
"Minum? Maaf Al aku fikir kita masih satu jalan ternyata sekarang suka sudah ber beda, maaf aku harus pulang sekarang" ucap Zia.
"Biar aku antar" ucap Alena.
"Jangan kau temani saja teman teman mu aku akan pulang sendiri saja, aku bisa kok naik taksi" ucap Zia.
"Beneran" tanya Alena.
"Ya" ucap Zia.
"Kita masih ber teman kan" tanya Alena.
"Tentu saja" ucap Zia.
Di sisi lain ada seorang laki laki yang mengintip Zia tak jauh dari cafe itu, laki laki itu tak lain adalah Haddad yang sekarang sedang belanja keperluan untuk pernikahannya.
"Ada apa Haddad" tanya Umi.
"Tidak Umi hanya teman pesantren saja" ucap Haddad.
"Mana kenalkan pada Umi" ucap Umi.
"Ayo" ucap Haddad.
Umi dan Haddad mendekat pada Zia yang sekarang sedang menunggu taksi sendirian di sana karena Alena sudah masuk kedalam cafe.
"Assalamualaikum Humaira" ucap Haddad.
"Waalaikum salam" ucap Zia menatap pada Haddad yang sekarang berada di sana bersama dengan seorang wanita paruh baya.
"Nama nya Humaira" tanya Umi.
"Namanya Aziya umi" ucap Haddad merutuki bibir nya yang salah menyebutkan nama.
"Oh" ucap Umi.
"Zia umi mau kenalan dengan mu, kebetulan kita bertemu di sini" ucap Haddad.
"Ya" ucap Zia tersenyum.
"Kamu sedang apa di sini nak" tanya Umi.
"Aku sedang belanja" ucap Zia.
"Belanja" tanya Umi sambil melihat kearah cafe di belakang Zia.
"Oh tadi aku mampir ke sini cari makan tapi gak ada yang aku suka" ucap Zia.
"Oh kamu dari pesantren Al Zakaria" tanya Umi.
"Ya saya sudah dua hari aku pulang dan besok aku akan kesana lagi" ucap Zia.
"Oh baiklah maaf ya gak bisa ngobrol lama lama kami sedang belanja" ucap Umi.
"Ya tak masalah Umi" ucap Zia.
"Umi lanjut belanja ya" ucap Umi.
"Ya" ucap Zia.
Haddad mendekat pada Zia.
"Kau datang kan" tanya Haddad.
"Tentu saja dengan pacar baru ku" ucap Zia.
Taksi berhenti di hadapan Zia.
"Dengan Aziya" ucap supir taksi.
"Ya" ucap Zia yang langsung pergi meninggalkan Haddad yang masih berdiri di sana.
Di dalam taksi Zia hanya bisa menarik nafas kasar karena Zia sudah menjadi bo doh hanya karena cinta, bahkan Zia mengulang ke salahan kemarin lagi.
Drtt drt
📞📞
..."Ya ada apa kak" tanya Zia pada Raya yang sekarang menghubunginya....
..."Kata Julia Tuan Lukas pingsan, kau sedang di mana" tanya Raya....
..."Aku di perjalanan" ucap Zia....
..."Oh baik lah" ucap Raya....
..."Sekarang kak Lukas di mana" tanya Zia....
..."Di rumah sakit ****" ucap Raya....
..."Aku akan kesana" ucap Zia....
📞📞
"Pak bisa ke rumah sakit dahulu" tanya Zia.
"Tapi bukannya hanya satu tujuan ya" ucapnya.
"Ya tiba tiba aku harus ke rumah sakit, itung saja berapa aku harus membayarnya" ucap Zia.
"Baik" ucap pak supir.
"Kenapa kak Lukas ya padahal kemarin kan dia baik baik saja" gumam Zia.
Sesampainya di rumah sakit, Zia langsung masuk kedalam dan mencari ruangan Lukas yang sekarang sedang di rawat.
"Di mana ruangan Lukas" tanya Zia.
"Di kamar mawar nomor 8" ucap resepsionis.
"Terima kasih" ucap Zia.
Zia langsung berjalan kesana, tanpa Zia duga ternyata Zia ber tabrakan dengan wanita yang cukup tua dan sangat pamiliar bagi Zia.
"Hati hati kalau jalan" ucap wanita tua itu.
Zia menatap pada wanita itu yang sekarang sedang menatap Zia dengan penuh selidik.
"Maaf" ucap Zia.
"Hah kau wanita itu kan yang dahulu menodongkan pistol, hahah tak sangka aku bisa bertemu lagi dengan mu" ucap wanita itu pada Zia.
"Kau mantan istri nya Akash kan" tanya Zia.
"Mantan istri, aku masih sah menjadi istrinya" ucapnya dengan sangat sombong.
"Apa ini sekarang kau sudah hijrah, ya begitu lah karma tuhan" ucapnya.
"Bukan aku yang dapat karma tapi suami kamu, kau tau dulu kira kira dua minggu yang lalu lah, suami kamu datang ke pesantren dan dia mengajak aku menikah, kau tau dia bilang kalau istrinya itu tak be cus ngurus suami" ucap Zia.
"Bahkan dia juga bilang kalau kalian sudah berpisah miris bukan" ucap Zia lagi.
"Diam kau" ucap nya.
"Maaf aku sedang sibuk, aku tak punya waktu untuk ber debat dengan orang tua" ucap Zia.
Terlihat oleh Zia kalau wanita itu marah pada Zia bahkan dia terlihat sangat kesal pada Zia.
Namun Zia tak memperdulikannya yang paling penting sekarang adalah melihat kondisi Lukas yang sekarang sedang pingsan.
Zia melihat ada Julia dan Rega di sana yang berada di sana menunggu Lukas.
"Bagai mana kondisi Kak Lukas" tanya Zia.
"Kak, dia masih di rawat dari semalaman kata dokter tuan Lukas menderita lambung" ucap Julia.
"Bisa aku ke dalam" tanya Zia.
"Bisa kak tadi sedang istirahat" ucap Julia.
__ADS_1
"Kau semalaman di sini" tanya Zia.
"Ya aku semalaman karena dia tak mau mengantar aku pulang" ucap Julia menunjuk Rega.
"Pulang saja bersama aku biar aku antar" ucap Zia.
"Boleh kah" tanya Julia.
"Boleh" ucap Zia.
"Baik lah aku masuk dulu" ucap Zia.
Zia masuk kedalam dan melihat keadaan Lukas yang benar saja sekarang tengah ber baring dengan impus di tangannya.
"Dok bagai mana kondisinya" tanya Zia.
"Sekarang sudah membaik Nona asal jangan telat makan saja" ucap Dokter.
"Oh, bisa saya bicara dengannya" ucap Zia.
"Silahkan Nona" ucap Dokter yang langsung pergi dari sana.
"Nona" sahut Lukas yang baru datang.
"Sudah baikan katanya masih pingsan" tanya Zia.
"Begini saja Nona pingsannya semalam" ucap Lukas.
"Kenapa telat makan" tanya Zia.
"Kemarin aku sibuk" ucap Lukas.
"Semoga segera sembuh ya kak, padahal aku besok akan ke pesantren lagi aku harap kau yang mentantar kan aku tapi kau sakit, ya sudah lah aku di antar anak buah kakak yang lain saja" ucap Zia.
"Maaf" ucap Lukas.
"Baiklah aku harus pulang, cepat sembuh ya" ucap Zia.
"Ya terima kasih sudah datang" ucap Lukas.
"Ya sama sama" ucap Zia.
Zia ke luar dari ruangan Lukas dan hendak pulang namun pertama tama Zia akan mengantar kan Julia pulang ke kosannya, setelah mengantar Julia, Zia menatap pada paper bag yang isinya kerudung dan sorban itu.
"Aku harus membungkusnya" ucap Zia.
"Pak bisa ke tempat bungkus kado gak" tanya Zia.
"Boleh nona" ucapnya.
Zia mampir ke tempat bungkus kado, setelah selesai Zia langsung membayar.
"Kak mau di kasih pesan apa" tanya kang toko itu.
"Happy weding day saja" ucap Zia.
"Baik" ucapnya.
Zia pulang dari sana menuju rumah kediaman kakak nya, sekarang Zia akan beres beres karena besok dia akan ke pesantren lagi.
"Assalamualaikum mah" ucap Zia saat sudah sampai ke rumah.
"Waalaikum salam Zia" ucap Nita.
"Dari mana saja" tanya Nita.
"Beli hadiah lalu ke rumah sakit melihat kak Lukas dan mampir ke toko untuk membungkus hadiah" ucap Zia.
"Banyak lah asalan ayo makan" ucap Nita.
"Tidak mah aku akan beres beres pakaian karena besok aku akan ke pesantren" ucap Zia.
"Ya baiklah" ucap Nita.
Zia mengemas semua barang barangnya bahkan hadiah dan baju couple pun Zia masuk kan kedalam tas yang tempo lalu Zia bawa.
Zia melihat lihat ternyata mukena nya kotor karena kemarin Zia keluar tanpa melepas mukena nya terlebih dahulu.
Zia berjalan ke arah mesin cuci, tapi Zia bingung sambil menatap mesin cuci.
"Ini bagai mana cara pakainya, tulisannya pun sudah pudar begini" gumam Zia.
Zia mencucinya di kamar mandi menggunakan sikat baju untuk menghilangakan kotorannya sama seperti Zia di pesantren.
Zia menjemur mukena nya sendiri tanpa melibatkan Bi Ratna pembantunya.
"Semoga cepat kering" gumam Zia.
Zia masuk kembali ke dalam rumah, Zia hendak masuk kedalam kamarnya namun tiba tiba Zia melihat Raya kakak iparnya keluar dari kamarnya dengan keadaan menangis.
Zia masuk ke kamar kakak nya, Zia yakin kalau kakak nya itu marah marah karena seperti itu lah Rayhan kalau ada yang gagal dia pasti marah.
"Kak" ucap Zia masuk kedalam kamar kakaknya.
"Apa" tanya Rayhan ketus.
"Besok aku akan pulang" ucap Zia.
"Ya aku sudah telpon anak buah ku untuk mengantar nya" ucap Rayhan.
"Kak jangan begitu pada kak Raya" ucap Zia.
"Memangnya aku melakukan apa" tanya Rayhan.
"Kau pasti marah pada nya, dia nangis kak" ucap Zia.
"Lalu" tanya Rayhan.
"Kau suaminya jangan marahi dia, kau tau kak Raya sudah mau mengurus mu bahkan dia ber bakti pada mu lalu dengan mudah nya kau marahi dia, kak yang gagal itu usaha mu bukan kakak ipar" ucap Zia.
"Jangan bicara lagi" ucap Rayhan.
"Kak aku tau kau marah karena kau gagal menghabisi Dion itu, tapi kak bagai mana kalau dia sudah meninggal" ucap Zia.
"Jangan lampiaskan semua kesalahan mu pada kakak ipar itu tak ada hubungannya kak" ucap Zia.
"Kau tau apa yang di lakukan kakak ipar mu itu" tanya Rayhan.
"Apa" tanya Zia.
"Dia mengatur kehidupan ku" ucap Rayhan.
"Kak menurut ku itu hal wajar karena dia istri mu maka jangan salah kan dia, yang salah kakak" ucap Zia.
"Aku harus apa" tanya Rayhan.
"Minta maaf dan jangan marah marah lagi" ucap Zia.
"Apa aku bisa" tanya Rayhan.
"Tentu saja" ucap Zia.
"Kak kalau bukan kakak yang menghibur kakak ipar lalu siapa lagi" ucap Zia lagi.
"Ya aku akan minta maaf" ucap Rayhan.
Zia kembali ke kamarnya.
Di pesantren, Adam sudah bersiap akan adzan di mesjid karena sekarang adalah jadwal dia adzan Dzuhur, sekarang Adam masih duduk di teras mesjid.
"Gus sekarang jadwal kamu" tanya Fauzi.
"Ya" ucap Adam.
"Kau kenapa selama tiga hari ini kau terlihat sangat tak ber semangat" ucap Fauzi.
"Ya iya lah kan penyemangat nya ada di kota" ucap Farid.
"Hah" ucap Adam menatap pada Farid.
__ADS_1
"Siapa yang sekarang ada di kota" tanya Fauzi.
"Siapa lagi" tanya Farid.
"Jangan begitu" ucap Adam.
"Yang ke kota hanya ustadz Haddad" ucap Fauzi.
"Yang satu lagi wanita, gus" ucap Farid.
"Aziya kan kemarin dia pulang dan katanya dia ke kota" ucap Fauzi.
"Tepat sekali" ucap Farid.
"Kalian ini apa apaan" ucap Adam.
"Jujur saja Gus" ucap Fauzi.
"Sudah aku akan adzan" ucap Adam.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu akbar, allahu akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Hayya 'alashshalaah
Hayya alashshallah
Hayya 'alalfalaah.
Hayya alalfalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah".
Adam mengumandangkan Adzan dengan sangat merdu, bahkan semua santri langsung ber gegas Wudhu untuk Sholat berjamaah.
Saat ini Farid lah yang akan menjadi imam karena sesuai jadwal.
Setelah selesai Sholat Dzuhur Adam mengajar para santri, bahkan sekarang mereka semua berada di Madrasah untuk belajar tadarus Al Quran.
Tapi Adam sejak tadi tak enak badan, bahkan kepala nya cukup pusing entah kenapa.
"Gus maaf aku merasa sakit kepala sekarang" ucap Adam pada Fauzi.
"Kenapa Gus" tanya Fauzi.
"Entah aku akan istirahat saja" ucap Adam.
"Ya semoga cepat sembuh Gus" ucap Fauzi.
Adam masuk kedalam rumahnya dan tidur di kamar nya entah kenapa kepala nya sangat sakit sekarang bahkan pandangan Adam pun menjadi hitam.
"Allahumma rabbannasi adzhibilbasa isfi anta syafii la syifaa illa syifaauka syifaan laa yughodiru saqoman" ucap Adam ber doa.
Sedangkan di Madrasah para santri wanita yang care pada Adam pun langsung ber tanya tanya kenapa Adam bisa sampai pulang.
"Gus Fauzi kemana Gus Adam" tanya santri wanita.
"Gus Adam pulang karena katanya sakit kepala" ucap Fauzi.
"Bisa aku menjenguknya" tanyanya.
"Nanti saja" ucap Fauzi.
"Shut kita bujuk Ning Rena supaya bisa menjenguk Gus Adam" bisik temannya.
"Oke" ucap Nya.
"Jangan macam macam" ucap Fauzi.
"Tidak Gus" ucap Santri itu.
"Baiklah ayo belajar, sekarang kalian tadarus dulu Al Quran nanti aku akan mengajar kalian" ucap Fauzi.
"Gus kenapa pelajaran di pesantren ini seperti ini" tanya santri.
"Lalu" tanya Fauzi.
"Di pesantren lain santri di ajarkan ilmu bela diri bahkan ilmu mantra mantra untuk mengobati orang sembuh, kenapa di pesantren ini tidak" tanya Santri laki laki yang di perkirakan masih berusia 13 tahun.
"Itu kan pesantren yang lain, dan pesantren ini pesantren kita maka wajar saja bukan pelajaran nya berbeda, kalau memang bela diri aku bisa tanya kan pada Abah supaya kalian belajar tapi untuk ilmu seperti itu, aku gak akan ajukan pada Abah" ucap Fauzi.
"Ya Gus adakan saja ilmu bela diri" ucap santri wanita.
"Tapi tidak untuk perempuan, kalau pun ada aku tak akan ijinkan kalian ikut" ucap Fauzi.
"Kenapa" tanya santri wanita kecewa.
"Karena aku tak mau lekuk tubuh kalian terlihat, kalian pasti tau kan belajar ilmu bela diri itu tak bisa pakai gamis jadi aku tak mau masyarakat memandang kita sebelah mata" ucap Fauzi.
"Tapi Gus ada kan baju pangsi yang longgar" ucap nya lain.
"Aku akan lihat aku akan usahakan belum tentu aku akan menjanjikan" ucap Fauzi.
Semua santri tadarus Al Quran se banyak banyaknya, bahkan Fauzi dan Farid juga yang mengajar membaca Al Quran.
Datang lah Ning Isma dan Ning Rosa dengan membawa kain panjang pan se utas tali untuk mengikatnya.
"Assalamualaikum" ucap keduanya.
"Waalaikum salam" serempak.
"Ini gus talinya" ucap Isma.
"Terima kasih" ucap Farid.
"Di mana Gus Adam" tanya Rosa.
"Dia sakit kepala jadi dia pulang" ucap Farid.
"Oh ya sakit" ucap Isma.
"Padahal tadi baik baik saja" gumam Isma.
Saat ini Fauzi dan Farid tengah mengikat kain dan tali itu di tengah tengah para santri wanita dan santri laki laki, karena mulai dari sekarang mereka akan di pisah antara santri wanita dan santri laki laki sekarang di batasi kain.
"Buat apa ini Gus" tanya santri yang lain.
"Ini penghalang supaya saat belajar kalian tak saling curi pandang" ucap Fauzi.
"Yah" ucap para santri.
"Ayo tadarus lagi" ucap Fauzi.
Sedangkan di kamar Adam tengah di kompres oleh Umi karena kalau sakit Adam akan di kompres oleh Umi.
"makannya Dam cepat lah cari istri, jangan mengandalkan Umi saja, Umi kan sibuk" ucap Umi.
"istri siapa Umi, bahkan tak ada yang mau menikah dengan ku" ucap. Adam.
"ada jangan karena kegagalan pertama kau menganggap kesempatan kedua sudah hilang, mungkin saja wanita yang sekarang benar benar mencintai mu" ucap Umi.
"aku tak percaya, nanti saja Umi kalau ada wanita yang jelas mau pada ku" ucap Adam.
"ya terserah kau saja" ucap Umi.
"makan obat Dam lalu istirahat kan nanti juga akan sembuh, umi tinggal dulu banyak pekerjaan" ucap Umi.
"ya Umi terima kasih" ucap Adam.
__ADS_1
Adam menatap pada langit langit kamarnya karena sekarang Adam sangat ingin ber temu dengan Zia, entah kenapa jika ber temu dengan Zia hati Adam merasa lebih tenang saja bahkan Adam juga bahagia saat berada dekat dengan Zia.
Bersambung..