
Setelah di obati oleh Umi, Zia pun makan bersama santriwati yang lain semua orang menatap pada Zia dengan tatapan tak suka bahkan ada juga santriwati yang langsung menjauh saat Zia ikut bergabung dengan mereka.
Rena dan Gita merasa iba pada Zia, walau bagaimana pun se nakal nya Zia dia tetap seorang manusia yang punya hati juga.
Namun Zia tak mempermasalahkan hal itu karena baginya tak penting jika ada orang yang tak suka padanya.
"Kak Zia" sapa Rena yang duduk disana bersama dengan Gita temanya.
"Bagaimana pelajaran hari ini" tanya Zia yang sekarang sudah mulai akrab dengan Rena dan Gita karena semalam juga mereka mengobrol banyak.
"Alhamdulilah lancar kak" ucap Rena.
"Kakak tau tadi Gus Adam khawatir pada kakak, karena tadi kami mendengar kakak berteriak" ucap Gita.
"Ck Ning kakak mu itu sangat menyebalkan kau tau dia tak menolongku, dia hanya banyak bicara dan membiarkan aku di kebun cabai" ucap Zia.
"Lalu kenapa tangan kakak" tanya Rena.
"Kena ulat bulu" ucap Zia.
"Tapi sudah di obati" tanya Rena.
"Sudah di pakia kan salep oleh Umi plus aku pinjam baju Umi karena baju ku kotor semua" ucap Zia.
Kringgg kringg..
Bel sudah berbunyi tandanya para santriwan dan santriwati harus masuk kembali ke kelasnya masing masing.
Saat ini Zia hanya sendirian lagi, Zia menatap ke sekeliling pesantren itu hanya ada Imah saja di sana.
"Dimana aku mencuci pakaian, apa tak ada laundry disini" gumam Zia.
"Assalamualaikum Zia" ucap Abah Zakaria.
"Waalaikumsalam Abah" ucap Zia berusaha ramah.
"Kenalkan Zia ini Ning Marwah, putrinya Ustadz Dawud dia akan tinggal di sini dan mengajar di sini" ucap Abah memperkenalkan wanita bercadar pada Zia.
"Assalamualaikum Ning" ucap Zia menyalami Marwah.
"Ajak Ning Marwah ke kamar kamu, karena hanya kamar kamu kan yang kosong" ucap Abah.
"Baik Abah" ucap Zia.
"Ayo Ning aku akan antar kamu ke kamar" ucap Zia.
"Terima kasih Ning Zia" ucap Marwah.
"Jangan panggil Ning, aku baru di sini baru dua hari aku berada di sini" ucap Zia.
"Oh ya aku tebak mungkin umur kita tak beda jauh" ucap Marwah.
"Ya kita sama dan mungkin nantinya kau akan menjadi guruku dan aku akan menjadi murid mu" ucap Zia.
"Zia senang berkenalan dengan mu" ucap Marwah.
"Oh ya Ning apa kau tak pengap pakai cadar begitu" tanya Zia menunjuk cadar yang sedang Marwah pakai.
"Tidak mungkin aku sudah biasa" ucap Marwah.
"Dan ini kamar ku, ini ranjang ku, yang atas itu ranjang Gita yang bawah ranjang Rena" ucap Zia.
"Zia bolehkan aku tidur di bawah aku gak biasa naik tangga begini" ucap Marwah.
"Baiklah tak masalah aku akan di atas" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Marwah.
__ADS_1
Tiba tiba datang Adam kesana yang niatnya akan mengajak Zia pergi ke pasar karena tak ada orang yang akan membantu Adam jadi Adam memilih membawa Zia untuk membantunya.
"Zia" panggil Adam.
Namun Adam tercengang melihat Wanita bercadar yang sangat dia hafal dari matanya.
"Ning Marwah" ucap Adam.
"Gus Adam" ucap Marwah.
"Kenapa bisa di sini" tanya Adam pada Marwah yang sudah beberapa tahun ini kuliah di luar negri.
"Aku pulang dari Singapura Gus, rencananya Abi memasukan aku ke sini dan Abah merekrut aku menjadi guru disini" ucap Marwah.
"Oh ya" tanya Adam tak percaya.
Marwah adalah teman kecil Adam dan cinta pertama Adam, semenjak kedekatan mereka sebagai sahabat Adam diam diam menaruh suka pada Marwah namun Adam tak berani membicarakannya karena waktu itu usia mereka masih remaja.
"Ada apa Gus, datang kesini" tanya Zia yang melihat kedua orang itu berbincang bincang.
"Oh ya tadinya aku ingin mengajak mu ke pasar, bantu aku memilihkan sayuran" ucap Adam.
"Baiklah ayo" ucap Zia.
"Ning Marwah mau sekalian ikut" tanya Adam.
"Boleh kah" tanya Marwah.
"Tentu" ucap Adam.
"Bertiga" tanya Zia bingung.
"Ya" ucap Adam.
"Aku dengar dari Ning Rena, kalau laki laki dan perempuan bersama yang ketiganya itu setan, jadi aku" ucap Zia.
Senang karena cinta pertamanya datang kembali. Adam tak henti hentinya menatap pada Marwah.
"Ciee kalian sangat serasi" ucap Zia menatap Adam dan Marwah secara bergantian.
"Zia" ucap Marwah tersenyum semu kalau saja tak memakai cadar mungkin pipinya sudah terlihat memerah.
"Ayo berangkat" ucap Adam berjalan lebih dahulu.
Di pasar, Adam sedang memilih sayuran yang sudah Umi catat di Bon belanjaan.
Saat itu hanya Zia yang kesusahan memilih dan membawa barang belanjaan.
Sedangkan Marwah hanya diam dan menatap Zia yang sedang kesusahan membawa banyak barang.
"Mereka jalan berdua sedangkan aku kesusahan di sini" gerutu Zia.
"Ning, kapan pulang" tanya Adam.
"Tiga hari yang lalu Gus, tadinya aku akan berangkat lagi kesana namun aku sekarang ingin belajar di sini saja" ucap Marwah.
"Ya bagus sekali, apa yang kamu pelajari di luar negri" tanya Adam.
Marwah terkejut mendengar hal itu.
"Ehh An-anu Gus aku belajar tekhnologi" jawab Marwah.
"Wah bagus dong" ucap Adam.
"Gus apa Umi mencatat untuk membeli ikan asin" teriak Zia yang tertinggal di belakang Adam dan Marwah.
"Eh ya aku lupa" ucap Adam yang kembali lagi pada Zia di belakang.
__ADS_1
"Bu meser Asin sakilo" ( bu beli ikan asin satu kilo) ucap Adam pada penjual itu.
"Hatur nuhun" ( terima kasih )ucap ibu pedagang itu.
Adam langsung kembali pada Marwah yang berdiri tak jauh darinya.
Sedangkan Zia menatap punggung Adam yang sekarang sudah pergi, lalu Zia menatap pada kardus dan kantong kresek yang ada di tangannya.
"Neng ini Asin nya jangan lupa di bawa" ucap Ibu pedagang.
"Ya bu sebentar" ucap Zia kesusahan.
Saat itu juga Fauzi temannya Adam datang kesana dan melihat Zia kesusahan.
"Ukhti bisa saya bantu" tanya Fauzi pada Zia.
"Terima kasih Gus aku sangat kesusahan" ucap Zia menatap wajah tampan Fauzi.
"Sepertinya sangat kesusahan" ucap Fauzi.
"Tentu saja, kau lihat mereka" ucap Zia sambil menunjuk Adam dan Marwah.
"Mereka berjalan di depan dan barang barang aku yang bawa" ucap Zia.
"Apa itu Ning Marwah" tanya Fauzi.
"Ya, apa kau juga akan kesana dan meninggalkan aku sendirian" ucap Zia kesal.
"Tidak aku tak akan meninggalkan orang yang kesusahan" ucap Fauzi.
"Nah ini baru laki laki aku suka padamu tapi sayang aku nak*l mana mungkin Ustadz seperti mu menyukai aku" ucap Zia berjalan duluan dengan membawa satu kardus dan membiarkan dua kantong kresek di bawa oleh Fauzi.
"Aku suka wanita yang jujur" gumam Fauzi.
"Gus bisa antar aku kesana" tanya Zia menunjuk sebuah toko yang menyediakan peralatan kecantikan.
"Boleh" ucap Fauzi.
"Mau beli apa" tanya Fauzi lagi.
"Beli sesuatu" ucap Zia.
"Bu tolong beli pemb*lut" ucap Zia.
"Yang kecil Neng" tanya ibu warung.
"Yang besar saja lima ya" ucap Zia.
"Jadi sepuluh ribu Neng".
Zia mengambil uang yang ada di sakunya, uangnya hanya tujuh ribu kurang tiga ribu lagi.
"Ya ampun bagaimana ini" batin Zia menatap uang itu.
Fauzi pun paham pada masalah Zia.
"Ini Bu uang nya" ucap Fauzi menyodorkan uang sepuluh ribu.
"Terima kasih".
"Ayo kita sudah telat sebentar lagi Dzuhur" ucap Fauzi yang langsung pergi dari sana.
"Terima kasih Gus aku janji akan menggantinya" ucap Zia.
"Tidak usah aku ikhlas" ucap Fauzi.
"Kau baik" puji Zia yang membuat Fauzi terasa terbang ke angkasa.
__ADS_1
Bersambung...