
Adam menatap wajah Zia dan bayinya secara bergantian.
"Wajah mereka tak sama" gumam Adam.
"Ya karena Bayi ikut wajah kamu" ucap Zia.
"Makan nya kalau benci itu jangan berlebihan jadi rugi sendiri kan" ucap Adam.
"Aku seneng itu artinya dia benar benar anak kamu" ucap Zia.
"Laki laki mana yang berani mendekat pada mu maka aku akan pastikan dia akan menanggung akibatnya" ucap Adam dengan wajah yang tegas.
"Sudah lah lagi pula laki laki juga tak ada yang mau padaku karena mereka tau kalau suami aku itu kamu" ucap Zia.
"Entah kenapa sejak tadi pagi aku merasakan sakit kepala Zia" ucap Adam yang langsung merebahkan tubuhnya di samping bayi mereka.
"Aku juga sama Gus rasanya pening sekali" ucap Zia.
"Zia kalau kau menemui ajal mu lebih dahulu, aku siap untuk memandikan mu, mensholatkan mu dan membawa mu ke pemakaman, jika itu terjadi mungkin aku tak mungkin bisa hidup tanpa mu Zia" ucap Adam.
"Oh ya aku tak percaya, bisa saja kalau aku meninggal paginya kau berduka dan sorenya kau sudah membawa lagi wanita, aku tau kau Gus, mungkin nanti ada wanita cantik yang datang untuk melihat kematian ku dan kalian saling bincang Hingga kau lupa pada jenazah ku" ucap Zia.
"Zia aku harap aku lah yang berpulang dahulu aku gak mungkin bisa melihat mu berbaring tanpa nyawa, kalau pun ajal ku sudah dekat tolong jaga Shabi ya aku pasti kan kau tak akan merasakan kekurangan" ucap Adam.
"Kata Ning Rena kau kaya Gus" tanya Zia.
"Aku gak kaya Zia, tapi Alhamdulillah aku punya uang untuk masa depan nya anak kita" ucap Adam.
"Benarkah" tanya Zia.
"Ya" ucap Adam.
"Oh ya Gus kata mamah aku harus cepat di KB karena mereka tidak percaya pada mu" ucap Zia.
"Kenapa tak percaya" tanya Adam.
"Kau tau kan seberapa rindu nya aku pada mu" ucap Zia.
"Zia tak bisa kah kita buat adik saja untuk Shabi" ucap Adam.
"Gak mungkin Gus, aku gak mungkin bisa apa lagi kau akan berangkat lagi" ucap Zia.
"Aku gak akan berangkat lagi aku hanya tinggal menunggu hasilnya" ucap Adam.
"Apa kau akan lulus" tanya Zia.
"Insha Alloh" ucap Adam.
"Kalau tidak" tanya Zia.
"Ya berdoanya supaya lulus lah bukan gak lulus" ucap Adam.
"Ya deh" ucap Zia.
"Dimana Ning Rena sekarang" tanya Adam.
"Saat menikah dengan Gus Lutfhi, Ning Rena ke kota" ucap Zia.
"Syukurlah kalau mereka bahagia" ucap Adam.
"Aku masih tak bisa percaya kalau Gus Luthfi yang dingin dan datar itu bisa sebucin itu" ucap Zia.
__ADS_1
"Memangnya ada apa" tanya Adam.
"Dia bucin sekali Gus" ucap Zia.
"Ya bucin gimana" tanya Adam.
"Ah pokoknya bucin deh" ucap Zia.
"Terserah" ucap Adam.
"Bagai mana kabar Ning Rosa sekarang" tanya Adam.
"Dia bersama dengan Ning Marwah" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Adam.
"Ya mungkin sama kaya Ning Marwah" ucap Zia.
"Aku bangga kalau kau bisa memaafkan Zia" ucap Adam.
"Ya aku juga yang salah" ucap Zia.
"Kau tak salah hanya saja Rosa lah yang salah" ucap Adam.
Flash back onn..
Saat kepergian Adam, Zia menatap pada Rosa yang sekarang tengah di pegang oleh Aulia.
"Ning aku percaya pada mu tapi sayang nya kau berbuat itu pada ku, maaf kalau dulu aku pernah punya salah pada mu, bahkan aku tak pernah membuat mu sampai keluar dari kampus, ya aku tau aku sombong karena saat itu aku di gelapkan dengan harta kak Rayhan, aku harap kau bisa memaafkan ku" ucap Zia.
"Dulu kemana saja" ketus Rosa.
Rosa tak berani Menatap pada Zia karena matanya hanya menatap Zia dengan tatapan dendam.
"Bilang pada Ning Marwah juga, aku memaafkan nya tapi tolong jangan ganggu aku lagi karena kita sudah beda jalan" ucap Zia.
"Pergi lah" ucap Aulia.
Tanpa berpamitan Rosa langsung pergi dari sana meninggalkan semua orang yang ada di sana.
"Aku harap kau bahagia Ning" gumam Zia.
Zia masuk ke dalam rumah Umi dan dia masuk ke kamar, ternyata kamar Adam sangat rapih walaupun laki laki tapi Adam sangat memperhatikan kebersihan kamar nya.
Zia melihat foto pernikahan mereka yang masih ada di sana.
"Kisah cinta ku ini begitu lika liku, namun sesuai ending yang sudah di tulis kan takdir" gumam Zia.
Flash back off
*****
Dua bulan kemudian.
"Zia sudah" tanya Adam dari depan pintu kamar mandi sudah hampir setengah jam Zia belum juga keluar dari kamar mandi.
"Ya" ucap Zia dari dalam.
Adam kesusahan mengasih Bayinya apa lagi dia menangis sejak tadi.
Biasa nya saat Adam menyanyikan lagu Sholawat bayi itu akan tenang tapi sekarang bayi itu terus menangis karena haus.
__ADS_1
"Ayo Zia" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Adam menatap pada bayinya.
"Allohuma sholi sholatan kamilatan wa Salim salaman taman ala Syaidina Muhammadinil ladzi tanharu...." Adam menyanyikan sholawat pada bayinya.
Alhamdulillah bayinya cukup tenang sekarang.
Zia keluar dari kamar mandi dengan lemas, apa lagi Zia juga seperti akan menangis.
"Ada apa" tanya Adam.
Zia memberikan hasil tespeck yang baru saja dia pakai pada Adam, karena akhir akhir ini Zia sering merasa kan mual dan pusing.
Adam berinisiatif membeli kan tespeck siapa tau saja ada sebuah keajaiban yang membuat Adam bahagia.
Adam melihat nya dengan teliti, senyuman bahagia melengkung di bibir Adam.
"Alhamdulillah" ucap Adam.
Adam menatap pada Zia yang murung.
Adam langsung memeluk Zia dengan sangat erat tak perduli di tengah mereka ada bayi yang tengah Adam gendong.
"Gus lihat Shabi" ucap Zia.
"Ya aku lupa, aku terlalu bahagia Zia" ucap Adam.
"Aku bilang juga apa keluar kan di luar, bandel sih" ucap Zia marah yang langsung membawa bayi yang Adam gendong kedalam gendongan nya.
"Aku buang di luar kok" ucap Adam.
"Bohong" ucap Zia.
"Pernah satu kali aku gak sadar saat itu, tapi aku gak tau akibatnya akan jadi lagi" ucap Adam.
"Dasar" ucap Zia.
"Tak apa lah biar Shabi punya teman" ucap Adam.
"Diam lah" ucap Zia kesal.
"Sudah lah Zia terima saja, jika kehamilan pertama kamu tak ada aku maka aku janji kehamilan ini aku akan menemani mu" ucap Adam.
"Lalu Shabi" tanya Zia.
"Kan ada aku" ucap Adam.
"Kamu sih Gus terlalu terburu buru" ucap Zia.
"Ini di luar kehendak aku" ucap Adam.
Dalam hati Adam sangat bahagia karena dia akan menjadi Abi dari dua anak sekaligus.
"Alhamdulillah ya Alloh,
Fa-biayyi alaa i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Yang artinya Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" gumam Adam tersenyum.
bersambung
__ADS_1