
Zia menangis lagi dan kembali menenggelamkan wajahnya.
Adam mengambil sorbanya dan melilitkan pada tangan Adam.
"Aku gak bisa memberikan bahu Zia, tapi aku bisa meminjamkan tangan ini" ucap Adam.
Zia menatap pada tangan Adam yang sekarang sudah di lilit sorbannya.
"Hah kau jahat Gus" ucap Zia.
"Aku gak jahat Zia" ucap Adam.
Zia menarik tangan Adam dan memegangnya dengan erat.
Adam menatap pada Zia yang masih saja menangis.
Kringgg
Bel berbunyi menandakan kalau para santri akan sarapan,
"Zia ayo sarapan" tanya Adam.
"Aku gak mau" ucap Zia yang sekarang sudah berhenti menangis.
"Baiklah aku akan ambilkan makanan untuk mu" ucap Adam.
"Kenapa kau peduli pada ku" tanya Zia pada Adam.
"Dulu saat aku sedih, kamu kan yang menghibur ku anggap saja aku melakukan ini karena ingin membalas itu" ucap Adam.
"Kau pamrih Gus" ucap Zia.
"Zia kita kan teman" ucap Adam tersenyum karena melihat Zia yang sekarang sedang kesal.
Adam pergi dari sana untuk mengambilkan makanan untuk Zia, bahkan para santri wanita semakin yakin kalau Zia dan Adam ada apa apa karena baru saja Adam keluar dari kamar Zia.
"Aku fikir Gus Adam ada apa apa dengan Zia" ucap santri wanita.
"Ya alloh aku tak ikhlas melihatnya" ucap santri yang lain.
"Entah apa yang di fikirkan oleh para laki laki padahal Zia kan gak secantik itu" ucap santri yang lain.
"Bener, bahkan Ustadz Haddad pun sampai taaruf dengan Zia" ucap yang lain.
"Tapi yang aku dengat tadi Ustadz Haddad akan melamar Ning Husna, bahkan Ning Husna tadi menangis aku kira ada sesuatu yang terjadi antara mereka" ucap Risma santri sekali gus teman tidurnya Husna.
"Oh ya" tanya yang lain.
"Beneran aku gak bohong" ucap Risma.
"Ehemk" Fauzi berdehem di depan para santri yang sedang menggosip itu.
"Ehh ada Gus Fauzi" ucap para santri.
"Sudah makan" tanya Fauzi.
"Belum" serempak.
"Makan lah sebelum waktunya habis" ucap Fauzi.
"Baik Gus".
Sedangkan Adam sekarang kembali lagi ke kamar Zia dengan membawa satu piring nasi lengkap dengan sayur.
"Ayo makan lah" ucap Adam.
"Gus aku tak lapar" ucap Zia.
"Jangan membantah" ucap Adam.
"Tapi Gus" ucap Zia.
Adam memaksa Zia dengan menyuapi Zia menggunkan sendok, mau tak mau Zia pun memakannya.
"Sudah Gus aku mual" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Adam.
"Tidak tau" ucap Zia.
"Baiklah sekarang kau sudah tenang, ayo ceritakan pada ku kenapa menangis" tanya Adam.
"Gus" ucap Zia yang langsung bersedih lagi.
"Jangan nangis" ucap Adam.
"Haddad mau menikah dengan Ning Husna" ucap Zia.
Adam tak percaya dengan ucapan Zia karena yang Adam tau Haddad hanya mencintai Zia.
Hahahah
"Aku gak percaya Zia" ucap Adam.
"Beneran dia bilang pada ku tadi, katanya dia ingin menikah dengan Ning Husna kau tau kan Gus aku sangat mencintai Haddad" ucap Zia.
Adam tak percaya pada ucapan Zia, tapi dari cara Zia menangis sepertinya itu benar terjadi.
Adam keluar dari kamar Zia dengan rasa marah karena Haddad sudah membuat Zia sedih.
Saat itu Ustadz Mansyur dan Haddad sudah kembali dari rumah Ustadz Hasan, dan pernikahan pun sudah di tetapkan.
Karena ingin mengabari Abah dengan kabar baik ini jadi Ustadz Mansyur menyempatkan waktunya ke rumah Abah.
"Assalamualaikum Abah" ucap Ustadz Mansyur.
"Waalaikum salam Ustadz" ucap Abah.
Ustadz Mansyur masuk kedalam rumah Abah, sedangkan Haddad sedang melihat lihat siapa tau saja dia melihat Zia disana.
"Ikut aku" ucap Adam menarik Haddad menjauh dari sana.
Ustadz Mansyur duduk di kursi ruang tamu di rumah Abah.
"Ada apa datang kemari Ustadz apa ada masalah" tanya Abah.
"Tidak, saya datang karena baru saja saya melamar putri dari ustadz Hasan" ucap Ustadz Mansyur.
"Melamar" ucap Abah.
"Ya untuk Haddad" ucapnya.
"Melamar Ning Husna" tanya Abah.
"Ya tadi pagi Haddad telpon katanya akan melamar Husna dan pernikahnya akan di selenggarakan lima hari lagi" ucap Ustadz Mansyur.
__ADS_1
"Oh kalau begitu selamat ya" ucap Abah yang masih bingung padahal yang Abah tau Haddad sedang dekat dengan Zia tapi kenapa menikah dengan Husna.
"Ya Abah" ucapnya.
Sedangkan Adam sekarang sedang membawa Haddad menjauh dari para santri.
"Kenapa Ustadz" tanya Adam.
"Apa" tanya Haddad.
"Kenapa nikah sama Ning Husna, kenapa kemarin mengajak Zia taaruf tapi menikah dengan Ning Husna" tanya Adam.
"Gus tolong jangan bahas ini" ucap Haddad.
"Jangan bahas bagai mana, Ustadz kau membuat Zia menangis sejak tadi kau tau betapa besar Zia cinta pada mu tapi kau malah menghancurkan hatinya" ucap Adam namun tak mendapat jawaban dari Haddad.
"Kau mengobral janji Ustadz, kau berjanji pada Zia akan menikahinya tapi buktinya kau menikahi Ning Husna" ucap Adam.
"Dengarkan aku Gus" ucap Haddad.
"Kau memberikan harapan setinggi tingginya pada Zia lalu kau jatuh kan Zia sejatuh jatuhnya" ucap Adam.
"Tapi aku punya alasannya" ucap Haddad.
"Ck jangan begini Ustadz, kau tau wanita akan bilang kalau semua laki laki sama saja padahal mereka hanya melihat laki laki yang bersama nya saja" ucap Adam.
"Baiklah aku akan bertemu Zia dan jelaskan semuanya" ucap Haddad.
"Aku tak akan mengijinkannya" ucap Adam.
"Gus aku harus apa" tanya Haddad.
"Kau fikir aku melakukan ini atas dasar kemauan aku tidak Gus aku terpaksa" ucap Haddad.
"Lebih baik jangan temui lagi Zia" ucap Adam.
"Tapi" ucap Haddad.
"Assalamualaikum" ucap Adam ketus dan pergi dari sana.
Adam kembali ke kelas karena sekarang ada jadwal dia mengajar, Adam sebenarnya sangat cemas pada Zia karena takutnya Zia akan ber buat nekad.
"Selesaikan pelajaran ini" ucap Adam pada santri kelas 3 smp.
"Ya Gus" serempak.
Adam sangat cemas pada Zia jadi dia langsung menuju kamar Zia, namun betapa terkejutnya Adam saat melihat Zia yang sekarang sedang minum minuman keras.
"Astagfirulloh Zia" ucap Adam kaget.
Zia langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Adam, Adam menelan salivanya karena tak percaya untuk kedua kalinya mereka ber pelukan.
"Aku tak kuat" ucap Zia yang sekarang sudah terpengaruh minuman keras.
Bahkan sekarang Zia sudah hilang kendali, Zia menghabiskan satu botol minuman sendirian saja.
"Dari mana Zia dapatkan minuman ini" tanya Adam pada diri sendiri.
Zia menatap pada Adam, mata Zia merah dan mulutnya sangat bau alkohol,
"Gus bisa kah kau nikahi aku, aku tak kuat begini terus, mereka akan menyesal karena sudah menolak ku" ucap Zia asal karena terpengaruh minuman.
"Zia sadar Zia" ucap Adam menguncang guncangkan tubuh Zia.
Tangan Zia menyentuh wajah Adam, membelai wajah Adam dengan perlahan.
"Hikss kau menyakiti aku" ucap Zia menangis menatap Adam.
"Zia sadar kau terpengaruh minuman" ucap Adam.
"Hah" ucap Zia dengan mata yang sudah teler.
Ohekk
Zia memuntahkan isi perutnya ke lantai, Adam hanya mengusap usap punggung Zia.
"Zia aku mohon sadar lah" ucap Adam dengan mata yang berkaca kaca.
Zia langsung oleng dan tertidur di pelukan Adam, Adam membantu Zia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Adam menyelimuti tubuh Zia dengan selimut yang pernah dia cuci, Adam mengelap muntahan Zia tanpa rasa jijik.
"Ya alloh siapa yang memperjual beli kan minuman seperti ini" ucap Adam sambil memasukan botol minuman itu pada keresek.
Adam menatap pada Zia yang sekarang sudah tertidur di atas ranjang.
Adam menghela nafasnya kasar.
"Zia kapan kau akan sepenuhnya hijrah" gumam Adam.
Adam keluar dari sana dengan membawa kantong kresek yang berisi minuman itu,
"Gus" sahut Adam pada Fauzi yang sekarang sedang berjalan di depan kelas.
"Ya Gus" tanya Fauzi.
"Kau tau siapa yang menjual minuman keras" tanya Adam.
"Minuman keras" tanya Fauzi heran.
"Hah aku hanya tanya, soalnya aku butuh Alkohol untuk mengobati luka" ucap Adam berbohong karena tak mau Fauzi curiga.
"Oh kalau tempat minuman keras ada yang jual Gus di desa sebelah, tapi kata yang lain di Rw sebelah juga ada Gus" ucap Fauzi.
"Oh ya" tanya Adam.
"Kau sama seperti Zia, tadi juga dia bertanya katanya mau beli Alkohol karena luka, aku gak tau di beli di mana" ucap Fauzi.
"Zia bertanya pada mu" tanya Adam.
"Ya, Gus kalau memang sangat butuh tanya saja pada Zia, aku yakin Zia tau karena tadi juga aku melihat Zia membawa sebuah botol" ucap Fauzi.
"Itu mungkin botol minuman" ucap Adam.
"Ya mungkin saja, yasudah aku ada kelas, Assalamualaikum" ucap Fauzi.
"Waalaikum salam" ucap Adam.
"Astagfirulloh Zia senekad itu" gumam Adam.
Siang harinya para santri sudah selesai belajar mereka tengah menunggu Adzan Dzuhur.
Rena dan Gita memutuskan untuk ke kamar nya, namun Adam langsung mengikuti kedua bocah itu.
"Gus" sapa Gita.
__ADS_1
"Aku ikut ke kamar kalian, aku mau bertemu Zia" ucap Adam.
"Kak Zia kenapa" tanya Gita.
"Sakit" ucap Adam.
"Tapi tadi pagi dia baik baik saja" ucap Rena.
"Tadi pas aku lihat dia lagi tidur katanya sakit" ucap Adam.
Mereka bertiga masuk kedalam kamar, Adam melihat Zia yang masih tidur.
"Bau apa ini" tanya Gita sambil menutup hidungnya.
"Ya bau" ucap Rena sambil mengendus endus.
Gita langsung membuka jendela kamar itu, supaya udara dari luar masuk dan bau yang berada di kamar langsung hilang.
Adam hanya bisa diam saja karena bingung mau menjelaskan pun mereka gak akan mengerti.
"Ning tolong sentuh keningnya apa panas" titah Adam pada Rena.
Rena menyentuh kening Zia dan suhunya biasa saja.
"Suhu tubuhnya stabil Gus" jawab Rena.
"Syukurlah" ucap Adam.
"Oh ya Gus mata kak Zia seperti bekas nangis" tanya Rena.
"Kalian tau Ustadz Haddad akan menikah dengan Ning Husna jadi Zia menangis" ucap Adam.
"Apa kenapa bisa" tanya Rena.
"Aku gak tau tapi yang jelas begitu ceritanya" ucap Adam.
"Kasihan kak Zia sampai sakit" ucap Gita.
"Ya" ucap Adam menatap pada Zia yang sekarang masih tidur.
Sedangkan Haddad sekarang sudah pulang ke kota karena sesuai tradisi pengantin wanita dan pria tak boleh bertemu selama satu minggu sebelum akad nikah.
Sedangkan Husna dia sedang gelisah karena memikirkan ucapan warga, dia takut para warga itu bicara kalau Husna dan Haddad berduaan di gudang.
"Ya alloh walau pun aku sangat ingin menikah dengan Ustadz Haddad tapi bukan begini caranya Ya alloh" gumam Husna.
Lama Adam berada di kamar Zia bahkan Adam melewatkan Sholat Dzuhur berjamaah, hanya karena ingin menemani Zia.
Akhirnya Zia bangun juga, Zia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, matanya hanya menatap pada Adam yang sekarang sedang berada di sana.
Zia bangun untuk duduk, karena merasa ada pergerakan Adam pun menatap pada Zia.
"Hati hati" ucap Adam.
"Gus sedang apa di sini" tanya Zia.
"Menunggu mu" ucap Adam.
"Apa yang terjadi" tanya Zia yang langsung memakai kembali kerudungnya.
"Kau mabuk" ucap Adam.
"Oh ya" tanya Zia.
Adam menghela nafasnya kasar, ingin sekali Adam marah pada Zia karena masih mengonsumsi minuman itu tetapi apa lah daya sekarang Zia sedang bersedih.
"Kau sudah baikan" tanya Adam.
"Sudah" jawab Zia.
"Aku akan pergi" ucap Adam.
Adam melangkah keluar namun saat di ambang pintu dia berhenti.
"Jangan lupa Sholat Dzuhur" ucap Adam lagi.
"Ya Gus" ucap Zia.
Zia mencoba mengingat kejadian yang terjadi tadi tapi Zia tak mengingatnya.
"Aarrgg kepala ku pusing" gumam Zia.
Adam melaksanakan Sholat Dzuhurnya di mesjid sendirian karena para santri sekarang sedang berada di madrasah karena belajar.
Zia menyusul kesana, Zia langsung mengambil Wudhu dan melaksanakan Sholat sendirian di barisan paling belakang.
Zia menyesal karena sudah mabuk, tapi ada rasa lega di dalam hati Zia karena dia sedikit sedikit bisa melupakan Haddad.
Walau pun sangat susah tapi kenangan bersama Haddad tak terlalu banyak seperti kenangannya bersama dengan Akash dahulu.
Setelah selesai Sholat dan berdoa, Zia menempelkan punggungnya di tembok, Zia bersandar pada tembok dan merenungi masalahnya itu.
"Kapan aku bahagia" gumam Zia.
Zia menghela nafasnya kasar.
"Besok aku harus pulang dahulu karena aku ingin melupakan ini semua" gumam Zia.
Adam keluar dari mesjid, tapi mata Adam menatap sekilas pada Zia yang sekarang sedang bersandar di dinding.
"Aku ingin kau merenungi kesalahan mu Zia" gumam Adam yang langsung pergi dari sana.
Adam mengikuti para santri yang sekarang sedang belajar di madrasah dan Zia juga ikut kesana.
"Zia bukannya kau sedang tak enak badan" tanya Abah.
"ya Abah aku kurang enak badan" jawab Zia.
abah paham pada apa yang di rasakan Zia, apa lagi secara blak blakan Haddad memberi tau kan pada Zia secara langsung.
"zia Abah tau masalah mu" ucap Abah.
"ya Abah" ucap Zia.
"sabar saja mungkin kalian tak berjodoh" ucap Abah.
"ya Abah" ucap Zia.
"jangan di ambil hati nak laki laki yang baik masih banyak" ucap Abah.
"semua laki laki sama saja Abah" ucap Zia dengan tatapan kosong seperti melamun.
"kamu hanya di pertemukan dengan orang salah saja, Abah yakin kau akan segera punya suami yang baik" ucap Abah.
"amin" ucap Zia.
__ADS_1
Bersambung...