia.


Malam harinya setelah selesai Sholat Maghrib dan isya para santri akan membuat api unggun sambil menikmati malam yang indah di penuhi bintang bintang dan juga merupakan perpisahan karena Adam akan berangkat besok selama satu bulan di luar negeri.


Mereka membakar jagung yang tadi siang Umi dan Zia petik, karena jagung yang di petik sangat banyak itu semua cukup untuk para santri di sana.


Semua santri di beri dua jagung untuk mereka bakar di api unggun.


Sedangkan Zia sekarang dia tengah duduk dan menikmati jagung yang baru saja dia bakar.


Adam mendekat pada Zia.


"Enak" tanya Adam.


"Biasa saja karena sebagian ada yang gosong" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Adam.


"Bisa kita bicara" tanya Zia.


"Tentu saja mau bicara apa" tanya Adam.


Zia menyimpan jagung nya itu ke piring.


"Soal yang kemarin" ucap Zia.


"Ya" tanya Adam.


"Aku menerima mu" ucap Zia.


"Tapi aku belum cinta pada mu Gus" ucap Zia lagi.


"Benar kah" tanya Adam.


"Ya" ucap Zia.

__ADS_1


"Aku senang setelah pulang dari sana aku janji akan melamar mu" ucap Adam.


"Secepat itu" tanya Zia.


"Ya kita ta'aruf saja" ucap Adam.


"Aku aneh pada mu Gus" ucap Zia.


"Aneh kenapa" tanya Adam.


"Kata nya tiga hari lagi tapi besok kau akan berangkat" tanya Zia.


"Teman aku yang bilang" ucap Adam.


"Oh kalau begitu teman mu tak tetapi ucapan nya" ucap Zia.


"Kau ini" ucap Adam.


"Gus kenapa kau mau menikah dengan ku" tanya Zia menatap pada Adam.


"Simple saja aku suka" ucap Zia.


"Suka" tanya Zia.


"Ya begini kalau kau suka pada suatu barang pasti kau ingin memiliki nya kan maka aku juga sama" ucap Adam.


"Tapi aku bukan barang" ucap Zia.


"Ibarat nya Zia" ucap Adam.


"Oh" ucap Zia.


"Baik lah aku harap kau tak seperti Ustadz Yunus" ucap Zia.


"Tak akan Zia aku setia" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Zia.


"Kau bisa pegang ucapan ku Zia" ucap Adam.


"Gus aku harus pergi ke kamar mandi" ucap Zia.


"Zia terima kasih" ucap Adam.


"Tak masalah" ucap Zia.


Adam melihat pada Zia yang sekarang ke kamar mandi.


"Alhamdulillah semoga ini adalah awal yang baik" ucap Adam.


Zia sekarang berada di kamar mandi bukan apa apa hanya saja Zia sedang memikirkan apa yang baru saja dia lakukan pada Adam itu benar.


"Apa aku tak akan membuat Gus Adam sakit hati ya apa lagi kan aku belum bisa melupakan Haddad, apa ini jalan terbaik untuk aku bisa segera melupakan Haddad dengan lari pada Gus Adam, Ya Alloh tunjukan saja jalan nya" ucap Zia.


"Jangan berdoa di kamar mandi" ucap Farid yang baru saja datang ke sana.


"Hah" ucap Zia kaget.


"Jangan lakukan lagi" ucap Farid.


"Memang nya kenapa" tanya Zia.


"Kamar mandi itu tempat nya Najis jadi di larang berdoa di sini" ucap Farid.


"Oh terima kasih ilmu nya" ucap Zia.


Zia kembali lagi ke halaman pesantren semua santri sudah bubar karena sudah malam juga.


"Tidur lah selamat malam" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Adam menyodorkan sorban yang dia pakai pada Zia, namun Zia hanya menatap Adam dengan tatapan tak paham.


"Simpan lah jika kau rindu pada ku kau bisa lihat sorban ini anggap saja ini sebagai teman di masa kesepian mu" ucap Adam.


"Tapi" ucap Zia.


"Simpan saja aku punya banyak" ucap Adam.


"Bisa peluk aku" tanya Zia tanpa sadar bicara pada Adam karena saking terpesona nya pada ketampanan Adam, Zia sampai lupa diri.


"Nanti saja kalau sudah menikah" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.


Zia mengingat kembali apa yang baru saja dia bicarakan.


"Ya ampun kau sangat bar bar Zia" gumam Zia.


"Tapi apa salah nya jika saling peluk kan, aku juga dulu melakukan itu pada teman ku yang akan pindah masa sama Gus Adam gak boleh" gumam Zia lagi.


"Ck kenapa aku bisa lupa aku dan Gus Adam kan bukan Muhrim" ucap Zia bermonolog sendiri.


"Kata orang jangan bicara sendirian" ucap Haddad yang baru saja datang ke sana.


Zia menatap pada Haddad,


"Ada apa" tanya Zia.


"Apa masalah bagi mu" tanya Zia lagi.


"Tidak" ucap Haddad.


"Kau tau kata orang jangan bicara pada suami orang nanti istri nya marah" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.


Zia merutuki Haddad yang beraninya menemui Zia padahal dia sudah punya Husna.


"Laki laki sama saja" gumam Zia.


"Ada apa Zia" tanya Abah yang berada di hadapan Zia.


"Eh Abah tidak ada" ucap Zia tersenyum pada Abah.


Bahkan di belakang Abah sekarang ada Adam juga.


"Laki siapa yang sama" tanya Abah.


"Tidak ada Abah" ucap Zia.


"Kau ini, masuk lah dan segera tidur" ucap Abah.


"Ya Abah aku permisi, Assalamualaikum" ucap Zia.


"Waalaikum salam" ucap Abah dan Adam.


Adam menatap pada Zia tanpa Adam sadar kalau Abah juga tengah menatap dirinya.


"Jangan terus di lihat" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam yang langsung memalingkan pandangan nya.


"Ayo pulang" ucap Abah.


"Ya" ucap Adam.


"Besok kau akan berangkat kan, Abah doa kan semoga kau sehat di sana" ucap Abah.


"Ya Abah Amin" ucap Adam.


"Abah harap kau tak menyia nyiakan kesempatan ini" ucap Abah.


"Tidak akan Abah" ucap Adam.


"Belajar lah Dam, semua orang ada yang ingin seperti diri mu tapi Alloh kasih kau keringanan untuk pergi ke sana" ucap Abah.

__ADS_1


"Ya Abah aku ingin menjadi orang lebih berilmu lagi" ucap Adam.


"Amal kan dulu ilmu yang kau dapat kan lalu Sebar kan ilmu itu pada orang lain supaya bisa bermanfaat juga untuk orang lain" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


Di kamar sekarang Rena dan Gita sedang duduk di ranjang mereka sedangkan Ainun sekarang sudah tidur di kasur bawah.


"Kak Zia dari mana saja" tanya Rena.


"Ini Ning aku dari kamar mandi" ucap Zia.


"Apa yang kalian tadi bicarakan" tanya Rena.


"Kalian siapa" tanya Zia.


"Kau dan Gus Adam" tanya Rena.


"Tak ada" ucap Zia.


"Jangan bohong kak aku lihat Gus Adam bahagia saat kau bicara dengan nya" ucap Gita.


"Tak ada" ucap Zia sambil tersenyum.


"Hah kau bohong" ucap Rena.


"Ya sebenarnya aku menerima Ta'aruf dari nya, kata Gus Adam dia akan melamar aku nanti saat dia sudah pulang dari luar negeri" ucap Zia.


"Ciee ada yang baru jadian dong" ucap Rena.


"Semoga saja kalian cepat menikah" ucap Gita.


"Amin" ucap mereka serempak.


"Oh ya Ning kenapa Gus Adam sangat ingin kuliah di luar negeri padahal kan banyak universitas di Indonesia juga" tanya Zia.


"Aku kurang tau kak tapi kata nya sih kuliah di luar negeri itu cita cita Gus Adam sejak kecil" ucap Rena.


"Oh" ucap Zia.


"Kakak tau dia punya cita cita lain" ucap Rena.


"Apa" tanya Zia.


"Dia ingin punya anak dua belas" ucap Rena.


"Hah" tanya Zia tak percaya.


Hahaa


Rena dan Gita tertawa terbahak bahak.


"Aneh kan" ucap Rena.


"Ya sangat aneh" ucap Zia.


"Ayo kak tidur" ucap Gita saat melihat ada keamanan datang ke sana.


"Tidur" sahut Fauzi yang menjadi keamanan.


"Ya Gus" ucap mereka serempak.


Zia langsung tidur di ranjang nya.


"Kak sorban siapa yang kak Zia pakai di leher" tanya Gita.


"Ah ya aku lupa ini sorban pemberian Gus Adam" ucap Zia yang langsung melepaskan dan menyimpan nya di lemari nya.


"Ciee sekarang sudah bertukar sorban" ucap Gita.


"Git kalau di jaman kita sekarang tukar gelang dan kakak sekarang tukar sorban" ucap Rena.


"Apa kak Zia memberikan kerudung kak Zia pada Gus Adam" tanya Gita.


"Tidak" ucap Zia.


"Kenapa kak itu kode keras, tanda nya Gus Adam ingin bertukar barang" ucap Gita.


"Ya kak" ucap Rena.


"Ya sudah besok aku akan berikan kerudung ku pada Gus Adam" ucap Zia.


"Begitu lebih bagus" ucap Gita.


Pagi harinya Zia kesiangan untuk Sholat subuh saat Zia bangun semua santri sudah berada di mesjid dan akan melaksanakan Sholat subuh.


"Kenapa aku kesiangan" gerutu Zia sambil mengambil wudhu di tempat Wudhu.


Ternyata bukan hanya Zia saja yang kesiangan tapi Husna dan Haddad juga kesiangan.


"Zia kau kesiangan" tanya Husna pada Zia yang baru saja selesai Wudhu.


"Ya Ning" ucap Zia.


"Kalau begitu kita sama" ucap Husna.


"Aku duluan ya" ucap Zia pada Husna karena tak mau melihat Haddad lagi.


"Ustadz" ucap Husna pada suaminya karena Haddad sekarang tengah melihat Zia.


"Ya" tanya Haddad.


"Kau baik baik saja" tanya Husna.


"Ya" ucap Haddad.


Husna sebenarnya tau apa yang sedang suaminya itu lihat tapi Husna tak bisa menyalah siapa pun di sana karena Haddad sangat suka pada Zia saat mereka menikah dulu.


Sholat subuh selesai, semua santri sudah bubar karena sekarang mereka akan kembali bersekolah.


Zia mencari cari Adam.


"Gus" sahut Zia pada Adam.


Sekarang Adam sudah menggendong tas nya karena sekarang Adam akan berangkat.


"Gus" ucap Zia.


"Ada apa" tanya Adam.


"Ini" ucap Zia menyodorkan kerudung nya.


"Untuk apa ini" tanya Adam.


"Bawa saja siapa tau kau rindu pada ku" ucap Zia.


"Ya sudah aku akan bawa" ucap Adam.


"Hati hati di jalan" ucap Zia.


"Ya maaf aku tak bisa lama lama lagi karena pesawat ku akan lepas landas lima jam lagi" ucap Adam.


"Ya pergi lah" ucap Zia.


"Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikum salam" ucap Zia.


Mereka saling berpisah di depan gerbang pesantren, semua santri menatap pada Adam karena mereka tak sanggup belajar tanpa Adam selama satu bulan ini.


**bersambung..


yang nungguin Adam dan Zia nikah...

__ADS_1


tungguin satu bulan lagi ya**....


__ADS_2