
Mereka semua berjalan ke arah pasar yang tak terlalu jauh dari Pesantren.
Dalam perjalanan seperti biasa mereka hanya berjalan seperti biasa dengan bercanda di setiap perjalanan.
"Oh ya Gus aku rencana nya akan pulang saat Munggah nanti" ucap Fauzi.
"Ya, mungkin semua santri juga begitu" ucap Adam.
"Aku akan rencana kan pernikahan aku dan Ainun secepatnya" ucap Fauzi.
"Wah selamat Gus" ucap Farid.
"Akhirnya kau menikah juga" ucap Luthfi.
"Ya dari pada menggantung Begini lebih baik aku nikahi saja, aku tak mau sampai menambah dosa terlalu banyak" ucap Fauzi.
"Kau benar Gus" ucap Adam.
Sesampainya di pasar, para laki laki bingung karena harus membeli apa lagi pula para wanita juga malah asik milih barang sendiri.
"Gus kita ke warung itu" ucap Fauzi.
"Mau apa" tanya Luthfi yang hampir tak pernah datang ke pasar, jadi dia tak tau ada apa saja di pasar.
"Ngopi" ucap Fauzi.
"Oh" ucap Luthfi.
Mereka ke warung itu dan langsung memesan makanan dan kopi untuk menemani mereka nongkrong di sana.
"Gus Luthfi aku penasaran, kenapa kamu jarang keluar dari pesantren" tanya Farid.
"Jawaban nya simpel saja aku tak mau melalai kan pekerjaan dari Abah" ucap Luthfi dengan khas suara yang dingin dan cuek.
"Oh ngomong ngomong di mana rumah mu Gus, hampir dua belas tahun kita bersama tapi aku gak tau rumah mu di mana" tanya Farid.
"Mewakili hati" ucap Fauzi.
"Ya aku juga sempat penasaran" ucap Adam jujur.
"Aku Tinggal di kota B, tepat nya di wilayah PG" ucap Luthfi jujur.
"Oh jauh ya" ucap Farid.
"Kalau dengan Zia bagai mana" tanya Fauzi.
"Hah ya kalau dengan Zia dekat gak" tanya Adam.
"Di mana tempat tinggal Zia" tanya Fauzi.
Zia dan Rena datang ke sana karena akan meminta uang pada Adam.
"Oh ya Zia di mana kamu tinggal" tanya Adam.
"Aku tinggal di rumah mu" ucap Zia.
"Bukan di kota kamu tinggal di mana" tanya Adam.
"Di perumahan PI" ucap Zia.
"Kau tau" tanya Adam pada Luthfi.
"PI aku tau tapi cukup jauh lah dari rumah ku" ucap Luthfi.
"Emang rumah mu di mana" tanya Zia.
"Di PG" ucap Luthfi.
"PG? Yang benar" tanya Zia terkejut dan di balas anggukan kepala oleh Luthfi.
"PG itu kawasan elit semua yang ada di sana orang kaya mungkin konglomerat lah, kau seorang konglomerat" tanya Zia terkejut.
"Tak papah ku yang menjadi itu" ucap Luthfi.
"Astaga aku satu pesantren dengan seorang konglomerat, ya ampun Gus aku ingin melihat rumah mu pasti seperti istana ya" ucap Zia.
"Tak ada lah aku tak punya, itu rumah papah ku" ucap Luthfi.
"Kau rendah hati sekali" ucap Zia.
"Biasa saja" ucap Luthfi.
"Baik lah Gus aku mau minta uang" ucap Zia yang langsung menadah kan tangan nya meminta uang pada Adam.
Adam memberikan beberapa lembar uang pada Zia.
"Ajak juga Ning Rena dan belikan dia kerudung yang dia inginkan" ucap Adam.
"Ayo Ning" ucap Zia.
"Bentar kak, Gus tak perlu aku sudah punya kerudung" ucap Rena.
"Punya dari mana" tanya Adam.
"Ada" ucap Rena.
"Siapa yang belikan" tanya Adam menyelidiki adik nya itu.
"Ada Gus" ucap Rena.
Adam baru saja akan bicara tapi Zia langsung bicara duluan.
"Sudah lah Gus jangan banyak tanya, aku akan belanja sekarang" ucap Zia.
"Ya jangan lupa pesanan Umi" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Zia dan Rena pergi dari sana menuju ke arah toko karena akan belanja pesanan Umi.
Sedangkan Sekarang Luthfi menatap pada Rena namun tatapan matanya seperti melamun.
"Ning Rena sudah besar ya" ucap Farid.
"Ya, dia cepat sekali besar" ucap Adam.
"Bahkan aku tau saat Ning Rena masih kecil" ucap Farid.
"Aku tau dia saat masih bayi" ucap Luthfi yang santai saja.
"Benarkah" tanya Fauzi dan Farid.
"Ya Gus Luthfi datang ke pesantren saat dia sekolah kelas 3 SMP ya Gus jadi dia tau Rena saat kecil" ucap Adam.
"Ya" ucap Luthfi.
"Berarti saat SMA kau bukan murid baru" ucap Farid.
"Bukan" ucapnya.
"Oh pantas saja" ucap Farid.
Sedangkan di sebuah toko Zia tengah memilih pakaian untuk nya, Zia merasa kalau dia tak punya baju yang bagus jadi Zia memilih baju di sana.
Zia tertarik dengan sebuah gamis berwarna Mocca dengan sedikit renda dan sangat mewah, bahkan hati Zia merasa kalau pakaian itu sangat mahal karena dahulu juga Zia saat belanja di kota Zia pernah melihat gamis seperti itu dan harganya cukup mahal.
"Mau beli yang itu kak" tanya Rena.
"Gak ah harga nya pasti mahal, Takut nya uang Gus Adam tak cukup" ucap Zia.
"Kita tanya saja dulu" ucap Rena.
"Bu berapa gamis ini" tanya Rena pada penjualan gamis itu.
"Oh itu harganya dua ratus ribu neng" ucap ibu itu.
"Hah" Zia terkejut mendengar hal itu.
"Apa tak bisa kurang Bu" tanya Rena yang langsung menawar harga.
"Ning kau ini" ucap Zia.
"Kak yakin mau beli" tanya Rena.
"Boleh sih" ucap Zia.
"Biar aku yang tawarkan" ucap Rena.
"Ning bukan nya tak bisa nawar ya" ucap Zia.
"Kak kita bebas menawar harga dan penjual juga berhak memberikan harga" ucap Rena.
"Baik lah bagai mana bu" tanya Rena.
"Itu sudah harga pas neng" ucap ibu itu.
"Bu ayo lah kapan kami belanja ke sini kalau bukan sekarang" ucap Rena.
"Tak bisa" ucap Ibu itu.
"Sudah lah Ning" ucap Zia.
"Kak" ucap Rena.
"Kalian dari pesantren" tanya Ibu itu.
"Ya" ucap Rena dan Zia bersamaan.
"Kenapa tak bilang, kalau dari pesantren bisa kurang" ucap ibu itu.
"Hah yang benar" tanya Rena.
"Ya" ucap Ibu itu.
"Saya bayar delapan belas bagai mana" tanya Rena.
__ADS_1
"Ya terserah" ucap Ibu itu.
"Ibu baik sekali semoga rezeki ibu di perbanyak oleh Alloh" ucap Rena.
"Amin" ucapnya.
Rena menyodorkan uang dia ratus pada ibu itu.
"Abah zaka itu baik kalau kalian bilang kalian dari pesantren ibu yakin yang lain juga akan merasa begitu" ucap ibu itu.
"Ya Abah memang baik" ucap Zia.
"Abah siapa dulu" ucap Rena menyombong kan diri.
"Terima kasih" ucap Ibu itu.
"Ya Bu sama sama" ucap Rena dan Zia yang langsung pergi dari sana.
"Ning yang benar saja kau menawar" ucap Zia.
"Kak di sini sudah biasa nawar karena kak sudah menjadi tradisi saja kalau soal tawar menawar" ucap Rena.
"Kau ini ada ada saja" ucap Zia.
"Ya yang paling penting kita punya baju dengan harga terjangkau" ucap Rena.
"Dahulu aku pernah belanja di mall dan ada lah pakaian seperti ini tapi beda nya dari motif, dan harganya itu sangat pantastis" ucap Zia.
"Emang berapa harga nya" tanya Rena.
"Kira kira sepuluh jutaan lah" ucap Zia.
"Hah" Rena terkejut.
"Harga jutaan hanya untuk baju apa di dalam baju nya kita dapat emas" tanya Rena.
"Tidak mungkin karena kualitas nya saja yang bagus" ucap Zia.
"Ya orang kaya mah Begitu" ucap Rena.
"Aku bahkan tak tau kalau ada gamis sebagus ini tapi harganya murah" ucap Zia.
"Di sini banyak kak" ucap Rena.
Di sana sudah ada Ainun dan Gita yang sedang menunggu Zia dan Rena.
Ainun terlihat membawa beberapa kantong kresek yang banyak.
"Belanja apa itu" tanya Zia.
"Jajan" ucap Ainun.
"Sebanyak itu" tanya Zia.
"Ya" ucap Ainun.
"Ning ayo kita jajan" ucap Zia.
"Jajan apa" tanya Rena.
"Apa saja, kau belum jajan" ucap Zia sadar karena Rena belum Zia kasih Jajan.
"Tapi kak jajan apa" tanya Rena yang heran pada sikap kakak ipar nya itu.
"Kau belum jajan Ning aku takut Gus Adam marah" ucap Zia.
"Ya baik lah" ucap Rena.
"Apa pun yang kau suka kau boleh beli" ucap Zia.
"Ya ya baik lah aku mau beli itu" ucap Rena menunjuk penjual Boba.
Setelah selesai membeli apa yang di ingin kan Rena, mereka kembali ke warung yang tadi ada Adam dan yang lain nya.
"Sudah belanja nya" tanya Adam.
"Sudah" ucap Zia.
"Kita pulang" tanya Farid.
"Belum Gus Luthfi dan Gus Fauzi masih mencari barang yang mereka butuhkan" ucap Adam.
"Ya baik lah" ucap Farid.
"Aku haus ya" ucap Zia.
"Minum ini kak" ucap Rena menyodorkan Boba milik nya.
"Ning aku mau air putih" ucap Zia.
"Biar aku belikan" ucap Rena.
"Tak apa Ning Takut nya menganggu mu" ucap Zia.
"Mengganggu apa" tanya Rena.
"Ya itu maksud ku" ucap Zia.
"Kau ini kak, kaya yang baru ngerepotin sekarang aja" ucap Rena.
"Ning kau ini" ucap Zia.
"Baik lah aku akan belikan" ucap Rena yang langsung pergi dari sana untuk membeli minuman untuk Zia.
Rena masuk ke salah satu toko yang menyediakan sembako komplit.
Rena langsung ke kasir karena toko itu cukup besar jadi ada kasir.
"Air mineral" ucap Rena.
"Berapa" tanya kasir.
"Satu saja" ucap Rena.
"Tunggu sebentar" ucap nya.
Rena menunggu di sana, tanpa Rena sadari ada ibu ibu yang selesai belanja dan langsung menyerobot ke kasir sehingga membuat Rena sedikit bergeser.
Ibu ibu itu semakin banyak Rena hendak pergi saja dari sana tapi saat dia akan berbalik, Rena menubruk seseorang yang berdiri tegap di hadapan nya.
Bukan orang itu yang terjatuh tapi justru Rena lah yang hendak terjatuh ke lantai, namun karena orang itu membantu Rena dengan memegang tangan Rena jadi tak membuat Rena jatuh ke lantai.
Rena menatap pada wajah orang itu, senyum Rena merekah saat melihat wajah nya yang dingin bagai es batu itu.
Senyum tipis tergambar di bibirnya, namun tetap tak mengurangi wajah cuek nya.
"Gus maaf" ucap Rena.
"Hati hati kalau berjalan" ucap Luthfi.
"Hah aku hati hati, kamu yang ada di hadapan ku" ucap Rena.
"Jangan menjawab" ucap Luthfi.
"Air mineral" sahut tapi penjaga kasir.
"Saya kak" sahut Rena.
Namun Luthfi menarik Rena dan membuat Rena menjauh dari sana.
Luthfi membayar air mineral itu dan beberapa coklat bermerek.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
Luthfi langsung kembali ke arah Rena yang sejak tadi berdiri kesal di hadapan nya.
"Ini ambil lah" ucap Luthfi.
"Tak usah aku bisa sendiri" ucap Rena.
"Terima saja" ucap Luthfi maksa.
Rena mengambil kresek itu, tanpa Rena duga Luthfi langsung pergi dari sana meninggal kan Rena yang masih di sana.
"Apa ini coklat banyak sekali" ucap Rena.
Rena hendak menyusul Luthfi dan menanyakan coklat itu tapi sekarang dia sudah bersama dengan Adam.
"Bagai mana ini" gumam Rena.
"Akhirnya datang juga" ucap Zia.
"Dari mana Ning kau sangat lama" tanya Adam.
"Gus aku beli minuman" ucap Rena.
"Baik lah ayo pulang" ucap Adam.
"Yu pulang ah banyak jajan" ucap Fauzi menatap pada Ainun calon istri nya.
Ainun mencubit pinggang Fauzi.
"Awss sakit" ucap Fauzi meringis.
"Berani sekali bicara Begitu" ucap Ainun.
"Gak ada aku gak bicara pada mu" ucap Fauzi mengelak.
"Diam kau" Ainun kesal.
"Makan nya Gus di depan wanita itu kita harus bicara yang sopan dan baik, jangan sampai menyindir nya karena kalau tidak ini akibat nya" ucap Farid.
"Ya kau benar" ucap Fauzi.
Mereka semua berjalan pulang namun Zia merasa heran dengan kantong kresek yang Rena bawa karena tadi Rena tak Belanja apa apa.
__ADS_1
"Ning kresek apa itu" tanya Zia.
"Kak" ucap Rena melotot pada Zia.
Zia langsung bungkam.
"Ada apa" tanya Adam.
"Tak ada Gus aku lupa kalau Rena bawa belanjaan aku" ucap Zia.
"Apa isi nya" tanya Zia berbisik.
"Coklat pemberian Gus Luthfi" bisik Zia.
Ehemm
Luthfi berdehem di belakang Rena dan Zia.
Rena menatap pada kakak iparnya itu.
Mereka berdua menatap pada Luthfi yang sekarang ada di belakang mereka.
"Mati aku" gumam Rena.
"Jangan bisik bisik di jalanan" ucap Luthfi ketus dan Langsung berjalan lebih dahulu menyusul Adam dan yang lain.
"Kak" ucap Rena.
"Aku tak bertanggung jawab" ucap Zia.
"Kak kau ini" ucap Rena yang takut Luthfi akan marah karena hubungan mereka di ketahui orang lain.
Rena Sekarang berjalan paling belakang, sedang kan Zia sekarang tengah menyusul Adam karena akan meminta Adam membawa kan barang belanjaan nya.
Tanpa mereka sadari sebuah mobil berhenti tepat di samping Rena yang masih berjalan sendiri di paling belakang.
Seseorang turun dari mobil dan hendak membius Rena.
"Gus" sahut Rena yang langsung di bekap hidung nya dengan obat bius.
Zia mendengar suara Rena dia langsung melihat ke arah Rena.
"Ning" teriak Zia saat Rena sudah akan di masukan ke dalam mobil.
Semua langsung menatap pada arah belakang.
Tanpa berpikir panjang Luthfi langsung menjatuhkan barang belanjaan nya dan langsung berlari mengejar mobil yang akan jalan itu.
Adam pun tak kalah diam dia langsung menyusul Luthfi yang mengejar mobil itu.
"Gus bawa Ning Rena" teriak Zia yang sekarang hanya bisa diam saja.
Zia Langsung menangis karena kesalahannya Rena jadi di culik orang.
"Andai saja tadi aku tak membiarkan Ning Rena berjalan paling belakang" gumam Zia.
"Git ambil Belanjaan ning Rena yang jatuh" ucap Ainun.
Gita mengambil nya.
Untung saja keadaan di pasar sangat ramai jadi mobil sangat susah untuk keluar.
Saat itu orang orang ramai berjalan menghalangi jalanan.
Mobil itu terpaksa berhenti karena takut nya sampai menabrak orang orang.
Karena melihat mobil yang berhenti Luthfi langsung membawa batu besar dan melemparkan pada kaca jendela mobil itu.
Dengan seketika...
Prakk
Kaca jendela pecah mengenai supir yang membawa mobil itu.
Dan batu yang Luthfi lembar kan mengenai kepala supir sehingga membuat nya seketika pingsan.
Luthfi langsung menekan tombol central lock, para penculik itu keluar dari mobil dan langsung hendak melawan Luthfi.
Kalau masalah bela diri Luthfi cukup pandai pada hal itu makan nya Luthfi di jadikan keamanan karena kebiasaan nya yang suka bela diri dan suka bertengkar.
Bughh
Perut Luthfi mendapatkan bogem mentah dari orang orang Yang hendak menculik Rena.
"Berani sekali kau" ucap Luthfi geram.
Tanpa berlama lama Luthfi langsung membogem mentah orang orang itu, Adam ikut membantu tapi sayang Adam tak terlalu pandai dalam bela diri.
Bughh
Bugh
Seketika kedua orang yang melawan Luthfi itu langsung tumbang ke tanah, Luthfi Merasa sangat geram karena mereka dengan berani nya menculik Rena.
Luthfi membuka pintu dan langsung menggendong Rena.
"Ayo Gus" sahut Luthfi pada Adam.
"Biar aku yang gendong" ucap Adam.
"Jangan Gus lihat wajah mu babak belur" ucap Luthfi.
"Oh baik lah" ucap Adam.
Sebenarnya sebagai seorang kakak Adam tak rela kalau adik satu satu nya di pegang orang lain apa lagi Gus Luthfi bukan mahram nya Rena.
Luthfi membawa Rena pada Zia dan yang lainnya,.
"Ning" sahut Zia.
"Dia pingsan kita bawa saja dia pulang" ucap Luthfi.
"Gus Luthfi apa tak sebaiknya kita bangun kan dulu Rena" ucap Adam.
"Tapi di mana Gus" tanya Luthfi.
Adam kalah lagi sekarang, niat Adam akan menjauhkan Rena dan Luthfi tapi sayang nya ada saja jawaban yang membuat Adam bungkam.
"Kita bawa saja pulang kita obati Ning Rena di pesantren" ucap Fauzi.
"Ya kasihan juga dengan Gus Luthfi pasti berat" ucap Ainun.
"Ai" ucap Fauzi.
Luthfi langsung berjalan lebih dahulu karena akan membawa Rena ke pesantren.
Adam yang sekarang berada di barisan paling belakang pun langsung merasa takut pada amarah Abah nantinya.
Tapi sekarang dia tak bisa apa apa juga.
"Gus wajah mu babak belur, kau tak apa" tanya Zia.
"Ini juga salah mu" ucap Adam ketus pada istri nya, Adam Langsung pergi dari sana meninggal kan Zia dan menyusul Luthfi dan Rena.
"Apa yang dia bicarakan" tanya Zia heran.
Sedangkan Luthfi sekarang tengah menatap pada wajah Rena, mata Rena hendak terbuka karena silau nya matahari di siang hari.
Rena membuka matanya dia menatap wajah tampan Luthfi yang sedang menggendong nya, karena merasa di pandang Luthfi pun meniup wajah Rena.
"Gus" ucap Rena.
"Diam kalau kau bergerak kau jadi berat" ucap Luthfi.
"Gus lepas kan aku, kita bukan muhrim" ucap Rena.
Luthfi menurunkan Rena dari gendongan nya, namun karena efek samping dari obat bius itu Rena merasa pusing.
Rena memegangi kepala nya yang pusing.
"Ning kau sudah sadar" tanya Adam pada adik nya itu.
"Gus, aku pusing" ucap Rena.
"Kita istirahat saja di sana" ucap Adam pada Luthfi dan Rena.
"Ayo" ucap mereka.
Mereka istirahat di sebuah warung yang ada di pinggir jalan.
Adam sangat khawatir kalau ada yang bilang pada Abah karena di sepanjang perjalanan tadi para warga melihat Luthfi yang menggendong Rena.
"Mau minum" tanya Adam.
"Boleh" ucap Rena.
"Bu air putih satu" ucap Adam.
Zia dan yang lain nya datang ke sana.
"Ning kau sudah baikan" tanya Zia yang langsung mendekat pada Rena.
"Aku hanya pusing saja kak" ucap Rena.
"Maafkan aku karena aku kau jadi begini" ucap Zia.
"Tak masalah kak, lagi pula ini bukan salah kakak" ucap Rena.
"Kami syukur karena Gus Luthfi menolong mu" ucap Gita.
"Ya betul sekali kalau tak ada Gus Luthfi entah bagaimana, karena Fauzi tak bisa bela diri" ucap Ainun.
"Terkadang tak semua masalah bisa di selesaikan dengan perdebatan" ucap Fauzi.
"Terima kasih Gus Luthfi sudah menolong Ning Rena" ucap Adam.
__ADS_1
"Tak masalah Gus" ucap Luthfi.
bersambung..