
Di pesantren Abah yang masih berada di luar kedatangan tamu yang membuat Abah takut, takut karena jika mereka datang maka Abah sudah pasti akan emosi dengan perkataan mereka.
"Selamat Siang kak" tanya seorang wanita ber rambut pirang yang baru turun dari sana.
"Ada apa kamu kesini" tanya Abah.
"Uhh tenang saja kak, aku tak akan apa apa" ucap nya.
"Sofi pulang lah, aku tak mau berdebat lagi dengan mu" ucap Abah.
"Kau mengusir ku, kau lupa kak kalau pesantren ini dua puluh persennya adalah punya ku" ucap wanita yang bernama Sofi itu.
"Kau mengungkit itu lagi, baiklah kalau begitu aku akan beri kan dua puluh persen pada mu lalu kembalikan tanah yang kau ambil di kota, karena itu bagian ku" ucap Abah.
"Ustadz macam apa kau kak yang itungan" ucap Sofi.
"Bukan aku yang mulai tapi kau yang mulai" ucap Abah.
"Aku, hahah aku hanya minta bagian aku" ucap Sofi.
"Bukan kah sudah jelas tercatat kalau pesantren ini seluruhnya menjadi milikku dan tanah yang ada di kota itu menjadi milik mu" ucap Abah.
"Tapi aku mau yang ini" ucap Sofi.
"Baik kembalikan tanah yang di atasnya ada rumah mu" ucap Abah.
"Tak bisa kah kau tak itungan Kak" bentak Sofi.
"Lalu jika aku itungan lalu kau apa" tanya Abah.
Semua santri melihat kejadian itu dari kamar mereka masing masing, karena bukan pertama kali pertengkaran ini terjadi tapi dahulu pernah terjadi juga.
"Aku dengan niat baik datang kesini, hanya untuk meminta tanah milikku" ucap Sofi.
Zia dan Adam berjalan pulang, namun betapa terkejutnya mereka saat melihat ada pertengkaran antara Abah dan bibi nya Adam.
"Abah" ucap Adam yang langsung mendekat pada Abah.
"Adam" sahut Sofi pada Adam dengan tersenyum penuh arti.
"Baiklah aku akan memberikan tanah ini tapi dengan satu syarat, berikan Adam pada ku" ucap Sofi.
"Bibi sudah tak waras" ucap Adam.
"Tak waras hah" ucap Sofi.
Hahah
Sofi tertawa terbahak bahak,
"Ikut dengan ku atau kembalikan tanah ku dua puluh persen" ucap Sofi.
"Pergi lah Sofi kita sudah impas" ucap Abah.
"Tapi aku mau Adam, ayo Adam ikut lah dengan Bibi mu ini" ucap Sofi.
"Aku lebih baik mati dari pada ikut dengan orang luc nut seperti mu" ucap Adam membentak.
"Apa kau tak punya malu sedikit saja Hah, kau sudah tua apa lagi yang akan kau lakukan hanya tinggal menunggu Ajal maka taubatlah Bi" ucap Adam.
"Kau menceramahi aku" tanya Sofi.
"Kau membuka tempat maksiat, dan kau menjerumuskan semua orang ke tempat itu, tak bisa kah kau berfikir jernih bahkan dahulu suami mu pergi karena ter goda dengan wanita tak baik, seharus nya kau berusaha menjadi baik Bi bukan malah ikur jadi tak baik" ucap Adam.
"Kalau kau tau kenapa kau bicara lagi apa kau tak punya otak Adam" ucap Sofi.
"Kau memisahkan suami dari istrinya, kau menjajakan wanita cantik hanya untuk menarik suami orang datang ke sana, tak bisa kah kau ber fikir bagai mana perasaan istrinya" tanya Adam.
"Lalu apa aku yang salah" tanya Sofi.
"Bukan aku yang salah tapi mereka yang datang pada ku secara suka rela, lalu tugas ku hanya melayani mereka" ucap Sofi.
"Tak waras" ucap Adam.
"Baiklah kalau kau tak mau ikut dengan ku, biarkan wanita cantik ini ikut bersama dengan ku" ucap Sofi menarik Zia.
"Gus" ucap Zia menatap Adam.
"Lepaskan dia" ucap Adam.
"Apa" tanya Sofi.
"Lepaskan dia karena dia tak ada urusannya dengan masalah ini" ucap Adam yang sudah mulai marah.
"Apa dia orang spesial" tanya Sofi.
"Hy cantik siapa nama kau" tanya Sofi pada Zia.
"Lepaskan dia Sofi, jangan berani menganggu anak santri ku sebaik nya kau pergi dari sini, angkat kaki dari sini dan akan lebih baik kalau kau tak datang lagi ke sini" ucap Abah marah bahkan sampai membentak.
"Woww kau membentak ku lagi" ucap Sofi.
"Adik ipar" ucap Umi yang baru saja datang ke sana.
"Owwhh kakak ipar" ucap Sofi mendekat pada Umi dan memeluknya.
"Apa kau lupa pada ku, bukan kah dahulu kita pernah berteman" ucap Sofi.
"Ada apa kau kemari" tanya Umi.
"Aku hanya ingin mengambil tanah hak aku" ucap Sofi menatap pada seluruh ruangan.
"Tapi bukan kah kita sudah sepakat dahulu" ucap Umi Arum.
"Arum kau ini Bo doh apa to lol aku Sofi adik mu apa tak bisa kah kau mengerti pada ku, aku ingin membangun tempat aku di sini" ucap Sofi menunjuk kelas.
"Aku tak akan biarkan kau membangun tempat maksiat di sini" ucap Umi.
Abah menarik nafas kasar, lalu mendekat pada Umi dan Sofi.
"Kau yang bo doh Sofi apa kau tak punya sedikit saja rasa malu ingin menyandingkan tempat ku dengan tempat mu" ucap Abah.
Abah menarik tangan Sofi, Abah mendorong Sofi dengan kasar sehingga membuat Sofi terhuyung ke tanah.
"Sekarang aku sudah tak tahan lagi Sofi, kau pergi lah jalani hidup mu yang menurut mu baik itu, dan jangan usik hidup ku yang menurut ku baik ini" ucap Abah.
"Awas saja kau Zaka aku tak akan biarkan kau hidup dengan tenang" ucap Sofi.
Sofi pergi dari sana dengan mengendarai mobilnya.
"Astagfirulloh" ucap Abah mengusap dadanya.
Abah langsung pergi dari sana masuk kedalam kamar nya untuk meredakan amarahnya.
"Adam dari mana" tanya Umi.
"Sok leor, ayo masuk" ucap Umi lagi.
"Ya Umi" ucap Adam.
"Kau tak apa apa Zia" tanya Adam pada Zia yang sekarang berada di samping nya.
"Aku gak apa" ucap Zia.
__ADS_1
"Gus siapa dia" tanya Zia heran.
"Dia Bibi Sofi adik Abah" ucap Adam.
"Apa" tanya Zia tak percaya pada ucapan Adam.
"Kenapa dia sangat ber beda dengan Abah" batin Zia.
"Aku akan masuk ke dalam Zia, kau istirahat lah di kamar" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Zia.
Zia kembali ke kamarnya, walau pun Zia masih bertanya tanya siapa sebenarnya Sofi itu tapi Zia cukup paham dengan masalah keluarga Adam, jadi Zia memilih tak banyak tanya dan pergi saja.
Zia masuk ke dalam kamarnya, di sana ada Rena dan Gita yang sedang duduk di bibir ranjang mereka hanya diam saja bahkan Rena hanya melamun saja.
"Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" ucap Rena dan Gita bersamaan.
"Kak dari mana saja" tanya Gita.
"Kami semua mencari" ucap Gita lagi.
"Aku dan Gus adam mampir dulu ke rumah jadi terlambat kesini" ucap Zia.
"Oh" ucap Gita.
Zia mengkode pada Gita menanyakan Rena yang sekarang tengah melamun.
Dan Gita hanya membalas dengan gelengan kepala saja.
Zia duduk di ranjang dekat Rena.
"Kau kenapa Ning" tanya Zia pada Rena.
"Tidak" ucap Rena menggelengkan kepalanya.
"ayo jujur saja Ning siapa tau aku bisa bantun ya kan Git" tanya Zia.
"Ya" ucap Gita.
"Tak ada hanya sedikit masalah saja" ucap Rena.
"Kalau kamu gak mau cerita ya sudah kami paham kok" ucap Zia.
Zia mengambil handuk karena sekarang dia akan mandi, Zia memutuskan untuk mandi di kamar mandi dekat kamar santri wanita saja walau pun air disana cukup kecil.
Karena jika di wc umum akan banyak santri laki laki kesana, apa lagi sebentar lagi mereka akan melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah.
Di rumah Abah, sekarang Adam sudah mandi dan duduk di ruang tamu rumah itu, sedangkan Abah sejak tadi hanya diam saja di kamar.
"Umi" tanya Adam.
"Ya" tanya Umi.
"Kenapa Bibi Sofi selalu saja meminta tanah ini" tanya Adam.
Umi duduk di kursi.
"Dahulu sebelum pesantren ini di bangun kakek kamu membagi tanah ini menjadi dua bagian yang satu bagian milik Ustadz Zaki yang satu nya lagi milik Sofi" ucap Umi.
"Lalu" tanya Adam.
"Ya seperti yang kamu tau, Ustadz Zaki menukar kan tanah ini dengan tanah bagian Abah yang berada di kota tasik malaya, sedangkan di sini hanya tinggal bagian Sofi saja, waktu itu Abah membeli tanah di kota dan memberikannya pada Sofi dengan perjanjian awal kalau tanah ini gembleng tanah Abah" ucap Umi.
"Dan ya kau tau kan ending nya dia ingin tanah ini lagi" ucap Umi.
"Oh" ucap Adam.
Tok
Tok
"Siapa" tanya Gita.
"Fauzi" ucap Fauzi yang berada di luar.
"Ya Gus ada apa" tanya Gita sambil membuka kan pintu.
"Ada Gus Adam juga" ucap Gita.
"Ya" ucap Adam.
"Sekarang akan ada santri baru di sini dan aku harap kalian mau menerima dia di kamar ini" ucap Fauzi.
"Ya tak masalah Gus, ya kan kak" tanya Gita pada Zia.
"Siapa dia" tanya Zia.
"Nama nya Ainun, dia teman aku waktu Sma aku harap kalian bisa menganggapnya sebagai teman sikap dia sedikit bar bar" ucap Fauzi.
"Ya tak masalah" ucap Zia.
"Kami akan senang jika ada teman baru" ucap Gita.
"Kami datang kemari karena akan memasang kasur ini dan sprai untuk nya" ucap Fauzi.
"Ya silahkan bawa Gus, biar aku yang akan pasang kan" ucap Gita.
"Terima kasih" ucap Fauzi.
"Ya sama sama" ucap Gita.
"Zia" ucap Adam pada Zia.
"Ya" tanya Zia.
"Besok aku akan ke sebuah acara, acara pengajian" ucap Adam.
"Lalu apa hubungannya dengan ku" tanya Zia.
"Tidak hanya saja aku ingin kau lebih peka dari ini" ucap Adam yang terlanjur malu karena ucapan Zia yang sangat jujur itu.
Padahal niat hati Adam akan mengajak Zia kesana tapi jika mendapat jawaban begitu Adam terlanjur malu jadinya.
"Apa gak jelas" ucap Zia menatap pada Adam dan Fauzi yang sekarang sudah pergi dari sana.
"Gak jelas kan" tanya Zia lagi pada Gita.
"Kak itu tandanya Gus Adam memberi tau pada kakak, seharusnya kakak tanya pada Gus Adam kemana atau dimana, bukan begitu siapa tau saja Gus Adam akan mengajak kakak" ucap Gita.
"Masa sih" tanya Zia.
"Ya begitu lah laki laki kak, selalu men teka teki kan sebuah kata kata" ucap Gita.
"Kenapa" tanya Zia.
"Ya supaya membuat kita bisa lebih peka mungkin" ucap Gita.
"Ayo lah jangan banyak bicara kita pasangkan saja kasur ini" ucap Rena.
"Ya ayo" ucap Zia dan Gita.
__ADS_1
Seorang perempuan cantik memakai kerudung dan membawa koper datang kesana.
Sangat anggun dan alim jika di lihat seperti itu tetapi itu hanya pormalitas saja karena dia sedang di pantau orang tuanya.
"Apa kau Ainun" tanya Zia.
"Ya" ucap nya lemah dan lembut.
"Selamat datang" ucap Zia.
"Tolong jaga Ainun, aku titip dia di sini" ucap seorang wanita paruh baya yang di duga ibu nya.
"Ya tak masalah Bu" ucap Gita.
"Insya alloh Kami akan jaga" ucap Zia.
"Baik lah kami permisi, ingat Ai jangan na kal" ucap Ibu mewanti wanti Ainun.
"Ya Bu" ucap Ainun menunduk.
Ibu itu pergi dari sana karena akan menitipkan anak nya pada Abah pemilik pesantren itu.
Sedangkan sekarang Ainun menutup pintu dan melihat kalau orang tua nya sudah pergi dari sana.
"Yeaayyy" ucap nya ber sorak dan ber joged joged.
"Dia kenapa" tanya Rena pada Gita dan Zia.
"Aku gak tau" ucap Zia.
"Aku apa lagi" ucap Gita.
"Yeayyy aku bebas" teriak nya.
"Apa ini beneran teman Gus Fauzi" tanya Gita.
"Mungkin" ucap Zia.
"Dia benar bar bar Ning, kak" ucap Gita.
"Ya kau benar" ucap Zia.
"Ayo goyang" ucapnya pada Zia, Gita dan Rena.
"Ya silahkan" ucap Rena.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu akbar, allahu akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Hayya 'alashshalaah
Hayya alashshallah
Hayya 'alalfalaah.
Hayya alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah".
Adzan Ashar berkumandang tanda nya sekarang para santri harus melaksanakan Sholat Ashar.
"Alhamdulilah" ucap Zia, Gita dan Rena serempak.
"Ayo ke mesjid" ucap Rena.
"Apa kau akan ikut" tanya Zia pada Ainun.
"Kemana" tanya Ainun.
"Ke mesjid Sholat" ucap Zia.
"Ck bisa kah aku istirahat sebentar saja" ucap Ainun.
"Hanya lima menit kok" ucap Zia.
"Aku setiap hari Sholat dan kau tau aku tak bisa bacaan nya, aku hanya baca bismilah bismilah saja" ucap Ainun.
"Kau kenal dengan Gus Fauzi" tanya Zia.
"Fauzi? Dimana dia" tanya nya.
"Di mesjid" jawab Zia.
"Antar aku kesana" ucap Ainun.
Ainun pergi duluan ke mesjid karena dia akan mencari sahabatnya itu,
Ainun menatap ke sekitar mesjid namun tak ada Fauzi di sana.
"Di mana dia" gumam Ainun.
"Ehemk" Fauzi berdehem di arah belakang Ainun.
Ainun berbalik.
"Fauzi" ucap Ainun sambil memeluk Fauzi dengan sangat erat di hadapan semua santri yang ada di sana.
"Lepaskan aku" ucap Fauzi karena malu di lihat pada santri.
"Kenapa bukannya kita selalu melakukannya" ucap Ainun.
Yang membuat Fauzi semakin malu karena para santri menghartikan ucapan Ainun ke arah yang lain.
"Aku punya Wudhu" ucap Fauzi.
Ainun melepaskan pelukannya.
"Kau sombong sekarang" ucao Ainun.
"Gak sombong hanya saja kita tak boleh bersentuhan kan" ucap Fauzi.
"Ya ya" ucap Ainun.
"Ayo sholat" ucap Fauzi.
"Ya" ucap Ainun.
Sedangkan Zia hanya tersenyum saja melihat tingkah ko nyol Ainun.
**Bersambung..
Mohon maaf untuk pembaca setia, mak othor up cuman 1 bab satu hari ya.
__ADS_1
Buat kalian yang menunggu mak othor ucapkan terima kasih**...