
"Turun Zia turun" ucap Adam yang hanya menggerakan bibirnya saja karena malu pada habib yang datang itu.
Bahkan semua mata melihat pada Zia dengan tatapan tak suka karena para santri tau kalau Zia tak bisa membaca Al Quran.
"Kenapa harus dia padahal kan yang bica baca Al Quran juga banyak".
"Kita lihat saja betapa dia akan mempermalukan pesantren kita".
"Apa kak Zia atau Ning Husna yang salah".
Bisik bisik para santri sampai terdengar ke telinga Adam, dengan cepat Adam akan naik ke panggung namun di hentikan oleh Husna yang berada di sana.
"Mau kemana Gus" tanya Husna.
"Aku mau menghentikan Zia" ucap Adam.
"Jangan begitu Gus malu, lihat tamu dari kota mereka melihat kita biarkan saja" ucap Husna.
"Tapi Zia gak akan bisa" ucap Adam.
Sedangkan Zia sekarang sudah berkeringat dingin, menjadi tontonan para santri yang hampir 400 orang itu bukan hal yang biasa bagi Zia.
Namun karena sudah kepalang malu berada di atas panggung, Zia menatap pada Adam yang marah padanya.
Zia mengingat ingat kembali saat dulu Zia mendengar kakak iparnya Membaca Al Quran.
Zia lalu membuka Al Quran yang waktu itu kakak iparnya bacakan, Zia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar.
"A'udzu billahi minas syaitanir rajim Bismillah hirohman Nirohim... " ucap Zia yang membuat semua santri melongo di buatnya.
Apa lagi Adam dan Husna yang berada di samping panggung mereka bahkan sampai tak percaya kalau itu suara Zia.
"Ar-raḥmān
Allamal-qur'ān
Khalaqal-insān
Allamahul-bayān
Asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān
Wan-najmu wasy-syajaru yasjudān
Was-samā'a rafa‘ahā wa waḍa‘al-mīzān
Allā taṭgau fil-mīzān
Wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān
Wal-arḍa waḍa‘ahā lil-anām
Fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām
Wal-ḥabbu żul-‘aṣfi war-raiḥān
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān
Khalaqal-insāna min ṣalṣālin kal-fakhkhār
__ADS_1
Wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān
Rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribain
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān
Marajal-baḥraini yaltaqiyān"
Hanya sembilan belas ayat saja yang bisa Zia bacakan, Zia langsung menutupnya dengan ucapan "Shodaqallahul adzim".
Dengan cepat Zia turun dari panggung dengan membawa juga Al Quran, semua mata tetap melihat pada Zia apa lagi saat Zia hendak keluar dari pesantren itu.
Hal itu menjadi sebuah perbincangan nantinya, karena para santri sudah pasti akan membicarakan Zia karena bisa membaca Al Quran di depan.
Dengan cepat Husna naik ke panggung dan melanjutkan kembali acaranya, dengan menampilkan grup Qasidah dan acara lain sebagainya.
Zia tadinya hendak ke kamarnya, namun sebuah suara minta tolong mengganggu indra pendengaran Zia.
"Siapa itu" tanya Zia saat hendak masuk kedalam kamarnya.
Zia membuka kunci pada pintunya dan berapa terkejutnya Zia saat melihat kalau yang minta tolong itu ternyata Rena adik Adam yang terkunci di dalam.
"Ning kau kenapa di sini? Kau tau karena kau gak ada aku yang ke depan dan membacakan ayat suci Al Quran" ucap Zia.
"Kak aku di kunci di dalam, untung saja kau datang" ucap Rena.
"Siapa yang mengunci mu" tanya Zia.
"Entah" ucap Rena.
"Oh ya aku akan ke Madrasah kak, apa kau mau ikut" tanya Rena.
"Maafkan aku kak kalau saja aku tak terkunci mungkin aku yang maju kedepan" ucap Rena.
"Ya biarlah, aku sudah menanggung malu juga sekarang" ucap Zia.
Rena pergi ke Madrasah sedangkan Zia duduk diam di kamar sendirian,
"Untung saja dulu kakak ipar Raya pernah membacakan surat itu jadi aku tau sedikit sedikit" gumam Zia.
Rena hendak masuk kedalam Madrasah namun Gus Adam menghentikannya.
"Ning kau dari mana saja" tanya Adam ketus pada Rena.
"Gus aku terkunci di kamar" ucap Rena.
"Kau tau karena kau tak ada jadi Zia lah yang masuk kedepan" ucap Adam.
"Biarkan saja Gus, kan kak Zia juga bisa tadi bahkan dia membacanya sangat bagus" ucap Rena.
"Tetap saja kamu harus tepat waktu nantinya" ucap Adam.
"Ya Gus".
Saat Rena hendak duduk bersama dengan Gita, Gita hendak pergi dari sana karena ingin menganti kerudung.
"Ning aku akan ke kamar dulu dan mengganti kerudung" ucap Gita.
__ADS_1
" ya Git" ucap Rena.
Gita berjalan menuju kamarnya, saat berada di dalam kamar Gita melihat ada Zia disana yang sekarang sedang rebahan di atas ranjangnya.
"Kenapa kesini Git" tanya Zia.
"Mau ganti kerudung kak" ucap Gita.
"Ya" ucap Zia.
Namun mereka mendengar suara yang minta tolong dan suara wanita menangis, suara itu hanya samar samar saja karena berisiknya suara Sound jadi membuat suara minta tolong itu tak jelas.
"Kak apa kau dengar sesuatu" tanya Gita.
"Apa" tanya Zia.
"Itu ada suara yang minta tolong kak" ucap Gita.
"Dimana" tanya Zia.
"Ayo kak kita cari siapa tau benar ada yang minta tolong" ucap Gita.
Mereka berdua mencari sumber suara itu karena takutnya, ada orang yang sedang dalam bahaya dan meminta tolong namun tak ada yang mau menolong karena tak terlalu terdengar.
Zia dan Gita keluar dari pesantren dan melihat ke arah sekitar namun tak ada siapa siapa, yang mereka lihat hanyalah ada sebuah mobil yang sedang terparkir disana.
Namun dengan tiba tiba saja dua laki laki mendekat pada Zia dan Gita,
"non apa kau yang bernama Zia" tanya laki laki itu pada Zia.
"ya ada apa" tanya Zia ketus.
Setelah itu kedua laki laki itu saling melirik dan langsung mengangkat tubuh Zia yang ramping itu menuju ke mobil.
Sedangkan Gita yang sekarang sedang berteriak histeris pun hanya diam saja karena takut, berbeda dengan Zia yang sekarang sudah masuk mobil.
"tolonggg.... Lepaskan aku...." teriak Zia memukul mukul laki laki itu dan berontak.
Mulut Zia di lakban dan kaki serta tangannya di ikat oleh kedua laki laki itu, Zia hanya bisa pasrah saja karena mau bagaimana lagi melawan pun tak bisa.
"kak Zia" teriak Gita.
Gita berlari masuk kedalam pesantren untuk meminta bantuan pada santri yang lain karena Gita yakin dia tak bisa melawan kedua penjahat itu.
Sedangkan tak jauh dari tempat itu, seorang wanita tersenyum senang melihat Zia di bawa oleh kedua penjahat itu.
"baguslah, Zia terlalu banyak bicara sekarang dan aku yakin setelah dia bertemu Glend maka Zia akan secepatnya bungkam" gumamnya.
Gita melihat Gus Adam yang sekarang sedanf berjalan keluar dari Madrasah.
"gus tolong aku" ucap Gita dengan suara ngos ngosan karena berlari.
"ada apa Gita" tanya Adam.
"Gus, kak Zia Gus" ucap Gita yang masih mengatur nafasnya.
"ada apa dengan Zia, Git" tanya Adam.
"kak Zia di culik" ucap Gita.
__ADS_1
"apa" pekik Adam.
Bersambung...